Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Persiapan UAS


__ADS_3

Dari kejauhan terlihatlah dua orang pasangan muda-mudi yang menjadi orang yang paling penting dalam hidup ku. Saat aku mendekat kearah mereka berdua, di kala itu salah satu dari mereka langsung berlari ke arah ku sembari merentangkan tangannya menyambar tubuhku.


"Anya!!" Pekik Laila yang langsung menyeruduk ku dan memeluk tubuhku sekuat tenaga sambil terisak haru.


"Maafin gua!" Ucapnya diiringi suara parau yang menyayat hati. "Maafin gua Nya. Maafin gua yang gak dengerin semua penjelasan lu!" Ujar nya berkali-kali.


"Gua gak bakalan tau kalau Arya gak ngasih tau segalanya ama gua. Maafin gua Nya, maafin gua yang gak ada di saat lu susah, maafin gua Nya. Maaf..!" Laila merentetku dengan tangisan.


Aku menyambut pelukan Laila dengan memeluknya balik dan membiarkan nya menumpahkan tangisannya dalam dekapan ku.


"Maafin gua Nya! Gua gak tau kalau selama ini lu menderita!" Ujarnya lagi tak henti-hentinya terisak.


"Udah Lai," Ucap ku sembari menenangkan nya dan memegangi kedua lengannya. "Sekarang, aku udah baik-baik aja!"


Laila yang melihat ketegaran hatiku tak bisa lagi membendung air mata yang sedari tadi terus bercucuran, dengan iba dia kembali lagi memeluk ku.


"Kenapa selama ini lu gak bilang!" Ucapnya lirih.


Aku mengangkat tubuhnya dari pelukan ku dan menarik lengannya. "Aku kan udah bilang. Jauh sebelum negara api menyerang. Archie itu Suamiku!!" Ucapku sembari berkaca pinggang.


"Suamiku!!" Tegasku sambil mendikte Laila. "Kamu aja yang gak peka. Ahhh...dasar."


"Yah siapa juga yang bakalan percaya!" Balas Laila.


"Gua juga gak bakalan percaya!" Sambung Arya yang sedari tadi diam dan memperhatikan tingkah kami. "Gak bakalan percaya kalau gak liat sendiri." Timpalnya sembari tertawa cekikikan.


Wajah ku langsung memerah, saat mengingat kejadian tempo lalu di penginapan, di saat Arya melihat adegan panas yang membuat otakku mendidih karena malu jika memikirkannya.


"Karena lu sering gak masuk akhir-akhir ini. Jadi gua memberanikan diri buat nyari informasi tentang lu ama asisten pribadi Archie yang bernama Hendri." Ucap Arya saat ku tanya bagaimana dia bisa mengetahui masalah ku saat ini.


"Hendri ngasih tau semuanya. Meskipun gua agak kaget awalnya, tapi gua udah yakin kalau Dimas bukan orang yang bisa berbuat seenaknya kayak gitu." Lanjutnya lagi memandangi ku dan juga Laila yang mendengarkan penuturan nya. "Dan, yah saat gua dengerin segala perkembangan yang terjadi menyangkut masalah kalian. Gua langsung ngasih tau Laila semua yang terjadi. Meskipun terlambat tapi gua bersyukur lu baik-baik aja Nya. Gua ama Laila setengah mati khawatir ama keadaan lu."


Aku tersenyum mendengar penuturan Arya yang membuat ku semakin kuat menghadapi segala tantangan yang akan terjadi kedepannya.


"Makasih yak kalian berdua!" Ucapku mengusap lengan laila. "Aku beruntung punya teman-teman yang mendukung ku." Lanjutku tersenyum haru kepada mereka berdua.


"Libiru?" Ucapku spontan karena merasa ada yang kurang.


"Oohh..Libiru. Dia gak tau sih, tapi entar bakal dikasih tau pelan-pelan." Jawab Arya.

__ADS_1


"Kayaknya dia sibuk banget. Kok aku jarang liat dia!" Tanyaku.


"Ohhh..ia. Gua baru dapat kabar kalau dia sekarang udah kerja paruh waktu, mangkanya jarang muncul dan main bareng kita." Cetus Laila.


"Pantes aja!"


****************


"Semangat banget!" Ucap Archie yang menyapaku di ruang belajar dan spontan mendarat kan kecupan ringan di kening ku dan memeluk tubuhku dari belakang.


Dia datang membawa tumpukan buka dan berbagai macam jenis kertas-kertas fotokopian di genggaman tangannya lalu meletakkannya di sebelah ku.


"Ini..!!" Ucapku terkesima melihat caranya yang belajar dengan metode yang jarang di gunakan oleh mahluk bernapas seperti kaum manusia. "Kau membaca ini semua?"


Archie membalas pertanyaan ku dengan menaikkan satu alisnya padaku sembari tersenyum kecil.


"Lagian gua gak bisa konsentrasi kalau gak baca semuanya sekaligus." Jawabannya santai sembari beringsut dari tubuhku dan merapikan serta merta kertas-kertas nya yang berserakan di atas meja.


"Gak nyangka!" Ujarnya bergumam sendiri sambil terus mengobrak-abrik kertas fotokopian nya. "Gua hampir aja lupa kalau besok UAS." Sambungan nya, sambil memfokuskan menyusun kertas itu menurut urutan nya.


