
"Sakurai, kenapa selama ini dia rela melakukan semua itu demi orang yang tak pernah dia temui. Lagi pula bukannya terlalu berlebihan jika dia melakukan itu semua karena alasan pribadi seperti statusku yang sebagai kakak iparnya.
Tapi dari Dafa aku bisa menyimpulkan dengan pasti, kalau selama ini Sakurai di bawah perintah Archie telah bertindak sejauh ini demi melindungiku dan dengan rapi menyembunyikan hal ini tanpa ku ketahui. Tak ku sangka, semuanya menjadi serumit ini.
Ahhhgghh....sial, aku tak habis fikir kenapa mereka sampai berbuat sejauh itu hanya demi orang seperti ku ini. Memangnya aku pantas mendapatkan ini setelah apa yang telah ku perbuat kepada Archie dahulu. Bahkan, aku pun baru bisa mengakuinya sebagai suamiku setelah berbagai macam kejadian dan tragedi yang menyakitkan.
Ahhhh...ya, ngomong-ngomong bagaimana kabarnya, kenapa dia belum juga menghubungiku selama hampir seminggu, apakah dia baik-baik saja di sana. Apakah makannya teratur, lalu bagimana dengan pekerjaannya, apakah dia bekerja seharian tanpa memperdulikan kesehatannya. Ya ampun, aku beneran kangen banget." Gumamku sendiri, sambil berjongkok dan memegang ponselku di sudut kamar. "Archie, kau lagi ngapain sih, kenapa kau gak berniat menghubungiku sekalipun!" Ujarku sambil mengelus ponselku.
Tok tok tok....
"Nyonya!!" Panggil Hendri dari balik pintu.
"Masuk aja!" Jawabku sambil berdiri.
"Maaf mengganggu waktunya, tapi ada yang harus saya sampaikan." Cetusnya segera setelah membuka pintu kamar. "Hal ini mengenai informasi tentang Libiru yang Nyonya minta."
"Beneran, terus apa yang kamu dapat! Apa ada sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan orang tuanya." Tanyaku.
"Sejauh ini keadaan orang tuanya baik- baik saja Nyonya, bahkan di tahun ini ayahnya banyak mengalami keuntungan dari perusahaanya, juga ibunya sendiri mendapat undangan untuk tampil di 3 negara berbeda untuk peragaan busana." Jawab Hendri.
"Lalu untuk apa dia sampai repot-repot kerja sambilan kalau kondisi keungannya baik." Tanyaku lagi sambil menggigit ujung jariku.
"Sepertinya ada hal yang harus Nyonya tau, sebenarnya Libiru menolak di nafkahi oleh kedua orang tuanya sejak 2 bulan yang lalu."
__ADS_1
"Apa? Untuk alasan apa dia menolak pemberian orang tuanya!" Respon ku kaget.
"Entahlah Nyonya, tapi sejauh yang saya tau. Sebenarnya orang tuanya saat ini bukanlah orang tua kandungnya Libiru." Jawab Hendri.
"Bukan orang tua kandung!"
"Iya Nyonya, Libiru berasal dari keluarga konglomerat yang juga jauh lebih kaya dari orang tua angkatnya. Namun saat saya mencari tahu alasannya di adopsi, saya tidak menemukan informasi terkait." Jawab Hendri.
"Membagongkan?" Ujarku sambil menautkan tanganku menopang dagu. "Kayaknya, aku harus bertanya langsung padanya."
"Baik Nyonya!" Ucap Hendri sembari membungkuk. "Oh..ada satu lagi yang harus saya sampaikan kepada Nyonya." Sambung Hendri.
Aku diam dan mendengarkannya dengan seksama.
"Tuan sedang menantikan Nyonya untuk menghubunginya." Ujar Hendri malu-malu seperti dia yang berada dalam situasi seperti ini.
"Dasar!!" Ucapku dengan muka merah dan langsung menghubungi Archie yang jauh di sana.
"Hallo!!" Jawabnya yang langsung menerima panggilan telpon dariku dengan hanya bernada tut satu kali.
"Kau ini, kenapa berani menelpon Hendri tapi gak berani menelpon ku." Ucapku kesal dan dengan spontan mengomelinya.
"Hhhh....!!" Dia terkekeh, bisa ku bayangkan jika saat ini dia tersenyum dengan wajahnya yang merah merona karena tersipu malu.
__ADS_1
"Kalau kau sampai segitunya menunggu untuk ku hubungi kenapa gak bilang." Ujarku lagi tak puas.
"Dih, lu sendirinya nungguin gua juga kan." Jawabnya.
Inilah yang ku nantikan, mendengar suaranya saja membuatku hatiku tak karuan, apa lagi kalau bertemu langsung.
"Kamu kan bilang kalau bakalan menghubungiku kalau udah sampai." Ujarku.
"Gak inget tuh!!" Jawabnya ngeles sambil tertawa cekikikan.
"Kau sedang apa, bagaimana pekerjaannya, lancar?" Tanyaku.
"Gua lagi meeting!" Jawabnya spontan.
"A-apa? Maksudmu.." belum sempat aku berkata-kata dia langsung mengubah panggilan menjadi video dan terlihatlah berjejer duduk orang-orang yang sedang mengenakan jas kantoran di meja panjang sedang menatap Archie yang sedang melakukan panggilan video kepadaku.
"Archie, bodoh. Kenapa kau mengangkat panggilanku di saat sedang rapat." Pekikku panik, meskipun dia melakukan panggilan video dari kamera belakang tanpa menyorot wajahnya, namun aku bisa merasakan tatapan hangat dari matanya yang menatapku.
"Kenapa, karena lu lebih penting. Lagian mereka juga ga ngerti apa yang kita omongin." Balasnya tanpa kelebihan akhlak.
"Sial, udah ku duga kau akan begini." jawabku sambil menatap kumpulan orang-orang itu yang dengan sabar menerima perlakuan absurd dari Archie. "Udah ya, kamu juga ga boleh bertidak semaunya kayak gini di tengah-tengah rapat." Ujarku bernada khawatir karena wajah orang-orang yang berada dalam panggilan video tersebut semangkin gelisah, aku seperti pengganggu di tengah-tengah mereka.
"Lu sayang banget ya ama image gua ampe khawatirin gua segitunya." Balasnya tambah tengil.
__ADS_1
"Udah deh, aku matiin ya." Ucapku dan langsung mengakhiri panggilan videonya.
"Ternyata suami ku tambah sinting!!" Gumamku sambil menutupi wajahku sendiri karena memerah.