
Hendri menunggu kami di dalam mobil, saat aku masuk ke dalamnya dia langsung memberikan ku sekotak makanan dari restoran tadi.
Hendri penyelamatku, dia ternyata lebih peka di banding manusia di sebelahku yang tak membiarkan ku makan satu suap saja di meja yang penuh dengan makanan itu.
"Hari ini gua ga bisa pulang ke rumah, ada meeting penting yang harus gua hadirin, jadi untuk beberapa hari ini gua sibuk dan gak bakalan pulang." Ucap Archie melonggarkan kerah bajunya.
"Oh ok!!" Jawabku yang berusaha tetap tersambung dengan pembicaraanya meskipun aku berusaha tak memancing pembicaraan dengannya.
Dia menatapku yang sedang makan dengan lahap. Sambil menyilang kan kedua lengan di dadanya, dia berusaha mengusikku dengan menatapku dengan pandangan mengganggu, seolah ingin mengatakan sesuatu yang jahat.
"Kenapa, kau juga mau!?" Tanyaku menyuguhkan tempura ke hadapannya.
Dia diam dan terus menatapku.
"Ya udah!" Ujarku melahap makanan ku lagi.
"Lu beneran gak ada yang pengen lu tanyain ke gua, meskipun gua ini suami lu!" Tanya nya yang sontak membuatku menghentikan menikmati makanan mahal itu.
"Aku sadar diri kok, urusanmu itu bukan urusanku, aku hanya tinggal patuh doang kan." Jawabku.
"Huhhh.." Desahnya sambil menyeringai dan melihat ke luar kaca mobil. "Jadi begini definisi istri yang menikah terpaksa, kasihan banget!!"
Aku berhenti makan, dan menutup kotak itu, rasanya benar-benar tidak selera makan kalau sedang berada di situasi seperti ini.
"Archie, dengar. Aku gak ada alasan buat ngusik kehidupan pribadi kamu. Kita memang sudah menikah, tapi aku sama sekali gak pernah mengenal kamu, lagi pula kita hanya pernah ketemu di kampus sebagai senior dan junior." Ucap ku kesal karena mendengar perkataan menyebalkan itu lagi keluar dari mulutnya.
Hendri melirik kami berdua dari kaca depan, dengan pandangan khawatir dia mengemudikan mobilnya pelan-pelan karena dia tahu kalau kami berdua akan memulai pertengkaran.
"Lu mau nya gimana hah!!" Dia mendekat ke sisi ku, "Apa kita harus mulai dari awal lagi, biar lu kenal ama gua." Ujarnya lalu memegang erat pergelangan tanganku.
"Sa-sakit, Archie!!" Keluhku sambil menahan rasa sakit saat dia memegang dengan kuat pegelangan tanganku.
"Tuan, anda terlalu berlebihan!!" Archie menatap dari kaca spion dengan khawatir.
Sontak Archie patuh dan melepaskan pergelangan tanganku. Ternyata benar, hanya Hendri yang mampu menghentikan kegilaan Archie.
"Putar balik, langsung ke hotel!" Perintahnya.
Hendri mendengus pelan dan langsung menuruti perintahnya. "Baik Tuan!"Jawabnya.
"Kenapa hotel, bukan nya kau akan mengantarku pulang?!" Aku merasa tak adil karena dia selalu bertindak semaunya.
Tapi dia tak mengatakan apapun, pandangan matanya terlihat tajam menatap lurus ke depan.
Sampai lah kami di sebuah hotel mewah bernama Clara Ratu Siantaro, salah satu hotel berbintang lima yang sangat terkenal di kotaku sebagai hotel paling mewah dan juga bergengsi.
"Turun!" Ujarnya sambil menyeret tanganku, dan aku pun turun dari mobil dengan diseret paksa olehnya.
Aku melihat Hendri dari kejauhan yang membungkukan tubuhnya saat pandangan kami berdua bertemu. Hendri, kenapa di saat genting seperti ini dia malah tidak berpihak padaku.
"Selamat datang Tuan." Ujar pelayan hotel itu menyambut ramah kedatangan kami.
__ADS_1
"Kamar anda sudah kami siapkan Tuan!" Ujar salah satu pelayan hotel lainnya sambil memberikan Archie kunci kamar yang berupa card otomatis.
Terlihat pelayan hotel itu melirik ku dengan pandangan tak nyaman seolah-oleh mengintimidasi tubuhku. Ada yang aneh, kenapa pelayan hotel di sini seperti sudah biasa dengan kedatangan Archie, mungkinkah hotel ini merupakan tempat yang sering dia kunjungi.
Ceklek...
"Lu masuk aja duluan, ada yang harus gua urus di luar." Ujar Archie melepaskan tanganku.
"Kamu kayak nya udah biasa ke tempat ini!!" Tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku lagi.
"Hmmhh..lu penasaran!!" Jawabnya maju selangkah menghadapku.
Aku memalingkan wajahku dan tanpa sadar sudah masuk ke dalam kamar karena mengimbangi Archie yang maju terus mendekatiku.
Dia terus berjalan mendekatiku, sampai aku terpojok ke arah dinding.
"Kenapa lu jadi tiba-tiba penasaran, apa sekarang lu jadi punya perasaan khusus ke gua!!" Bisik nya dan di akhiri mengigit lembut ujung daun telingaku.
Spontan aku mendorongnya dan menampakan posisi waspada.
