Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Takdir Yang Saling Menyalahkan End


__ADS_3

Aku memohon kepada pria asing itu untuk melepaskan bocah yang tak bersalah itu dan menukar nyawa nya dengan nyawaku. Aku memohon dengan sangat, psampai tertelungkup karena tak mampu lagi menopang tubuhku sendiri.


Aku yakin, pria ini adalah temannya pria tadi yang ingin melenyapkan bocah itu. Tapi selama aku terus mengoceh dan memohon-mohon kepadanya, dia sama sekali tak mengatakan apapun.


Dia tetap berdiri di ambang pintu sambil memandangiku dengan tatapan iba. Dia juga mengidar pandang melihat ke arah dapur di mana terakhir kalinya pria dan bocah itu pergi.


Tak lama kemudian terdengar suara teriakan yang sangat kencang berasal dari dapur. Teriakan anak kecil seperti sedang marah akan sesuatu.


Pria itu langsung bergegas pergi dan menyusul suara itu sesegera mungkin setelah mendengarnya.


Aku ingin menghentikan nya mengejar bocah itu. Tapi ternyata tubuhku sudah tak lagi sanggup, sekujur tubuhku lemas, aku tak lagi berdaya.


Lama kelamaan pandanganku seperti memudar seiring dengan rasa sakit yang di akibatkan oleh benturan di kepalaku. Di akhir kesadaranku aku mendengar suara pria tadi mendekat dan berbicara menggunakan bahasa yang sama seperti bocah itu. Saat mataku terbuka untuk yang terakhir kalinya sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaran. Aku melihat nya sedang membopong bocah itu di pungggungnya dalam keadaan tak sadarkan diri.


Bocah itu ternyata selamat. Dan aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tiba-tiba pandangan ku gelap, dan kosong.


**************


"Selamat pagi tuan putri!"


Saat mataku terbuka, Sayang langsung menyambutku dengan salam yang hangat.


Aku tak langsung bangun namun memejamkan mataku lagi untuk mengumpulkan kekuatan.


"Ngapain semalam lu tiduran di lantai?" Tanyanya sinis sambil meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.


Aku tak menggubris karena masih mengumpulkan tenaga setelah semalaman pinsan.


"Kalau lu pengen pipis bangunin gua tidur dong, jangan pergi sendirian. Jadi nya kek gini kan, lu kecapean ampe ketiduran di lantai!" Sayang nyerocos mirip perempuan.


Aku tak menjawab dan meletakkan lenganku di atas kedua mataku.


"Nya!" Panggil nya lagi. "Lu kenapa?" Dia menyadari jika ada yang tak beres.


Aku diam karena kepalaku masih terasa pusing.


"Apa yang terjadi semalam, keknya lu ga beneran ketiduran?" Tanyanya.


Aku menghela napas panjang namun belum berani mengatakan apapun kepadanya.


Tok tok tok....


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sayang berdiri dari hadapanku dan pergi membukakan pintu.


"Anya!" Panggilnya sekembali dari depan. "Ada yang pengen ketemu lu!"


Sayang membantuku berdiri dan memapahku untuk menuju ke ruang tamu. Sesampai di sana, aku melihat seorang pria tua berperawakan teduh sedang menyambut kedatangan ku dengan sopan.


"Pak Samusi!"


Samusi adalah ayah kandung Hendri, beliau merupakan penjaga keluarga Yuaga sebelum akhirnya pensiun dan menyerahkan tugas selanjutnya kepada Hendri.


Dia menundukan tubuhnya saat ku sapa. Lalu menatapku dengan senyuman khas pria tua yang berwibawa.


"Lu kenal ama dia?" Bisik Sayang di dekatku. "Dia siapa?"


Aku langsung menoleh ke arah Sayang, dan menepuk bahunya.


"Boleh aku meminta sesuatu?"


Sayang menatap ku heran.


"Bisakah kau tinggalkan kami berdua saja. Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan kepada beliau!!"

__ADS_1


Meskipun Sayang bingung dan merasa aneh. Dia pun akhirnya menurut dan pergi begitu saja meninggalkan kami berdua.


"Nyonya!" Samusi menundukan tubuhnya saat aku berjalan menghadapnya.


"Silahkan duduk pak Samusi!" Aku mempersilahkan beliau sambil duduk di atas sofa.


Ia mengangguk.


"Bagaimana keadaan Nyonya saat ini?" Beliau berbasa-basi membuka percakapan.


Aku tak menjawab dan memandang searah seperti tatapan kosong orang yang melamun.


