Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Akhir Dari Segala Luka


__ADS_3

^^^Be Alright.^^^


^^^Dean Lewis. BGM^^^


"Apa yang sedang kau katakan?" Tanyaku linglung.


Archie menunduk.


"Sial. Apa kau sedang mengerjaiku!?" Ucapku tertawa basi memandangi nya.


Dia tak menjawab.


"Archie!!" Panggilku setengah tertawa. "Kamu tahu kan candaan kek gini tuh ga lucu."


Dia diam saja bahkan tak berani menatap wajahku.


"Apa kau telah merencanakan semua ini untuk mengerjaiku sampai tak pulang berhari-hari!!"


Archie membuang muka.


"Hei. Apa kau sedang merencanakan sesuatu. Apa kau benar-benar berfikir ini lucu!?"


Dia tetap diam saja.


"Ahh..ya aku tahu!!" Ucapku sambil terus tertawa tak jelas. "Kau mengatakan omong kosong seperti ini karena ingin memberikan sesuatu kepadaku kan. Lalu pada saat kita berdua bertengkar dan aku pulang kerumah dalam keadaan marah kau akan memberikan kejutan kepadaku kan, kau akan memberikan sesuatu kepadaku berupa cincin atau perhiasan lainnya seperti yang sering kau lakukan!?"


Archie memejamkan kedua matanya sambil menghela napas.


"Archie. Katakan sesuatu, apa kau pikir ini lucu. Apa kau pikir candaan seperti ini akan membuat ku terhibur!?" Ucapku mendesaknya.


Dia memalingkan wajahnya dari hadapanku.


"Apa kau pikir ini lucu. Menggunakan kata-kata bercerai di dalam agama kita itu bahkan di larang Archie, apalagi di ucapkan oleh sang suami. Meskipun hanya candaan tetap saja itu di larang!!"


Dia memejamkan matanya lagi dalam diam.


"Baiklah, aku mengerti. Kau mengatakan ini karena kau belum tahu tentang ini. Kau juga belum lama menjadi seorang muslim mangkanya kau tidak tahu hal seperti ini bukan!!"


Aku berjalan ke arahnya sambil terus tertawa basi menampakan prilaku salah tingkah.


"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku memaafkan perbuatanmu kali ini. Tapi ini yang terakhir, jangan kau ulangi lagi candaan seperti ini. Kau mengerti!?"


Archie menunduk dalam.


"A-ayo kita pulang. Aku benar-benar sudah lelah seharian ini." Ajakku karena harus menyudahi situasi tak mengenakan ini. "Setelah pulang nanti aku akan membuatkan mu sup ayam kesukaanmu sebagai makan malam." Ajakku sambil memegang tangannya.


Tapi dia tak membalasku maupun beranjak dari tempatnya.


"Archie, ayo pulang!!"


Sreeettt....


Tiba-tiba dia melepaskan tanganku begitu saja dengan keinginannya sendiri.


Aku membeku di hadapannya. Tubuh ku serasa mati rasa dalam logika.


"Maaf!" Ucapnya.


Situasi langsung mendadak hening.


"Maaf, Anya!!" Ucapnya lagi.


Sontak tubuhku terhuyung dan terkundur ke belakang.


"Apa!" Air mataku mengalir dengan sendirinya.


"Maafin gua, Anya!!" Jawabnya lagi.

__ADS_1


"Apa maksudmu!?" Balasku dengan nada bergetar. "Kenapa kau meminta maaf!"


Dia tak menjawab dan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan ekspresi peliknya.


"Apa kau benar-benar serius ingin menceraikan ku?" Tanyaku dengan nada bergetar.


Aku langsung mendekat ke arahnya dan memegangi kedua lengannya.


"Archie!!" Panggilku, "aku tanya lagi. Apa kau serius ingin berpisah dengan ku?"


Dia menutup kedua matanya rapat-rapat agar tak melihat wajahku.


"Katakan sesuatu Archie. Kenapa kau melakukan ini setelah apa yang telah terjadi padaku selama ini!?" Ucapku lirih di hadapan wajahnya.


"Maaf!" Jawabnya hampir tak terdengar. "Maafin gua!"


"Archie!" Aku terhuyung, "sial. Kenapa kau melakukan ini padaku!!"


