
"Paduka. Cepetan entar makanannya pada abis!" Teriak Dafa dari balik pintu kamarnya.
Teriakannya itu langsung membuyarkan lamunan ku, saat menatap pintu yang tertutup rapat di kamar Archie.
"Ngelamunin apaan?" Tanyanya sambil memakan Pizza yang memenuhi mulutnya. Dia berdiri di samping ku menatap lurus pintu kamar Archie.
"Enggak!" Balasku dan masuk ke kamar Arya menyusul anak-anak lainnya yang sudah berkumpul.
Suasana ribut di dalam kamar Arya.
"Maksud gua emang harus pake sofa yang cerah tapi gak usah pake corak juga, kunyuk."
"Jangan lempar-lempar makanan, mubazir. Banyak anak di luar sana yang kelaparan dan cuman nyeduh mie gelas buat makan sehari-hari."
"Curhat mulu lu, tiap ari denger penderitaan hidup lu aja, mangkanya kerja jangan jadi pengangguran!"
"mending gua pengangguran dari pada lu, udah gak laku, badan kek kebo, doyannya cewek-cewek goyang di atas panggung pake baju kelap-kelip."
"Tapi kan mereka cantik!"
"Gua gak menghargai selera lu itu?"
"Udah-udah. Kakak-kakak sekalian kenapa pada ribut sih. Gua malah jadi kalah mulu ini, gak konsentrasi denger pertikaian kalean!"
"Ini kenapa kalian pada debat gak guna, kita ini lagi bahas furniture hoi. Topiknya jangan pada melenceng, waktu kita kurang dari 2 minggu." Lerai Arya yang menjadi moderator di tiap kali kelompok ini kumpul.
"Menurut lu gimana?" Tanya Arya sambil menunjukan design 3D padaku.
Tapi aku malah diam dan menatap kosong ke luar jendela, mengikuti arah gorden berwarna putih yang melambai-lambai di sentuh angin.
Pikiran ku jauh melesat di balik pintu kamar Archie yang tertutup, apa dan sedang apa mereka sekarang? pikiran berkecamuk itu membuat ku gundah, bagai luka yang sudah sakit karena tergores di taburi garam pula!
Mereka semua berhenti bertikai dan memperhatikan ku yang tak bergerak sama sekali di saat rapat sedang berlangsung.
"Nya?" Panggil Arya lagi berusaha membawaku ke dunia nyata.
Aku masih saja sama, dan menatap ke luar jendela dengan pandangan hampa.
"Pppssstt...!" Dafa memberikan kode pada Arya untuk mendekat ke sisinya.
"Galau ***!" Bisiknya pada Arya.
Paakkk....
Arya memukul bahu Dafa yang sok tau.
************
"Anya. Hei, hei...Berenti lu, berenti." Perintah Arya sambil menghentikan langkah gontai ku dan memposisikan punggung ku menyentuh dinding.
__ADS_1
"Gua gak bakalan tau kalau lu gak cerita?" Ujarnya sambil menyilangkan lengan di dadanya.
Aku tak menjawab pertanyaannya dan hanya menghembuskan napas panjang.
Belum sempat aku mengungkapkan perihal kekalutan yang sedang aku rasakan.
Melintaslah kedua pasangan sejoli tersebut di hadapan ku dan juga Arya, mereka langsung menghentikan langkah mereka saat melihat kami berdua yang terlihat seperti sedang melakukan pendekatan secara intim.
Aku menatap Archie dengan pandangan enggan, saat mereka berdua terlihat saling menautkan lengan mereka dan berjalan dengan mesra.
Arya yang melihat kehadiran Yoona dan Archie langsung mengambil tindakan dan mendekat ke sisi tubuhku yang memepet tembok.
"Yang sakit mana?" Ucapnya memegang kedua wajahku dengan pandangan sejajar seolah kami terlihat seperti sedang berciuman.
"Apa yang kau lakukan!?" Bisikku yang ingin menampolnya.
"Sini gua tiup, jangan gerak!" Balas Arya sambil memberikan kode padaku, dan melirik Archie dan Yoona yang menonton kami berdua.
"Kayak nya kita lewat di saat yang gak tepat nih." Celetuk Yoona sambil berbicara pelan kepada Archie.
"Kanan apa kiri!" Ujar Arya setengah menggeser posisinya agar terlihat seperti berciuman sesungguhnya dari arah Archie.
"Archie..!"Pekik Yoona tiba-tiba.
Sebuah tangan kekar tiba-tiba mendarat di bahu Arya dan langsung menghempaskan tubuhnya menjauh dari hadapanku.
"Archie lu ni apa-apaan sih?" Pekik Yoona yang langsung menyusul Archie yang telah memisahkan kami berdua.
"Gua cuman bantuin Anya niup mata nya yang kelilipan. Matanya ampe sakit karena keseringan di kucek!" Jelas Arya memperhatikan ekspresi Archie.
Archie tak beranjak dari tempatnya berdiri dia bahkan tak gentar memandangiku.
"Maaf. Kita jadi gangguin kalian." Ujar Yoona tersenyum canggung sambil menarik lengan Archie.
"Lepas!" Hardik Archie sambil beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Yoona.
"Archie..!"Yoona mengejar Archie dengan susah payah karena memakai sepatu hak tinggi dan rok pendek.
Tapi Archie tak mengidahkan nya dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Walaupun brengsek dia juga masih punya martabat!" Gumam Arya memperhatikan siluet tubuh mereka yang sudah menghilang di antara jajaran pilar kayu di sepanjang lorong.
