Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Kesempatan Kedua Part 2


__ADS_3

Mereka menyeretku di sebuah rumah kosong dan mengikatku di atas kursi lapuk dengan tali lalu membekap mulutku menggunakan lakban. Kemudian secara bersamaan mereka semua berdiri sejajar di hadapanku seperti sekelompok aliran sekte sesat yang ingin mengeksekusi ku sebagai tumbalnya.


"Hai, kita ketemu lagi!!" Ucap pacarnya Dimas kepada ku yang bahkan tak bisa membalas satupun perkataan mereka.


"Kau mungkin bertanya-tanya kenapa kami membawamu secara paksa ke tempat ini. Dan juga pasti kau bingung kenapa kami semua berkumpul di sini!?"


Aku menatapnya dengan pandangan waspada saat wanita itu mendekat dan menunjukan ancaman lewat sorot matanya.


"Entah, dengan apa dan bagaimana caramu mendapatkan dukungan penuh dari Archie Yuaga. Tapi yang jelas kau pasti menjual diri dan memanipulasinya agar mengeluarkan kami semua dari sekolah!!" Ucapnya dengan nada menggeram di dekatku.


Aku menggeleng dan berusaha memberitahu mereka lewat gestur tubuhku, tapi ternyata apa yang ku lakukan adalah tindakan sia-sia. Mereka adalah sekumpulan orang yang tak bisa berfikir rasional karena telah di lukai. Kepala mereka sudah di penuhi oleh dendam, benci dan juga amarah. Penjelasan apapun yang ku lontarkan akan semangkin menyakiti mereka. Bahwasanya apapun yang akan ku katakan nanti adalah sebuah tindakan pembelaan diri, maka mereka sengaja membekap mulutku agar aku tak mengatakan omong kosong yang tak ingin mereka dengar.


"Kami semua adalah contoh ketidakadilan situasi. Bagaimana menurutmu kami bisa mengetahui apa yang di beberkan di media sosial dan juga perkataan wanita j*lang itu adalah kebohongan belaka. Apa kau pikir kami bisa menebak semua omong kosong itu!?"


Dia semangkin mendekat kearahku sampai pandangan kami sejajar.


"Kau pikir dengan mengeluarkan kami semua dari sekolah itu adalah akhir dari segalanya!?"


Dia menyentak rambutku ke belakang sampai leherku menegang.


"Tidak. Semua ini belum berakhir!!" Pekiknya seakan ingin menelanku.


Aku tak berkutik saat dia semangkin kuat menjambak rambutku, cengkramannya seperti kaki elang yang cakarnya terbuat dari besi. Permainan fisiknya ini adalah manifestasi kebenciannya kepadaku.


"Kau mengambil Dimas dari ku!!" Bisiknya lagi di dekat di telingaku. "Kau mengambil segalanya dari hidupku!!"


Tangannya gemetar hebat. Di balik sorot matanya yang tajam terdapat air mata yang menggenang. Di balik tatapannya yang dingin itu, terdapat luka yang terpendam, dan semua luka itu adalah luka yang seolah-olah di lakukan oleh orang yang ada di hadapan matanya.


"Gara-gara kau. Semua ini karena kau. Aku putus dengan Dimas. Aku di keluarkan dari sekolah. Nama baik ku hancur. Keluargaku di kampung bahkan tak punya sepeserpun uang untuk melunasi denda yang di ajukan untuk membebaskan ku dari jeratan hukum!!" Teriaknya over kontrol.


Dia memegang rahangku dengan kuat seakan sedang menggenggam parang.


"Sedang kan anak-anak lainnya bahkan tak bisa pulang ke rumah karena belum memberitahu orang tua mereka yang ada di kampung. Apa kau tak memikirkan apa yang terjadi kepada kami. Apa kau hanya perduli dengan dirimu sendiri, yang tak bisa di bandingkan dengan orang sebanyak ini." Dia menunjuk anak-anak yang sedang berdiri di belakangnya, "apa kau merasa menjadi orang yang paling tersiksa di dunia ini hanya karena sekaleng soda yang tumpah di atas kepalamu atau di lempari sampah. Apa kau pikir penderitaanmu sebanding dengan semua penderitaan yang kami alami!?"


Aku menatapnya dengan napas memburu.


Tiba-tiba sekelompok orang-orang lainnya berdatangan dengan membawa berliter-liter bensin yang mereka seret dari luar.


Aku menatap tajam ke arah mereka karena menyadari sesuatu yang tak beres, dan mereka pun membalas tatapanku dengan senyum menyeringai.


