
Tubuhku terkulai dan jatuh di badan anak tangga. Kaki ku lemas, badan ku menggigil.
Tak adil rasanya, dia membalas semua perbuatan ku selama ini dengan sikap rendah hati nya. Benar-benar kekeliruan yang di hadiah kan atas imbas durhaka nya diriku.
7 bulan bukan waktu yang lama bagiku untuk terus berburuk sangka terhadap nya. Membencinya dalam diam, meruntuk nya jika ada kesempatan, membuatnya seolah-olah dia adalah manusia terkejam di dunia yang tak menganggap diriku sebagai istrinya.
Archie mengangkat tubuhku, dan membawaku menaiki anak tangga, satu persatu. Langkahnya yang menaiki anak tangga, seolah berubah menjadi palu di atas getaran jantungku yang berdegup tak karuan.
Miris! Untuk alasan apa dia mau menerima ku yang pernah tidur bersama lelaki lain? Akhir dunia.
Dunia sudah mau kiamat. Dari mana rupanya, orang yang ku kenal memperlakukan ku dengan seenaknya, malah memaafkan ku yang tak kan mungkin lelaki lain mau melakukan nya.
Archie. Ini bukan dirimu, kembalilah sadar ku mohon, perlakukan aku dengan jahat seperti biasanya!
Marahlah, Archie. Jika kau terus berbuat seperti ini aku merasa seperti manusia paling hina di seluruh galaxy.
Ku mohon jangan perlakukan aku dengan baik. Aku sudah menghianatimu dengan mengandung benih lelaki lain.
Aku teringat dosaku yang tak pernah melayanimu sekalipun sepanjang kita menikah. Aku menolak peraduan fisik saat kau menginginkan ku, untuk alasan yang tak pernah sekalipun kau utarakan kepadaku, untuk alasan penyakit yang sedang susah payah kau sembuhkan demi membahagiakan ku. Aku membait diriku untuk tak kan pernah menyerahkan diriku sendiri untuk kau sentuh, kau s*tubuhi, demi harga diri yang sekarang terlihat busuk di matamu.
Hukuman ini terasa nyata! Aku menerima sesuatu yang lebih buruk di banding karma.
Karma akan menjadi sebuah hadiah yang indah untukku jika kau mengusirku dari rumah ini, memukuliku, menghajarku, mengataiku dengan panggilan bintang, dan sebagainya yang ku rasa pantas di lakukan lelaki lain saat istrinya mengandung anak orang lain.
Tapi kenapa, rasanya ini tak adil bagiku? Kenapa, kau malah merangkul ku, Menghiburku, mencintai ku layaknya seorang istri yang sudah menjalankan kewajiban nya mengandung benih dari dirinya sendiri.
Manusia macam apa kau ini Archie. Dari mana asal mu, Apakah kau terlahir ke dunia yang berasal dari cerminan malaikat yang turun dari langit dengan membawa kesabaran yang tak di miliki mahkluk seperti kami.
Berkali-kali dia menghujaniku dengan ciuman lembut di pelipisku, berjalan menuju kamar ku serasa perjalanan tak berujung. Kedua tangan ku mengepal kuat di dadanya yang kembang kempis terasa sesak.
"Nangis aja!" Ucapnya sambil menarik kepalaku untuk berada di lengannya sembari merebahkan tubuh kami berdua.
Aku mencoba mendorong tubuhnya agar tak menyentuh ku yang menjijikkan ini, berkali-kali ku coba menjauhkan tubuhnya, berkali-kali juga dia membalas ku dengan pelukan erat dari lengan kuatnya yang merangkul ku.
"Archie...aaaghhh...!!" Erangku yang meronta-ronta mencoba melepaskan tubuhku yang terpaut total oleh tubuhnya.
__ADS_1
Jangan Archie, jangan seperti ini. Aku bukan wanita yang pantas mendapat kan semua toleransi mu, tuhan sudah menghukum ku. Hukuman dari langit, jatuh di hadapan ku dengan sejuta rasa yang membutakan kekukuhan hatiku.
"Lepaaas..!! Aahhhh....aggghh...!!" Pekik ku sambil memukuli tubuhnya yang berusaha mengekang tubuhku yang melawannya.
Dia mengunci pergerakan ku, seperti yang pernah dia lakukan padaku semasih beberapa minggu menikah.
Momen ini mengingatkan ku tentang kunjungan perdananya ke kamar ku, pada jam 3 dini hari, membawa selimut beserta bantal, mengatakan tak bisa tertidur, padahal dia benar-benar sedang menahan kantuknya. Di pagi harinya dia malah memberikan ku gigitan cinta yang tak pernah ku bayangkan akan menjadi aib ku jika tak ku tutupi.
