
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" Pekik Sabiru dengan nada bergetar.
Archie melepaskan wig blonde nya dan menurunkan stoking jaring-jaring yang ia kenakan. Sejurus kemudian dia langsung menyandera Sabiru seperti adegan panas Yang ada di dalam film dewasa dengan menggunakan stoking untuk mengikat Sabiru di atas kasur.
"Penjaga, penjaga...!!" Pekik Sabiru yang meronta-ronta di balik belenggunya. "Sialan, kenapa tidak ada yang datang!!" Dia mulai resah sambil terus menggeliat.
Archie membiarkan Sabiru yang terus histeris di Atas kasur dengan tubuh yang terkekekang stoking selama beberapa menit. Setelah Sabiru menyadari ada yang aneh dengan situasi ini, Archie pun menjawab kegelisahannya dengan membuka setengah dari pintu kamar.
Maka terlihatlah para penjaganya yang bergelimpangan dalam keadaan terkapar, memenuhi tiap sudut ruangan yang terlihat oleh sorot pandangan Sabiru.
"Lagi dong tereak, kalau cuman segitu sih mana ada yang dengerin!!" Ucap Archie yang duduk ngangkang seperti lelaki kebanyakan, di depan kursi yang menghadap ke arah Sabiru yang terikat. Padahal dia hanya memakai lingerie wanita seksi. Pemandangan yang mengganggu apa ini tuhan!!
"Siaal, siaaal, siaal!!" Runtuk Sabiru yang tak mampu berbuat apa-apa lagi selain mengoceh.
"Anya, jagain pintu!" Perintah Archie. "Bantuin kerjaan Dafa buat monitor!!"
Aku beranjak dan memposisikan tubuhku untuk berada di dekat pintu yang setengah terbuka.
"Apa yang kalian berdua inginkan?" Ucap Sabiru dengan suara murka yang menggelegar.
"Ternyata bener, lu beda ama si bencong itu!!" Yang dia maksud adalah Libiru."Kita ga sempat kenalan kan!?" Ucap Archie yang menggeser kursinya agar semangkin mendekat ke arah Sabiru.
"Kenapa kau bisa datang kesini tanpa ada yang mencurigai." Tanya Sabiru meringis.
"Kita bahkan ga pernah ketemu." Ucap Archie melanjutkan, "Tapi lu dengan seenaknya berbuat sesuatu yang ga bisa gua maafin." Archie mengeluarkan senjata api dan menodongkannya tepat di pelipis Sabiru. "Nah Sabiru, kasih gua alasan?"
Sabiru menatap senjata api itu dengan putus asa, ekspresi ketakutannya terlihat lebih mendominasi dengan keadaanya saat ini.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Ujarnya dengan nada bergetar.
__ADS_1
"Kasih gua satu alasan buat ga ngembunuh lu saat ini juga!!" Ancam Archie yang sudah siap untuk melepaskan tembakan di kepala Sabiru.
"Kau sudah gila, keparat!!" Sabiru sudah tak bisa berfikir dengan tenang.
"Satu, dua, tiga.." Hitungnya. "Kalau gua itung ampe lima lu ga ngomong juga. Lu mati!!" Ancam Archie lagi. "Empaat...li.."
Sabiru memejamkan matanya kuat-kuat dengan tubuh mengejang. "Aku akan mengabulkan semua yang kau inginkan!!" Ucap Sabiru dengan lantang.
Mendengar itu, Archie langsung mengangkat senjatanya dan membiarkan Sabiru untuk beristirahat sebentar, sekedar untuk menghilangkan tekanan yang ia berikan.
"Gua punya banyak permintaan!" Ucap Archie yang mempermainkan senjata apinya. "Kalau lu ga bisa ngabulin..!!"
Klaaaakkk....
Archie menodongkan senjata itu tepat di kepala Sabiru. "Lu mati!!" Ucapnya dengan tampang iblis.
"Katakan!!" Jawab Sabiru, "Katakan, apa yang kau inginkan!?"
Archie membalasnya dengan senyum licik yang bahkan membuat lawan bicaranya berpikir ulang untuk kabur. Pemandangan yang sering kali membuat bulu kuduk ku berdiri jika memperhatikan senyumannya yang selalu menyimpan banyak rencana picik.
"Pertama-tama, gua pen tau dulu alasan lu yang sebenarnya. Kenapa lu punya rencana buruk ama istri gua?" Tanya Archie yang langsung menatap tajam sejuruh pada Sabiru yang terkapar.
Sabiru menatapku yang berdiri di hadapan pintu dengan tatapan tertekan, namun dalam beberapa detik hembusan nafasnya, pandangannya berdalih kembali memfokuskan tatapan nanar kepada Archie.
"Aku akan mengatakan alasannya, jika kau memperlakukan aku untuk bicara dalam posisi yang pantas untuk berbicara!!" Pinta Sabiru yang merasa tak nyaman dengan posisi meringkuk yang terikat.
