
Berikut adalah kumpulan Flasback yang tak di tayangkan di dalam Part Vacation dan Escape.
Pada malam kedatangan sebelum pesta barbeque di mulai.
"Ada yang liat Arya ga?!" Tanya Laila menghampiri kami yang sedang berkumpul di Hallroom.
"Lagi pergi deh kayaknya!!" Jawab Dimas yang sedang membaca majalah.
"Ujan-ujanan gini!!" Gerutu Laila. "Dia pergi kemana, kok ga bilang-bilang!!"
"Ga tau juga sih, tapi katanya dia lagi pengen beli mie instan di minimarket terdekat." Balas Dimas.
"Cihh..ga ngomong, dahal gua juga pengen nitip!!" Laila lanjut menggerutu.
"Mas, pinjem hodie lu dong!!" Dafa tiba-tiba datang dengan setengah berlari.
"Ga ada, lagi di pake Arya keluar!!" Jawab Dimas.
"Pelit lu Mas ama temen sekamar, di luar kan ujan. Kalau gua kedinginan dan kena flu, lu juga kan yang repot karna ga bisa molor." Dafa merosting.
"Di pake Arya, beneran. Kalau lu ga percaya obok-obok aja lemari gua."
"Cih..pinjem punya Mas Eko aja!!" Dia berlari pergi begitu saja.
"Rio, mau kemana lu, bentar lagi anak-anak turun ke bawah ni?!" Tanya Sayang yang melihat Rio beranjak dari hallroom dan menuju ke atas.
"Kamar dulu lah, gua capek!!" Jawabnya dan berlalu.
************
"Hodie hitam katanya!?" Gumamku setelah Tora keluar dari kamar dan hanya ada aku dan Archie.
"Kenapa, apa lu tau sesuatu?" Tanya Archie.
Aku memikirkan perkataan Tora barusan. Jika dia melihat seseorang yang memakai Hodie hitam dan keluar untuk berbelanja, sudah di pastikan itu bukan Rio karena waktu itu dia naik ke atas dan pergi ke kamarnya. Bukan juga Dimas, karena pada waktu itu Dimas ada di dalam Hallroom bersama kami dan dia mengatakan kalau Hodienya di pinjam oleh Arya yang ingin pergi ke minimarket terdekat.
"Lu lagi mikirin apa?!" Archie membuyarkan lamunanku.
"Enggak, gak kenapa-napa!?" Balasku cepat-cepat menyamarkan ekspresiku.
Tidak, tidak mungkin. Ini belum pasti,mana mungkin Arya, mungkin Tora salah lihat, aku yakin Tora tak melihat nya dengan jelas.
Besoknya, karena hatiku terus di rundung oleh perasaan khawatir yang tak bisa di jelaskan. Untuk melawan perasaan itu, aku menemui Laila dan Arya terlebih dahulu.
Dan saat pertama kali melihat wajah Arya, hatiku terpukul. Mana mungkin Arya menghianatiku, sedangkan saat ini dia sangat menghawatirkan keselamatanku. Tidak mungkin Arya, aku percaya Arya tak kan berbuat seperti itu.
__ADS_1
************
Di dalam hutan saat aku tersesat sendirian dan bertemu dengan Arya dan Dimas.
"Yuk balik, udah mulai gelap!!" Ujarku mengajak mereka pergi.
"Bentar, gua mungutin kayu bakar dulu!!" Ucap Arya sambil berjongkok dan memunguti kayu bakar nya kesana kemari.
Namun Dimas tak beranjak, dia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku di belakangku.
"Kak, yuk balik!!" Pintaku pada Dimas.
"Bentar!" Jawabnya spontan.
Dia berjongkok dan melihat sarang ular itu dengan teliti. Selain karena dia ahli mendaki dan memahami kontur daerah pegunungan, Dimas juga mengerti tentang siklus kehidupan alam liar.
"Tadi Arya bilang, ular ini mau nyerang lu kan!!" Tanyanya.
"Bener, memangnya kenapa?" Aku penasaran dan mendekat.
