
"Temannya mana, kok ga balik-balik!!" Tanya si botak yang sudah mulai curiga.
Aku pun tersadar dari euforia dan segera melanjutkan pekerjaanku.
"Ohh..kayaknya aku harus jemput dia deh, bentar ya!!" Ucapku sambil berjalan menjauh dari mereka.
"Jangan coba-coba untuk kabur ya, teman kalian masih ada bersama kami." Ucap si kuncir kuda dengan berteriak.
Aku mempercepat langkahku yang kemudian di lanjutkan dengan berlari menerobos semak-semak serta pepohonan rendah bahkan sempat terjatuh beberapa kali, namun aku tak gentar. Yang harus ku lakukan adalah menjauh sejauh mungkin dari mereka berdua.
lalu saat aku menjauh beberapa puluh meter dari mereka, tak berapa lama kemudian terdengarlah suara ledakan yang memekakan telinga. Sontak aku berhenti dan memandang dari kejauhan, kepulan asap hitam tebal membumbung tinggi sampai ke atas di sertai suara gemeretak seperti suara api yang sedang memakan bangkai kayu, kini aku tahu kalau misi nya hampir terlaksana sepenuhnya. Dan bangunan itu telah terbakar.
"Yes!!" Pekik ku lalu tergopoh menerobos belukar dan berlari menuju ke arah barat.
Akhirnya aku sampai di bagian barat, dan melihat anak-anak yang berlarian ke arahku.
"Archie?" Tanyaku, karena ternyata dia belum bergabung bersama mereka.
Mereka tak langsung menjawab dan berjongkok karena kelelehan.
Namun insting ketidakberesan terdeteksi di dalam kepalaku, sehingga tanpa mendengarkan penjelasan apapun dari mereka, kaki ku melangkah sendiri dan mendekat ke tempat kejadian.
Aku berlari tanpa menghiraukan apapun, karena jika Archie belum kembali dalam keadaan anak-anak telah mencapai tengan hutan bagian timur, maka dia masih berada di rooftop atau dalam kemungkinan terburuk, Archie masih berada di dalam bangunan yang terbakar itu.
"Ku mohon, ku mohon!!" Gumamku berlari berpacu dengan waktu dan mengharapkan keajaiban.
Namun sesuatu yang ku harapkan malah menghianatiku.
Saat aku telah sampai di bawah pohon besar dimana Laila meletakkan pita merah sebagai tujuan pendaratan. Jalur yang menghubungkan bangunan dengan pohon itu telah terputus di makan api.
Dan yang membuatku sesak adalah tali perca terakhir yang seharusnya di gunakan Archie sebagai tiket menuju kebebesan, malah ikut terbakar dan hangus di telan api.
Seketika lututku langsung lemas, keringat bercucuran melewati pipiku, mata ku melototi kobaran api yang tak kenal ampun itu, dan membayangkan harapanku yang terkubur di dalam sana.
"Anya, Anya!!" Pekik seseorang yang langsung menempelkan kedua tangannya di wajahku.
Aku tak menjawab dan menatap kobaran api itu dengan terpaku.
"Anya, lu ga boleh di sini. Bangunan ini bakalan runtuh." Pekik Arya menyadarkanku sambil menepuk-nepuk wajahku.
Tapi aku tak bergerak, dan tanpa sadar air mataku bercucuran membasahi pipiku dan tangan Arya.
"Anya, Anya. Sadarlah!!" Pekiknya lagi berusaha membawa ku kembali ke kenyataan.
Tapi Arya bertindak cepat, dia langsung menarik tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu. Meskipun isi kepalaku melayang-layang di dalam kobaran api itu.
*************
"Anya!!" Panggil Arya.
Aku tiba-tiba menghentikan langkahku dan mematung di tengah-tengah perjalanan.
"Anya, kita ga bisa berenti di sini." Ucap Arya yang menungguku di depan.
Namun aku tak beranjak dan menatap murung semak-semak yang menutupi pergelangan kaki ku.
__ADS_1
"Anya!!" Pekik Arya.
"Aku harus kembali!!" Ucapku tiba-tiba.
"Apa!!" Dia kaget.
"Aku harus menjemput Archie!!" Pekikku ngegas.
Tanpa mendengar persetujuannya, aku berbalik dan berniat untuk pergi ke bangunan terbakar itu lagi.
"Lu pikir Archie itu b*go!!" Pekik Arya.
Sontak aku menghentikan langkahku di tengah jalan.
"Dia itu lebih pinter dan lebih picik dari siapapun. Lu pikir dia bakalan stay aja di sana dan ga ngelakuin apa pun di saat bangunan itu terbakar." Arya mendekat ke sisi ku.
Aku memandanginya tanpa bicara.
"Jangan buang-buang waktu lagi," ucapnya lalu menyeretku mengikutinya. "Kita harus terus berjalan."
*************
"Arya!!" Panggilku.
Tapi dia tak mengidahkan dan terus berjalan tanpa melihat ke arahku.
"Arya, kita dimana?!" Panggilku lagi.
Namun dia tak menjawabku dan terus mempercepat langkahnya.
"Arya!!"
"Kita ada dimana, mana yang lain?" Ucapku sambil memegangi lengannya.
"Terus aja jalan, palingan mereka udah duluan pergi." Jawabnya tak mengidahkan ku dan melanjutkan perjalanan.
"Arya!!" Aku menghentikannya. "Kau sebenarnya membawaku kemana, kenapa kita terus pergi ke arah yang berlawanan dari jalur yang pernah kita lewati."
"Ngawur lu ya!!" Ucapnya lalu menyentil jidatku.
