Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Penguasa Wilayah Timur


__ADS_3

"Oi, kalian berdua habis merampok pasar ya!" Sapa Shin saat aku dan Ichiro sampai di rumah.


Ichiro melepaskan barang bawaanku dan mendekat ke arah Shin. Dia terkekeh dengan wajah menyebalkan menatap Shin.


"Oraaa. Apaan ini!" Ucapnya setengah berteriak. "Napa muka lu jadi keliatan kayak k*nt*l !!" Balas Ichiro.


Shin berlahan mendekat. Dan Ichiro langsung mengambil ancang-ancang berlari menghindari Shin yang marah.


"Wah, bawaan kalian banyak banget!" Mia keluar dari kamarnya sambil menguap. "Kau habis merampok pasar ya!!" Mereka berdua sama saja.


Aku menatap wajah Mia yang masih kacau balau setelah semalaman mabuk berat dan membuat kekacauan. Dia terlihat seperti orang yang tak bersalah setelah membuatku kewalahan.


"Tidak. Mereka memberikan ini secara percuma karena aku menjual nama Shin!!" Balasku sambil membereskan barang-barang itu yang keseluruhan adalah bahan makanan.


"Lakukan saja setiap hari, jadi kita tak perlu keluar uang untuk membeli makanan!" Balasnya tak tahu diri.


"Kau bodoh ya. Itu namanya merampok!" Balasku.


"Loh, apa ini?" Fokus Mia terhenti saat memandangi ramuan herbal yang bertuliskan obat kuat 100 hari.


Aku mendekat untuk melihatnya.


"Nenek itu yang memberikannya kepadaku, katanya berikan kepada Shin agar kesehatannya cepat membaik!" Jawabku.


*Mak Erot jepun, adalah sejenis dukun yang meracik jamu-jamuan dan lazim di temukan di pasar tradisional, lalu ramuan-ramuan itu selalu berhubungan dengan kesehatan kejantanan lelaki.


"Cih..bocah kerempeng itu tak membutuhkan hal seperti ini!" Diam-diam Mia menyembunyikan botol ramuan itu ke dalam saku celananya.


"Hei neechan, tadi aku bertemu orang aneh di jalan!" Ucapku sambil terus mengemasi barang-barang itu.


*Oneechan kakak perempuan.


Dia mendengarkan ku sambil memakan buah apel.


"Siapa. Laki-laki, perempuan!" Tanyanya.


"Laki-laki!"


"Dia menggodamu?" Tanyanya lagi.


Aku terdiam sambil merenung.


"Kalau dia melakukan hal jahat padamu, katakan saja padaku. Biar Oneechan mu ini yang membereskannya!!"


"Tidak, dia tidak melakukan apa-apa padaku. Hanya saja.." aku berhenti, dan memikirkan saat-saat terakhir kali dia menatapku. "Hanya saja, aku seperti mengingat sesuatu tentangnya!"


Mia mengunyah apel itu dengan berlahan, sambil menatapku.


"Oh ya, lalu?" Ucapnya.


"Entahlah!" Jawabku. "Tapi, aku merasa seperti pernah mengenalnya!"


Mia menyimak sambil mengunyah apel.


"Neechan. Apa aku mengenal orang itu sebelum ingatanku hilang!?" Lanjutku.


"Kalau kau merasa seperti itu, berarti kau memang mengenalnya!" Balas Mia.


Aku merenung menundukan kepalaku.


"Tapi, jangan mudah percaya begitu saja dengan orang asing. Banyak orang jahat yang berkeliaran di luar sana dan mengambil kesempatan untuk berbuat yang tidak-tidak padamu. Jadi kalau kau merasa ada yang tidak beres, katakan saja padaku!!" Nasehat Mia.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan. Bukannya selama ini Oniichan yang membantu ku!" Jawabku.


"Kau meremehkan ku. Kau pikir yang mengajari Shin berkelahi itu siapa kalau bukan aku!" Mia tak terima.


"Oh ya, lalu kenapa kemarin kau berteriak seperti orang gila saat di kejar soang tetangga!"


"Kenapa kau malah membahas itu, kau pikir manusia dan soang itu satu spesies!" Mia tambah tak terima. "Lagi pula, aku ga lari kok. Hanya saja..."


Tak...

__ADS_1


Apel yang di pegang Mia tiba-tiba terpeleset sendiri dari tangannya. Matanya menatap lurus ke depan seakan melihat sesuatu.


"Neechan, ada apa?" Tanyaku.


Dia tak menjawab melainkan tatapannya mangkin melotot ke arah depan.


"Neechan?" Panggilku.


Saat aku berbalik dan melihat apa yang sedang terjadi. Ternyata sesuatu yang membuatnya kalap sedang menuju kemari.


