
"Silahkan di minum!" Ucapku sambil menyuguhkan mereka minuman.
Hendri, Archie, dan juga Shin. Mereka bertiga duduk saling berhadap-hadapan dalam situasi yang canggung. Sesekali Shin melempar pandang ke arah Archie, dan Archie membalas Shin dengan tatapan yang sama. Mereka berdua saling mengintimidasi.
"Ahh..anu. silahkan di minum!" Ujarku berusaha memecah suasana.
Hanya Hendri yang bergeming dan membalasku dengan senyum ramah dan meminum teh yang ku sediakan.
"Kau masih tinggal di tempat kumuh seperti ini ya Tanaka!" Ujar Archie tiba-tiba sambil memandangi langit-langit yang sudah keropos dan hampir rubuh, bahkan sudah mengalami beberapa kali perbaikan di sana sini.
Sontak Hendri tersedak dan buru-buru mengelap mulutnya dengan sapu tangan.
Shin tersenyum."Kau juga." Balasnya sambil menyeruput teh, "sifatmu masih saja sama ya Yuaga. Angkuh dan juga menjijikan!!" Balas Shin.
Situasi mendadak tegang, Mereka berdua pun saling bertatapan dalam keheningan. Aku seperti menyaksikan pertarungan dua samurai yang saling menghunuskan pedang.
Bagaimana ini. Kenapa aku berada di situasi membagongkan seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di sini. Dan kenapa kau bersama adikku!!" Tanya Shin dengan nada gertakannya yang khas, tegas namun berintonasi lembut.
Archie menatapku dahulu sebelum menjawabnya. Dia seperti membuat pertimbangan.
"Akan ku katakan ini secara langsung!" Ucap Archie.
Shin menunggu.
"Sada adikmu, adalah istriku yang telah menghilang selama tiga tahun yang lalu!"
Shin kaget dan langsung menatapku.
"Dan nama nya bukan Sada, tapi Anya Arelista!"
"Apa!" Shin kaget. "Omong kosong apa lagi yang sedang kau katakan!"
Archie bersikap acuh dan menyeruput teh yang ku hidangkan.
Sedangkan aku berusaha menyembunyikan tatapanku untuk menghindari situasi canggung ini, apa lagi semalam itu, kami.
Astaga, aku benar-benar sudah gila. Ku mohon, semoga Shin tak tahu.
"Istri katamu!" Shin meradang, "bagaimana aku bisa percaya dengan omong kosong mu itu sialan!"
Archie membalas Shin dengan senyum tipis.
"Niichan!" Aku memegang lengan Shin.
"Yuaga. Kau pikir, sudah berapa lama kita berdua saling mengenal. Kau bahkan tak bisa memegang tangan wanita apalagi menyentuh mereka dengan tangan mu sendiri!" Ucap Shin marah. "Yang bisa kau lakukan hanyalah menyiksa mereka dengan membuatnya menangis. Lantas, kau mau aku percaya dengan semua omong kosong mu ini!!"
Wajah Shin memerah menahan geram. Tapi Archie bergeming menghadapi Sikap Shin.
"Tanaka!" Panggil Archie sambil meletakkan cangkirnya di atas meja, "kalau kau benar-benar mengenalku, berarti kau juga tau kalau aku tidak suka membuang-buang waktu. Apalagi bersangkutan dengan hal-hal yang tak penting."
Shin menatap Archie dengan mata meradang.
"Sekarang katakan yang sejujurnya padaku!" Archie mencondongkan tubuhnya ke depan."Dimana, terakhir kali nya kau bertemu dengan istriku."
Shin diam.
"Katakan yang sejujurnya padaku, Tanaka!"
__ADS_1
Shin tetap diam. Tapi ekspresi wajahnya berubah.
"Karena, apapun yang akan kau katakan nanti. Semua itu akan berguna bagi Sada untuk menemukan apa yang terjadi padanya sebelum ingatannya menghilang!" Lanjut Archie.
Shin melunak, dalam diam matanya menari-nari dengan keraguan. Shin menatap semua orang yang ada di ruangan itu satu-persatu dengan gelisah. Lalu membuang muka ke arah jendela.
"Sada!" Panggil Shin tiba-tiba.
"Ya!" Jawabku.
"Masuk ke kamarmu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka!" Pintanya.
"Tapi, Niichan.."
"Anya!" Archie mengisyaratkan padaku untuk menuruti perkataan Shin. "Masuklah. Mungkin abangmu ingin mengatakan sesuatu yang tak seharusnya kau dengar!"
Aku menatap mereka bertiga secara bergantian. Mereka semua menatapku, menungguku untuk secepatnya pergi dari tempat ini.
"Baiklah!" Ujarku beranjak dan buru-buru pergi meninggalkan mereka.
Bruuukkk....
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur sambil menutup mataku sendiri dengan lengan. Namun kepalaku terus melayang kearah pembicaraan mereka, mempertanyakan maksud dari ini semua.
Apa yang terjadi dengan kehidupanku, siapakah aku sebelum ingatan ku menghilang. Apa benar aku ini adalah istri dari anak konglomerat itu.
Kehadiran Archie Yuaga bagaikan mimpi di siang bolong. Di pikir bagaimana pun rasanya mustahil jika aku adalah istrinya.
Lalu bagaimana dengan istrinya yang sekarang. Yang bahkan banyak di rumorkan tak baik oleh sebagian orang. Apakah, benar dia tak pernah sekalipun menyentuh istrinya karena tidak tertarik dengan perempuan. Lalu, bagaimana dengan semalam, kenapa dia sangat beringas saat bercinta dengan ku.