"Kau tau apa yang lebih buruk ketimbang menjadi pecundang?" Tanyanya.


Aku menggeleng dengan tatapan putus asa.


"Menjadi dirimu!!"


Mata ku terbelak.


"Aku tahu kau sudah banyak menderita akhir-akhir ini!!" Ucapnya melepaskan cengkramannya dari kepalaku dan beralih menepuk-nepuk wajahku. "Jadi, biarkanlah kami semua melepaskan penderitaanmu."

__ADS_1


Dia mengambil satu derijen bensin.


"Dengan mengirim mu ke neraka!!" Lanjutnya.


Cplaaass....


Mereka semua mulai menuang dan menyebar bensin itu ke segala penjuru. Dan benar dugaanku, mereka memang berniat ingin membunuhku dengan cara membakar rumah ini.


Aku berusaha mengangkat tubuhku sendiri agar bisa melepaskan ikatan, namun lagi-lagi tidakan ku sia-sia. Saat aku berusaha bergerak, kursi yang ku duduki malah terjatuh dan berakhir terkapar dalam keadaan tersungkur di lantai.


Mereka yang mendapati pemandangan itu hanya menggerung seperti suara kucing penggoda yang melihat lawannya mati karena di racun tetangga. Mereka menikmati nya. Menikmati pertunjukan ini.


Ctaaarr....groooo....


Suara petir di sertai kilat terdengar dari luar. Mungkin sebentar lagi akan terjadi hujan badai. Mereka yang menyadari keadaan ini cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan memasang wajah panik.


"Bakalan berhasil ga nih, bukannya kalau ujan api nya bakalan padam!?" Mereka berdebat dengan sesamanya.


"Ini kan bensin, mau lu siram pake aer setangki aja api nya ga bakalan padam, yang ada api nya bakalan membesar dan tambah menyebar!!"


Aku menggoyangkan tubuhku dengan putus asa setelah mendengar pembicaraan mereka.


"Hahahaha..iya kah!!" Sambung yang lain.


"Berarti tu cewek bakalan mampus tanpa sisa dong!!" Mereka semua kegirangan.


"Ok baiklah. Persiapan kita sudah selesai!!" Ucap mereka berkumpul di satu titik dan menatap puas ke arahku.


Pacarnya Dimas tiba-tiba mendekat lagi ke arahku sambil berjongkok. Dia terus tersenyum-senyum dari tadi karena telah membayangkan kesenangan yang akan dia dapatkan setelah membunuhku.


"Tidurlah dengan tenang Sayang." Wanita itu mengelus wajahku. "Setelah kau terbakar habis di rumah kosong ini, tak ada yang akan menyadari kalau kematianmu adalah tindakan pembunuhan. Lagi pula saat rumah ini terbakar, kau juga akan ikut lenyap beserta tulang-tulangmu!!"


Dia tertawa cekikikan.


"Haaah..menyenangkan!!" Dia menengadah ke atas, "setelah kau mati, akan banyak orang yang akan berpesta karena kematianmu. lalu aku..."


Dia menunjuk dirinya sendiri dengan air muka bahagia.


"Aku akan mendapatkan semua yang ku inginkan. Aku akan kembali kepada Dimas. Aku akan mendapatkan kebahagianku kembali." Matanya menyala-nyala seperti pelita.


"Cepatlah. Nanti keburu ada yang datang!!" Seru anak-anak yang lain menyuruhnya untuk segera mengeksekusi ku.


"Hei Anya!!" Seru wanita itu mengangkat daguku. "Sampai jumpa di neraka!!"


Wanita itu tanpa ragu langsung melesat pergi dari hadapanku dan meninggalkan ku begitu saja tanpa rasa iba.


Aku berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu tanganku dengan cara menggoyang-goyangkan pergelangan tanganku ke atas dan kebawah. Namun belum sempat aku melakukan berbagai hal untuk meloloskan diri, sebuah asap hitam mengepul tebal di hadapanku dan tercium bau bensin yang terbakar memenuhi indra penciumanku.


Rasanya percuma berteriak minta tolong. Sepertinya di tempat macam ini tak kan ada seorangpun yang akan mendengar suaraku.

__ADS_1


Apakah ini akhir dari hidupku?


Apakah dari sekian bencana yang pernah menghampiriku, pada akhirnya aku pun mati dalam keadaan terbakar?


Aku tak membayangkan jika di akhir hidupku aku akan meninggal dalam keadaan seperti ini. menyedihkan.


