
"Hei Nyonya Yuaga, bisa gak lu tuh ngomongin sesuatu atau nyapa kalau kita lagi papasan atau ketemuan kayak gini!!" Ucap Archie menyinggung perbuatanku yang tak pernah menggubris keberadaannya setelah dia pulang dari rumah sakit.
Aku tak memperdulikannya dan langsung masuk ke ruang baca tanpa mengatakan apapun.
"Anya!!" Panggil Archie.
Tapi aku tak mendengarkannya dan menutup kupingku sendiri.
"Ya lord. Lu kenapa lagi sih, hah!!" Dia menyusulku ke ruang baca dan langsung membuka telapak tangan yang menutupi telingaku.
"Pergi. Aku ga mau ngomong sama kamu!!" Ucapku sambil memalingkan wajahku.
"Hei!!" Archie menyergahku dengan cara menahan kedua tanganku. "What's wrong!!"
Aku diam saja sambil menunduk.
"Ngomong ke gua, kalau gua punya salah!?" Dia berusaha membujukku.
Aku tetap tak mau bicara sambil menekuk wajahku sendiri.
"Anya!!" Panggilnya lagi. "Lu kenapa, hah!!"
Aku melengos memalingkan wajah.
"Satu..dua..tiga..." dia menampakan tiga jarinya dan menghitung sampai tiga.
Perasaan ku jadi tak beres kalau dia tiba-tiba mulai menghitung.
"Kalau lu ga mau ngomong juga..." Archie mendekat sambil mengusap lembut bibirku. "gua bakalan french kissing lu ampe lemes!!" Bisiknya di iringi *******.
Aku langsung memasang posisi bertahan dan menjauh dari Archie.
French kiss yang dia katakan itu adalah malapetaka. Aku hampir pinsan dan muntah gara-gara dia tak berhenti melakukannya. Archie terobsesi melakukan apapun yang aku sukai, tapi terkadang tindakannya itu terkesan berlebihan.
"Mau ngomong apa enggak?!" Dia mengejekku.
Sialan. Dia malah memakai cara seperti ini untuk membuatku takluk. Ketimbang mengancamku dengan tindakan aneh-aneh. Dia lebih suka memakai daya tarik erotisnya untuk melumpuhkan ku.
"A-aku benci kau!!" Pekikku memukuli nya.
Archie buru-buru menghentikan ku dan menatapku dari dekat.
"Emangnya gua salah apa!?" Tanyanya.
"Kau selalu melakukan semuanya dengan seenaknya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nanti!!"
__ADS_1
"Mangsud?" Tanyanya dengan alis bertaut.
Aku menatapnya dengan wajah datar. Astaga, orang ini benar-benar tidak punya logika dan perasaan.
"Kau!!" Ucapku menunjuk dadanya. "Bisa-bisanya mengeluarkan anak-anak itu dari kampus. Apa kau tak memikirkan bagaimana nasib mereka ke depannya. Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan orang tua mereka!!"
Archie melengos ke arah lain sambil tersenyum smirk.
"Hei, hei. Wait a minute!!" Dia menghentikan ku. "Lu nyuruh gua buat mikirin perasaan mereka dan peduli dengan orang tua mereka!!"
Dia tertawa seolah sedang menonton opera jenaka.
"Terus apa mereka semua peduli ama perasaan gua dan orang tua lu yang terpukul ama kejadian ini, ama kelakuan mereka yang udah jahatin lu!!" Ucapnya sambil terkekeh.
"Aku tau mereka semua keterlaluan, tapi itu semua karena mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya!!" Aku bersikeras.
"Haah...!!" Archie menghela napas sambil meraup wajahnya sendiri dengan tangan. "Anya, biar gua lurusin satu hal sama lu!!"
Dia menarik tubuhku agar mendekat ke sisinya.
"Gini. Apa lu pikir semua mahluk hidup di bumi ini pantas mendapatkan kesempatan kedua!?" Tanyanya.
Aku diam dan menatapnya.
Aku tercengang.
"Atau Elvis Presley, kalau dia tau bakalan mati karena obat-obatan terlarang mungkin di akhir hidupnya dia bakalan berenti dan memulai hidup baru lalu berumur panjang. Atau presiden amerika Abraham Linclon, kalau dia tahu hari itu dia bakalan ketembak mati, mungkin dia ga bakalan ada di situ."
Aku tak mampu lagi berkata-kata.
"Apa lu pikir tuhan menciptakan takdir hanya untuk bermain-main dengan nasib manusia!?"
