Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Yang Terlihat Part 11


__ADS_3

"Apa kau tau kalau kau itu tampan, boi." Ucapku kepada anak bule berumur 7 tahun berbahasa jepang yang mengikutiku pulang kerumah.


Dia tak menjawab tentu saja, selain tidak mengerti dengan ocehanku dari ekspresinya saja dia terlalu lelah untuk sekedar menghabiskan tenaga dalam menjawabnya. Dengan sabar dan penuh pengertian dia terus tersenyum kecut mendengarkan setiap ocehan tak penting yang ku lontarkan, sesekali dia mengusap wajahnya sendiri dengan kedua tangan mungilnya untuk menghilangkan peluh yang sedari tadi mengucur melewati bulu matanya yang panjang.


"Apa kau lelah?" Tanyaku sembari menghentikan langkahku dan menatapnya sangat dekat.


Dia terkaget sesaat setelah menyadari wajahku yang amat dekat di hadapannya, lalu kembali mengusap wajahnya karena kini keringatnya telah memaksa masuk kedalam matanya yang bulat besar, sehingga terasa perih.


"Hei, sini biar ku lihat!!" Ucapku yang menyingkirkan tangannya dan langsung mendekatkan congorku ke matanya dan meniupnya pelan-pelan.


Dia tak bergerak, sebuah ekspresi kaget yang polos dan juga alami dari sebuah anak berusia 7 tahun yang tak pernah sekalipun menerima perlakuan tak sopan, tangan sebelahnya memegang erat lengan bajuku seperti enggan untuk melepaskannya.


"Ayo, kita hampir sampai!!" Dengan cepat, ku raih tangan mungilnya dengan tanganku yang tak kalah mungil, menggandengnya penuh semangat menuju tempat pulang.


Sesekali dia menatap getir punggung kecilku di balik manik mata bulatnya yang indah, dengusannya pun terdengar halus seolah menikmati perjalanan ini.


"Tenang saja, setelah sampai di rumah. Aku akan menjadikanmu suamiku, lalu kita akan hidup bahagia." Aku terlalu banyak menonton sinetron nauzubilah di umur 5 tahun.


Meskipun dia tak mengerti apa yang ku ucapkan, dia terlihat terpana saat memandangi senyuman dari bocah perempuan yang gigi depannya tongos karena berkumur dengan air kadar pirit tinggi. Belitung adalah pulau penambang timah, jadi wajar saja kalau di pulau ini rata-rata gigi para penduduknya habis karena di gerogoti air yang tercemar oleh kandungan logam.


"BAPAAAAAK!!" Teriakku di depan halaman rumahku sendiri sembari berlari-lari kecil.


Anak lelaki itu terkesiap berkedip-kedip memandangiku, ekspresinya seakan mengisyaratkan antara kaget dan juga heran. Budaya serampangan yang tak pernah sekalipun di tunjukan oleh keluarga konglemerat.


"Anya, kau sudah pulang nak." Balas Bapak yang keluar dari halaman belakang dengan kaus kutang putih menenteng raket di pundaknya. Sepertinya dia habis bertandang ke tetangga sebelah yang pernah menjadi rivalnya dan sama-sama menjuarai cabang olahraga bulutangkis sekabupaten waktu SMP.


"Bapaaaak!!" Aku berhambur kearahnya dengan langkah kaki kecil dengan nada aduan, "lihatlah Bapak, aku membawa laki-laki yang akan ku nikahi kelak!!" Ucapku yang menunjuk-nunjuk bocah kecil itu yang terpana di depan pagar halaman rumah kami.


"Belum saatnya kau menghawatirkan pendamping, anakku!!" Bapak setengah terkekeh dan tak menatap lurus kedepan.


"Aku mencintainya Pak!!" Rengekku menunjuk-nunjuk bocah itu sembari meloncat-loncat kegirangan, Kata-kata sinting yang tak kan di mengerti bocah berumur 5 tahun.


"Bukankah Samsudin terlalu tua untukmu anakku, kelak saat kau dewasa dia sudah berumur 40 tahun." Ayahku mengira kalau aku membicarakan Samsudin remaja 18 tahun keturunan asli suku bugis laut yang secara turun temurun menetap di pulau belitung. Samsudin kerap di suruh-suruh oleh bapak berbelanja kopi sasetan di warung yang berjarak agak jauh dari kediaman kami, karena melihatnya yang tak pernah membantah kata-kata bapakku maupun orang-orang tua yang menyuruhnya berbelanja, maka aku mendokrinnya sebagai pacar idaman, "kelak kau akan menjadi istri pelaut nak, dia akan berlayar ke tengah lautan mencari ikan dan pulang beberapa minggu sekali. Meskipun bapak tak lagi kuatir tak kan makan ikan." Bapak menambah candaanya.

__ADS_1


"Sumimasen!!すみません!!"


*Translate, maaf permisi.


Bapak mematung tak bergerak, Bocah laki-laki itu tiba-tiba berada di tengah-tengah pembicaraan kami. Bak melihat tuyul di siang bolong, atau mendapati potongan perhiasan yang tercecer di tanah. Bapak membeku di hadapan bocah lelaki tampan bule berbahasa jepang.


Hari itu hujan deras di sertai angin ribut nan kencang, tak ada siapa-siapa di rumah selain aku dan bocah bule yang sedari tadi memeluk lenganku karena mendengar suara riuh guntur yang terdengar samar-samar.


