
"Alasan satu- satunya gua pindah kewarganegaraan dari jepang ke indonesia setelah lulus SMA, adalah..."
Bicaranya terhenti dan mengusap lembut wajahku.
"Buat nemuin lu!"
Dengan mata membulat besar aku langsung mengangkat tangannya yang memegang wajahku.
"Apa!" Pekik ku kaget.
Dia tersenyum gemas melihat reaksiku, Kemudian mengambil HP ku yang masih mengaktifkan mode flashlight lalu berjalan menyusuri lantai.
"Gua benci sama lu!" Ucapnya sambil menyorot cahaya di lantai gudang seperti mencari sesuatu. "Kata-kata yang pernah gua ucapin, waktu pertama kali kita ketemu!" Ujarnya terus berjalan sambil mengendap-endap.
"Mungkin lu bingung sekaligus kesel pas tiba-tiba aja ada orang yang gak lu kenal bilang omong kosong kayak gitu." Sambungnya yang tiba-tiba merunduk dan menyusup kebawah rak jaring.
"Yooshh...ketemu!" Pekiknya gembira mengangkat HPnya tinggi-tinggi dan menghidupkan flashlight.
"Tapi asal lu tau aja!" lanjutnya.
Dia bergegas duduk di sebelahku, dan menempatkan kedua HP secara bersampingan, sehingga terciptalah suasana yang terang benderang.
"Alasan kenapa gua sampai bilang benci sama lu itu karena gua udah benar-benar frustasi akan kehadiran lu di hidup gua." Dia berhenti sejenak dan mengidar pandang. "Gua benci, kenapa gua gak bisa hidup tanpa lu!"
DEG...
Apa telingaku salah dengar?
Atau malah otaknya yang bermasalah?
Apa pun itu, entah telinga ku atau otaknya, perkataanya barusan membuatku gamang.
Dia menatapku sangat dalam saat mengatakannya, ekspresi wajahnya menandakan makna yang tersirat dari kata-kata ngasal yang dia ucapkan.
Akhirnya aku malah salah tingkah dan tak mau menatap matanya!
"Jadi benar, kalau sebelum ospek. Kita memang pernah bertemu di suatu tempat. Dan karena hal itu kau membenciku tanpa alasan?"
Archie melemaskan bahunya, dan duduk bersila di sebelahku.
"Gua harus mulai ceritanya dari mana nih!!" Gumamnya menopang dagunya sendiri.
"14 tahun yang lalu!" Ucapnya. "Kira-kira kita pernah ketemu waktu 14 tahun yang lalu!!"
"Kita?" Tanyaku memastikan.
Dia mengangguk pelan, diiringi senyum tipis.
"Tapi karena suatu sebab, lu malah lupa kejadian itu!!" Ucapnya memandangi langit-langit. "Sedangkan gua karena suatu sebab juga malah gak bisa ngelupain kejadian itu!"
"Kejadian itu." Aku mematung. "Maksudmu?"
Dia menatapku dari sudut matanya tanpa menoleh, pantulan cahaya yang keluar dari flashlight HP berhasil merefleksikan nanar mata lugu nya.
"Waktu kecil gua di diagnosa mengalami kelainan mental yang dinamakan psikopat tingkat rendah oleh sebagian dokter psikolog yang datang buat ngecek keadaan gua." Ucapnya mulai bercerita.
"Entah kapan tepatnya, gua udah gak ingat kenapa gua bisa seneng banget pas ngelakuin hal-hal remeh kayak ngerjain para maid dan bikin mereka semua menderita, atau nyakitin mahluk hidup kayak kucing atau serangga yang gak sengaja papasan sama gua. Padahal kata mereka, dulu sifat gua malah baik banget dan gak pernah ngelakuin hal jahat kayak gitu." Senyum menyeringai terlontar dari bibir nya.
"Gak tau kenapa yang bikin gua senang banget itu pas liat cewek nangis, apa lagi cewek yang mohon-mohon buat minta maaf. Ahhhhh sumpah gua suka bangeet..." Ujarnya terkekeh senang dan menatap langit-langit.
Ada perasaan merinding saat mendengar pembicaraannya yang terkesan mengerikan tersebut, dia membicarakan kesakitan orang lain tapi dengan wajah senang yang meluap, ekspresinya mirip seperti yang dia keluarkan saat aku menangis di depannya waktu itu.
"Entah kapan tepatnya.." Lanjutnya berhenti tertawa dan melirikku lagi dari sudut matanya. "Tapi tiap kali gua ngingat kejadian yang berhubungan sama lu, gua mulai berlaku aneh dan tanpa sadar mencintai ketidaknormalan."