"Hmmm...yah, karena banyaknya masalah yang datang akhir-akhir ini, aku juga ga nyangka kalau kita udah hidup sama-sama lebih dari setengah tahun." Jawabku menimpali perkataannya.


"6 bulan, 3 minggu, 2 hari. Tepatnya!" Tuturnya seraya tersenyum lebar seolah memperjelas perkataan ku. "Gua bener kan?"


Aku membalasnya dengan tertawa kecil sambil terus membalik lembar demi lembar buku pelajaran.


"Apa lu mesti segigih itu kalau lagi belajar." Tanyanya dengan nada sebal karena aku hanya merespon perkataannya dengan kekehan kecil.


"Perasaan beberapa hari ini, lu belajar mulu ampe gua di kacangin." Curhatnya yang mengeluarkan unek-unek berkaratnya, tak tahan lagi melihat ku yang terus-menerus mengabaikan nya.


Aku teruskan membalik buku tanpa menoleh kearah nya. " Yah.. aku kan gak sepintar kamu, yang mesti belajar dalam waktu singkat langsung ngerti!"


"Lu lagi ngeledek apa lagi mencaci!" Balasnya dengan wajah sebal.


"Itu pujian lah." Ujar ku sembari menyambit punggungnya dan mencubit kedua pipinya. "Kamu kalau di singgung soal belajar suka sensi!"


"Hmmmm...!!" Gumamnya sendiri. "Mungkin dah kebiasaan, gua dari dulu harus dicap sempurna." Sambungnya terus merapikan kertas itu menjadi 3 bagaian.


"Umur 6 tahun gua udah ngerti siapa gua. Lahir dari ayah konglomerat yang punya kekayaan tanpa batas, dan juga dari ibu yang berasal dari keluarga bangswan. Semua orang mempunyai ekspetasi terlalu tinggi menilai gua jika bertemu dengan salah satu kerabat dari salah satu pihak." Ucapnya berhasil menumpuk kertas dalam 3 bagian dan berhenti sejenak untuk menatapku. "Maka dari itu, gua gak tau kapan persisnya, Gua udah mulai terobsesi buat jadi sempurna di mata orang dan dunia."

__ADS_1


Archie memiringkan kepalanya sampai pucuk kepalanya menyentuh tumpukan kertas yang ada di atas meja. "Termasuk lu!" Ucapnya meletakkan tangannya di kepalaku sambil membelai lembut rambutku.


"Lu juga termasuk kesempurnaan yang gua maksud." Tuturnya seraya tersenyum lebar di tumpukan kertas.


DEG...


Lagi-lagi, kenapa akhir-akhir ini jantung sering berdegup kencang diiringi perasaan bergetar. Apa karena aku sudah mencintai nya lebih dari yang ku bayangkan selama ini. Apa karena aku sudah jatuh terlalu dalam sehingga mendengar kata-katanya saja perasaan ku jadi tak karuan.


Aku langsung memasang wajah salah tingkah, dengan berusaha agar tak teralihkan dengan pandangan nya, aku langsung menatap buku-buku pelajaran dan membolak-balik nya. Padahal pikiran ku sedang terfokus kepada manusia di samping ku.


Archie membalas kelakuan absurd ku dengan kekehan kecil khas nya yang menyebalkan. lalu mengangkat kepalanya sembari menjauhkan tumpukan kertas tersebut dan mengambil buku-buku pelajaran.


"Oohh..ya, ada yang mau gua omongin!" Ucapnya sambil memegang lembut lenganku.


Aku mengalihkan perhatian ku dan menatapnya. "Yah, apa?"


"Ini menyangkut masalah bulan madu." Ucapnya.


"Bulan madu." Ulangku sambil termangu setengah kaget. "Ka-kapan?"


"Menurut gua semakin cepat semakin baik. Jadi gua udah atur waktunya pas liburan UAS ini." Jawabnya.


"Berarti seminggu lagi!" Responku yang heboh dan kaget sendiri.


Archie mengangguk mantap sembari tersenyum nakal.


Habislah aku.


Mungkin dia sudah merencanakan ini setelah kemarin malam tak mendapat kan hak nya sendiri, jadi dia berencana membawaku berbulan madu bertepatan liburan semester untuk menghabisi nyawa ku.


Apa aku harus latihan perang duluan agar tak tewas selama pertempuran. Lalu bagaimana dengan gayanya, terus apa yang harus ku lakukan jika,aaaahh....pikiran ku. Kenapa aku memikirkan nya sampai sejauh itu.


"Dan sesuai keinginan lu kemarin." Ucapnya yang membuat ku sedikit terperanjat karena dia membangunkan ku dari khayalan. "Kita bakalan bulan madu di kampung halaman lu. Pulau Belitung."


"Belitung!" Ujar ku yang masih termangu dengan semua kejutan nya.


"Ho'oh. Bukannya lu bilang udah lama banget gak pulang kampung. Kita bakalan nempatin sebuah vila keluarga gua disana." Jawabannya.


Dia menarik pinggulku dan mendekatkan tubuhku sampai menyentuh tubuhnya.

__ADS_1


"Selamat belajar, moga aja lu fokus. hahaha...!" Bisiknya di iringi ejekan tawa yang semakin membuat otak ku berputar-putar karena sudah di pastikan, akan susah bagiku untuk berkonsentrasi apalagi mendengar spoiler nya.


__ADS_2