Seorang laki-laki berpenampilan rapi dengan rambut licin dan tampang kalem. Berjalan ke arah rumah kami sambil menenteng buku binder. Dia adalah anak kepala desa. Ryu Yamada. Laki-laki pujaan Mia selama 17 tahun.


"Ahh..mampus!" Ujar Mia dan langsung berlari ke dalam rumah.


Aku pun mungkin akan bertidak hal yang sama seperti Mia. Dengan kondisi yang acak-acakan seperti orang gila lalu berhadapan dengan seseorang yang sudah lama di idamkan, adalah tindakan bunuh diri masal dengan gaya, jika masih berani menunjukan diri.


"Selamat pagi dik Sada!" Panggil Ryu menyapaku.


"Pagi juga bang!" Jawabku.


Wangi semerbak dari parfum laki-laki ini memenuhi hidungku, mungkin itu lah alasan Mia menyukai Ryu karena selain berpenampilan wangi dan rapi, Ryu adalah calon idaman laki-laki masa depan yang memperlakukan orang-orang di sekitar dengan baik bahkan kepada orang asing sekalipun. Laki-laki polos sopan dan lugu adalah tipe Mia.


"Dimana saudara-saudaramu yang lain. Apa Mia di rumah?" Tanyanya.


"Ahh.." tatapanku menelisik jauh ke dalam rumah, dan menemukan Mia yang menggeleng sambil membungkus dirinya sendiri dengan selimut. "Dia masih tidur!" Jawabku.


"Tidur. Apa dia pulang subuh!!" Tanyanya lagi.


"Dia pulang larut!" Jawabku.


"Ohh..begitu!" Ucap Ryu sambil mengeluarkan binder dari ketiaknya dan mulai mencatat iuran bulanan untuk pembangunan desa.


"Loh Yamada!" Sapa Shin sekembali menguber Ichiro. "Kenapa ga masuk aja!"


Aku melototi Shin sambil mengisyaratkan sesuatu tentang kondisi Mia saat ini. Namun bukannya mengerti, Shin yang tak pernah peka dengan perasaan perempuan malah mangkin menjadi.


"Ahh..terimakasih. tapi, sepertinya aku tidak bisa lama-lama karena banyak yang harus ku lakukan!" Ryu menolak dengan halus.


"Tapi..aku!"


Ryu tak bisa berbuat apa-apa lagi saat Shin langsung membawanya masuk ke dalam rumah.


Mia lari terbirit-birit menerobos tirai kamarku dan membungkus dirinya di sana. Dia tak berkutik karena ruang tamu berada di tengah-tengah ruangan, sedangkan akses untuk menuju kamarnya maupun ke ruangan lainnya harus melewati ruang tamu.


"Sada. Buatkan Yamada minuman!!" Panggil Shin.


"Tanaka. Tapi seperti nya aku tak bisa lama-lama!!" Ryu bersikeras.


"Santai saja." Shin menepuk bahu Ryu.


"Tapi, aku..."


"Luangkan waktu mu sebentar karena ada yang ingin aku bicarakan!!" Balas Shin dengan nada suara yang berubah menjadi serius.


Sontak situasi mendadak hening. Ryu yang sedari tadi merengek ingin pergi tiba-tiba langsung patuh seperti anjing yang di jinakan.


Shin adalah ketua geng di kawasan ini, dengan kata lain kepala desa beserta jajaran masyarakat yang berlindung di bawah ketiak Shin wajib mendengarkan aspirasinya.


"Baiklah, tapi aku tak bisa berlama-lama karena masih banyak yang harus ku lakukan!" Ryu akhirnya menyerah.


"Sesibuk apa sih kau. Bukannya proyek pembuatan jembatan itu telah selesai!!"


"Bukan itu saja, memangnya kau pikir aku hanya mengurusi soal itu. Lalu ada apa dengan wajahmu, kenapa kau jadi babak belur begitu!?" Tanya Ryu.


"Yamada. Apa kau pernah mendengar tentang kawanan geng motor yang menguasai kawasan timur!?" Ucap Shin.


Aku berhenti menyeduh teh di dapur dan fokusku beralih ke percakapan mereka berdua.


"Kawanan geng motor?" Ryu tercengang.


Shin mengangguk.

__ADS_1


"Maksudmu kelompok geng motor yang menguasai wilayah timur, yang terkenal brutal itu?"


Shin melempar pandangan dengan wajah kesal.


"Kenapa dengan mereka?" Tanya Ryu.


"Semalam aku bertemu dengan mereka. Tanpa alasan yang jelas mereka memburu dan menyerangku!" Balas Shin.