Dia menunjukan kepadaku semak-semak yang merunduk, dan membentuk sebuah jalur bekas orang yang pernah melewati tempat itu, yang berarti kami tak salah jalan dan memang anak-anak sudah pergi duluan menuju jalan keluar.
"Cepetan jalan!!" Perintahnya sambil menggandeng tanganku.
Tapi entah kenapa rasanya tempat itu semangkin jauh dan jauh bahkan rasanya lebih jauh dari pada pertama kali datang ke tempat ini.
"Kita ga nyasar kan?" Tanyaku.
"Enggak kok, gua da yakin ini jalur yang benar." Jawabnya optimis.
"Tapi Ya, kok kita ga nyampe-nyampe, kan harusnya kita udah nyampe ke pemukiman terdekat." Ucapku tapi terus mengikutinya dari belakang.
Arya tiba-tiba berhenti dan menatap lurus ke depan. Dan di hadapan kami terhampar padang luas di tengah hutan dan terdapat gundukan perbukitan kecil yang di atasnya terdapat rumah kecil berdinding beton.
"Kita istirahat aja di sana, mungkin anak-anak juga ada di sana lagi istirahat." Ucapnya lalu menunjuk bangunan itu kepadaku.
__ADS_1
Aku tak mengatakan apapun karena lelah, lalu tanpa mengambil aba-aba Arya langsung menggandeng tanganku dan menyeretku berjalan.
"Anya!!"
Kami berdua terhenti secara mendadak karena mendengar suara yang tak asing, lalu serempak menoleh ke belakang.
"Archie!!" Ucapku lalu melepaskan tangan Arya dan berlari ke arahnya.
Archie datang menyusul, dia terlihat kumuh dan lusuh. Seluruh tubuhnya di penuhi arang hitam, luka goresan, dan juga beberapa luka bakar di bagian punggungnya.
Aku langsung memeluknya dan merasakan kembali pernapasanku yang tak lagi terhimpit oleh kecemasan, pertemuan ini bagaikan berjumpa dengan pak kiai di tengah-tengah mimpi buruk di uber setan. Melegakan.
"Archie!!" Sapa Arya yang lega melihat kehadiran Archie. "Gua da yakin kalau lu bisa selamat, mangkanya gua langsung bawa Anya jauh-jauh dari sana."
"Gua da mikir dari awal kalau ada yang ga beres ama peralatanya." Ucap Archie.
"Ga beres, maksudnya?" Tanya Arya.
Lalu Archie menjelaskan, kalau keterlambatannya keluar dari bangunan yang terbakar itu adalah Peralatan mirip seperti katrol yang seharusnya dia gunakan terakhir kali untuk melarikan diri, menghilang di tempat persembunyian dimana dia meletakkannya terakhir kali. Itu merupakan jalan satu-satunya baginya untuk kabur dari sana. Selain itu, tali perca yang terakhir juga hangus terbakar. Beruntungnya dia bisa lolos karena nekat bergelantungan seperti tarzan dari rooftop bangunan ke cabang pohon. Meskipun Archie mengatakan kalau dia hampir saja meregang nyawa karena pendarataan yang kurang baik, bahkan sayap bahunya hampir patah.
"Ga mungkin ilang, gua udah cek semuanya dan memasangnya di tempat yang bener." Ucap Arya.
"Lu yakin?" Tanya Archie.
"Gua yakin seratus persen!!" Arya optimis.
"Berarti dugaan gua bener, kalau ada yang ga beres." Ucap Archie lagi.
Tiba-tiba Arya memandang searah sambil menampakan wajah seperti mengingat sesuatu.
"Gua inget!!" Ucap Arya tiba-tiba.
Sontak kami berdua melihat Arya secara bersamaan.
"Iya, gua inget, waktu itu gua liat Dimas ama Rio ke atas, mereka yang terakhir ngecek peralatan!!"
"Kamu yakin, itu mereka!!" Tanyaku.
"Yakin gua, ga salah lagi!!" Ucapnya mengatakan yang sebenarnya.
Archie diam berfikir dan menautkan dagunya, sepertinya Archie juga berpendapat sama seperti Arya, kalau keanehan ini semua selalu merujuk kepada Dimas dan Rio. Apalagi mereka berdua selalu terlihat berada di sekitar tempat kejadian.
"Jadi selama ini yang menghianati kita itu Dimas dan Rio. Ternyata mereka berdua yang selalu bikin Anya celaka!!" Ucap Archie yang mulai geram.
"Aku ga nyangka!!" Ujarku memegangi kepalaku sendiri.
"Sorry kalau gua baru bilang sekarang, tapi sebenarnya gua udah lama curiga ama mereka berdua." Cetus Arya sambil merunduk. "Gua pernah mergokin mereka keluar tengah malam dan ngobrol bisik-bisik berdua. Terus tepat pada waktu terjadi kecelakaan yang sering ngelibatin Anya, gua juga tahu kalau mereka selalu ngilang dan datang terlambat setelah kejadian."
Archie diam mendengarkan kesaksian Arya, dan juga memperhitungkan semua yang memang terjadi secara kebetulan, karena mereka berdua selalu datang terlambat setelah kejadian berlangsung.
"Jadi mereka berdua memang pelaku utamanya ya!" Ucap Archie sambil berjalan mendekat ke arah Arya.
"Ga salah lagi!!" Arya optimis.
"Bukannya itu lu!!" Ujar Archie tiba-tiba lalu memegang bahu Arya.
__ADS_1
"Apa?" Aku kaget.
"Lu kan pelakunya!!" lanjut Archie, "Ya kan Arya pangestu Dien Wijaya."