Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kisah Fiksi


__ADS_3

Dia hanya membalas ku dengan senyuman yang terlihat memabukkan sekaligus memberikan efek halusinasi yang membuatku terbayang-bayang.


"Maksud ka-kamu?" Tanyaku yang tak kunjung mendapat penjelasan apa pun darinya. "Dari awal kita memang.."


"I mean.." Dia menjeda perkataannya sambil menggumam dan memutar bola matanya.


"Lu percaya ikan duyung gak!" Tanyanya tiba-tiba.


"Dugong?" Jawabku.


"Mermaid mangsud gua. Yang badannya orang terus buntut nya pari."


Aku bingung mendengar deskripsi nya.


"Ahhh...kudet banget sih!"


Dia merogoh HP nya dan menunjukan pada ku poster wanita berbikini dengan setengah tubuhnya berbentuk ikan.


"Nah ini!" Ucapnya ngegas.


"Iya bener, dugong. Di daerah asalku bilangnya dugong."


"Aneh bet!" Responnya sambil melempar HP nya ke atas meja.


"Terus apa hubunganya ama pernikahan kita yang udah di rencanain!" Tanyaku yang belum puas dengan jawaban absurd nya barusan.


"Jadi lupa pengen ngomong apa?" Balasnya memalingkan wajahnya sambil menggaruk kepala.


"Gak jelas sumpah!"


"Intinya gua pengen ngomong, kalau kita berdua ini kisahnya kayak cerita fiksi yang cuman terbit di dalam novel dan film-film Hollywood!" Cecarnya tiba-tiba memekik di telingaku.


"Kok jadi bisa di hubungkan kesana?" Tanyaku menatap balik wajahnya.


"Karena..." Dia menundukan tatapannya kebawah sambil menghembuskan nafas kasar.


"Pertemuan kita berdua yang memang gak masuk akal!" Jawabnya.


"Gak masuk di akal?"


"Gua bilang gak masuk di akal karena emang pertemuan kita yang berada di dalam situasi yang salah dengan kondisi yang salah dan cara penafsiran yang salah!" Jawabnya mengangkat kepalanya dan menatapku.


"Aku tetap gak ngerti?" Respon ku menampik jawabannya.


Dia kembali tersenyum menatapku, dan langsung merengkuh tubuhku dalam dekapannya.


"Gak usah ngerti, lagian lu juga gak punya otak buat mikir!" Ujar nya sambil menjentikan jarinya ke jidatku.

__ADS_1


"Apa susahnya sih ngasih tau pake bahasa yang mudah di mengerti manusia!" Timpal ku menyingkirkan tangannya.


"Mungkin kedepan nya gak bakalan mudah bagi kita bedua buat ngejalanin hubungan ini." Jawabnya sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku. "Tapi gua percaya, pas ingatan lu udah balik, lu pasti nemuin sendiri jawabannya!!"


Dia menyibak rambutku kebelakang dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya sejajar dengan tatapanku.


Archie kemudian mendaratkan bibirnya menyentuh bibir ku.


Tapi sekedar mendaratkan bibirnya menyentuh bibirku, dia tak melakukan apa pun selain hanya membuat kedua bibir kami saling merasakan teksturnya masing-masing, yang kemudian dia beralih ke kening ku dan mengecup nya dengan kurun waktu yang lama.


"Abis ini gua gak bisa pulang kerumah, selama seminggu kedepan gua bakalan tidur terus di luar." Ujarnya terdengar bergumam karena bibirnya yang masih menempel di kening ku.


"Gua bakalan nyelesain masalah gua ini secepat mungkin dan ngenjelasin semua yang telah terjadi selama ini," Ucapnya yang kemudian semakin memeluk tubuhku masuk ke dalam tubuhnya. "Tapi, ingat satu hal..."


Dia melepaskan napas berat yang terlihat sesak memenuhi rongga dadanya.


"Apa pun yang terjadi selama gua gak pulang ke rumah, itu gak seperti yang lu pikirin. Gua bakalan ngejelasin apa yang terjadi pas gua udah selesai dengan semua urusan gua!" Ucapnya lagi terus menerus memberikan ku penekanan.


Aku merespon nya dengan anggukan kecil di balik dada bidangnya yang membentengi nafasku.


*************


Lima Hari kemudian.


Ddrrrt ddrtt...


Nomor tidak di kenal,


"Halo!" Jawabku mengangkat telpon.