"Bacod lu!!" Ucap Archie yang menuruti permintaannya dan mengubah posisi Sabiru untuk duduk dan bersandar di dinding.
"Aku akan mengatakannya," Ucapnya dengan terengah-engah."Satu-satunya alasanku melakukannya ialah.." Sabiru menjuruskan tatapannya padaku. "Karena, istrimu akan menjadi salah satu ancaman atas kegagalan dalam rencana yang sudah ku rencanakan selama beberapa tahun." Ucapnya.
__ADS_1
Archie mengangkat kepalanya dengan hati-hati, lalu mengidarkan Pandangannya menatapku yang terlihat terkejut dengan penuturan Sabiru.
"Ku pikir dengan melenyapkan orang yang dia cintai, dia akan berhenti dan menyerah, "Sabiru melanjutkan. "Tapi, ku rasa dia sudah tak bisa menghentikan dirinya sendiri."
"Apa yang sedang kau katakan?" Tanyaku.
Sabiru memalingkan wajahnya saat tak sengaja mata kami berdua saling bertatapan. "Yaah, ku pikir dengan menurunkan harga dirimu dan mengotorimu dengan lelaki lain, dia akan menurunkan standarnya, dan akan berhenti melakukan hal bodoh yang akan semangkin menyakiti dirinya sendiri," Celotehnya. "Namun, aku melupakan sesuatu, yaitu statusmu yang sudah bersuami. Meskipun kau sudah menjadi istri orang, dia tetap melakukannya dan melindungimu." Jelasnya.
"Lu lagi ngomongin apaan sih, b*ngsat!!" Archie tambah beringas saat mendengar penuturan tak jelas dari Sabiru. "Kenapa omongan lu terus berputar-putar mengenai melindungi dan semacamnya. Lalu apa yang lu maksud dengan rencana yang sudah kalian persiapkan selama bertahun-tahun." Ucap Archie. "Apa lu sengaja ngomong kek gini biar bisa berdalih atas semua kecelakaan yang udah Libiru lakuin."
"Kalian tak kan mengerti!!" Potong Sabiru dengan cepat.
"Apa yang kita ga ngerti?" Pancing Archie.
"Tuan Yuaga, apa kau tau kalau musuh kita adalah orang yang sama." Jawabnya dengan senyum seringai yang tiba-tiba seperti sedang menerkam Archie. "Apa kau tau jika keadaan kita saling berkaitan,"
Archie maju selangkah lebih dekat dan kembali merapatkan jari-jemarinya memegang senjata api yang sedari tadi mengarah ke pelipis Sabiru. "Jelasin dengan benar!!" Ancam Archie.
"Baik, baiklah aku akan mengatakan semuanya!!" Sabiru menjawab dengan wajah setengah meremehkan. "Apa kau tau kenapa Libiru Sampai bertindak seperti itu. Apa kau tau alasan kenapa dia ingin melenyapkan istrimu tanpa sebab. Apa kau yakin Libiru adalah musuh yang sebenarnya?" Ucap Sabiru yang bermain-main dengan opini yang ada di dalam kepala kami.
Aku dan Archie saling bertatapan satu sama lain. "Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanyaku.
"Semua ini bermula semenjak kematian Arlangga Tiam yang terlibat kecelakaan langsung saat menyelamatkan seorang anak kecil yang berlari ke tengah jalan hendak mengambil bola," Sabiru melirik Archie. "Arlangga Tiam tewas di tempat dalam keadaan mengenaskan. Setelah di selidiki oleh kepolisian setempat, ternyata dalang dari kejadian ini adalah Pay Long Tse yang merupakan ayah angkatku," Cerita Sabiru. "Tapi, bukan itu kejadian yang sebenarnya!!"
Sabiru mengangkat kepalanya dan menatap Archie yang hampir kehilangan fokus saat mendengarkan ceritanya. "Ayahku di jebak, dia tak pernah melakukan sesuatu yang menghilangkan nyawa sahabatnya sendiri. Meskipun dia di khianati, dia tak pernah melakukan tindakan balas dendam yang akan merugikan dirinya," Lanjut Sabiru yang menatap nanar kepada Archie. "Namun entah mengapa, ayahku malah ikut terbunuh dan menjadi tersangka utama dalam kasus berantai yang menjerat lehernya sendiri." Sabiru menjeda perkataannya sembari menarik napas berat. "Sampai suatu hari, aku mendengar berita tentang tragedi yang terjadi antara kau dan istrimu, ini merupakan suatu kebetulan yang tak di sangka-sangka."
Archie tak mengatakan apa pun dan terus berfokus mendengarkan Sabiru bercerita.
"Apa kau sadar, kalau kejadian yang telah menimpa Arlangga Tiam, Ayahku dan juga istrimu itu semua terjadi karena di akibatkan olehmu!!" Ujar Sabiru. "Kau adalah penyebab semua tragedi ini Tuan Yuaga Archie."
__ADS_1