Aku tak berani menanggapi setiap kata-katanya yang selalu mengeluarkan ekspresi berbeda, setiap kali dia berbicara.
"Mereka bilang itu adalah obsesi. Tapi gua ga terima karena gua benar-benar tulus suka ama ingatan itu. Gua ga bisa ngelupain bayang-bayang lu, bahkan setiap detik dalam tidur gua. Gua ga bisa berenti ngingat lu!!" Ucapnya yang langsung menarik tubuhku dan mengalungkan lengannya di leherku.
"Gak masuk akal, bukan!!" Sambungnya. "Mangkanya, gua datang sendiri ke indonesia, dan berniat buat ngancurin idup lu, sampai berkeping-keping!"
Aku diam tak bergerak, di dekapan lengannya.
"14 tahun. Lu merusak gua selama 14 tahun, sedangkan lu malah gak ingat apa yang terjadi pada hari itu." Suaranya meninggi. "Akhirnya gua memutuskan untuk melakukan apa pun yang gua bisa. Seperti belajar dengan giat ga kenal siang dan malam, menekuni beberapa jenis seni bela diri lalu berhasil menjadikan yang paling kuat di antara yang paling kuat agar gak ada yang berdiri di atas. Mendirikan perusahaan berbasis teknologi yang gua rilis sendiri dengan umur yang baru sejengkal, bahkan menekuni semua hal yang menurut gua berguna!!" Ucapnya sambil melepaskan lengannya yang melingkar di leherku.
"Lu tau, semua itu demi apa. Semua itu gua lakuin biar gua bisa lupain lu." Dia memekik. "Tapi apa, gua gak bisa, semuanya sia-sia, gua malah makin terobsesi buat ngelakuin hal aneh dan abnormal!"
Beberapa detik kemudian dia berdiam diri mengimbangi emosi nya dengan menarik nafas panjang.
"Tepat 3 tahun lalu gua memutuskan buat balik lagi ke indonesia dan menetap di sini, berharap suatu hari bisa nemuin lu dan menumpas akar permasalahan yang gua alami selama ini!" Ujarnya lagi, "ternyata tanpa di cari pun, lu malah muncul sendiri di kehidupan gua, dan berada dalam satu fakultas yang sama sebagai junior!" Wajahnya kembali berubah menjadi tampang licik yang menyebalkan.
"Tentu aja, gua gak bakalan lewatin kesempatan itu buat bikin lu jadi jauh lebih menderita dari apa yang gua alamin selama ini. Gua mulai dengan cari-cari kesalahan yang gak seharusnya lu yang buat, atau dengan terang-terangan nyiksa lu secara gak langsung di depan anak-anak biar lu malu, gua juga yang nyuruh anak-anak lainnya buat ngerjain lu, dan berhasil bikin lu menderita."
Ekspresi wajahnya berubah lagi dan tertunduk murung dalam sekejap.
"Itu semua gak sebanding dengan apa yang gua rasaian selama ini. Gua masih haus, gua masih mau bikin lu menderita. Gua ga peduli ama masa depan gua sendiri." Ucapnya yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Itu yang ada di kepala gua saat itu, sampai akhirnya kejadian di gudang ini bikin gua sadar. Gimana pun caranya gua buat nyingkirin lu. keadaan malah ngebuat kita semakin terikat!"
Dia mengosongkan tatapannya dan memegang erat jemariku yang tanpa sengaja bersentuhan dengan tangannya.
"Di saat lu gak sengaja bikin pintu ketutup dan gak bisa kebuka dari dalam, sedangkan saat itu gua malah lupa bawa HP. Kondisi panik kayak gitu, langsung ngingetin gua dengan kejadian 14 tahun silam!" Sambungnya mengalihkan pandangannya menatap kosong sekitarnya.
"Dengan gelap mata, gua malah ngira kalau lu itu adalah orang yang sama, yang dulu pernah nyakitin lu di depan mata gua. Dan dengan reflek, gua malah nangkep leher lu, dan berniat buat ngelenyapin lu malam itu juga.
Aku terperanjat sampai tak sadar memundurkan tubuhku sendiri.
"Lu tau apa yang terjadi setelah itu?" Tanya nya memandangku dengan tatapan penyeselan. "Gua histeris, gua nangis, gua marah, gua pengen ngutuk diri gua sendiri yang tanpa sengaja udah nyakitin lu, guaa...." Dia menghentikan kata terakhirnya sambil mengepalkan tangannya dihadapan ku.