Shin terlihat sangat kesal. Terlebih lagi bagi anggota geng, ketua geng merupakan wajah dan juga harga diri kelompok.


"Kau tahu kan kalau selama ini, wilayah kita aman-aman saja dari tindakan perusuhan dari luar setelah perjanjian pada hari itu di deklarasikan. Tapi aku tak pernah menduga kalau hal semacam ini akan terjadi lagi di kawasan kita!"


Ryu diam membisu sambil membuang muka, wajahnya menegang seperti sedang berhadapan dengan calon ayah mertua.


"Aku mungkin bisa mentolerir kejadian ini dan mengusutnya sendiri. Tapi kau tahu kan, aku ini siapa. Apa kau pikir anak-anak akan diam saja setelah melihatku seperti ini!" Shin bernada tegas.


Aku datang di tengah-tengah mereka dan menyodorkan minuman yang telah ku buat di atas meja. Setelah aku pergi, mereka memulai percakapan lagi.


"Apa ada seseorang yang memprovokasi mereka untuk melakukan ini?" Tanya Ryu.


"Itulah alasanku memberitahu mu Yamada!" Balas Shin. "Pasti ada seseorang yang menyebabkan hal ini. Aku tak bisa bergerak sembarangan dan memberitahu siapapun karena ini menyangkut perjanjian yang telah di sepakati bersama. Jika para anggota ku tahu kalau kelompok geng motor itu yang menyebabkan ini padaku, mungkin kejadian setahun yang lalu akan terjadi lagi di tanah ini."


Ryu menatap Shin dengan wajah menegang. Mungkin terlintas tragedi berdarah yang di katakan Shin di dalam kepalanya, kini Ryu berwajah pucat pasi.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ryu dengan gemetar. "Kau pasti tak kan membiarkannya begitu saja kan. Dan lagi, meskipun perjanjian setahun yang lalu di buat untuk mengamankan wilayah ini, tapi wilayah timur tidak lah terlibat dengan kejadian itu. Mereka pihak yang tak memihak siapapun, mereka netral."


"Entahlah!" Ucap Shin sambil memegangi kepalanya sendiri yang di perban. "Aku juga tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Tapi yang pasti jika kita terus berdiam diri, mereka akan semangkin berbuat semena-mena!"


Ryu menunduk dengan wajah tegang.


"Yamada. Aku ingin kau menyelidiki mereka!" Pinta Shin.


Ryu meneguk liurnya sendiri sambil menatap lurus ke arah Shin.


"Informasi sedetil apapun yang kau tahu tolong beritahu aku. Karena itu aku mengajakmu bicara!" Lanjut Shin.


Ryu hanya bisa menerima perintah ini dengan mentah. Bagaimanapun juga, Ryu adalah bagian dari Shin.


"Dan satu hal lagi.." Shin menatap Ryu dengan serius."Akhir-akhir ini, aku sering menjumpai orang asing yang mencurigakan datang ke tempat ini."


"Orang asing?" Ryu mengernyit.


"Tadi pagi, Sakusa melapor kepadaku jika dia bertemu orang asing yang menghampiri Sada dengan gelagat mencurigakan. Aku tak bisa tak menghubungkan kejadian ini dengan tragedi yang terjadi padaku semalam. Entah ada atau tidak ada hubungannya, tapi tak ada salahnya jika mewaspadai hal ini sebelum semuanya terlambat!" Ucap Shin dengan serius.


Ryu merenung sambil berfikir.


"Yamada, aku mohon bantuannya. Aku mengandalkan mu!" Ucap Shin menepuk bahu Ryu.


************


"Kau mau kemana?" Tanya Shin.


Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya.


"Buang sampah. Kenapa!?" Ucapku sambil menunjukan dua kantong sampah kepadanya.


Dia tak mengatakan apapun, namun berjalan mendekat menghampiriku.


"Aku ikut!" Ucapnya berjalan duluan di depanku.


"Apa-apaan sih. Kenapa akhir-akhir ini kau bertingkah seperti anjing penjaga!!" Ucapku sambil berjalan tergopoh mengekorinya.


"Ini sudah malam. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang tidak di kenal memberimu permen!!" Balas Shin.


"Kau bodoh ya. Memangnya kau pikir aku anak SD!!"


Namun baru beberapa meter hampir mencapai tempat pembuangan sampah. Tiba-tiba saja Shin menghentikan langkahnya dan merapatkan tubuhnya di hadapanku.


"Hei kenapa?" Tanyaku.


Tak berapa lama, entah dari mana datangnya. Aku mendengar suara dengungan seperti suara motor yang serentak di hidupkan, dan mereka menuju ke arah kami.

__ADS_1


Sontak aku membeku dalam ketakutan.


__ADS_2