
Paisee dengan lihai menghindar serangan itu, dan memasang kuda-kuda untuk meladeni Libiru. Mereka bertarung dengan monoton. Paisee selalu menghindar, dan Libiru menyerang dengan membabi buta.
Meladeni pertarungan dengan orang yang memakai senjata adalah perbuatan konyol, terlebih peruntungan selalu berpihak kepada mereka yang selalu memakai buff dalam setiap perbuatan.
Namun yang terjadi, tak selalu terlihat seperti yang di bayangkan. Pasalnya, meskipun Libiru memakai senjata apapun itu termasuk pentungan, tukul, gergaji, parang, atau pedang sekalipun. Kalau dasarnya tidak punya keahlian dalam mengolah perkelahian dengan orang yang berpengalaman. Hasilnya akan selalu sama. Kekalahan.
Libiru mengira kalau dia berhasil memberikan tekanan kepada lawan karena telah berhasil melukai ku. Tapi dia lupa, kalau yang dia hadapi adalah Pay Long Tse.
Pukulan fatal Libiru berhasil Paisee tangkis dalam sekali serangan. Paisee langsung menyasar bagian wajahnya dan memukuli bagian vitalnya sampai babak belur.
Saat darah segar mengucur deras mengalir dari wajahnya yang telah lebam, barulah Paisee berhenti dan mendorongnya sampai tersungkur.
Libiru tak bisa bangkit, apalagi melawan. Dia berada di posisi paling menyedihkan dalam strata tingkatan harga diri seorang laki-laki.
Saat aku bangkit berlahan dan berjalan tertatih mendekati Libiru yang terkapar. Archie dan Paisee mengikuti pergerakan ku.
"Anya!!" Panggil Archie yang berusaha memegangi lenganku agar tak mendekat ke arah Libiru.
Tapi Paisee memegangi pergelangan tangan Archie dan menyuruhnya agar tak menghalangiku.
"Libiru!!" Panggilku yang bersujud di hadapannya.
Libiru mengangkat kepalanya, dan menunjukan wajahnya yang babak belur dengan darah yang mengucur.
"Kenapa kau melakukan nya?" Tanyaku sembari memegangi kerah bajunya, tak menghiraukan darah segar yang mengalir deras di lengan kananku.
__ADS_1
Dia tak menjawabnya, dia kesusahan menarik napas.
"Jawab aku!" Ucapku memohon sambil menangis."Apa yang sedang kau lakukan?"
Tapi dia tak menjawab pertanyaan ku, dia menekuk wajahnya, dan mengatur kembali napasnya.
"Ku pikir kita teman!" Ujarku sembari melepaskan kerah bajunya dan mundur dengan menyeret kaki ku. "Ku pikir kau temanku."
Dia tetap tak membalas perkataan ku, wajahnya semangkin lebam di ikuti darah yang merembes di sekitar wajahnya.
"Jawab aku, sialan. Kenapa kau melakukan ini kepada ku. Kenapa kau selama ini berpura-pura baik terhadap orang yang menyangi mu dengan tulus. Jawab aku!!" Pekikku yang sudah kehilangan kesabaran.
Namun bagaimana pun aku berusaha memancing nya untuk berbicara dia tetap diam seribu bahasa. Dia tetap tak membuka mulutnya.
Saat aku menatap lurus ke arah pintu masuk, ternyata anak-anak datang menyusul kami ke tempat ini.
Mereka semua tercengang dalam perasaan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata setelah menyaksikan sendiri pemandangan yang tak masuk akal ini.
Ruana yang terkapar dan hampir meregang nyawa di pelukan Arya, lenganku yang terluka dan di kebat menggunakan Perca, Archie yang sehabis menangis, Paisee yang saat itu di anggap mereka orang jahat, dan Libiru yang terkapar dalam keadaan babak belur.
Semua itu membuat mereka yang menyaksikannya menjadi bingung, sehingga terpaku di pintu masuk dalam perasaan berkecamuk.
Terutama Hendri dan Sakurai. Mereka berdua langsung melangkah maju dan tanpa pikir panjang langsung menyasar Paisee sebagai tersangka.
Tapi Archie langsung menghentikan mereka berdua dengan memasang isyarat berhenti agar mereka tak buru-buru mengambil keputusan.
__ADS_1
Tora dan Rio histeris dan langsung menyabangi Ruana yang sekarat. Sedangkan sisa nya terpaku di tengah-tengah ruangan sedang mencerna keadaan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sayang berharap mendapatkan jawaban dari siapa pun yang berada di sini.
"Arya apa yang terjadi. Anya lengan lu kenapa?" Laila panik dan hampir menangis melihat pemandangan pilu ini.
"Hei, tolong. Siapapun, tolong jelaskan. Apa yang terjadi di sini?" Pekik Tora yang menangis melihat kondisi adiknya.
Libiru tiba-tiba mengangkat kepalanya dan memandangi sejurus kepada sesorang yang berada di antara mereka.
"Hehehehehe!!"
Tiba-tiba Libiru terkekeh tak jelas dengan wajah dan kondisi nya yang seperti itu.
Seisi ruangan ini membeku melihatnya seperti orang yang kehilangan akal lantaran sakit saraf.
"Halo, Rail Algio De Sayang. Genkidesu ka. Anata wa watashi o shitteita? 元気ですか. あなたは私を知っていた?"
*Translate. 'Apakabar. Apa kau masih mengingatku?'
Sayang tercengang dengan tubuh membeku memandangi Libiru. Sampai Archie, Sakurai, dan Hendri ikutan merasakan atmosfer itu. Saat mendengarkan Libiru berbicara dalam bahasa jepang.
Seisi ruangan ini kembali membeku, sampai Sayang berjalan selangkah dan mengangkat tanganya dan mengeluarkan telunjuknya ke arah Libiru.
"Hiru..Todoroki!!" Ucap Sayang dengan suara yang nyaris tak terdengar.
__ADS_1