
Aku tak tahu harus berbuat apa pada laki-laki ini, apalagi keahlian bela dirinya tak bisa di pandang sebelah mata. Dia bahkan dengan lihainya mampu membalikan senjata yang di todongkan lawan dalam sekejab.
Dari penuturan kata dan pemilihan setiap kalimat, terlihat sekali kalau dia orang yang berdedikasi tinggi terhadap kekuasaan dan orang yang berpengaruh dalam lingkungan. Di tambah umurnya sudah tak muda lagi, ku rasa seumuran dengan ayahku, maka keahliannya di bidang seperti ini tak perlu di ragukan lagi.
Lalu aku benar-benar tak boleh bertindak gegabah karena tak tahu dia sedang berpihak kepada siapa.
"Aku tak peduli, kau ini bekerja untuk siapa!!" Jawabku, "yang jelas, kau juga orang jahat yang punya maksud tak baik."
Dia menyeringai.
"Lagi pula, aku tak bisa berbuat apa-apa sekarang, karena kau juga menyandera teman-teman ku!!" Sambungku dengan tatapan murka.
"Kau ini, kasar sekali." Jawabnya sambil terkekeh. "Aku ini kan lebih tua 27 tahun darimu, coba kau memanggilku dengan sopan." Dia mempermainkan ku.
"Untuk apa aku memanggil bedebah sepertimu dengan sopan!!"
Dia tambah menyeringai setelah mendengar penuturanku.
"Pantas saja, aku tak bisa berhenti mengikutimu setelah kejadian itu." Ucapnya mengetuk-ngetuk meja. "Itu karena kau, lebih menarik dari gadis manapun yang ku jumpai."
Aku memalingkan wajahku, karena tatapannya yang bersemangat merenungiku itu terlihat menjijikan. Seperti pak tua yang serakah akan nasib baik di masa mendatang.
"Aku yakin kau akan membenciku karena tindakan ku ini," dia berdiri sambil memasangkan topi koboi ke kepalanya. "Tapi..."
Dia mencondongkan topinya ke arah depan, sehingga matanya tak terlihat. "Kau akan berterimakasih padaku, karena telah membantumu menangkap tikus yang bersembunyi di lumbung padi milikmu."
Aku terkesima, dan spontan berdiri.
__ADS_1
"Apa yang barusan kau katakan?"
Dia tak mengindahkan dan berlalu begitu saja.
"Kembali, aku masih ingin bicara!!" Pekikku.
Braakkk...
Dia tak perduli dan menutup pintu besi itu rapat-rapat setelah pergi.
*************
Saat hari menjelang malam, tiba-tiba anak buahnya menyeretku lagi ke suatu tempat.
Setelah melihatnya sendiri, ternyata tempat ini adalah sebuah vila terbengkalai di tengah hutan yang sudah lama di tinggalkan. Tempat ini pun beralih fungsi menjadi tempat untuk menaruh gabah atau barang-barang bekas yang di titipkan orang-orang karena tempat nya kosong.
Dan aku pun langsung menyadari sesuatu saat kedua anak buah lelaki itu menyeretku kemari.
Selama ini aku tak pernah menyadari bahkan tak terpikirkan kalau mereka berdua adalah orang yang sama.
Dan kini aku pun sadar, lelaki itu bekerja untuk siapa.
Braakk....
Pintu terbuka, dan aku kembali di masukan ke tempat asing yang baru.
"Anya!!"
__ADS_1
Tiba-tiba suara yang ku kenal memanggilku dari dalam ruangan. Dan dia langsung berlari menyambutku sembari menangis.
"Anya, lu ga kenapa-napa kan. Lu ga di apa-apain kan!?" Laila langsung mendekapku.
Aku tak langsung menjawabnya karena mengecek jumlah anak-anak yang berada di ruangan ini, dan jumlah kami sama sekali tak berubah, kami masih tetap berjumlah 5 orang.
"Tenanglah, aku ga kenapa-napa kok!!" Jawabku sambil mengusap kepala Laila, dan bergabung bersama anak-anak lainnya.
"Lu ga kenapa-napa kan?" Tanya Tora memastikan.
Aku menggeleng lalu mengedar sekitar dengan cermat. Kenapa tiba-tiba kami di pindahkan ke ruangan yang berbeda, apakah laki-laki itu memikirkan kemungkinan kami melarikan diri dari tempat semula. Tapi di bandingkan tempat sebelumnya, di sini bahkan kondisinya lebih parah. Di tempat ini keadaanya sangat berantakan, gelap, dingin, dan terletak di bagian paling atas bangunan.
Di sudut paling pojok terdapat tumpukan barang rongsokan yang menggunung sampai ke atas, berbagai jenis palet kayu, perca, besi, berbagai jenis sandal beserta ukuran, pipa paralon, kanalpot motor racing, kandang burung, bekas sprei, sepatu boot, lemari, bahkan spanduk partai. Semuanya bertumpuk menjadi satu di pojok ruangan.
Apa pun yang laki-laki itu pikirkan dengan membawa kami kemari adalah sebuah pertaruhan karena menempatkan kami di bagian paling tinggi, sehingga meminimalisir kemungkinan kami akan kabur.
Aku berjalan dan melihat ke luar jendela yang ada dan satu-satunya di ruangan itu. Meskipun kami bisa kabur lewat jendela, tapi mustahil bisa turun dengan selamat. Ruangan ini lantai 4, selain karena bangunannya di penuhi lumut dan dinding nya licin, kami juga tak punya peralatan untuk mencapai dasar.
"Seperti nya, gua tau dimana anak-anak lainnya di sekap!!" Ujar Arya.
Anak-anak langsung berkumpul dan merubungnya.
"Tadi pas jalan ke sini, gua ga sengaja denger suara anak-anak tereak minta tolong di lantai bawah, di depan tangga sebelah kanan, yang pintu besi warnanya coklat." Arya berbisik karena di depan pintu pasti ada para penjaga yang memonitor kami.
"Gua juga sempet denger suara-suara orang rame pas lewat situ, tapi karena gua pikir itu suara kita, jadi gua ga terlalu cepat ngambil kesimpulan." Tambah Dafa.
"Kau bilang, tempatnya di depan tangga sebelah kanan." Aku berfikir dengan keras dan merenung. "Itu artinya, tempat itu persis di bawah kita, tepatnya di ruangan sebelah di bawah kita."
__ADS_1
Mereka mulai ribut-ribut dengan suara bisik-bisik dan berasumsi masing-masing. Benar sekali, meskipun kemungkinan kami tak bisa keluar dari sini, tapi selalu saja ada harapan yang tak terduga seperti ini.
"Aku punya rencana!!" Potongku spontan. "Ayo kita menemui mereka dahulu, lalu memikirkan jalan keluar dari sini bersama-sama!!" Semangatku kembali membara.