Aku mencengkram dengan kuat kedua lengannya dengan tenaga ku.


"Kenapa kau langsung meninggalkan ku begitu saja setelah apa yang ku lakukan untukmu selama ini!" Ujarku menangis.


Archie mematung memandangi ubun-ubunku.


"Apa kau tidak tahu sebegitu banyak darah, luka, dan air mata yang telah ku korbankan untuk melindungimu. Apa kau lupa bagaimana pahitnya jalan yang ku tempuh untuk mempertahankan integritasku sebagai pelindungmu." Aku histeris. "Apa kau lupa siapa aku, Archie. Apa kau melupakan semua pengorbananku agar kau sampai di titik ini!!"


"Mangkanya Anya!!" Potongnya spontan. "Maka dari itu.."


Dia menjeda perkataanya sambil balik memegangi kedua lenganku.


"Gua ga bisa lagi bareng lu. Gua ga bisa lagi ngeliat lu menderita lebih dari ini!!"


Aku langsung menepis kedua tangannya dan mengangkat telunjukku di hadapan wajahnya.


"Setelah apa yang telah ku lalui selama ini, kau langsung membuangku begitu saja karena aku sudah tak lagi berguna!" Balasku.


"Iya. Kau memang berengsek, lihatlah dirimu sekarang. Kau masih membuat semuanya terlihat mudah, kau bahkan mempertanyakan sesuatu yang terlihat sudah jelas!!" Pekikku histeris.


"Hendri membeberkan sesuatu tentang kondisi lu setelah tragedi terakhir di rumah kosong yang terbakar!" Potong Archie langsung.


Aku terdiam dengan napas tersengal dan berusaha menopang tubuhku sendiri agar tak roboh.


"Dokter bilang, lu yang sekarang sedang menerima tekanan trauma yang berulang-ulang sampai melukai batin dan kesehatan jiwa lu ga bakalan bisa mengaktifkan memori lama yang telah hilang di masa lalu." Ujarnya dengan wajah menekuk.


"Hah. Apa!?" Aku tercengang.


"Dengan kata lain. Entah mau sampai kapan pun atau mau menunggu seberapa lama pun waktu yang kita butuhkan untuk membuat lu ingat, semua itu bakalan sia-sia, karena lu ga bakalan bisa ngingat kejadian itu selamanya. Lu ga bakalan bisa ngingat siapa orang yang masuk ke rumah itu belasan tahun lalu!!" Jelasnya.


Aku menatap sekitar dengan pandangan kabur, dan ku rasakan jika tubuhku seperti melayang tanpa gravitasi.


"Kondisi lu ini bersifat permanen. Jadi apapun yang akan kita lakukan untuk membuat lu ingat. Semua itu gada gunanya. Gua udah sering menyeret lu dalam penderitaan!!" Tambahnya.


"Hanya itu alasan mu menceraikan ku. Hanya karena aku tak lagi berguna mangkanya kau langsung membuangku begitu saja!?" Potongku langsung.


Dia mendekat lagi ke arahku dan memegangi kedua lenganku yang dingin bagai es.


"Anya!!" Panggilnya lirih. "Gua.."


Dia memalingkan wajahnya berusaha menegar-negarkan dirinya sendiri untuk melanjutkan perkataanya.


"Gua ga tahu harus mulai dari mana, tapi itu bukan satu-satunya alasan gua harus berpisah dengan lu." Lanjutnya.


Aku diam dan mendengarkan dalam perasaan bercampur aduk yang hampir meledak.


"Anya.." dia diam lagi sambil memejamkan mata.


"Bicaralah Archie. Katakan semua yang ingin kau katakan!!" Ucapku bersiap-siap dengan apa yang nanti akan ku dengar.

__ADS_1


Dia menghembuskan napas panjang dan menatapku dengan pandangan dalam.


"Orang itu. Orang yang bekerja sama dengan Todoroki adalah orang yang sama, yang telah menyekapku belasan tahun lalu, dan yang telah nyakitin lu!!" Ucapnya.


"Orang yang sama!" Aku tercenung.


"Benar mereka adalah orang yang sama. Semua itu terbongkar setelah ayahku mendalami beberapa penyelidikan dan menemukan kalau Todoroki bekerja sama dengan orang itu." Jelasnya lagi.