Aku bahkan search di gugel bagaimana cara menghilangkan nya, dan untuk pertama kalinya, aku baru menyadari kalau nama lain gigitan cinta adalah c*pang.
Di kantin bersama Laila, aku malah menemukannya sedang meminum es kopi, menggoda ku dengan permainan liar nya, membuat ku kehilangan akal sehat. Untuk waktu yang lama, aku tak bisa melupakan wajah liarnya yang memainkan sedotan.
Tanpa sadar, air mataku terus mengucur semakin deras, tak bisa lagi ku tahan-tahan.
"Archie...salah, ini salah." Ucapku melemaskan otot-otot ku dan merelakan tubuhku yang terkapar di atas ranjang, dengan kepalaku terkulai di tepi kasur, bergelantungan dengan pandangan terbalik.
"Aku gak layak menerima ini semua.." Sambungku dengan terus bercucuran air mata yang jatuh searah gravitasi membasahi pelipis dan rambutku.
"Hmmmhh..!!" Dengusnya bernada aneh.
Bukan. Aku sedang tidak berhalusinasi, dengus nya aneh.
Dengan terheran-heran, dengan air mata yang masih membasahi seluruh wajahku, ku perhatikan dirinya yang membuang muka.
"I mean.." Ucapnya,"Ada satu hal yang harus benar-benar lu pahamin."
Dia mendekati tubuhku sampai wajah kami berdua bertatapan dengan pandangan sejajar, tangannya menyeruak mengibas-ngibaskan rambut ku sampai menyentuh tengkuk.
"Gua udah janji..!!" Bisiknya lirih di dekat telingaku,"Gua gak bakal ninggalin lu apa pun yang terjadi." Dia membelai rambutku setengah menjambak.
"Meskipun lu tidur bareng siapapun di dunia ini.." Terdengar ******* berat dari nada bicaranya,"Lu tetap milik gua selamanya!"
DEG...
Gamang?
__ADS_1
Gamang, adalah perasaan kalut yang di liputi oleh ketidaknyamanan yang di akibatkan oleh kebiasaan sehari-hari. Mirip seperti de ja vu namun lebih dalam dan mengerikan.
Sesaat aku lupa siapa dirinya karena sudah mengatakan setuju untuk menjadi ayah dari anak yang ku kandung.
Tapi....
Aku melupakan satu hal penting yang tak pernah berubah dari dirinya.
Obsesi nya terhadap ku terlalu besar dari kecintaan nya terhadap dirinya sendiri. Itulah mengapa dia memilih untuk menjadi ayah dari bayiku meskipun tak ada sangkut paut terhadapnya.
Dia mengangkat tubuhnya menjauh dari ku dan berada di tepi kasur dengan tangan menyilang di dada, menatapku dengan pandangan fokus.
"Sementara waktu, gua bakal biarin lu nenangin diri sampai keadaan mulai membaik." Ucapnya sambil berdiri dan memasukkan kedua tangannya menyusupi kantong celananya.
"Gua bakal ngirim lu kerumah bapak ibuk, mereka udah nungguin lu sejak tahu kabar ini dari Hendri!"
"Apa?" Ucapku tersentak kaget sambil memandangi wajahnya yang sekarang berubah dingin.
**************
Tanpa mengucapkan selamat tinggal atau sekedar mengatakan sampai jumpa semoga perjalanan mu menyenangkan, atau apalah itu basa basi lainnya yang menyatakan bahasa kepergian.
Aku langsung masuk ke dalam, dan duduk di kemudi belakang mobil Hendri tanpa pernah menoleh kearah Archie yang berdiri di samping mobil, dan dengan tenang memandangi siluet bayangkan ku yang berada di balik kaca mobil.
Hendri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, berkali-kali dia melirik ku dibalik kaca persegi panjang yang terbentang di kening mobilnya. Mengkhawatirkan ku yang memukuli perutku sendiri, sembari menangis, meratap, dan sesekali menubrukan kepalaku ke kaca mobil.
Akhirnya dia menyerah dan menghentikan laju mobilnya di sebuah persimpangan.
"Nyonya?" Panggilnya tanpa menoleh kepadaku sedikitpun.
Aku tak merespon perkataan nya dan mengidarkan pandangan ku melihat rindang nya pepohonan di pinggiran jalan.
"Tuan tak kan segan-segan untuk membunuh saya jika terjadi sesuatu kepada Nyonya di dalam perjalanan ini." Ucap Hendri yang kemudian melajukan mobilnya kembali.
Aku hanya tersentak saat mendengar penuturan nya, Hendri tak pernah berbohong, sekalipun tak pernah. Bahkan saat dia terlihat sedang pura-pura, raut wajahnya selalu menandakan kebenaran.
__ADS_1