Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Bandara Narita Jepang


__ADS_3

"Anya. Hei!!" Sayang menghentikanku di tengah-tengah parkiran bandara.


Sepertinya dia jengah karena terus ku abaikan selama di perjalanan, dan lagi setiap kali dia bertanya, aku hanya membalasnya dengan diam.


"Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa lu tiba-tiba ngajakin gua berangkat ke jepang tanpa ngomong apapun ke gua. Kenapa setelah lu ngomong berdua ke pak tua tadi, lu langsung kesetanan dan ngajakin gua buat nyari keberadaan Archie!!" Sayang nyerocos karena memang sifat keingintahuannya terlampau tinggi.


"Akan aku jelaskan nanti selama perjalanan. Tapi sekarang kita harus bergegas!!" Jawabku buru-buru sambil menyeretnya.


**************


"Ingatanku kembali!"


Sayang meletakkan kembali bungkusan permen yang ingin dia selipkan di badan kursi penumpang dan fokusnya beralih ke padaku.


"Apa?" Dia kaget, tapi lebih ke arah kesal karena baru mendengar pengakuanku sekarang, setelah sekian lama berada di dalam perjalanan. "Lu bilang apa?"


"Semalam, sebenarnya ingatanku telah kembali!!" Aku memperjelasnya.


"Ingatan lu udah balik, dan lu baru ngomongin ini ke gua sekarang!" Dia ngegas tapi dengan nada berbisik nyaris tak terdengar di dekatku.


Aku mengangguk mengiyakan.


"Aku ingat semuanya. Aku mengingat semuanya dengan jelas, detil kejadiannya, dan juga orang yang menyakitiku!!"


Sayang tak berkomentar dia menatapku dengan diam.


"Aku bisa merasakan rasa sakit pada saat kejadian itu, dan juga alasan kenapa Archie bisa mengidap penyakit aneh tersebut!" Jelasku.


Dalam ilmu kedokteran, orang yang mengidap trauma masa lalu, cenderung membenci atau menghindari sesuatu yang menjadi penyebab gangguan kecemasan yang membuat penderita menjadi traumatis. Namun pada kasus Archie, kecenderungannya malah mejadi kebalikan. Dia menikmati traumatis itu karena ada rasa bersalah yang teramat dalam di dalam dirinya, di tambah lagi pada saat itu usia nya masih sangat muda sehingga Archie tak bisa membedakan apa itu obsesi dan kenyataan. Saat mengingat ekspresi terakhirku yang tersenyum saat di sakiti berkali-kali, dia membuat hal itu sebagai narkotika yang mampu meredam rasa sakitnya atas penyesalan karena tak bisa melindungiku. Kira-kira seperti itu penjelasan yang sayang ungkapkan kepadaku setelah aku membeberkan isi ingatanku kepadanya.


"Lalu, ini alasan lu buat buru-buru ngajakin gua ke jepang. Karena pengen ngasih tau Archie!?"


Aku mengangguk serius.


"Siapa dia. Siapa orang yang telah menyakiti kalian berdua!?" Tanya Sayang berbisik di dekatku.


Aku diam dan mengenggam dengan kuat jari-jemariku. Meskipun aku sangat ingin mengatakan nya kepada Sayang, tapi akan berbahaya jika aku membeberkan hal ini kepada orang lain selain Archie sendiri. Sehingga pada hari itu aku memutuskan untuk tak memberitahu Sayang dan menyimpan rahasia itu rapat-rapat.


"Aku akan mengatakannya setelah memberitahu Archie. Karena..aku punya alasan tersendiri!!" Ujarku dengan nada bergetar.


Sayang mengangguk setuju dan memahami kondisi ku.


"Lalu, siapa orang yang tadi nemuin lu di sana?" Tanya Sayang lagi.


"Namanya Samusi. Dulu dia bekerja sebagai unit pasukan khusus yang di tugaskan untuk menjaga keluarga Yuaga. Tapi setelah Archie di culik, dia mengundurkan diri dan memilih pensiun." Aku menjawab rasa penasarannya, "dan Samusi adalah Ayah kandung Hendri!" Tambahku.


Sayang terlihat mengangguk setelah mengetahui hal itu dan mendekat lagi ke sisiku. "Dan apa urusannya dia datengin lu?"

__ADS_1


Aku langsung menoleh ke arah Sayang dengan tatapan datar.


Memang, Sayang adalah tipikal orang yang ingin mengetahui seluk beluk dari inti permasalahannya. Tapi sepertinya dia harus berhenti mengetahui hal ini cukup sampai di sini.


"Lebih baik kau tidak tahu!" Jawabku menatapnya dengan serius, "karena, jika kau tau. Mungkin kau juga akan merasa beruntung karena tidak di lahirkan sebagai Archie Yuaga!!"


Sayang mengiba setelah mendengar penuturanku, dia sontak membuang muka dan melihat ke luar jendela pesawat dan memperhatikan awan yang berarak bebas di atas langit yang telah menggelap.


Aku memang baru mengenal Sayang dalam jangka waktu beberapa bulan. Tapi dia sudah mengenal Archie lebih dari siapapun.


Selama beberapa jam di dalam perjalanan kami berdua larut dalam keheningan dan memilih bungkam. Sesekali Sayang menunduk seperti seseorang yang mengheningkan cipta lalu melirikku seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi setelah melihatku yang terus menatap searah dengan pikiran kosong, Sayang mengurungkan niatnya dan memilih menatap ke luar jendela.


"Terimakasih!" Aku membalas jamuan yang di berikan pramugari berupa makanan malam.


