
"Kamu ngapain ada di luar?" Tanyaku sembari berpegangan pada kedua lengannya.
Dia hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan ku sambil menengadah kan pandangan nya ke langit.
"Gua lagi liat bulan!" Ucap nya memeluk tubuhku dan menciumi sekilas telingaku yang terselip rambut. "Gua jarang-jarang bisa ngeliatin bulan!"
Keningku mengernyit mendengar penuturan nya. "Loh kenapa?" Tanyaku.
Senyuman nya yang indah itu kini memudar yang kemudian tergantikan oleh mimik wajah resah."Gua takut kegelapan." Ucapnya sedikit menggeser posisi duduknya agak kebelakang. "Dan gua juga takut keluar sendirian kalau malam-malam."
"Haahh..!" Dengusku kaget sembari memandangi wajahnya yang bermandikan sinar rembulan. "Kenapa?" Tanyaku kembali, dan bergerak sedikit menjauh agar bisa mengambil sudut menatapi keseluruhan wajahnya.
Archie menghembuskan nafas dalam sampai rongga dadanya terasa menyusut di dekat tubuh ku.
"Gua gak bisa keluar malam sendirian kalau gak ada Hendri yang nemenin!" Jawab nya semakin mengetatkan pelukan hangat nya pada tubuh ku. "Bagi gua kegelapan malam bikin gua terus kebayang dengan hari itu."
"Hari itu?" Ucapku sebelum dia mengatakan semuanya.
"Bener!" Jawab nya menarik pinggulku mengarah masuk kedalam dadanya sampai tubuhku terpaut seutuhnya. "Gua takut gelap, karena kegelapan malam malah balik ngingatin gua tentang kenangan buruk yang berhubungan ama lu."
Archie mendengus kasar sembari meremangi ujung rambutnya di dahiku, sehingga terlihat jelaslah wajah bak pangerannya yang seperti di lukiskan indah di bawah sinar rembulan.
"Gua gak mau kehilangan lu lagi!" Ucapnya semakin dan semakin mengetatkan pelukan nya pada tubuh ku sampai dadaku menyatu dengan dadanya.
"Archie...!!"
"Gua juga berharap.." Lanjutnya yang tak mengindahkan ku yang memotong kalimatnya. "Waktu berhenti saat ini juga." Lanjutnya menundukkan tatapan nya dan menyatukan pelipis kami berdua.
"Archie..!!" Panggilku memanggil namanya sambil memegangi kedua rahangnya dengan telapak tanganku.
"Gua sangat-sangat takut kehilangan lu!!" Ucapnya bernada rendah setengah bergetar.
Menanggapi perkataan nya barusan, membuat ku semakin tersenyum lebar memandangi siluet wajah nya sedekat ini. Bagaikan sedang mendengar kan permohonan anak kecil, dia mengatakan seolah-oleh sedang bermain permainan cinta-cintaan.
Ku ketatkan kedua tanganku memegangi tengkuknya, sembari tersenyum lebar menikmati momen berharga ini.
"Aku juga!" Jawabku sambil memejamkan kedua mataku, dan merasakan hembusan kasar dari kedua nafas kami yang saling beradu di jarak yang hanya beberapa milimeter.
__ADS_1
"I love you!"
Sontak aku mengangkat pandangan ku keatas saat dia menyatakan hal itu secara langsung. Ku tatapi sekali lagi wajahnya, yang bak sebuah lukisan yang terbingkai rapi dan melekat di dinding sebagai pajangan koleksi manusia guudluking. Bahkan di bawah sinar rembulan, pesona nya masih saja menghanyutkan.
Tubuhku langsung tersihir, tanpa menunggu lama lagi, ku daratkan kecupan membara yang di garisi nafsu birahi padanya, sampai rasanya tubuh ku malah menginginkan nya lebih dari apa yang ku bayangkan dari pertama kali bersenggama dengan tubuhnya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Archie yang sekali lagi mendapatkan rangsangan dariku, langsung menyambar umpan yang ku lemparkan, sehingga kami berdua pun hanyut dalam pergulatan lidah dan bibir yang saling timpuk menimpuk, mengorbankan nafas yang sedari tadi berasa sesak dengan desakan tubuh kami berdua yang menginginkan lebih.
*************
Aku terbangun di saat sebuah cahaya terang menyinari wajah ku dibalik gorden Putih yang masih tertutup rapi namun melayang-layang tertiup angin . Dengan enggan ku tutup kembali kedua mataku rapat-rapat, berusaha tak mengindahkan seberkas cahaya yang mengusik ketenangan istirahat ku.
Namun naas nya, lagi-lagi seberkas sinar matahari yang memancarkan cahaya putih kekuningan itu menyeruak menembus kelopak mataku. Sehingga dengan mudah membuat ku kehilangan hasrat untuk melanjutkan tidur ku.
Akhirnya kedua mataku terbuka lebar, selebar-lebarnya sampai otot-otot syaraf mataku kehilangan kesempatan untuk rileks.
"Aduuuhhh...duh..duhh...!!" Ucapku mengadui setelah mencoba menarik tubuhku sendiri agar meregang.