Archie menepuk lenganku dengan setengah memberikan sentuhan lembut seperti yang sering dia lakukan agar aku kembali menyimak perkataan nya.


"Ada kemungkinan jika kita terus bersama orang itu akan mengincar lu terus sampai akhir, karena dia pun masih berfikir kalau lu berpotensi mengancam keberadaanya jika ingatan lu tiba-tiba balik. Tapi.." Archie menjeda perkataannya, "jika kita berdua berpisah dan tak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Lalu membeberkan tentang kondisi lu yang sekarang, yang tak kan mungkin lagi mengingat kejadian di masa itu, mungkin dia bakalan berhenti gangguin lu dan mulai berfokus buat nyerang gua."


Archie menatapku dalam dengan pandangan pasrah dan lega sebelum melanjutkan perkataannya.


"Ini adalah jalan satu-satunya buat lu agar terbebas dari penderitaan ini. Dan menjalani kehidupan normal yang memang seharusnya lu dapatkan sedari dulu." Lanjutnya menepuk-nepuk lenganku.


Aku diam saja dan tak merespon perkataanya.


"Dari awal. Memang seharusnya gua ga egois dan menahan lu terlalu lama dalam perasaan yang tak bisa gua pertanggungjawabkan. Karena kenaifan gua yang terlalu memaksakan sesuatu yang tak seharusnya gua lakuin. Lu malah menderita seperti ini!!" Ucapnya yang akhirnya tak bisa menahan lagi perasaan itu sampai menjatuhkan air mata pertamanya yang lolos begitu saja menjatuhi lengan bajuku.


Dia berusaha menyeka air matanya sendiri dengan cara berkedip dengan cepat. Namun sia-sia saja, air mata itu punya kehendaknya sendiri.


"Gua bertindak terlalu jauh, gua ga tahu kapan harus berhenti buat ga menahan lu di kehidupan gua. Meskipun gua tau lu bakalan tersiksa berada di sisi gua, tapi gua ga tau kapan harus menyerah karena gua benar-benar ga bisa hidup tanpa lu." Lanjutnya.


Dia mencengkram kedua lenganku, seperti tak ingin melepaskan tubuhku.


"Tapi gua harus berhenti. Gua ga bisa lanjut. Gua udah banyak merenggut hal-hal berharga di dalam hidup lu!!" Dia kembali emosional.


"Archie!!"


"Gua bukan orang baik, Anya!" Ucapnya, "gua ga bisa lama-lama berada di dekat lu. Gua bukan orang yang tepat untuk di jadikan pendamping."


"Archie!!" Panggilku lagi dengan nada mengigil.


"Dan ada satu hal lagi yang harus gua kasih tau sama lu!!" Ujarnya dengan napas tertahan.


Aku diam dan menunggu.


"Anya. Orangtua gua udah mengatur pernikahan bisnis dengan putri keluarga azutabito, setelah mengatahui kalau gua udah sembuh dari trauma!!"


DEG.....


"Mereka langsung mengatur pernikahan dengan keluarga itu setelah mendengar kabar kalau gua sembuh dari penyakit itu dan memperlakukan lu seperti istri gua sendiri!!"


DEG....


"Anya. Maaf!!"


Tubuhku bereksi terhadap sesuatu yang membuatku tak nyaman, sehingga reaksi penyangkalan itu langsung membuatku mundur dengan berlahan.


"Dari awal, tujuan pernikahan kita di adakan karena orangtua gua ingin memperalat lu agar bisa menyembuhkan gua dari penyakit mental. Karena tak ada cara lain yang bisa membuat gua sembuh, akhirnya kedua orang tua kita setuju untuk mengatur pernikahan kontrak kita dengan syarat jika penyakit gua sembuh maka gua harus menceraikan lu sesuai dengan kesepakatan yang telah di setujui!!"


Tubuhku mengigil karena gemetar. Bahkan untuk sekedar melihat wajahnya saja aku tak sanggup.


"Anya.." dia mendekat.


Tapi tubuhku tak lagi menginginkannya bahkan bertindak tanpa ku perintah.


"Maafin gua Nya, maaf!!"


Sraaakk....


Tiba-tiba aku langsung berlari dan pergi meninggalkan nya begitu saja.


"Anya!!" Pekik Archie.


Tapi aku tak perduli, bahkan untuk melihat ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2