
"Gua yang sengaja ngunciin kalian di gudang waktu ospek." Ujarnya, "Gua juga yang ngirim seseorang buat nyelinap masuk kamar lu, gua yang giring lu buat ngeliat pemandangan tak senonoh Archie di hotel agar kalian salah paham, gua juga yang ngasih obat tidur di minuman kalian, gua juga yang ngantar kalian ke kosan dimas, dan gua yang memanipulasi data rumah sakit dan menyatakan kalau lu beneran hamil." Jelasnya dengan ekspresi tertekan dengan wajah meringis. "Itu semua, atas dasar perintah gua. Gua yang ngelakuin semuanya."
Pandanganku mulai berkunang-kunang saat mendengarkan penuturan dari Libiru. Tak hanya pandangan, dadaku pun terasa nyeri sampai berdampak pada rasa tak nyaman yang mengakibatkan perutku melilit serasa ingin muntah. Seluruh tubuhku gemetar, tak bisa ku bayangkan seseorang yang begitu dekat denganku malah ingin mencelakakanku. Bahkan selama ini, dia tak pernah menunjukan rasa ketidaksukaannya padaku.
"Kenapa?" Tanyaku dengan mata merah yang meradang, "Kenapa kau melakukan semua ini?"
Dia langsung mengalihkan tatapannya dari ku saat dia menyadari air mataku yang hampir tumpah. "Karena," Dia berhenti dan menjeda perkataannya sambari meneguk ludah, "Archie sudah membuat papa Arlangga terbunuh."
**************
Dalam perjalanan pulang, ku pegang erat materi fotokopian yang di berikan Libiru kepadaku, dia sudah berjanji ingin menyerahkannya sejak sebulan yang lalu, tapi tak ku sangka dia masih mengingatnya sambil membawa kebenaran yang menyakitkan ini.
Aku menangis sejadinya di dalam mobil yang di kendarai oleh Hendri, memegang erat materi fotokopian Libiru dengan rasa sakit yang mejalar panas di dalam dadaku.
Orang yang selama ini sangat dekat denganku, yang selalu mendukung dan menemaniku di saat susah maupun senang, yang memberikan perhatian dan juga rasa nyaman di saat yang bersamaan. Bagaimana bisa dia menyembunyikan semuanya dari ku dan diam-diam merencanakan semua ini karena rasa dendamnya.
"Nyonya!!" Panggil Hendri yang melirikku di balik kaca spion dengan wajah khawatir. "Perlukah saya memutar arah dan mencari udara segar." Dia menghawatirkan perasaanku yang tergunjang.
Yang tak ku sadari adalah percakapan antara aku dan Libiru yang ada di kantin kampus, sebenarnya di dengar oleh semua pihak yang memantau dan memata-matai kami dari sudut tersembunyi. Jadi wajar saja kalau Hendri mengetahui semuanya tanpa mendengar langsung dari ku.
Hendri membawaku ke sebuah taman dekat perkotaan yang tak jauh dari jalur mengarah ke apartemen.
Aku menghempaskan tubuhku di bawah pepohonan nan rindang, menikmati angin segar yang menerpa dengan beringas tubuhku yang sakit karena penghianatan.
"Pasti sakit!!" Ucapku sendiri sembari memejamkan mataku dan memegang erat materi fotokopian saat mengingat ekspresi Libiru yang mengatakan kebenarannya. "Pasti selama ini kau menderita, memendam rasa dendammu terhadap seseorang yang kau cintai." Air mataku lagi-lagi mengalir.
Ku angkat tinggi-tinggi materi fotokopian yang di pinjamkan Libiru sampai sejajar di depan wajahku dan mengingat kembali perkataanya tadi.
Flasback 2 jam yang lalu.
__ADS_1
"Gua ga punya pilihan lain selain membenci orang yang udah ngembunuh papa Arlangga. Kalau aja Archie ga nyebrang sembarangan, mungkin aja papa masih ada sampe sekarang." Tuturnya dengan pandangan searah dan tubuh gemetar.
"Karena alasan seperti itu kau melakukan ini semua!" Balasku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lu ga bakalan ngerti rasanya gimana, karna lu ga pernah kehilangan seseorang yang amat berharga."
"Ku pikir kau bukan orang yang bisa melakukan hal seegois ini sampai-sampai menyakiti seseorang yang belum tentu bersalah." Timpalku.