Kenapa di saat situasi seperti ini aku sendirian tanpa ada seorang pun yang menyadari nya.


Asap hitam mengepul semangkin tebal sampai membuat mata ku perih di sertai rasa sesak yang memenuhi rongga dadaku. Seperti yang ku duga karena mereka menggunakan bahan bakar sejenis bensin, maka api yang menjalar akan semangkin membesar dan memakan benda apa saja yang ada di sekitarnya.


Dalam hitungan menit api nya tambah membesar dan hampir mencapai tengah ruangan. Posisiku sekarang berada di dalam kamar yang menjorok ke arah dapur. Meskipun api nya masuk ke tengah ruangan, aku pun masih punya kesempatan untuk bertahan hidup selama beberapa menit di dalam ruangan ini. Kesempatan untuk meratapi dosa-dosaku sebelum benar-benar lenyap.


Duuummm.......


Tiba-tiba sebuah ledakan yang berasal dari bekas parfum kosong di tengah ruangan membuyarkan lamunanku atas kenyataan pahit yang sedang ku hadapi sekarang ini. Sudah beberapa menit sejak mereka pergi meninggalkan ku setelah membakar rumah ini, tali yang mengekang kedua tanganku tak bergeser sedikitpun. Tali itu tak bergerak dari tempatnya seakan menyatu dengan kulit dan juga tulangku.


Kenyataan jika aku akan mati di tempat ini kemudian hangus sampai ke tulang-tulangku adalah sifat yang tak terbantahkan atas situasi yang sedang ku hadapi.


Asap hitam itu pun sekarang sudah masuk ke tempatku. Mungkin tak lama lagi api nya akan ikut masuk.


Seumur hidupku, mungkin sudah lebih dari tujuh kali aku mengalami nasib tragis seperti ini. Namun tak barang sekali pun tuhan mengijinkan ku untuk beristirahat dengan tenang.


Kenapa dari semua kejadian tragis dari yang paling tragis, aku harus mati dengan cara seperti ini. Bukankah mati dengan cara di panggang terlihat lebih tidak keren di bandingkan di tusuk pisau atau di tembak. Pikiran-pikiran tak masuk akal dan aneh mulai merasuki ku di saat-saat terakhir.


Sraaaaaahhhhh....


"Hujan!!" Ucapku melihat ke luar jendela.


Tiba-tiba Hujan.


Hujan pun turun di sertai badai petir dan angin kencang. Situasi tak terduga itu pun malah semangkin memicu api yang membakar tempat ini tambah mengamuk. Di luar perkiraanku, yang ku pikir api itu akan melahap rumah ini sepenuhnya dalam hitungan menit sekarang berubah menjadi hitungan detik.


Langit-langit tempat itu seketika runtuh, api mengamuk membumbung tinggi melahap asbes dan juga genteng. Seperti yang di katakan oleh anak-anak brengs*k itu. Bahan bakar bensin yang di gunakan untuk menyulut api jika di padamkan oleh air bukannya padam malah akan semangkin membesar. Dan kini perkataan merekq pun terbukti benar, karena keseluruhan rumah ini sudah hampir lenyap hanya dalam hitungan detik.


Tubuhku benar-benar lemas karena banyak menghirup asap, bahkan untuk membuka mata saja rasanya benar-benar lelah.


Ahhh...benar, sepertinya tak lama lagi aku akan menyusul Laila. Sebentar lagi aku juga akan bersamanya di sana.


Di detik-detik ini aku hanya bisa tersenyum karena tekanan dari pergolokan batinku yang tak bisa lagi berfikir jernih.


Namun di detik-detik itu juga aku mendapatkan sesuatu yang tak di duga-duga.


Tiba-tiba tali yang mengekang pergelangan tanganku meregang. Entah apa yang telah terjadi, mungkin karena udara di sekitar ruangan ini panas maka tali yang mengekangku tiba-tiba memuai karena suatu sebab. Atau mungkin karena aku terus menggerakan tanganku tanpa henti, tali itu lama kelamaan meregang dengan sendirinya.


Saat ku coba menggerakan telapak tanganku untuk ke sekian kalinya. Tali yang mengekang pergelangan tanganku langsung terlepas.


Seketika itu, aku terdiam dalam euforia dan menatap kedua tanganku yang bebas.


"Sialan!!" Ucapku tersenyum memandangi kedua tanganku seperti orang tolol. "Ternyata belum saatnya aku mati!!"

__ADS_1


__ADS_2