"Tidak!!" Jawabku spontan.
"Apa lu pikir manusia tak kan mendapatkan ganjaran setelah perbuatan mereka?"
Aku diam.
"Seperti itulah cara tuhan memperkerjakan semesta. Meskipun dunia sudah modern dan berkembang. Hukum rimba akan tetap berlaku!!"
Ahhh..aku mengerti.
Setelah melihat sorot matanya yang dalam itu, aku pun mengerti. Jika apa yang ingin dia tekankan kepadaku adalah, aku tak seharusnya berempati pada semua orang. Karena baginya tuhan sendiri akan turun tangan dan bekerja menghukum siapa saja yang berbuat culas dengan perantara apapun dan apa saja di dunia ini. Dengan kata lain, hukum karma dunia itu adalah tindakan nyata kuasa tuhan. Itu yang sebenarnya ingin dia tekankan padaku.
"Kadang sifat naif lu itu, bikin gua was-was!!" Sambungnya menghela napas dan mengangkat kepalanya ke atas.
__ADS_1
Perkataanya pun memang tak salah. Karena sifat naif ku ini lah, aku membiarkan musuh bersarang di dekatku tanpa mengetahui niat buruk mereka selama bertahun-tahun. Dan karena sifat naif ku inilah, aku membiarkan seseorang meninggal di depan mataku tanpa melakukan dosa.
**************
"Halo kak, apa Hendri ada di rumah!?" Tanya Sakurai di dalam panggilan telpon dengan nada setengah terdesak.
"Kayaknya enggak. Kenapa!?" Jawabku.
"Ahh..sepertinya aku meninggalkan drawing tablet di rumah. Sedangkan nomor Hendri tidak bisa di hubungi!!" Jelasnya.
"Drawing tablet?"
"Iya. Entah kenapa tadi pagi aku lupa untuk memasukkannya ke dalam ransel. Padahal sebentar lagi sore. Aku ingin mengabadikan momen sore ini lewat karya gambarku, lalu akan ku masukan ke dalam manga sebagai tempat favorite yang tak kan bisa di lupakan oleh peran utamanya!!"
Manga mesumnya itu ternyata berkelas juga, pikirku sambil tersenyum mengangguk rada takjub. Karya seni Sakurai memang tak perlu di ragukan lagi, meskipun genre manga nya rada mengganggu.
"Posisimu sekarang di mana?" Tanyaku sambil bergegas menuju kamar Sakurai.
"Aku di halte bus di dekat restoran seafood langganan kakak!!" Jawabnya.
"Tunggulah disitu, aku akan mengantarkannya padamu!!" Ucapku mengemasi barang-barangnya dan mematikan telpon.
32 menit kemudian.
"Kau dimana?" Tanyaku sambil keluar dari taxi.
"Ahh..aku berada di bawah pohon bunga kertas!!" Jawabnya.
"Aku akan segera sampai, jangan kemana-mana!!" Ucapku buru-buru karena sebentar lagi hujan turun.
"Kakak di situ saja, biar aku yang kesana. Sepertinya akan turun hujan lebat." Jawab Sakurai.
"Tidak. Kau di sana saja. Aku sebentar lagi sampai!!" Jawabku setengah berlari.
Namun tiba-tiba langkahku terhenti saat melihat seorang wanita berdiri di depanku sedang menatapku dengan pandangan murka, matanya menyala seakan ingin mencabik-cabik ku.
Dalam sekelebat pertemuan itu aku pun terus mengingat wanita ini di dalam kepalaku. Namun belum sempat aku mengingatnya dengan jelas, tiba-tiba sekelompok orang datang menyergahku dan memegangi seluruh tubuhku dari belakang dan membekap mulutku. Kejadiannya sangat cepat sehingga tak ada satu pun orang yang berada di sekitar menyadari kejadian itu.
Aku panik karena tiba-tiba mereka membawaku ke sebuah gang sepi di samping gedung tanpa dapat melawan. Setelah ku lihat dengan seksama, barulah aku menyadari sesuatu.
Ternyata orang-orang ini adalah sekumpulan mahasiswa yang di keluarkan paksa dari sekolah setelah perbuatan mereka waktu itu. Dan wanita tadi adalah pacarnya Dimas, dia juga terlibat dalam insiden itu karena yang menumpahkan minuman soda di atas kepalaku adalah dia.
"Apa yang kalian lakukan!?" Ucapku yang mulai panik.
Mereka tak mengatakan apapun melainkan terus menyeretku masuk ke dalam gang.
__ADS_1