"Ssshitt..!!" Umpat ku yang tak bisa bergerak leluasa saat bangun tidur.
Ahhh...yah. Bisa-bisanya semalaman kami berdua melanjutkan pergumulan nafkah batin halal itu hingga fajar menyingsing. Aku tak bisa menyebutkan sudah ronde ke berapa permainan itu terus berlanjut, dan berhenti di saat cahaya mentari pagi memperingati kami agar menyudahi pergulatan itu.
Sontak aku mengangkat kedua tanganku ke atas dan memandangi jari-jemari ku sendiri yang terlihat masih gemetaran.
Binatang buas.
Apalagi kalau bukan bintang buas, kami berdua bahkan tak memberikan kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing sampai keinginan atas hasratnya terpenuhi.
Ku jatuhkan tanganku dan ku paling kan wajahku untuk melihat kesisi kiriku, dan kudapati tak ada seseorang pun yang berada di samping ku.
"Pukul 10.13." Gumamku yang melihat jam dinding analog bulat yang terpampang di dinding.
Sudah sesiang ini, dan Archie tidak membangun kan ku yang masih tertidur malas di dalam kamar.
Ku usahakan untuk berdiri semampu ku, walaupun otot-otot pahaku serasa penat yang akhirnya menimbulkan rasa sempoyongan dengan jalan yang tak sempurna. Ku papah tubuhku sendiri sampai akhirnya mampu mencapai sebuah kaca besar yang menyoroti seluruh tubuh ku.
Ssrrraaahhh.....
__ADS_1
Ku lempar selimut yang menutupi tubuh ku, hingga kini tubuhku telanjang bulat tanpa sehelai kain pun yang menutupi ku.
Ku pandangi tubuh ku sendiri yang di penuhi oleh bekas merah dari pangkal paha sampai keseluruhan leher, bahkan saat aku berputar, bekas merah itu pun juga berada di punggung beserta tengkukku.
"Dia benar-benar menghabisi ku semalam!" Ucapku tepok jidat.
*************
"....., beberapa dari mereka menginginkan 12% memiliki peluang yang hampir sama persis dengan yang kita sepakati di bulan sebelumnya!" Ucap suara Hendri yang terdengar sedang berdiskusi dengan Archie yang sekarang berjibaku di hadapan laptopnya, dengan tatapan serius nyaris tak ada ekspresi menyimak pembicaraan Hendri.
Pelan-pelan ku langkahkan kaki ku menuruni tangga, sembari berpegangan pada penyangga tangga. Jalanku masih kaku karena kedua pahaku yang masih serasa penat dan juga linu.
Saat melihat ku menuruni tangga, sontak mereka berdua secara bersamaan melihat kearah ku dengan pandangan heran. Karena aku memakai pakaian yang sangat tertutup, bahkan memakai baju tumpuk seolah sedang Kedinginan di cuaca panas terik seperti ini.
"Gua gak sadar kalau lu juga sangat memperhatiin detil penampilan lu!" Ucap Archie menempelkan ice cube di titik-titik tubuh ku yang terkena gigitan cintanya, hal ini bertujuan untuk mengurangi bekas merah yang terlihat sangat menonjol menghiasi tubuhku.
"Kamu gak tau aja, bekas kayak gini tuh malah kelihatan malu-maluin banget kalau ampe di liatin orang-orang!" Jawabku mengomelinya dengan wajahku yang meringis menahan rasa dingin yang menempel pada leherku.
Mendengar ku yang bernada kesal dengan cara mengomelinya, sontak dia langsung bertindak dengan cara menekan ice cube itu semakin dalam menghujam pada leherku.
"Hhhaaaahhhgghh..." Pekik ku kencang sembari menggelinjang kegelian.
Archie yang melihat ku bereaksi seperti itu semakin tergerak untuk melakukan sesuatu padaku, hingga gesekan ice cube yang dia tempelkan pada tubuh ku kian cepat sampai membuat bulu kudukku berdiri.
"Pelan!" Ucapku menengadah pandangan ku keatas sembari mengerjap kuat menahan rasa geli yang menjalari tubuhku.
"Gua gak denger!" Jawabannya yang terus meningkat tempo pergerakan nya sampai air lelehan dari ice cube membasahi tubuh ku sehingga menciptakan halusinasinya tersendiri bagi yang melihatnya.
"Pelan Ci!" Pintaku sekali lagi agar dia tak membuat ku semakin menggila karena rasa dingin yang di keluarkan oleh es batu itu.
"Gua gak bisa denger lu!" Balasnya terkekeh pelan nyaris tak ku sadari.
"Aahhhhghh...udah!" Ucapku sambil memegangi tangannya yang masih menempel kan ice cube pada tubuh ku.
Namun baru saja, aku ingin mengatakan satu patah Kalimat untuk menyudahi terapinya. Archie langsung mengangkat tubuh ku dalam gendongan nya, dan kembali membawa ke dalam kamar.
Hmmm..tentu saja, dia berencana menghabisi ku lagi di siang hari, meskipun tadi malam kami juga melakukan hal yang sama merepotkan nya.
__ADS_1