Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Vacation Part 11


__ADS_3

Archie membawa ku menuju sebuah ruangan yang bahkan anak-anak pun tak pernah masuk ke sana, tempat nya berada paling atas bangunan ini, ku rasa bersebelahan dengan kamarnya. Dia membawa ku ke sana tanpa banyak bicara dan terus menggandengan tanganku dengan setengah berlari.


"Kita mau kemana?" Tanyaku.


"Ikut aja!" Jawabnya lalu membuka pintu ruangan itu.


"Ku pikir tadi kau akan mengatakan yang sebenarnya?" Kelakarku. "Lalu membeberkan apa yang terjadi pada anak-anak!"


Archie mendesah tanpa menjawab, lalu berjalan melewatiku dengan langkah cepat.


Ku pandangi tempat ini, ruangannya sangat besar, ku rasa 4 kali lebih luas dari kamar yang anak-anak pakai, ada sofa dan tempat tidurnya juga, di sertai balkon dan kolam renang.


Dia berhenti di dekat tirai, lalu membalikkan tubuhnya sembari tersenyum lembut.


"Apa yang tadi gua bilang pas di bawah, itu gua beneran serius!!" Ujarnya.


"Yang mana?" Aku tak peka.


Archie terlihat gusar sambil menggaruk belakang lehernya, lalu terkekeh kecil dengan raut wajah bahagia.


"Susah banget ya, buat ngungkapin perasaan sendiri kalau gini caranya!!" Ucapnya.


"Apasih, kau kenapa?" Tanyaku heran.


"Yah, pokoknya.." dia lalu menyibak seluruh tirai yang menutupi pemandangan luar.



Dalam beberapa detik, aku terkesima sampai lupa menarik napas. Otakku mengalami kemunduran 1% sehingga penglihatanku layaknya terhenti dan dunia bergerak lambat seperti di slowmotion.


Bagaimana bisa tempat seperti ini mampu menyimpan pemandangan yang hanya bisa ku bayangkan lewat lukisan digital yang saban hari ku lihat di internet sebagai pengusir rasa lelahku karena beraktifitas seharian.

__ADS_1


Archie tau kalau aku sangat mengagumi pemandangan lebih dari aku mengagumi apa pun di dunia ini. Pemandangan adalah ciptaan tuhan yang paling luas, mampu menampung hal yang menakjubkan dalam satu penglihatan, yang bahkan dapat menggenggam keajaiban dalam satu hentakan napas. Maka jangan sekali meremehkan pemandangan, karena ada anugerah terbesar manusia yang terkandung di dalamnya lewat rasa syukur.


Aku berjalan berlahan ke arah itu, melangkahkan kaki ku pelan-pelan bahkan hampir tertatih, dan kini tubuhku seperti kehilangan gravitasi lalu terangkat ke atas dan terbang.


Sungguh indah, aku bahkan sampai menangis.


"Wah lu beneran nangis!!" Archie meledekku.


Aku menatapnya dengan terus menangis, bahkan saat aku tak ingin menunjukannya, air mataku terus keluar. Mungkin inilah yang di namakan air mata bahagia, itu yang ku tahu. Karena dia dan pemandangan ini adalah sesuatu yang ku sukai dan cintai, kombinasi dua hal ini adalah kebahagian terbesar dalam hidupku.


"Lu suka ga?" Tanyanya yang kemudian memeluk tubuhku dari belakang.


Aku mengangguk antusias dan menyandarkan kepalaku ke dada nya.


"Maafin gua kalau kita ga pernah pacaran kayak pasangan normal, ga pernah bikin acara lamaran atau pun ngasih cincin, bahkan pas nikah kita ga pernah bikin resepsi atau ngasih tau ke banyak orang kalau kita udah jadi suami istri." Ucapnya lalu mengusap lembut wajahku dengan kedua tangannya, "tapi gua harap lu bahagia meskipun kondisi kita berdua susah buat tenang."


Aku tertawa mendengar perkataan terakhirnya. "Meski kau bilang begitu, kita tetap berusaha menjadi pasangan normal dan menjalani hari-hari dengan baik."


"Kalau lu suka tempat ini, mendingan kita netap di sini aja."


"Aku suka. Tapi kuliahku kan di jakarta!!"


"Netap di sini juga pilihan yang baik. Kita bisa lebih fokus berkembang biak." Dia malah membahas yang lain dan tak mendengarkan ku.


"Kenapa kau langsung memikirkan hal itu, kita berdua kan sepakat buat ga buru-buru."


"Gua pengen punya banyak anak, minimal 8 lah!!" Dia asal bicara.


"Kau gila!!" Respon ku yang tak habis fikir dengan permintaannya.


"Kalau anak pertama kita lahir, bakalan gua kasih nama maemunah kalau dia cewe, tapi kalau yang lahir cowok, bakalan gua kasih nama sopran!!" Apa lagi ini.

__ADS_1


"Kenapa kau sampai membahas nama anak kita segala, lagi pula kenapa namanya jadi sangat melokal dan mencolok." Aku mulai tak habis fikir.


"Tapi gua penasaran ama muka anak kita nanti."


Aku langsung melorot dan menatap wajahnya yang selalu berfikir serius untuk hal-hal yang tidak berguna.


"Kira-kira kayak gimana ya, ahhh tapi gua udah dapet bayangan. Kalau anak kita cewe pasti mukanya bakalan mirip ama Sailor Moon Usagi Tsukino. Berbahasa jepang dan bermuka bule."


Aku hanya diam dan tertawa kecil menanggapi hayalannya.


"Terus kalau cowo, pasti mukanya bakalan mirip Avatar Aang." Dia mengatakannya dengan memperhatikan wajah ku, jelas-jelas dia sedang mengatakan kalau anak lelaki pasti akan mirip dengan ku.


"Archie hentikan, kau lupa kalau tuhan bisa saja mengabulkan permintaanmu jika kau mengatakannya dengan sungguh-sungguh."


"Tentu aja gua berdoa dengan sungguh-sungguh." Jawabnya dengan nada mendikte.


"Kenapa juga anak kita harus mirip tokoh anime!" Tangkisku dongkol, "lagi pula kalau anak kita nanti beneran botak dan punya tanda panah di kepalanya, bukannya nanti kita bakalan kesulitan karena anak kita adalah reinkarnasi pengendali udara." Aku terbawa suasana.


"Ahhh iya..tar kita bedua di interogasi dari pengendali api, abis itu kita juga punya kekuatan yang bisa bolak balik ke dunia isekai dan ngalahin raja api." Tambah Archie mangkin ngelantur.


*isekai, istilah dunia lain dalam manga atau anime jepang.


"Kalau kita bisa bolak balik ke dunia isekai aku juga pengen ketemu elsa dan belajar gimana caranya bikin es tanpa kulkas!!"


"Gua juga pengen ngalahin raja iblis dan menjadi penguasa dunia bawah tanah."


"Kalau kau bisa ngalahin raja iblis, berarti kau juga punya khodam yang bisa membunuh tanpa menyentuh." Ucapku asal.


"Terus gua bakalan jadi pemimpin dukun dari semua dukun di seluruh dunia. Dan yang pasti, gua bakalan nyantet orang yang udah nyakitin lu selama ini!!" Ucapnya dengan senang.


Lalu kami terdiam dan saling bertatapan satu sama lain, setelah sadar kalau omongan kami kelewat absurd, kami pun langsung tertawa terbahak-bahak sampai terjungkal.

__ADS_1


__ADS_2