"Tapi.." Dimas berdiri dan menunjukan sesuatu kepadaku, "ular ini udah mati dari kemarin, dan juga kayaknya dia mati bukan karena di pukul tapi karena di serang musang."
Kami berdua saling bertatapan.
Sontak kami berdua menolah secara bersamaan.
"Cepetan jalan, keburu maghrib tar!!" Teriak Arya yang selesai memunguti kayu bakar.
Aku mengikuti nya dengan menundukan tatapanku.
Tidak, tidak, aku tak boleh berfikiran macam-macam. Mungkin itu hanya kebetulan, lagi pula bisa saja Arya reflek dan mengira kalau ular itu masih hidup.
************
Malam hari nya saat Archie mengajakku setenda bareng.
"Aku kangen Archie!" Ucapku sambil memeluknya lagi.
"Lu kenapa sih dari tadi, pengen gua buahi ya!!" Dia menarik umpan.
"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan!" Ucapku masih terus memeluknya.
"Ngomong aja!" Mengusap kepalaku.
"Sebenarnya aku mencurigai seseorang!!"
__ADS_1
Sontak Archie terperanjat dan mengangkat kepalanya. Tatapan Archie yang penuh dengan kedengkian membuatku ngeri.
Aku takut jika apa yang aku pikirkan ini benar, aku takut kehilangan orang yang aku sayangi untuk yang ke dua kali. Aku tidak mau lagi kehilangan orang yang seperti itu. Semua ini membuatku takut.
"Tapi, aku tidak yakin kalau dia adalah orangnya!!" Ucapku yang tiba-tiba menyangkal diri ku sendiri. "Aku hanya menebak-nebak karena dia selalu berada di tempat yang tepat." Lanjutku membuang muka.
************
Sebelum tragedi makan malam berlangsung.
"Sini kak, biar Ruana yang bantuin!!" Ucap Ruana lalu membantuku membolak-balikan ikan bakar.
"Yaudah sini." Aku memberikannya kipas yang terbuat dari bambu. "Kamu bisa makan ikan air tawar ga, kalau ga bisa, tinggal bilang aja ama mamang penjaga resort, tar mereka bakalan ngeluarin frozen food yang ada di mobil."
Dia menggeleng sembari tersenyum, "Ruana suka semuanya kok, Ruana ga pilih-pilih makanan."
"Kirain ga bisa makan ikan air tawar, soalnya Tora bilang ga suka."
"Ruana ama kak Tora itu beda banget kak," ucapnya tersenyum lagi. "Meskipun kita sodaraan, Ruana ama kak Tora bener-bener ga ada kesamaan!!"
Wajahnya terlihat murung dan sedih, tatapannya pun mencerminkan kekalutan.
"Di bandingkan seorang kakak, dia terlihat seperti ibu yang melahirkanku." Tatapan matanya berkaca-kaca, "aku benar-benar ga tau gimana caranya ngembalas semua kebaikannya, aku udah terlalu banyak ngembebanin kak Tora."
Tangisannya pecah, dia bersimpuh di bawah tungku pemanggangan, kedua tangannya terlihat gemetar hebat.
"Ruana!!" Aku bergerak cepat dan langsung mengangkat tubuhnya ke atas. Lalu membawanya ke dalam tenda untuk memulihkan kesehatannya.
"Tunggulah di sini, aku mau ngasih tau Tora sekaligus ngambilin kamu minum."
"Tunggu.." tiba-tiba Ruana memegang pergelangan tanganku sebelum aku beranjak dari hadapannya.
"Kak, Ruana tau pelakunya."
Aku membalikan badanku dan mematung di hadapannya. "Apa?"
"Ruana.." dia memejamkan matanya sambil memegang dengan kuat pergelangan tanganku. "Ruana tau pelakunya!!"
"Kau tau.."
Dia mengangguk.
"Ruana tau!!" Jawabnya. "Karena selama ini, Ruana bersekongkol dengannya untuk mencelakai kakak."
Sontak aku melepaskan tangannya yang memegangi pergelangan tanganku,
__ADS_1