Dia tertawa kecil dengan raut wajah senang, lalu memalingkan tatapannya bersiap untuk keluar. "Gua ada urusan bentar ga lama. Terus jangan lupa mandi, gua ga suka ada bau cowok lain di badan lu!!" Cecarnya yang kemudian pergi.
Aku mengendus-endus bau tubuhku sendiri dan memang bau parfum Arya tercium menyengat di bajuku.
*********
Cplasss....
Suara gemerisik air membangunkan tidurku. Seperti nya ada seseorang masuk kedalam bathub.
"Udah bangun?"
Suara Archie yang berada tepat di hadapanku sontak membuatku langsung waspada dengan memasang posisi bertahan.
Mataku langsung tertusuk, saat melihat dia berendam bersamaku tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya.
"Archie, kenapa kau disini!?" Teriakku panik, sambil memeluk betis. Berusaha menutupi tubuhku karena aku juga bertelanjang bulat tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhku.
Dia tak mengatakan apa pun, dan mendekat ke arahku.
"Tetap disitu jangan mendekat!!" Perintahku berusaha menjaga jarak dengannya. Tapi dia malah tak mendengarkan dan semangkin mendekat.
"Archie, kalau kau berani mendekat lagi aku akan.."
"Akan, akan apa?" Ujarnya saat berada tepat di hadapanku, sampai tetesan air dari rambutnya yang basah mengenai lutut ku.
Perasaan apa ini, Kenapa aku khawatir. Kenapa melihatnya tanpa busana ini membuat jantungku berdetak kencang. Apakah karena aku takut menghadapinya, atau karena aku tak bisa menolak pesonanya.
Kami berdua sedang dalam keadaan telanjang, dan berada dalam satu bak mandi yang sama, bahkan jarak kami sampai sedekat ini, mana mungkin aku tidak gelisah.
Tapi karena airnya hangat dan di kelilingi kabut di sekitarnya, aku lega karena bagian tubuh kami sama-sama tidak terlihat. Penglihatan ku seperti tersensor sehingga tidak bisa melihat jelas bagian bawah tubuhnya.
__ADS_1
"Lu lagi mikirin apa!?" Tanyanya tersenyum, seperti membaca pikiranku.
"Ku mohon, jangan menatapku seperti itu, aku bukan sengaja ingin berada dalam situasi ini." Ujar ku menutup tubuhku rapat-rapat.
"Lu takut gua apa-apain!!" Tanyanya mundur sedikit dan memberikan ku ruang untuk bergerak.
"Situasi seperti ini sangat tidak menguntungkan ku, jadi ku mohon biarkan aku pergi!"
"Ya udah pergi aja!!" Ucapnya seperti meledekku, "Lagian kalau lu keluar duluan dari sini, gua bisa puas ngeliatin tubuh lu yang telanjang."
Aku terdiam dan tertegun. Si*l, kenapa aku tak memikirkan hal seperti ini.
"Ayo cepetan, gak sabar nih" Ujarnya lagi sambil tersenyum mengejek.
Aku tidak mungkin keluar dari sini dalam keadaan telanjang, bisa bahaya kalau dia melihat keseluruhan tubuhku. Tapi bagaimana kalau aku tidak segera keluar dari sini, apa aku akan terjebak terus bersamanya sampai akhir.
Situasi seperti ini saja sudah berbahaya, apalagi kalau aku menunjukan tubuh polosku di hadapannya.
Sungguh ceroboh. Kenapa aku malah lupa mengunci pintu kamar mandi.
"Kok diem, katanya lu mau pergi!!" Desaknya.
"Ahhh..sebenarnya aku, masih belum selesai mandi!" Jawabku gugup dan membenamkan wajahku yang memerah ke lututku.
"Ya udah!" ujarnya lalu menjauhkan diri dari ku sampai dia berada di ujung bathub. "gak usah waspada gitu, gua juga gak ada niat buat macam-macamin lu kalau lu sendiri gak mau!!"
Setelah mendengarnya bicara seperti itu akhirnya aku bisa sedikit melonggarkan tubuhku dan menikmati suasana tenang ini sejenak, walaupun aku sedang berada dalam satu kandang dengan buaya.
"Archie!!" Panggilku.
Dia menatapku.
"Apakah sebelum ospek, kita memang sudah saling mengenal satu sama lain!!" Tanyaku.
Dia tak menjawab, namun memandangiku dengan tatapan sejurus.
"Aku memang sudah hampir melupakan kejadian di waktu ospek, tapi perkataanmu yang bilang kalau aku adalah biang kerok dari kehancuran hidupmu. Perkataanmu itu tak bisa ku lupakan sampai sekarang."
Archie tetap bungkam.
"Kalau kau tahu sesuatu, sebaiknya kau mulai memberitahuku. Karena aku ingin membantumu sembuh dari penyakit yang sedang kau derita."
Cplasss...
Tiba-tiba dia berdiri dengan keadaan telanjang dan membuatku shock bukan main. Dengan cepat ku tutup kedua mataku dengan telapak tangan, meskipun pemandangan indah itu sayang untuk di lewatkan. Tetap saja, aku tak boleh sembarangan melihat tubuh orang tanpa izin.
"Pake ini!" Ujarnya menyuguhkan kepadaku handuk kimono.
Sejak kapan dia sudah membungkus dirinya dengan handuk. Bukannya dia baru saja keluar dari sini.
"Cepetan, gua janji ga bakalan liat!!" Ucapnya memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
Buru-buru aku mengambil handuk kimono itu dan memakaikannya pada tubuhku.
"Sini!" Serunya di depan cermin sambil memegang hair dryer.