"Aaawhh..Saakit!" Pekik Arya sambil memegangi pinggangnya yang ku cubit.
"Ngomong dong biar aku juga gak kaget!" Pekik ku di kupingnya.
"Gua sengaja aja gak ngasih tau. Biar lu bersikap senatural mungkin dan bikin dia jadi kehilangan kesabaran. Tapi gak nyangka aja, dia bisa jaga image dan tetap angkuh." Jelasnya yang masih mengusap pinggangnya sendiri.
"Tapi tetap aja, aku bisa masuk rumah sakit karena serangan jantung!" Ujar ku ngegas sambil menjewer kupingnya.
__ADS_1
"Udah ahh sakit!" Ujar nya menepis tanganku.
"Duh..!!" Ucap ku yang mengaktifkan mode galau dan duduk selojoran di bangku panjang dekat taman penginapan."Aku harus gimana?"
Arya menatapku dengan pandangan datar, meskipun dia sebal dengan perilaku ku yang selalu kepikiran dengan hal kecil, tapi dia tetap berada di sekitarku karena kami saling membutuhkan.
"Harusnya lu juga tunjukin ke dia kalau lu baik-baik aja. Kelakuan lu udah kayak Dafa yang mogok nafas gegara gak dapet sinyal." Cecar nya sambil berdiri di hadapan ku.
"Bisa tidak. Gua menjalani hidup normal kayak ABG kebanyakan, yang balik malam abis clubing sambil gendong botol amer, atau menjalani cinta monyet dan ngasih virgin dengan modal jigong, atau kalau gak open BO biar cepet naik haji!" Ujar ku yang mulai menggila.
"Itu gak normal t*lol!" Jawabnya ngegas.
"Kehidupan kayak gitu lebih baik, di bandingkan menikah dengan cecung*k brengsek yang gak pernah anggap pasangannya sebagai istrinya, bahkan main serong secara terang-terangan, dan menganggap semua wanita bisa di gauli dengan semaunya. Apa aku sekarang nakal aja, terus ganti cara ngomong 'Aku' jadi 'Gua' atau 'Kamu' jadi 'Lu' biar kelihatan lebih aesthetic, dan menjajakan diri di pinggir jalan pake baju ketat!"
"Cabe-cabean lokal sekarang udah gak laku, gegara banyak nya produk luar negri yang merambah ke seluruh pelosok pasar daerah!" Jawabnya ngasal dengan muka sebal melirikku.
Dia duduk di samping ku sambil terus menatap sebal, kemudian mengeluarkan HP nya dan menunjukan sebuah foto.
"Nih liat!" Ujar Arya memperlihatkan sebuah fotonya bersama Laila yang masih menginjak bangku SMP.
Terlihat mereka berdua yang sama-sama polos dengan muka burik dan jerawat yang mendominasi, bahkan rambut Laila mekar layaknya singa jantan.
"Kalau gua lagi kangen banget sama Laila, pasti gua liatin foto ini!" Ujarnya sambil menyimpan HP nya kembali. "Lu tau gak gimana perasaan gua yang bertahun-tahun punya perasaan suka, tapi gak berani ngungkapin nya karena takut kalau dia tiba-tiba ninggalin gua!" Tanya nya seolah memberikan kesempatan untukku berfikir.
"Gua gak pengen punya perasaan yang bisa nyakitin orang yang gua sayang." Ujarnya lagi mengulum senyum.
"Kenapa, kau berfikiran seperti itu!?"
"Gua mikirnya kalau gua ngajakin di pacaran, terus kita jadian, tar kalau berantem terus tiba-tiba putus, dan abis itu sama-sama ngelupain, gimana. Lu pikir gua ga takut putus hubungan ama Laila gegara sifat egois gua ini." Ucapnya agak ngegas.
"Kau jangan berfikiran terlalu jauh dong, gimana kalau seandainya Laila lelah nungguin lu, terus di lamar orang. Lu juga kan yang terluka!?" Responku.
"Ga bakalan kejadian, Laila cuman suka dan cinta ama gua dong!!" Balasnya ngeles.
"Serah lu!!"
"Perasaan yang di dasari oleh cinta itu lebih sakit dari pada yang terlihat!" Ucapnya lagi.
"Misalnya!?"
"Mungkin aja sekarang lu ngerasa gak adil karena di nikahin secara paksa tanpa alasan yang jelas. Tapi kenyataanya kalian masih punya harapan karena udah saling terikat dalam ikatan pernikahan. kalian berdua masih punya kesempatan buat memperbaiki dan membenahi diri kalian masing-masing. Menikah tanpa cinta emang terlihat gak masuk akal, tapi setelah di pikir-pikir bukannya lebih baik jika saling mengenal di saat udah terjalin ikatan yang sah."
Setelah mendengar pemaparannya yang ku rasa sangat berguna untuk kelangsungan hidupku, aku langsung mengangkat kepalaku dengan tegak dan memikirkan setiap kata yang dia ucapkan.
"Dan itu lebih baik dari pada impian k*mpret lu yang pengen jadi remaja normal!" Sambungnya lagi.
Aku terhenyak dan menatapnya lama dalam diam.
"Kenapa lagi lu?"
__ADS_1
"Aku harus langganan majalah NOPA!" Jawabku serius, sambil beranjak dari hadapannya.
"Woi. Gak ada hubungannya, kata-kata itu di kutip dari lubuk hati gua yang paling dalam. Lu nyari di edisi manapun gak bakalan nemu!" Teriaknya pada ku yang menuju lorong penginapan.