"Gua menderita!" Ucapnya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Berlahan dia membuka kepalan tangannya dan menggenggam tanganku.
"Sejak waktu itu gua sadar. Ternyata bukan lu yang bikin gua menderita. Melainkan karena gua sendiri yang waktu itu ga berhasil ngelindungin lu yang lagi dalam bahaya, mangkanya gua tersiksa!!"
Dia langsung mengambil kedua tanganku meremuknya pelan bersama kedua tangannya dan menempelkannya di depan pelipisnya.
"Gua benar-benar udah ngelakuin kesalahan besar yang gak seharusnya gua lakuin sama orang paling berharga dalam hidup gua!" Ujarnya berucap lirih dengan suara bergetar.
Yang kemudian jatuhlah beberapa tetes air mata di balik wajahnya yang sengaja dia tutupi dengan kedua tanganku.
"Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf!" Dia meracau.
"Maafin gua Arel!"
Aku langsung melepaskan tangannya yang masih menggengam erat kedua tanganku, kemudian berlutut dengan menempatkan kedua lenganku memeluk lehernya.
"Arel, maafin gua. Maaf Arel. Maafin gua!!" Dia tak berhenti histeris meskipun sudah ku peluk.
Aku tak berhenti mengusap punggungnya, dan memeluk erat tubuhnya yang dingin.
Malam ini, di dalam gudang ini. Entah kenapa kejadian 2 tahun yang lalu terulang kembali, namun kali ini dengan kondisi dan situasi yang berbeda.
Gudang ini adalah saksi bisu kisah kami berdua.
"Maafin gua yang udah nyakitin lu. Maafin gua yang gak berani buat nyatain semua yang terjadi di saat lu sengsara di masa pemulihan. Maafin gua yang gak ngasih tau dari awal apa yang terjadi. Maafin gua yang tega biarin lu nanggung semua ini sendirian. Maafin gua yang gak pernah berlaku baik. Maafin gua yang selama 3 bulan bikin lu menderita. Maafin gua..."
"Archie..Archie..udah, udah!" Ucapku sambil mengeratkan pelukanku pada lehernya.
Dia bisa saja lepas kendali dan berlaku berlebihan jika tak ku hentikan.
"Maaf untuk semua yang terjadi?" Ucapnya di akhiri oleh jeritan tangis yang memenuhi rongga dadaku.
Seperti terdapat perjuangan di setiap kata-katanya. seolah dengan memberitahukan kepada ku apa yang selama ini terjadi, dia malah semakin menderita.
"Gua janji!" Ujarnya.
Dia melepaskan tubuhku dari hadapannya dan memegangi wajahku dengan kedua tanganya.
"Gua bakal ngasih tau semuanya. Ngasih tau semua yang terjadi. Kenapa gua selama ini banyak nyembunyiin banyak hal dari lu. Gua bersumpah gak bakalan pernah nyakitin lu lagi." Cecarnya gelagapan sambil mendesak tubuhku.
"Archie!" Seru ku menatap matanya. "Kejadian 14 tahun silam yang kau katakan, apa benar ada seseorang yang menyakitiku!!"
Archie tertunduk tak bicara.
"Lalu karena suatu sebab, aku tak mengingat kejadian itu. Sedangkan kau karena suatu sebab juga tak bisa melupakan kejadian itu sampai mengalami penyakit mental!!" Tanyaku membeku.
"Benar!!" Balasnya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan pernikahan kita?"
Archie tak menjawab pertanyaanku.
"Jujur saja, kalau benar ini adalah alasan kita menikah, aku punya banyak alasan untuk mengetahui semuanya yang terjadi!?"
"Kau akan tau!!" Jawab Archie cepat. "Gua janji, lu bakalan tau segalanya yang terjadi. Tapi ga sekarang!!"
"Kenapa. Kenapa tidak sekarang!?"
"Karena banyak hal yang harus gua selesaikan sebelum ingatan lu pulih seutuhnya!!" Ujarnya dengan nada meninggi."Sebelum ingatan lu benar-benar pulih, gua ga punya pilihan lain selain bungkam."
Aku mengangguk pelan, dan beringsut mendekat ke arahnya.
"Baiklah!!" Ucapku merendah.
Archie mengangkat kepala nya dan memandangku.
"Aku akan sabar menunggu, tapi.." Aku beringsut lagi sampai tubuhku merepet ke hadapannya. "Jika waktunya ingatanku sudah pulih seutuhnya. Kau harus terus berada di sisi ku."
Aku menyadari kalau percakapan ini akhirnya terselesaikan dengan baik, karena pada akhirnya seluruh kekacauan ini berakhir dengan pengakuannya.