"Sekarang lu ngembela diri!!" Jawabnya keras kepala.
"Jika kau dewasa, kau juga pasti mengerti kalau kematian papa Arlangga bukan perbuatan yang sengaja di lakukan Archie."
"Diem lu!!" Hardiknya pelan dengan tangan gemetar.
Air mataku langsung mengalir saat dia meneriakiku. Libiru telah berubah, dia bukan lagi seseorang yang dulu ku kenal.
"Lu pikir lu siapa, lu ga bakalan tau gimana rasanya kehilangan orang yang sangat berharga, lu ga pernah bisa ngerti gimana perasaan gua." Sambungnya merunduk dengan tangan mengepal. "Seenggaknya saat ini gua masih punya tujuan hidup yang ga bakalan gua sesali." Dia mengangkat pandangannya.
"Sekarang lu udah ngerti siapa musuh yang sebenarnya!!" Ucapnya sambil berdiri dan merogoh sesuatu di balik ranselnya. "Gua udah nandain Tiap materi pembelajaran yang penting-penting, moga aja dengan begitu lu bisa lebih mudah dalam mencerna pembelajaran. Karna gua udah apal kebiasaan lu yang susah belajar kalau ga begadang, mungkin dengan begini lu ga harus selalu begadang."
"Aku ga butuh!!" Tepisku dengan terus menangis. "Simpan saja untuk dirimu sendiri, aku tak butuh barang pemberian dari penghianat."
Tapi dia langsung mengambil tanganku dan meletakkannya sendiri agar aku menerimanya."Belajarlah yang giat, gua udah susah payah menandai setiap paragraphnya demi lu." Tangannya bergetar di sertai keringat dingin, "Anggap aja ini kenang-kenangan terakhir dari gua. Dari persahabatan kita." Matanya tampak bernyala dengan urat-urat merah di pupil matanya.
******************
Aku langsung duduk dengan tegak dalam perasaan yang bercampur aduk. Aku langsung teringat dengan ekspresi terakhirnya.
Cara dia memberikan materi fotokopian ini padaku, bukankah terkesan aneh seperti sedang memohon agar ku terima.
__ADS_1
"Kalau begitu, apakah dia berusaha memberitahuku sesuatu!!" Gumamku dan membuka helai demi helai lembar materi fotokopian tersebut.
Tak ada yang aneh, semuanya terlihat hanya seperti materi pembelajaran biasa, tak ada pesan khusus, sesuatu yang penting dan mudah di ingat akan di garisi oleh stabilo berwarna merah.
Ku bolak balik lagi fotokopian itu sampai habis, namun sejauh ini aku tak menemukan satu pun petunjuk yang berhubungan dengan isyarat pada tatapan terakhirnya. Mungkin aku sudah salah mengira. Libiru memang sudah berubah, dia bukan lagi orang baik.
Namun di penghujung lembar fotokopi aku menemukan sesuatu yang aneh, lalu kubolak lagi ke halaman sebelumnya.
Terdapat sesuatu yang mencurigakan, yaitu terletak di cara bagaimana dia menandai beberapa kalimat dengan cara menggeser tebal dan tipisnya stabilo. Pada beberapa kalimat ada beberapa yang warna stabilonya halus dan berwarna pucat dan ada juga beberapa kalimat yang kasar dan berwarna terang.
Sontak aku langsung membalik halaman utama pada materi fotokopian dan menemukan sesuatu yang membuatku hampir terbelak.
Aku merafalkan setiap kata yang terlihat tebal sampai mendapatkan sebuah pesan yang berbunyi.
JANGAN MEMPERCAYAI SIAPA PUN TERMASUK DENGAN ORANG-ORANG YANG ADA DI SEKITARMU.
Dengan mata terbelak, ku balik halaman demi halaman sampai mendapatkan sebuah pesan utuh.
LINDUNGILAH DIA YANG KAU CINTAI.
MUSUHMU BERASAL DARI ORANG YANG SAMA DENGAN KU.
DANAU HIJAU DI SEBELAH BUKIT TANJUNG.
83616 52.03.17.2001
"AKU MENCINTAIMU TERUSLAH HIDUP." Isi pesan yang ada di balik halaman terakhirnya.
Dengan tubuh membeku ku tatapi materi fotokopian itu dengan raut wajah tegang.
__ADS_1
"Libiru, sebenarnya apa yang sedang terjadi!!" Ujarku dengan tangan gemetar memeganginya.