Bapakku pergi dari 30 menit yang lalu setelah terpana melihat bocah lelaki bule yang ku bawa, tak pernah ku lihat bapak mengeluarkan ekspresi sepanik itu.


Duuaarrr.....


Bocah itu semangkin meringkuk di ketiakku dengan tubuh gemetar ketakutan setelah mendengar suara guruh.


"Kau tak apa-apa?" Tanyaku berbalik dan menyambut kedua tangannya dengan dekapan tubuhku, "jangan takut, ada aku di sini." Ku tenangkan tubuhnya yang gemetar dan sesekali mengusap punggung dingin nya.


Braaakkkk.....


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka secara paksa dari arah belakang di iringi oleh beberapa benda berjatuhan yang terdengar saling bertubrukan, saking kerasnya suara tersebut bahkan sampai terdengar di tengah-tengah badai seperti ini.


"Tunggulah di sini!" Ucapku yang menguncinya di dalam lemari pakaianku agar dia tak merasa ketakutan saat aku tak ada. Dia hanya mengangguk pasrah, dan terus memegang kedua lututnya yang gemetar.


"Mak!!" Panggilku dengan berlahan keluar dari dalam kamarku dan mencari suara keras tersebut, "umaaak?" Teriakku dengan memekik.


Ibuku tak kan pulang di jam segini, meskipun berhujan dia juga tak mungkin punya pikiran untuk melewati pintu belakang karena tak ada akses masuk selain di kelilingi pagar tetangga yang tinggi. Jadi bisa ku pastikan kalau bukan ibuku yang membuat kegaduhan, namun tetap saja dalam melawan kegelisahanku, aku berfikir ibuku yang datang.


MIAAWWW...


Aku berbalik.


Seekor kucing tetangga menyapaku dengan bulu basah sembari menjilati tubuhnya di hadapan kusen yang menghubungkan ruangan tengah dan lorong dapur yang gelap.


Melihat kucing itu, pikiran bocah 5 tahun sepertiku adalah perasaan yang amat sangat lega. Bukan monster atau orang asing yg masuk ke dalam rumah ini yang tadi membuat kegaduhan, melainkan kucing tetangga berwarna orange dengan tubuh kotor dan basah kuyupnya.

__ADS_1


Berlahan ku dekati binatang berbulu itu dengan perasaan riang sembari menundukan tubuhku bersiap untuk mengamitnya, namun tiba-tiba punggung ku langsung berubah dingin di iringi rasa asing yang mengancam.


Aku mematung di hadapan kucing yang terus menjilati tubuhnya seolah bercanda dengan keadaan, punggung ku semangkin dingin seolah tatapan menusuk sedang mengawasi langkahku.


Saat instingku terlanjur merasakan ketidakberesan di sekitarku, tubuhku terlambat menyadarinya.


Sesosok pria tak di kenal, berdiri menatap punggungku dengan tatapan murka, sosoknya menghitam di tutupi kegelapan lorong rumah ini, seakan sedang berkamuflase tak menghadirkan diri di hadapan nyawaku.


***************


Pandangan ku gelap, samar-samar terdengar suara gaduh dari sebuah mesin yang sedang memanas sehingga mengeluarkan suara desisan. Saat ku gerakan sedikit tubuhku, kepalaku malah terasa pusing di iringi sesuatu yang terasa hangat mengalir keluar dari pelipisku.


Apa yang terjadi? Apa aku sedang bermimpi, tapi kenapa rasanya seperti nyata. Bahkan darah yang merembas keluar dari pelipisku lama-lama terasa perih seperti sungguhan.


Berlahan ku beranikan diri mengidar


sekelilingku. Benar saja, ini bukan lah mimpi, melainkan tragedi pahit yang sesungguhnya.


"Archie!!" Seruku sambil memegangi wajahnya yang penuh dengan darah dan menggoncangkan tubuhnya, namun dia tak menyahut dan terus memejamkan matanya. Cepat-cepat ku dekatkan Telingaku menyentuh dadanya, "Archie!!" Seruku lagi karena detak jantungnya masih terdengar jelas di telingaku.


"Uugghhhhh...!!" Tiba-tiba dia meresponku dengan mengernyitkan dahinya sedikit dan menggerakan kelopak matanya secara berlahan, tanda kalau dia akan segera bangun.


Drap, draap, draap...


Terdengar hentakan langkah kaki dari beberapa orang yang mendekat ke arah mobil kami yang lumpuh karena tabrakan.


"Dafa, Sabiru!!" Seru ku panik sembari menggoyangkan tubuh mereka satu persatu yang sama tak sadarkan diri. Namun tak ada respon sama sekali dari mereka berdua selain hembusan napas melambat seperti seseorang yang tertidur lelap.


Baru saja tubuhku bergerak ingin membuka pintu mobil yang ada di sebelah Archie, tiba-tiba sebuah senjata api mengacung di pelipisku di balik kaca mobil yang pecah.


"Keluar dengan tangan di atas!!" Perintah orang yang mengacungkan senjata apinya di pelipisku.


Namun aku hanya diam dan menatapnya dengan gelisah.

__ADS_1


"CEPAT!!!" Teriaknya sampai membuatku terpejam.


Dengan terpaksa dalam perasaan tersiksa, ku turuti kemauannya dan berlahan mengeluarkan tubuhku melewati Archie yang meringis di dalam pejaman matanya.


__ADS_2