
Mereka semua menatapku dengan pandangan heran. Seperti pandangan orang-orang yang melihat anjing mengigit ekornya sendiri. konyol.
"Keluar dari sini pun rasanya mustahil apa lagi menemui mereka!!" Tora gusar bahkan seakan dia seperti ingin melemparku ke jendela itu, karena mendengar ide konyolku ini.
"Orang gila itu bahkan menendang pistol yang di pegang Rio, bayangin!!" Laila frustasi.
Tak terkecuali Rio, Arya, dan Dafa. Mereka tak menepis kata-kataku, mereka malah diam mematung dan memandangiku dengan seareah.
"Biar kita semua dengerin apa yang mau Anya omongin!!" Ucap Arya memecah suasana.
Sontak mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Meskipun kita gada harapan untuk keluar secara hidup-hidup dari sini, tapi seenggaknya itu lebih baik dari pada cuman diam dan nunggu keajaiban!!" Tambah Dafa.
Rio mengangguk mengiyakan perkataan mereka.
Aku tersenyum senang mendengar pendapat mereka, lagi pula 3 lawan 2, nilai ini cukup untuk menaikan harga diriku.
"Ok, gini!!"
Aku mulai mengutarakan ide ku kepada mereka semua, meskipun terdengar sedikit nyeleneh dan berbahaya, seperti yang di katakan Dafa, setidaknya ini lebih baik dari pada diam dan menunggu keajaiban.
"Nya, itu namanya nyari mati!!" Cetus Laila. "Kalau tiba-tiba terjadi apa-apa ama lu gimana. Atau belom apa-apa kita udah di apa-apain ama mereka!!" Laila pucat dan memandangku dengan perasaan perih.
__ADS_1
"Kita ga tau kalau ga nyoba, lagi pula kalau seandainya mereka pengen ngelakuin sesuatu ama gua, pasti udah mereka lakuin dari tadi!!" Aku membahas perlakuan laki-laki itu yang memberi ku makan dan bahkan tak menyentuhku barang se ujung jari pun.
"Tapi Nya, tapi.."
"Lu harus ngasih Anya kesempatan!!" Potong Rio menatap kegusaran Laila.
"Tapi, gua ga mau Anya kenapa-napa.."
"Semuanya yang ada di sini juga khawatir!!" Potong Rio setengah menghardik.
Laila menarik lagi wajah sedihnya dengan mengusap kedua matanya yang banjir.
"Gua nyetujuin rencana ini bukan tanpa sebab." Rio beralih menatapku. "Gua yakin dia pasti bisa, karena dari sekian banyak orang pernah tanding ama gua di atas arena, baru kali ini gua di kalahin dan di permaluin cewe di depan orang banyak!!"
Rio adalah remaja sehat yang punya postur tubuh berotot yang menonjol, dia terlihat tak terkalahkan dengan hanya memandangi otot-otot itu. Namun di pertarungan yang sesungguhnya, tak dianya aku memang pernah menakhlukannya.
"Gua kalah telak, dengan skor 3 : 2." Kenangnya membuka kamus.
Mereka yang mendengarnya sama-sama menarik napas tertahan lalu bergantian menatapku.
"Padahal kalau di bandingkan dengan Archie skill gua ga beda jauh." Dia mengenang masa lalu.
Rio mengidar pandang, dan memastikan anak-anak untuk tak meragukan perkataanya.
__ADS_1
"Semua itu udah bikin gua lebih dari percaya, kalau lu bisa ngeluarin kita semua dari sini!!" Ucapnya mengepalkan tangannya ke atas, memberikan ku kekuatan dan juga dorongan. "Jadi, buat kalian yang masih ragu ama kemampuan ni anak. Stop ngeraguin dia deh,sebelum terlambat. Karena gua udah ngalaminnya sendiri.
Laila mengangguk dan memegang tanganku. "Gua ngandalin lu." Ujarnya yakin sudah sepenuhnya. "bawa kita semua pergi dari sini." Laila juga ikut memberiku kekuatan.
Aku tersenyum dan spontan bangkit sembari mengepalkan tangan.
"Kita pasti bisa!!" Aku mengidar pandang."Lagi pula kita punya semua peralatan yang di butuhkan!!"
Aku menatap barang rongsokan yang ada di pojok itu.
***************
"Nya, ati-ati lu!!" Ujar mereka yang tak hentinya memperingatkan ku sampai beberapa kali.
"Gua cabut ya!!"
Tali telah di ulur, dan saat itu juga aku langsung melompat dari jendela.
Semalaman kami membongkar barang-barang rongsokan yang ada di pojok ruangan, dan berkutik diterangi cahaya bulan purnama yang terang benderang dari balik jendela kaca kotak itu.
Anak-anak mengumpulkan barang-barang yang terbuat dari perca atau sprei yang kemudian di satukan hingga membentuk sebuah tali yang panjang, dan agar bisa menopang tubuhku, mereka membuatnya sekokoh mungkin karena akan di gerakan secara berayun sampai aku bisa mencapai ruangan yang ada di bawah.
Lalu karena dinding bangunan ini licin, dan banyak di tumbuhi oleh lumut. Maka aku membutuhkan penunjang lainnya agar bisa menahan tubuhku untuk tak lari ke arah lain. Dan dengan kreatifitas anak-anak, mereka akhirnya berhasil membuat gancu yang terbuat dari besi bekas yang kemudian di bengkokan dengan tenaga, lalu ujungnya di runcingkan sehingga benar-benar menyerupai gancu.
__ADS_1
Dan mereka juga memperhatikan detil bangunan yang licin, sehingga memberikanku sebuah sepatu bekas yang sol nya di lapisi semacam busa tebal, agar aku dengan leluasa bergerak tanpa takut terpeleset.