Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Jidat Hendri


__ADS_3

DOR.....


Kwwaakk kwwaakkk kwwwaakkk....


Burung-burung gagak yang bertengger di kawat listrik jalanan dengan gelisah mengepakkan sayapnya berhamburan ke penjuru kota.


Seketika itu terdengar suara riuh keributan yang berasal dari luar. Orang-orang langsung berkumpul dengan panik di satu tempat dengan terus memegang HP mereka masing-masing untuk mengabadikan sesuatu.


Setelah di perhatikan dengan seksama, ternyata di atas gedung terlihatlah seseorang yang sedang terkapar di tepi bangunan dengan kepala yang menghujam ke bawah dan kedua tangan yang berayun, bahkan ada bekas darah yang tercetak di dinding bangunan, seperti yang di duga, orang itu tewas seketika setelah suara keras mirip seperti suara tembakan tadi.


"Di mengerti!!" Ucap Hendri yang menindas alat komunikasi yang terletak di lubang telinganya dengan jari telunjuk. "Tuan muda, mohon bantuannya!!" Ucap Hendri yang langsung membuka kancing jas dua lapisnya dan secara bersamaan menyibak rambut yang menutupi jidatnya.


Itu adalah pertama kalinya aku melihat jidat Hendri secara langsung, ada sebuah tato bergambar sebuah kode di sisi kanan atas jidatnya. sampai-sampai aku teringat dengan perkataan Archie tempo hari.


**************


Flasback.


Suatu hari saat Hendri menjemputku dan Archie sepulang dari kampus. Tak seperti biasanya Hendri yang selalu menyapa duluan dan tak pernah lalai untuk membukakan pintu mobil saat Archie tiba, untuk pertama kalinya hari ini dia tak melakukannya dan menampakan wajah yang kusut.


"Hendri!!" Seru Archie.


"Ya Tuan!" Jawabnya lemas.


"Kok murung, boker lu ga lancar." Tebak Archie.


"Apa sih!!" Ujarku risih sambil menampar lengannya. "Jangan libatin orang lain dalam pikiran mu itu." Archie selalu menghubungkan segala sesuatu yang galau dengan masalah pencernaan.


"Tidak Tuan. Boker saya hari ini berwarna cerah, agak lembek dengan sedikit berair." Jawab Hendri.


Sial, mereka berdua sama-sama ga waras.

__ADS_1


"Terus, napa muka lu murung kek ga punya arwah!!" Tanya Archie.


"Itu, Tuan..." Hendri ragu-ragu ingin menceritakannya kepada kami berdua.


"Ngomong aja Hen, kamu kenapa?" Tanyaku yang sama penasarannya dengan Archie.


"Sebenarnya, semalam saya bermimpi buruk." Ucapnya dengan raut muka tambah tertekan. "Saya bermimpi di kejar monster buaya sebesar, sebesar..." Dia merentangkan kedua tangannya padahal sedang menyetir. "Lebih besar dari rentangan tangan saya." Lanjutnya bercerita.


Kami berdua saling menatap satu sama lain dan menunggu Hendri melanjutkan ceritanya.


"Padahal saya sudah keluar dari air dan naik ke daratan, tapi ternyata buaya ini bukan buaya biasa melainkan monster buaya, sampai-sampai dia bisa mengejar saya walaupun sudah di daratan." Ucapnya yang tambah semangat menceritakannya dengan raut wajah pucat dan keringat dingin. "Akhirnya saya berhasil kabur dengan cara menaiki pesawat yang tersedia, akan tetapi Tuan dan Nyonya tau apa yang terjadi..."


kami berdua menggeleng serempak.


"Monster buaya itu bisa terbang!!" Ucapnya dengan wajah pucat.


Lama kami berdua terdiam menahan tawa agar tak membuatnya sedih, tapi..


"Ppppffftt.....!!" Archie tak tahan. "Gomen, gomen!! Gua ga maksud. Jadi lu murung karena mimpi di kejar monster buaya." Tanya Archie yang terus tertawa cekikikan. *Translate, maaf.


"Terus, masalahnya apa?" Tanyaku.


Hendri diam sejenak sambil menghela napas. "Keluarga saya secara turun temurun percaya kalau mimpi buruk berhubungan dengan tanda-tanda kesialan, kami juga percaya yang berhubungan dengan monster akan membawa malapetaka. Maka dari itu, keluargaku selalu memotong rambut mereka untuk menjauhkan segala sesuatu dari kesialan, tapi bagi kaum laki-laki..mereka biasanya memangkas rambut mereka sampai habis." Jelasnya panjang lebar, "Saya, saya tak mau rambut saya harus di pangkas habis sampai jidat saya kelihatan, saya tak tahu harus berbuat apa, sedangkan kalau tak saya lakukan bisa-bisa kesialan saya akan menghambat kehidupan Tuan dan Nyonya." Ujarnya sambil memegang kemudi dengan gemetar.


