Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Escape Part 3


__ADS_3

"Kau?" Aku gemetar, "bagaimana kau tahu nama panggilan itu?!" Tanyaku.


Dia tak menjawab dan tersenyum smirk mengejekku.


"Sebenarnya kau ini siapa?" Desakku.


Dia memutar bola matanya keatas seakan-akan sedang mendengar ocehan anak kecil yang meminta mainannya di kembalikan. Tak ada perasaan iba yang tergambar di wajahnya.


"Gak ada gunanya juga sih, kau tau aku ini siapa!" Ucapnya terkekeh. "Yah, pada akhirnya, kau juga bakalan mati!!" Ujarnya pas membuka mulut.


Cklaakk....


Rio tanpa ampun menodongkan senjata api itu tepat di ubun-ubun laki-laki itu. Dan Dafa langsung menghalangi pandanganku dengan punggungnya.


"Jangan ngomong sembarangan!!" Ucap Rio. "siapa yang lu bilang bakalan mati!!" Dia menekankan kalau senjata api yang ada di tangannya adalah tali temali yang kapan saja bisa putus seiiring dengan niatnya melepas pematiknya.


Spontan pria itu langsung mengangkat kedua tangannya karena terancam.


"Padahal aku sudah memisahkan orang-orang yang kuat dan berpotensi merepotkanku di situasi seperti ini, tapi tak ku sangka kalau aku masih ketinggalan satu orang!!" Ucap laki-laki itu menyengir menatap Rio.

__ADS_1


"Berenti main-main!!" Ujar Rio, "katakan, di mana yang lain?"


Dia tak menjawab dan tersenyum mengejek.


"Cepat!!" Pekik Rio.


Dia panik dan mengangkat tanganya tinggi-tinggi. "Baiklah, baik, aku akan mengatakannya!" Ucapnya spontan.


Laki-laki itu menurunkan pandangannya melihat ke arah sepatu Rio, dan tersenyum lagi. "Tapi bo'ong!!"


Plaakkk....


Tak ada yang menduga jika laki-laki itu akan memutar tubuhnya seperti gasing dan menggunakan lututnya untuk menepis senjata api. Dalam sekejab keadaan langsung berbalik,dan kami semua pun kalah tanpa sanggup melawan.


*************


"Apa rotinya tidak enak, jadi kau tidak memakannya barang segigit!"


Aku melengos dan tak mengangkat wajahku dari saat laki-laki itu datang.

__ADS_1


Setelah melumpuhkan kami berlima dengan Rio sebagai ujung tombaknya telah tumbang, dia membawaku secara terpisah dari anak lainnya ke sebuah ruangan yang sama kotornya seperti ruangan sebelumnya. Dan tentu saja, aku di jaga ketat oleh anak buahnya yang tak kan segan-segan bertindak jika aku membuat masalah.


Entah apa yang dia rencanakan hingga membuatku terpisah dari anak-anak lainnya. Namun yang pasti, aku tak kan tinggal diam dan memasrahkan semuanya begitu saja.


"Maafkan aku jika makanan yang ku sajikan tak enak dan membuatmu tidak napsu makan. Tapi aku tak bisa membuat tawanan berhargaku kelaparan kan!!" Ujarnya lagi sambil mendorong meja agar makanan itu mendekat ke arahku.


Aku tetap enggan menampakan wajahku, dan tak bicara sama sekali.


"Tenang aja, ga di kasih racun kok!" Dia mengambil sendiri roti itu dan memakannya. "Liat, aku juga makan kan!"


Aku tetap enggan untuk melihatnya bahkan sekedar untuk melirik.


"Apa kau tahu, ku pikir akan berakhir tragis kalau aku langsung membunuh anak konglomerat itu tanpa mempermainkannya lebih dulu!" Ucapnya sambil mengunyah roti itu.


Aku terpekur mendengar penuturannya dan menatap lurus ke depan.


"Jadi aku melepaskannya begitu saja dan bermain petak umpet sampai dia kelelahan, lalu dehideasi dan mati kelaparan!!"


Aku mengangkat pandanganku ke atas dan langsung menatap tajam ke arah wajah laki-laki itu.

__ADS_1


"Tapi tak ku sangka dia malah bertemu kau, dan kau dengan bodohnya menampung anak itu di rumahmu!!"


__ADS_2