"Nyonya!" Panggilnya lagi, "saya sudah mendengar semua yang terjadi kepada anda. Dan juga tujuan anda untuk menetap sementara di tempat ini. Dan saya turut prihatin dengan keadaan Nyonya, saya doa kan semoga Nyonya mendapatkan jalan terbaik dalam mengemban kehidupan ini!!"


"Terimakasih pak Samusi, anda jauh-jauh datang kemari hanya untuk mendoakan kehidupan saya. Saya sangat senang saat mendengarnya!" Balasku.


Beliau menundukkan kepalanya.


"Tapi..." aku melirik sinis, "dari mana Bapak tahu kalau saya menetap di sini. Bukankah itu adalah rencana rahasia yang sengaja saya sembunyikan agar tak di ketahui oleh siapapun?" Pancingku.


"Saya hanya tahu saja. Karena informasi tentang anda dan keluarga Yuaga akan cepat tersebar di kalangan kami!!" Balas Samusi tak bertele-tele.


Aku langsung berdiri menatapnya dengan gelisah dan berjalan ke arah jendela.


"Nyonya. Apa yang akan anda lakukan jika ingatan Nyonya telah kembali. Apa Nyonya akan membeberkan hal ini kepada Tuan muda!?" Tanyanya saat tahu kalau aku sudah menyadari sesuatu.


Aku tak menjawabnya melainkan terus menatap ke luar jendela tanpa berpaling sedikitpun.


"Nyonya!" Panggil Samusi.


Saat ku perhatikan secara detil, ternyata Samusi tidaklah sendirian. Dia sedang bersama banyak sekali orang yang tak ku kenal sedang mondar mandir ke sana kemari mengawasi rumah ini.


"Apa yang sedang ada lakukan?" Tanyaku sambil menyibak hordeng.


Samusi menundukan kepalanya sebagai pemberian hormat dan mengisyaratkan kepadaku untuk berbicara dengan santai.


Jari jemarinya bergerak turun naik, dia sedang mengisyaratkan ancaman kepadaku di balik perkataan terakhirnya dengan menunjukan alat komunikasi mini yang terselip di lengan baju nya.


"Pak Samusi!" Panggilku dengan tatapan datar. "Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa anda melakukan hal ini kepada mantan menantu keluarga Yuaga!"


Samusi tak menjawab dan hanya menatapku.


"Siapa anda sebenarnya?" Tanyaku lagi.


Tiba-tiba dia juga berdiri dan melihat ke luar jendela dengan pandangan datar, lalu menutup semua hordeng yang ada di rumah itu dan mencabut alat komunikasi yang ada di seluruh tubuhnya sampai beliau hanya menggunakan baju kaos dalam.


"Apa yang sedang anda lakukan?" Tanyaku tambah bingung.


"Nyonya!" Panggilnya dengan nada tergesah memandangiku. "Tolong katakan kepada saya apa yang akan anda lakukan jika ingatan anda kembali. Tolong katakan!!"


Aku terpekur mundur saat mendapati sikap Samusi yang terlampau aneh. Dia bahkan tak menjelaskan alasannya mempertanyakan itu dan terus mendesakku.


"Pak Samusi. Aku tak mengerti apa yang sedang anda lakukan. Lagi pula, kenapa saya harus menjawab pertanyaan Bapak?" Jawabku.


Beliau terlihat resah dan diam mematung di hadapanku. lalu sejurus kemudian dia membuka suara.


"Saya adalah kaki tangannya. Saya yang mengatur penculikan Tuan Muda belasan tahun lalu!"


Tak ada angin tak ada ombak, Samusi mengakui semua itu atas kemauannya sendiri.


Aku hanya diam dan menatap wajah Samusi tanpa ekspresi.


"Saya yang mengatur penculikan itu!" Lanjut Samusi, "seharusnya saya yang membunuh Tuan Muda pada saat itu. Tapi ternyata semuanya di luar perkiraan, dia lebih licik dari seekor kancil."

__ADS_1


Samusi berhenti sejenak dan membalas tatapanku.


"Itu adalah tugas saya yang sesungguhnya, saya yang seharusnya melenyapkan Tuan muda di hari dimana dia menghilang. Tapi karena saya gagal melaksanakannya. Akhirnya orang itu yang turun tangan dan ingin membereskan nya sendiri!"


Aku tak bereaksi dan terus menatap Samusi tanpa berkedip.


"Nyonya!" Panggil Samusi, "melihat reaksi yang anda keluarkan saat saya mengatakan kebenaran, sepertinya ingatan anda sudah kembali.."


"Aku ingat semuanya!" Potongku.


Samusi yang saat itu sedang menatapku, sontak melakukan tindakan frezee seperti mayat.