"Jadi ini semua hanya karena kau takut kalau harus memangkas rambutmu?" Tanyaku memastikan.


"Benar sekali Nyonya!" Jawabnya.


"Itu kan hanya mitos lagi pula kalau kau benar-benar percaya dengan hal yang seperti itu bukannya nanti bakalan menghambat pekerjaanmu dan membuatmu semakin kepikiran." Ucapku agar dia berhenti memikirkan hal aneh, "Lagi pula!!" Aku menatap rambutnya yang bergelombang indah yang selalu di sisir rapi ke belakang namun sudah melewati batas telinganya, sehingga sudah setengah gondrong. "Kayaknya rambutmu udah waktunya di potong, apalagi di bagian depan mu itu, sampai kadang hampir menutupi mata kan." Ucapku yang membicarakan poni rambutnya.


"Itulah yang saya khawatirkan Nyonya!" Jawabnya.

__ADS_1


"Maksudnya!" Tanyaku lagi.


"Hendri gak bisa menunjukan jidatnya kesembarang orang." Jawab Archie.


Keningku langsung mengernyit saat mendengar penuturan Archie. "Kenapa?" Tanyaku.


"Dia bukan lagi manusia kalau udah nunjukin jidatnya ke orang-orang!!"


***************


Hendri mengeluarkan 2 senjata api yang terselip di kiri dan kanan pinggangnya, seketika dia mengarahkan kedua senjata itu kesembarang arah tanpa bidikan terlebih dahulu.


Baru 2 detik perasaan familiar ini di tunjukan kepada tragedi yang mengingatkan ku, apa yang sekarang ku pikirkan langsung berubah menjadi kenyataan.


Entah dari mana datangnya, sekelompok orang-orang berjumlah puluhan dengan bersenjatakan lengkap mengepung kami semua dengan cara menodongkan senjata mereka tanpa kenal ampun.


Dooorrr......


Peluru pertama datang dari arah sekelompok pria bersenjata yang langsung mengusungkan bidikannya ke arah Archie. Namun naasnya, tragedi seperti yang mereka inginkan tak terjadi, karena reflek Archie berbeda dari manusia normal. Dengan cepat dia menggelindingkan meja makan sebagai tameng, dan sekaligus melindungi kami semua dari hujaman peluru, di bantu Sakurai akhirnya 180° dari semua sisi terlindungi oleh tameng meja.


Rentetan hujan peluru menggempur keberadaan kami seperti di jatuhi hukuman dari langit, ratapan demi ratapan terdengar dari mulut mereka yang terjebak bersamaku, tak terkecuali Archie yang memegang kedua tanganku dengan erat. Dia bahkan tak menunjukan ekspresi takut sedikitpun, wajahnya terus menampakan ekspresi tegas dan juga berani, padahal dia sedang tak memegang senjata apa pun untuk melindungi diri. Namun jiwanya bahkan tak tergoncang sedikitpun, karena saat ini dia percaya kalau kemenangan berada di pihaknya.


4 menit kemudian, suara rentetan peluru yang mengingatkan diri akan kematian, tiba-tiba hilang begitu saja tanpa peringatan. Entah apa yang telah terjadi di luar perisai meja ini, namun yang pasti aku tak kan penasaran untuk sekedar mengintip dari sela-selanya.


"Aman!!" Pekik Suara Hendri yang dengan lantang meneriakannya agar terdengar.


"Kalian sudah boleh keluar!!" Pinta Archie sambil menyibak meja yang Telah menyelamatkan hidup kami.


Neraka. Hal yang pertama ku lihat saat keluar dari balik meja yang melindungi kami adalah kekacauan yang mirip seperti neraka. Tak kan ada yang mampu bersikap tenang, jika melihat pemandangan orang-orang bergelimpangan mati secara mengenaskan dengan darah yang mengucur dari tubuh mereka, pembantaian ini miripnya seperti rumah jagal. Mereka layaknya di bantai oleh monster berwujud manusia yang tak mengenal akan rasnya sendiri.


Ternyata Archie memang tak berlebihan saat membicarakan orang-orang pilihan yang layak berada di sekitarnya.

__ADS_1


"Hhhuuuuuwwweeeeeeekkkk.....!!!" Rio tergeletak di lantai, berusaha tak mengeluarkan isi perutnya saat menyaksikan pembantain mengerikan ini.


Sementara Dafa dan Tora, diam memaku tak bergerak dengan tatapan ketakutan setengah mati.


__ADS_2