Namun tak terdengar jawaban seseorang yang membalas perkataanku.


"Halo!" Jawab seseorang di sana yang menjawab panggilanku.


"Loh, kok nomornya beda!" Tanyaku yang bingung sambil melihat lagi nomor yang menelpon ku.


"Gua lagi di hotel Clara Ratu Siantaro!" Ucap Archie seperti sedang tergesah mengatakannya.


"Hotel yang dulu kita berdua pernah nginep?" Tanyaku.


"Di lantai 2 kamar nomor 35. Gua tunggu nanti malam!"


Tut..


Tiba-tiba telponnya terputus.


Dengan bingung aku memikirkan perintahnya yang langsung menyuruhku pergi ke hotel tanpa menjelaskan maksudnya terlebih dahulu.

__ADS_1


Ahhh..mungkin dia ingin memberikanku kejutan seperti yang dia lakukan pada kamar utama kami tempo hari.


"Oh ya ampun!" Pekik ku kemudian berdiri dan langsung bersemangat pergi ke ruang ganti memilih dalaman yang akan ku pakai nanti malam.


Pukul 20.14 wib.


Aku menghubungi nomor telponnya berkali-kali dan sudah menunggunya di lobi hotel. Namun anehnya dia tak kunjung mengangkat telpon ku dan seperti sengaja dimatikan saat sedang di tengah panggilan.


Akhirnya aku memutuskan untuk pergi kelantai dua dan mencari nomor kamar yang tertera angka 35.


Ceklek..


Tanpa di cari pun ternyata Archie keluar sendiri dari kamar yang bernomor 35, dan dengan gembira aku berlari untuk menghampirinya dari ujung lorong kedatanganku.


Namun tiba-tiba langkahku terhenti di saat dia menyambut seseorang wanita yang ku kenal berada di depan pintu kamarnya, yang tak lain tak bukan wanita itu adalah Yoona.


Mereka terlihat berbincang lama dan terlihat aura keakraban di balik pembicaraan mereka berdua. Sedangkan aku hanya berdiri mematung dari kejauhan memperhatikan mereka berdua yang tak menyadari kehadiranku.


Tiba-tiba pintu terbuka dari kamar yang Archie masuki dan menyembul lah kepala wanita lain dari balik pintu tersebut yang ku yakini sebagai Chika yang pernah ku temui di restoran tempo hari.


Mereka bertiga terlihat berbincang-bincang hingga akhirnya mereka semua masuk kedalam kamar dengan pintu tertutup rapat.


************


Aku terbangun di pagi hari dengan kepala ku yang masih terasa pusing hingga rasanya tak sanggup untuk bergerak.


Apa yang terjadi padaku tadi malam, kenapa kepalaku serasa mau pecah!


"Duuuhh..!" Keluh ku sambil meringis dan menopang satu lenganku agar bisa duduk di atas kasur.


Tiba-tiba aku merasakan atmosfer yang asing saat menyadari diriku yang baru saja bangun dari tidur ku.


Ku tatap sekitar dan mengindarkan pandanganku berulang kali, memastikan kalau aku benar-benar sudah terbangun dari tidurku, namun tetap saja aku merasakan sesuatu yang asing di tempat ku terbangun.


Ini bukanlah kamar ku, juga bukan kamar Archie. Ini bukanlah pewangi ruangan yang biasa ada di kamar ku, juga bukan yang biasa ada di kamar Archie. Benda-benda yang ada di kamar ini bukanlah benda yang ada di dalam kamar ku, begitu juga yang ada di kamar Archie.


Kkkrraasskk...


Aku terperanjat saat mengetahui kalau di sampingku ada seseorang yang sedang tertidur lelap bersamaku di dalam satu kasur.


Dengan berlahan ku putar tubuhku untuk melihatnya, dan...


Mataku membelak besar di sertai air mataku yang hampir menetes saat melihat seseorang di samping tubuhku tertidur dengan nyenyaknya.


Aku langsung terperanjat dan mengambil langkah mundur di pojok dinding saat mengetahui kalau aku berada di dalan satu tempat tidur seseorang yang ku kenal.


mendengar keganduhan yang ku buat, akhirnya dia terbangun dan berlahan membuka matanya dan menyaksika ku yang panik dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Anya!" Panggilnya dengan Suara Lirih mendekatiku.


"Ka-ak Dimas!"


__ADS_2