Penerbangan dari indonesia ke jepang memakan waktu kurang lebih 7 jam 30 menit. Dan karena kami memesan tiket melalui aplikasi, dan perjalanannya di lakukan secara mendadak. Maka mau tak mau kami harus menempuh perjalanan malam.


Aku dan Sayang memakan makanan malam dengan suasana canggung dan sesekali melirik tanpa berbicara sepatah katapun.


"Sebenarnya, di dalam ingatanku aku melihat paman Paisee!" Aku memecah keheningan.


Sontak Sayang mengangkat kepalanya dan menatapku.


"Pada saat-saat terakhir ingatanku, aku melihatnya datang dan menolong ku dan Archie." Ucapku.


Sayang mendengarkan meskipun dia terus melahap makanannya.


"Seperti yang pernah kalian berdua katakan padaku waktu itu. Paman Paisee adalah sosok lelaki paling penyayang yang pernah ada di dunia ini, dan aku langsung setuju setelah melihatnya langsung di dalam ingatanku saat itu." Ujarnya bercerita kepada Sayang, " sorot matanya seperti sangat terpuruk saat menatap ku dan Archie, padahal penampilannya saat itu sangat menyeramkan. Tapi aku langsung bisa menyadari kehangatan dari tatapannya yang menghawatirkan kami."


"Yang!" Panggilku dengan ragu-ragu.


Dia berhenti makan dan mengangkat kepalanya.


"Maafkan aku. Tanpa sadar tadi aku mengatakan perkataan yang tak perlu dan membuatmu tak nyaman!" Ucapku membahas hal terakhir yang membuat kami berdua menjadi canggung.


Sayang meletakkan sumpitnya dan memandangi lekat wajahku.


"Aku tak bermaksud. Ahh..aku tak ada maksud untuk menyinggung mu, karena aku tak bisa mengatakan hal ini kesembarang orang. Tapi kau, maksudku, kau juga bukan orang sembarangan!" Aku malah jadi gelagapan seperti orang linglung.


Sayang tak merespon dan hanya memandangku.


"Hanya saja, yah..semua ini terlalu rumit, aku tak bisa mengatakan nya kepada siapapun, sebelum Archie mengetahuinya lebih dahulu!" Lanjutku sembari menunduk.


"Gua setuju sama lu!" Ujar nya tiba-tiba.


Aku mengangkat kepalaku karena mendengar respon yang aneh dari nya.


"Apa?" Tanyaku.

__ADS_1


"Alasan gua diem bukan karena gua ga nyaman dengan perkataan lu tadi, melainkan gua merasa omongan lu tadi benar-benar mewakili gua banget!" Balasnya.


Aku mengernyitkan kening.


"Selama ini gua ga pernah sekalipun bersyukur lahir sebagai diri gua sendiri, bahkan menganggap semua yang ada pada diri gua adalah sebuah kutukan. Gua ga pernah ngerasa beruntung selama ini."


Sayang tersenyum seperti malaikat dengan mata polos berbinar kesana kemari.


"Tapi setelah ketemu ama lu dan Archie, gua pun sadar. Jika, di dunia ini ada banyak keberuntungan-keberuntungan yang tak pernah di sadari oleh pemilik tubuhnya sendiri."


Dia mendekat ke sisi telingaku.


"Dan sebenarnya Archie Yuaga adalah manusia paling beruntung di dunia ini, lu mau tau kenapa?" Bisiknya.


"Karena dia anak konglomerat!"


Sayang menggeleng.


"Karena dia punya lu!" Jawabnya.


************


Bandara Narita Japan.


"Barang lu cuman itu aja kan. Yuk, cepetan gua udah pesen taksi. Lu jangan jauh-jauh, ini pertama kalinya juga kan lu ke sini!!" Sayang membopong tubuhku yang nyeloyor kesana kemari, karena bagi ku ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke luar negri.


Kami tiba di bandara internasional jepang pada pukul 06.50 waktu setempat. Dan rasanya sedikit aneh karena ada perbedaan waktu.


"Lu tunggu bentar di sini, gua ke toilet dulu!" Ucap Sayang sambil berjalan menjauh dari ku.


Dia lalu melihat lagi ke belakang memastikan kalau aku masih ada di tempatnya.


5 menit kemudian, taksi yang dia pesan pun datang. Supir itu turun dan langsung memunguti barang bawaan kami berupa koper dan tas jinjit kepunyaan Sayang, lalu memasukannya kedalam bagasi.


Supir ini mengerti jika aku adalah wisatawan, jadi dia tak mengatakan hal aneh-aneh yang membuatku tak mengerti. Melainkan menggunakan bahasa isyarat, seperti meminta izin kepadaku untuk membawa barang-barang itu, dan menyuruhku untuk masuk ke dalam taxi.


"Ahh..terimakasih!" Ucapku sambil masuk ke dalam.


Aku menepuk bahu supir itu sambil menerjemahkan bahasa ku ke dalam aplikasi, dan mengatakan kepada beliau untuk menunggu temanku yang saat ini sedang berada di toilet. Supir itu pun mengangguk mengerti dan bersedia menunggu.


Namun entah mengapa, setelah dia menyalakan difuser. Tiba-tiba kepalaku pusing di sertai rasa kantuk yang amat sangat tak tertahankan. Di akhir kesadaranku sebelum tertidur, aku melihat pak sopir itu membuka topinya dan memperlihatkan sorot matanya di balik masker yang masih dia kenakan.


Dan sorot mata itu mengingatkanku kepada seseorang.


_


_

__ADS_1


_


Tinggal Satu bab lagi tamat S2. jangan lupa baca. hueee... 😭


__ADS_2