"Saya ingat kejadian yang ada di rumah ini, bahkan sampai sedetil-detilnya!" Ulangku mempertegasnya.


"Sudah saya duga!" Responnya sambil tersenyum, dan pemandangan itu membuatku semangkin heran.


"kenapa?" Tanyaku.


Tapi Samusi tak menjawab dan membalasku dengan senyum simpul.


"Apa yang terjadi. Katakan, apa tujuan anda datang ke tempat ini. Dan kenapa anda membeberkan dengan sendirinya kebejatan yang anda lakukan di masa lalu. Apa yang sedang anda rencanakan!?" Aku merentetnya dengan berbagai pertanyaan.


Tapi Samusi bersikap tenang dan memasang wajah dingin datar seperti perawakan Hendri lalu menundukan kepalanya seperti sedang khitmat ingin memberitahukan sesuatu kepadaku.


"Nyonya. Dengarkan perkataan terakhir dari orang tua renta ini. Mungkin Nyonya akan membenci saya setelah ini, tapi dari lubuk hati saya yang paling dalam. Saya sangat menyesal telah melakukan semua itu di masa muda. Tolong maafkan saya!!"


Perkataannya itu adalah pengantar cerita yang sesungguhnya.


Dengan tubuh gemetar, akhirnya Samusi membeberkan segalanya kepadaku, dengam mulutnya sendiri Samusi mengatakan rahasia yang tak kan mungkin di percaya oleh siapapun yang mendengarnya. Semua duduk perkara itu menjadi jelas sejelas-jelasnya seperti matahari yang tingginya hanya sejengkal di atas kepala. Selama penjelasan itu berlangsung, aku tak pernah sekali pun memotong perkataannya maupun membalas semua asumsinya. Aku hanya diam dengan mata membulat besar dengan ekspresi kalut. Karena perkara ini terlihat tak masuk akal mengingat dalang dari semua kejadian ini merupakan orang yang sangat berarti dalam hidup Archie.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanyaku. "Apa kau akan membeberkan kepada orang itu kalau aku sudah mendapatkan kembali ingatanku, dan akan segera mengatakan semua yang terjadi kepada Archie!?" Aku mengawasinya.


"Itu tak akan mudah bagi saya. Tapi, jika bukan saya yang mengatakannya pasti ada orang lain yang sudah mengetahui hal ini terlebih dahulu setelah mendengar pembicaraan kita dan mengatakannya kepada orang itu. Meskipun seluruh alat komunikasi sudah di putus, tetap saja informasi ini akan cepat bocor!!" Jawab Samusi secara logika.


"Kau benar, pasti sudah ada yang tahu hal ini dan menyampaikannya kepada orang itu!" Ucapku resah dan membuang perkataan sopanku kepada Samusi.


Samusi memandangiku dengan tatapan iba lalu berdiri dan memeriksa jendela.


"Tapi Nyonya, akan saya pastikan jika tidak ada satupun ada orang yang tahu hal ini dan membeberkannya kepada orang itu sebelum anda memberitahukan isi ingatan Nyonya kepada Tuan muda!" Ujarnya dengan wajah serius.


"Apa?" Aku kaget sambil berdiri.


"Pergilah. Beritahu semua yang terjadi kepada Tuan muda. Katakan semua yang terjadi pada hari itu dan tunjukan kepadanya siapa orang jahat yang sesungguhnya!!" Ujar Samusi dengan nada gemetar.


"Pak Samusi. Apakah anda.."


"Nyonya!" Potongnya. "Saya ini sudah tua. Dan lagi, saya sudah banyak menanggung dosa orang itu demi mendapatkan pengakuan. Saya sudah jengah!!"


Aku memandanginya dengan raut wajah tak tega.


"Pergilah. Akan saya pastikan jika tak ada siapapun yang tahu sebelum anda bertemu Tuan Muda!" Ujarnya dengan nada tegas mendorongku.


Saat aku beranjak dan ingin pergi meninggalkan ruangan itu, sontak aku mematung dan menatapnya di tengah ruangan.


"Apakah kau melakukan semua ini demi Hendri?" Tanyaku.


Samusi tak menjawab.


"Atau demi paisee?" Lanjutku.


Samusi tersenyum simpul mendengar pertanyaanku.


"Saya melakukan ini karena saya harus terus hidup demi orang-orang yang menyayangi saya!" Jawabnya dengan senyuman lega.

__ADS_1


Tanpa ku sadari jika pada hari itu adalah hari terakhirku bertemu dengan Samusi.


Dia menemukan kebahagiaannya sendiri setelah melakukan tindakan yang benar.


__ADS_2