Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Manipulasi Skill


__ADS_3

Apa maksud perkataanya itu. Apa dia berencana membunuhku dengan berlahan dan membuatku mati dalam keadaan mengenaskan.


"Pertanyaan yang baru saja anda lontarkan gak ada di dalam proyek yang saya paparkan." Jawabku dengan senyum secara di paksakan karena menahan emosi.


"Kalau gitu, itu adalah pertanyaan khusus dari Saya." Ujar nya sambil duduk tegap menghadapkan pandangan padaku.


"Maaf kalau saya lancang, tapi anda harus bertindak profesional dan bersikap selayaknya pemimpin. Kita sedang di tengah meeting yang merupakan bagian penting dalam proyek pembangunan hotel yang anda kelola, dan pekerjaan ini merupakan sebuah batu loncatan dalam meniti karir saya di masa depan. Jadi saya harap anda serius menangani proyek kerja sama ini." Ujar ku tetap tenang.


Archie tersenyum smirk.


"Lu beneran lagi ngomongin profesional." Tanya nya lebih mendekat lagi kehadapan ku, dan menyingkirkan Laptop serta kertas-kertas yang sedang ku pegang.


"A-apa yang ingin anda lakukan!?"


Entah karena memang sudah lama tak melihatnya dan sudah lama tak pernah berinteraksi sedekat ini, aku menjadi merindukan bau tubuhnya yang seperti bau bedak bayi, dia tak pernah memakai parfum menyengat seperti kebanyakan lelaki hidung belang atau pria brengsek yang menggunakan wewangian sebagai identitas dan kekuasaan. Archie berbeda bau nya yang polos tercium seperti bau bedak bayi yang membuatku selalu terprovokasi untuk selalu di dekatnya.


"Anda tidak boleh berbuat seenaknya, saya ini klien anda." Ucap ku yang sudah terlanjur panik karena pergerakannya yang mendekatiku seperti akan menerkam.


"Kita tuh lagi di dalam kamar hotel dan diatas kasur loh." Bisik nya di dekat ku sambil tersenyum licik seperti rubah yang jahat.


"A-Archie ini.."


"Sebagai pemilik hotel, dari awal gua emang udah gak bersikap profesional, bahkan kelakuan gua ini udah gak pantas." Ucapnya lagi semakin mendekat dan mendorongku terbaring di atas kasur.


"Archie kamu ga seharusnya.."


"Tapi meskipun sikap gua kurang ajar dan ngajakin meeting di atas kasur, lu masih tetap aja lanjut dan bersikap profesional layaknya benar-benar sedang presentasi." Sambungnya yang tiba-tiba sudah berada di atas tubuhku.


"Archie, kita gak seharusnya..."


"Maaf udah bikin lu gak nyaman, gua bukannya melecehkan pekerjaan lu, tapi emang gua yang suka seenaknya." Ujar nya berbisik di telingaku dan menjilati daun telingaku.


"ARCHIE!!!" Pekik ku keras, karena kaget tiba-tiba telingaku merasakan sesuatu yang dingin dan basah.


"Sshttt..shut up!" Ujar nya cepat-cepat mendekap mulutku dengan telapak tangan nya. "Kalau lu teriak, nanti orang-orang yang berada di balik pintu ini dengar." Ujarnya berbisik di telinga ku.


Aku mengangguk pelan, isyarat setuju kalau tak kan lagi teriak.


"Kamu beneran ga akan berbuat macam-macam kan." Tuding ku dengan wajah memerah.


Perlakuan malu-malu ku seperti itu malah membuat dia salah tingkah. Wajahnya langsung terlihat memerah, dengan kaget dia menampakan lima jarinya di depanku sambil menutup mata nya, isyarat kalau dia sedang menolakku.


"Astaga Nya, gua lagi puasa. Walaupun adek gua udah aktif di sangkar nya tapi gua gak bakalan ngelakuin tindakan ceroboh." Ucapnya, seakan-akan aku lah yang sedang mengajaknya berbuat maksiat.


"Terus, kamu ini lagi ngapain!!" Tanyaku yang masih berada di bawah tubuhnya.


"Khilaf!!" Ujarnya seenaknya sambil memalingkan wajah.


"Hah!!"

__ADS_1


"Tapi kayaknya orang-orang di luar ga bakalan toleransi mengenai rumor ini, dan mungkin aja dalam waktu dekat. Kejadian ini bakalan cepat tersebar di kampus!!"


"Rumor, maksudmu.."


"Tentang kejadian ini. Lu masih belum sadar juga," Ucapnya mengidar sekeliling. "Pemilik hotel G mengajak mahasiswa mengadakan meeting di dalam kamar, dan terdengan suara teriakan menjerit keenakan. Kira-kira beritanya bakalan kesebar seperti itu!!"


"Hah, kau gila.." Ucapku memukuli dadanya dan menyingkirkan tubuhnya dariku.


"Gua bakal bungkam seluruh karyawan dan manager yang tau kejadian ini. Tapi dengan satu syarat!!"


Dia menunjukan satu jarinya padaku.


