
Rencana kami sebenarnya sederhana, anak-anak yang berada di atas akan memancing semua anak buahnya menuju lantai empat dengan membuat keributan seheboh mungkin memakai barang-barang rongsokan. Setelah mereka semua terpancing dan menuju ke lantai empat, saat itulah kami yang ada di lantai tiga melarikan diri.
Kalau dugaan ku benar, anak buahnya yang berjumlah empat orang, akan pergi ke lantai atas dengan kondisi yang kurang waspada. Seperti yang pernah di katakan pemimpin kelompok ini, jika mereka sebenarnya sudah memisahkan orang-orang yang berpotensi merepotkan, dengan kata lain dia sengaja membuat kami terpisah dari orang-orang kuat.
Lalu saat mereka semua lengah, barisan depan seperti Sakurai, Hendri, Archie, dan Rio akan menerjang mereka dengan kekuatannya. Dan sisanya akan membantuku mencari Ruana.
"Ok, siap!!" Ucap ku pada mereka.
Braaakkkk....
Pintu besi itu langsung terbuka saat mereka secara bersamaan mendobraknya menggunakan bingkai jendela yang terbengkalai.
Tanpa mengambil tempo, kami langsung berpencar dan menjalankan tugas masing-masing.
Berkat hipotesisi yang di berikan oleh Dimas, dia mengkaji struktur bangunan ini dan memetakan beberapa ruangan tertutup seperti hal nya kamar. Sehingga dengan mudah kami bisa langsung menuju sudut tertentu untuk mencari Ruana.
"Gua ama Anya di sini, lu disana!!" Perintah Sayang sambil membagi tempat pencarian.
Aku langsung berlari mengekori Sayang, dan mendobrak beberapa tempat meskipun sedikit sulit karena kondisinya gelap.
Braakkk....
"Ruana!?" Ucapku sambil medobrak pintu, namun lagi-lagi yang ku temui hanya kamar kosong.
__ADS_1
"Di sini juga ga ada?" Ucap Sayang dari kamar sebelah.
"Di sana juga!!" Lapor Dimas berlari ke arahku.
Aku frustasi, jika di lantai tiga dia tak ada di manapun. Berarti kemungkinan dia ada di lantai empat, karena di lantai dua maupun tiga tidak ada sekat kamar selain ruangan gabas yang kosong.
"Kita lanjut ke lantai empat!!" Ucapku dengan langkah yang memburu.
Mereka berdua langsung berlari mengekoriku.
Saat kami bertiga telah mencapai lantai empat, sontak langkahku terhenti karena melihat sesuatu yang menarik.
Aku terkesima hampir tak bernapas karena menyaksikan Archie dan pria itu sama-sama menodongkan senjata api ke pelipis masing-masing.
"Turunkan senjata mu Tuan Yuaga, kau ga tahu kan, sedang berhadapan dengan siapa?!" Gertak laki-laki itu.
Tapi Archie tak gentar, karena dia pun pernah menghadapi laki-laki ini lebih dari sekali.
"Yang benar aja!?" Archie tersenyum smirk. "Gua pernah liat Hyna yang kehilangan jati diri karena terpisah dari rombongan. Lalu untuk bertahan hidup, dia menggunakan trik kotornya dengan menunjukan gigi busuk penuh liurnya untuk menakuti mangsa." Archie terkekeh.
"Yah, kurang lebih tindakan pengecut seperti itu adalah manifestasi diri lu!!" Lanjut Archie.
Laki-laki itu bermuka masam saat mendengar perkataan Archie, lalu mengangkat sekali lagi senjata apinya karena merasa lebih unggul.
__ADS_1
"Apa kalian sudah mencarinya!?" Tanyanya melirik ke arah kami bertiga. "Maksudku wanita itu!?
Aku terkesiap. Wanita itu, apakah yang dia maksud adalah Ruana.
"Aku menyembunyikan nya di suatu tempat. Yah ku rasa kalian tak kan bisa menemukannya tanpa ku!" Ucap Laki-laki itu angkuh.
Archie memiringkan kepalanya karena mendengar sesuatu yang menjadi kartu emas laki-laki itu.
"Wah hebat, sekarang lu malah balik menggertak!!" Archie dongkol.
"Apa kau pikir, aku melawanmu tanpa perencanaan!?" Lagi-lagi laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuat kesal. "Apa kau pikir, aku gak memikirkan apa yang akan kalian lakukan untuk keluar dari tempat ini!"
Urat-urat di kepala Archie bermunculan, dia sangat dongkol, apalagi di ejek dengan hal seperti ini.
"Karena kau orang baik, jadi ku pikir kau gak akan berani meninggalkan teman-temanmu, maka dari itu aku berinsiatif untuk menyembunyikan nya di suatu tempat, sebagai jaminan kalau kalian ga akan melarikan diri dari tempat ini." Ujar laki-laki itu dengan lancang mengejek Archie dengan menurunkan senjatanya.
"Bedebah, sia*an!?" Archie tak gentar dan terus menodongkan senjata apinya ke kepala laki-laki itu.
Namun reaksi laki-laki itu benar-benar di luar dugaan, dia bersikap santai seolah-olah senjata api yang menghadangnya adalah mainan.
Archie temberang, tanpa pikir panjang dia langsung menarik pelatuknya tanpa aba-aba.
Doooorrr.....
__ADS_1