"Ahhhgg...!!" Sontak aku membekap muka ku sendiri dengan bantal karena malu.
Bayang-bayang tubuhnya, dan juga caranya mempermainkan ku benar-benar membuatku gila. Wanita mana yang dapat melupakan kejadian itu hanya dalam waktu semalam. Meskipun aku sadar dan sudah berbuat salah, tapi kenapa rasanya aku sangat mendambakannya.
"Aku benar-benar tak waras!" Gumamku sambil memejamkan mata.
Braakkkk....
Tiba-tiba terdengar suara seperti benda yang terbentur dari luar di sertai suara keributan.
Aku ingin keluar tapi terhenti saat mendengar suara Archie dan Shin yang sedang terlibat percakapan sengit.
"Kau gila. Bagaimana bisa kau memperlakukan seorang perempuan seperti itu. Apa kau tak waras, apa kau sudah kehilangan akal!" Shin memekik.
Aku panik, dan mencari celah di sekitar pintu kamarku untuk mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya. Aku tidak mau menyakitinya terlalu jauh. Kau tak kan tau seberapa sering dia terluka karena melindungiku!" Balas Archie.
"Tapi kau sudah melakukannya. Kau sudah membuatnya lebih dari sekedar menderita!!" Shin terdengar marah.
Suasana mendadak hening.
"Selama tiga tahun ini, aku telah melakukan apapun untuk menemukannya. Sekalipun aku tak pernah berhenti mencari keberadaannya." Ucap Archie.
Hening lagi.
"kau mungkin tak kan percaya. Tapi, Anya adalah gadis yang ku maksud waktu itu. Dialah orang yang ku ceritakan, yang membuatku gila dan hampir kehilangan akal."
Hening tak ada percakapan lagi setelah itu, Namun langkah kaki mereka kembali terdengar lalu menghilang.
__ADS_1
Sialnya, percakapan mereka tak lagi terdengar. Dan di gantikan oleh gemerisik suara angin yang menerpa pohon persik di dekat jendela kamarku.
"Apa yang sedang mereka bicarakan. Kenapa mereka terlihat serius!" Gumamku sambil merebahkan tubuhku lagi ke atas kasur.
Sudah 30 menit berlalu, tapi percakapan mereka tak juga kunjung usai.
Kasur ku terasa hangat, tubuh ku lelah, sayup-sayup suara daun yang di terpa angin membuat ku mengantuk. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan memejamkan mata.
Tapi tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan seseorang masuk ke dalam kamarku dengan serampangan tanpa mengetuk pintu nya terlebih dahulu.
"P-pak Yuaga!" Panggilku dengan canggung sambil merapikan diri.
Dia mendekat, lalu memperhatikan seisi kamarku yang tak banyak terdapat barang-barang berharga. Selain hanya lemari tua, kursi, meja rias, kasur busa, dan juga beberapa boneka usang pemberian Mia.
"Kenapa anda masuk kemari?" Tanyaku setengah waspada.
Dia tak menjawab tapi langsung duduk di sampingku.
Bagaimana dia bisa masuk ke kamarku, apa Shin sendiri yang memperbolehkannya berada di sini.
"Ada yang ingin ku katakan!" Ujarnya dengan raut wajah lesu.
Aku menunggu.
"Anya!" Panggilnya.
Dia memegang tanganku dan mengusapnya dengan lembut.
Maafkan aku!!" Ucapnya tiba-tiba.
Aku memilih diam karena tak tahu harus merespon permintaan maafnya seperti apa.
"Aku minta maaf atas segalanya. Atas semua yang terjadi. Atas apa yang menimpamu sampai sekarang!" Ujarnya.
"Tapi, pak. Aku.."
"Terakhir kali kita bertemu, itu adalah hari dimana aku meninggalkanmu, dan memutuskan untuk bercerai lalu menikahi perempuan lain!" Potongnya.
"Apa?" Aku kaget.
Dia menahan napas saat mengatakannya, lalu menunduk diam.
"Itu adalah saat-saat paling menyakitkan dalam hidupku. Tapi di bandingkan rasa sakit ku. Aku yakin, kau lah yang paling menderita."
Dia menggenggam tanganku, tangannya yang semula hangat sekarang berubah menjadi dingin dan berkeringat.
"Aku yakin setelah perpisahan kita pada waktu itu sesuatu telah terjadi. Tapi aku tak tahu harus memulai dari mana, karena kau tiba-tiba menghilang dan membuatku semangkin hancur. Aku tak bisa berfikir jernih setelahnya, semangkin aku memikirkan mu, aku jadi tambah gila dan membuat upaya pencarianmu semangkin sia-sia."
Dia berhenti dengan napas tersengal, keringat dingin mulai merajai sudut pelipisnya.
"Maafkan aku. Maaf karena terus melakukan hal buruk padamu." Ujarnya lalu bersimpuh di hadapanku.
"P-pak, ja-jangan seperti ini. Ku mohon, ini terlalu.."
"Aku mencintaimu!" Potongnya lagi.
Aku terdiam.
"Aku mencintaimu. Melebihi apapun, bahkan diriku sendiri!"
__ADS_1
Air matanya mengaliri dari sela-sela jariku, dan berjatuhan di atas lantai.
"Dan jika kau tanya kenapa aku melakukan semua tindakan bodoh itu." Dia mengangkat kepalanya dan memalingkan wajahnya. "Karena aku seorang pengecut!"