"Jangan pernah lu pergi berduan lagi ama cowok lain selain Hendri, meskipun temen cowok lu itu bencong sekalipun!!"


"Apa!?" Aku tak terima, "Apa kau sengaja melakukan ini untuk menjebakku!?"


Dia tak menjawab namun menunjukan senyum picik.


"Ya ampun!" Ujarku menepuk jidat ku sendiri. "Sudahku duga kejadiannya bakal kayak gini."


"Itu sih terserah lu!!" Dia mengangkat kedua tangannya seperti gestur menyerah.


"Apakah ini caramu, kau selalu menggunakan kelemahan lawanmu untuk memanipulasi mereka." Balas ku memegang tangannya yang memainkan rambutku yang tergerai.


"Benar, memanipulasi lawan adalah cara bertahan hidup." Bisik nya pelan di dekat telingaku.


"Jadi gimana?" Tanyanya sambil berdiri.


"Aku gak punya pilihan lain." Jawab ku memalingkan tatapan.


Dia tersenyum lagi sambil menjulurkan tangannya membantuku berdiri.


"Bagaimana dengan hasil meeting kita. Bahkan kau tidak memperhatikan pemaparan yang aku sampai kan!"


"Gua serahin semua nya sama lu." Jawab nya merapikan penampilannya di depan cermin.


"Tapi kamu gak ngasih pendapat apapun!!"


"Gua percaya sama lu!!" Ucapnya menjentikan jari ke arahku sambil mengedipkan mata.


Ahh...si*l, hal sepele seperti itu pun membuat jantungku hampir copot.


**********


"Jadi sebenarnya, kita ini mau kemana?" Tanyaku, karena dia membawaku ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan.


"Ntar juga lu tau!" Jawabnya seperti sedang berkonsentrasi mengingat jalan.


Sampai lah kami di sebuah pemukiman penduduk dekat daerah pantai, dengan rata-rata rumah penduduk berupa beton yang tidak di plester maupun di cat, hanya berupa bangunan dengan susunan bantu bata. Pemukiman ini terkesan asri dan sederhana, berderet jemuran pakaian dari mulai celana panjang, baju tidur maupun renang, hingga s*mpak dari berbagai ukuran yang di gantung di tali plastik sepanjang jalan, menyambut kedatangan kami.

__ADS_1


Tercium bau masakan rumahan beserta berisiknya suara riuh anak kecil yang sedang bermain di sebuah balai desa yang tak jauh dari tempat pemberhentian.


Saat kami berdua turun dari mobil seorang pria kurus renta dengan perawakan tinggi, dan berpakaian sederhana menyambut kedatangan kami berdua.


"Tuan muda, terimakasih sudah berkunjung." Ujar lelaki itu ramah pada kami berdua.


"Siapa?" Bisik ku di dekat Archie.


"Bokapnya Hendri." Jawabnya.


"Nyonya muda." Sapanya menundukan tubuhnya sedikit padaku.


"Ahh, iya senang bertemu dengan anda." Jawab ku kikuk karena di perlakukan orang yang lebih tua seperti ini.


Ternyata Samusi adalah ayahnya Hendri, dan dulu Samusi bekerja sebagai asisten pribadi ayahnya Archie, Yuaga Konisuke.


"Apa kabar Samusi!" Tanya Archie duduk di atas kursi kayu jati tempat kediaman bapaknya Hendri.


"Seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja Tuan muda." Jawab nya sambil menyuguhkan teh serta biskuit kalengan.


"Sudah 15 tahun berlalu sejak kejadian itu, tapi kenapa anda tidak juga kembali ke kediaman Yuaga!!" Tanya Archie seperti mengintimidasinya.


Samusi hanya diam tak berbicara, dia bahkan tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah kami berdua.


"Gak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, semua itu sudah berlalu." Ucap Archie.


"Saya masih tidak bisa melupakannya. Kalau bukan gara-gara saya mungkin Tuan muda tidak akan menjadi..."


"Samusi!!" Potong Archie.


Sontak Samusi terperanjat dan menatap iba kepadaku dan Archie.


"Jangan membahas masa lalu di depan orang yang menjadi korbannya!!"


"Maafkan saya Tuan muda." Dia langsung menundukan tubuhnya bahkan hampir bersujud.


************


"Apa yang terjadi?" Tanyaku tak bisa menutupi rasa penasaran ku tentang yang terjadi barusan.


"Gua bakalan ngembahas ini kalau lu udah ingat sesuatu!!"


"Ingat!?" Aku mendekat, "ingat apa?!"


"Sebenarnya, pertemuan waktu ospek bukan kali pertamanya kita ketemu!!" Jelasnya.


"Apa, bukan kali pertamanya, maksudmu sebelum ospek kita juga udah saling kenal."


"Lu ga bakalan ingat!!" Ujarnya dalam keadaan fokus mengemudi. "Karena, bagi lu maupun gua, kejadian itu sangat menyakitkan sampai rasanya ingin hilang ingatan."

__ADS_1


__ADS_2