"Seharusnya gua yang bilang gitu!!" Ucapnya tersenyum simpul.
__ADS_1
Dia mulai duluan dengan mendekat ke wajahku dan membiarkan ku berinisiatif untuk membalasnya.
Kami berdua saling mendekatkan wajah masing-masing dan bersiap untuk posisi ciuman, namun kurang selangkah lagi menuju peraduan. HP kami secara bersamaan bergetar hebat dan mengacaukan suasana sakral yang di nantikan oleh penghuni gudang ini.
"Hallo?" Ujar kami berdua hampir bersamaan mengangkat telpon dengan wajah kesal yang tak dapat di lukiskan.
"Astaga, iya ya Bentar!" Ucap ku di dalam panggilan telepon, membentak anak-anak yang sedang mencari keberadaanku.
"Gua di cariin anak-anak!" Ucapnya padaku.
"Yah, aku juga!" Jawabku sambil berdiri dan menyalakan flashlight.
^^^Matisse & Sadko^^^
^^^feat. Hanne Mjøen - Into You. BGM^^^
Kami sama-sama keluar dari dalam gudang dan tak lupa mengunci nya sebelum di tinggalkan.
Namun belum sempat aku beranjak dari hadapannya, dia menarik tanganku kembali dan berdiri saling berhadapan.
"Anya!" Panggilnya mengusap lembut wajahku.
Senyumannya merekah indah seperti pangeran yang sering ku jumpai di film layar lebar yang mengisahkan cerita kerajaan yang menampilkan sosok pangeran tampan dengan kuda putih, baju merah khas pangeran kerajaan, jubah hitam, sepatu boots tinggi, rambut ikal bergelombang, mata biru, serta pedang tajam yang bersanding di pinggulnya.
Aku melukiskan pangeran paling sempurna seperti yang terbayang di benakku sejak pertama kali menonton film barat, namun lelaki di hadapanku melebihi yang terlukis di benakku.
Begitu sempurna sehingga cahaya rembulan akan jatuh dan menaungi setiap perjalanan dari langkah yang dia tapaki.
Aku bersyukur karena tuhan ku allah yang maha pengasih dan maha penyayang menguatkan hatiku, dan mengokohkan setiap langkahku di dalam perjalanan mengitari lika-liku rumah tangga yang terbilang menguras jiwa dan raga ini, namun di balik itu semua ternyata ada berkah yang tak ku sadari.
"Gua..!" Ucapnya memegang lenganku.
"SEPULUH, SEMBILAN, DELAPAN..."
Ucapannya terhenti saat mendengar hitungan mundur dari anak-anak yang menantikan pergantian tahun, sehingga dia melihat kebelakang dan menghentikan perkataannya.
"TIGA, DUA, SATU..."
Kembang api warna warni yang menyambut kemeriahan akhir tahun pun di lepaskan, sehingga aku terpana melihat warna yang terpancar memenuhi langit malam, dan tak menyadari kalau dia terus memandangiku yang takjub sendiri sambil mengangkat tanganku keatas. Aku mengikuti pergerakan kembang api yang bermekaran indah di langit malam.
"Anya!" Panggilnya kencang di antara riuh suara kembang api yang memekakan telinga.
" je t'aime t'aime , ek het jou lief, ich liebe dich!" Pekiknya kencang dengan semua bahasa yang tak satu pun ku mengerti.
"Itu apaan?" Aku mengiringi pekikannya karena suara kami tidak terdengar akibat letusan kembang api.
"masa iya gua jelasin satu-satu!"
"Cepetan, apaan?" Desakku.
"Artinya?" Ujarnya sambil mendekatkan bibirnya ketelingaku.
"Boleh pegang dikit gak!" Bisiknya mendesah di telingaku.
"eeh!"
"Dikit doang!" Timpalnya mendekat ke arahku.
"Kita tuh lagi di hadapan publik, di Indonesia norma adab dan berperilaku sopan sangat di berlakukan dalam bermasyarakat!" Ucapku yang mengimbangi langkahnya.
"Tapi kan gua bule!!" Jawabnya ngeles.
"Tapi aku gak bule!"
"Dikit doang?"
"Enggak!"Jawabku berlari menghidarinya.
"Dikit aja!"
"Setres!" pekikku.
"Dikiiit aja!!"
"Gila!"
-
-
-
-
__ADS_1
Dengarkan BGM ( Background Music) di apk musik masing-masing dan menyetel volume rendah, untuk pengalaman membaca yang lebih baik.