
"Kak, aku sudah siap!!" Ucap Sakurai menghampiriku.
Tapi aku tak mendengarkan perkataannya dan duduk termangu di atas sofa.
"Kak!!" Sakurai mendekat, "ayo kita pergi!!"
Aku tak menyadari keberadaanya karena sekarang pikiranku sedang melayang ke arah lain.
Entah apa yang Archie pikirkan saat ini. Kenapa setelah kedatanganku di kantornya tempo hari, dia semangkin tak menunjukan dirinya kepada ku. Bahkan setelah 2 minggu berlalu dia tak pernah pulang ke rumah meskipun sekedar untuk menampakan dirinya sebentar di hadapanku.
"Kak!!"
Aku tersentak saat Sakurai menyentuh pundakku.
"Kakak kenapa. Apa terjadi sesuatu!?" Tanya Sakurai.
Aku berdiam diri sebentar sambil memegangi pelipisku. Meskipun tak ku katakan secara langsung, Sakurai pun mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
"Kalau kakak, tidak enak badan. Sebaiknya kita batalkan saja.."
"Tidak!!" Potongku langsung, "kita tidak bisa membatalkannya, karena ini adalah acara yang sangat penting."
Sakurai diam dan memandangiku dengan tatapan prihatin.
Hari ini adalah hari pernikahan Ruana dan Rio. Mereka menggelar acara akad dan resepsi pada hari yang sama karena kondisi Ruana yang rentan sehingga tak boleh sampai kelelehan.
Aku memang telah berniat untuk pergi bersama Archie di saat acara itu berlangsung. Tapi sampai hari H pun dia bahkan tak menunjukan dirinya padaku.
Benar-benar membuat frustasi.
"Kakak terlihat sangat cantik!!" Ucap Sakurai tiba-tiba.
Aku menyingkirkan telapak tangan yang menutupi keningku dan menatapnya. Seketika saja aku mematung di hadapannya hampir tak bisa berkata-kata.
Penampilannya itu membuatku tak bisa bernapas. Bagaimana bisa dia mengatakan pujian seperti itu kepadaku, sedangkan dia sendiri terlihat seperti paras paragawan dengan visual tiada tanding sekelas top model papan atas.
Sakurai memakai baju batik berwarna hijau terang bermotif Merak Ngibing khas Garut sebagai outfit utama, penampilannya di lengkapi oleh celana hitam dan sepatu kulit pancus dan berbagai aksesoris kasual. Style monoton seperti ini sudah biasa di temui di saat acara pesta atau kondangan di indonesia yang memang menjadi andalan para kaum jantan terutama bapac-bapac. Tapi bagaimana bisa saat di kenakan oleh Sakurai, style macam ini malah terlihat sangat keren layaknya pakaian bermerek dan mahal dari brand ternama dunia.
Sial. Sepertinya apa pun yang akan di kenakan olehnya akan terlihat mahal meskipun pakai baju sablon partai sekalipun.
Sebenarnya, aku juga memakai baju batik dengan motif yang sama seperti Sakurai. Semua itu karena perbuatan Hendri. Entah dari mana dia dapat ide seperti itu, tapi mungkin saja karena dia terlalu bersemangat tentang budaya di indonesia yang dia kenal baru-baru ini.
"Sakurai!!" Aku berdiri dan mengitarinya. "Kau cocok banget pakai baju batik!!" Ucapku tak berhenti kagum.
"Benarkah!" Sakurai terlihat senang. "Kakak juga. Sakurai tak pernah melihat wanita secantik kakak!!" Dia balas menyerang.
Aku tersenyum mendengar gombalan polosnya. Andai saja bukan adik ipar, atau aku masih sendiri. Ya, mungkin aku akan berdebar-debar jika di puji oleh orang sesempurna Sakurai.
"Tidakkah kita terlihat seperti pasangan!" Sakurai menambahi serangannya sambil melihat cermin.
Memang benar terlihat seperti pasangan, karena outfit yang kami kenakan memang serasi. Sebenarnya Hendri juga membuatkan Archie setelan yang sama agar bisa di serasikan dengan penampilanku, tapi karena dia tak hadir maka sia-sia saja totalitas yang Hendri kerahkan.
"Hehmm.." aku tersenyum kecut melihat cermin karena dongkol atas ketidakhadiran Archie.
Menyebalkan, apa nanti yang akan di katakan orang-orang jika aku tak pergi bersama Archie dan malah pergi berdua dengan adik nya.
"Ayo, nanti kita terlambat. Hendri sudah menunggu di parkiran!!" Ajakku mengalihkan pembicaraan.
************
__ADS_1
Acara pernikahan Ruana dan Rio di gelar di kawasan mini jungle dengan konsep outdoor. Dekorasinya terkesan mewah namun sederhana yang di lengkapi perpaduan alam seperti pernikahan para peri yang terlukis indah di kisah-kisah dongeng.
Tora bilang Ruana memang sangat menginginkan pernikahannya di gelar di tempat seperti ini jika suatu hari dirinya menikah. Dan sekarang keinginannya terwujud berkat seorang kakak yang hebat seperti Tora.
Acaranya terbilang sangat megah dan meriah dengan tamu undangan yang di hadiri oleh ribuan orang. Ada alasan kenapa tamu undangan bisa hadir sebanyak itu padahal pernikahan ini berlangsung sebentar. Ternyata kedua belah pihak mempelai merupakan keluarga yang sama-sama terpandang dengan martabat baik sehingga bayak di hormati kebanyakan orang dan di segani status sosialnya.
Ruana terlihat sangat bahagia bersanding di sebelah Rio dengan tatapan penuh syukur yang tiada banding. Dia sangat cantik dengan gaun pengantin putih dengan sanggul rendah dan juga riasan tipis yang menambah kesan kesederhanaan dari kecantikannya.
Saat aku melihat tawa bahagianya, aku terkenang dengan waktu itu. Dia punya alasan kenapa tidak bisa meninggalkan Libiru dan menghianatinya meskipun dia ingin. Bayi di dalam kandungannya adalah satu-satunya alasan dia bertahan sampai melakukukan apapun yang di perintahkan Libiru. Kesaksian itu di dengarkan oleh Archie dengan hati-hati sehingga Ruana di bebaskan dari jeratan hukum dan memutuskannya menjadi salah satu korban dari tragedi itu.
Meskipun kondisinya sekarang tak bisa terpulihkan, tapi wajah bahagiannya di hari bahagia ini mampu menyihir banyak orang yang melihat tekat dan kegigihannya menghadapi semua ini.
Ruana tak bisa lagi berdiri maupun berjalan dengan bebas karena menderita kelumpuhan sehingga harus duduk selamanya di atas kursi roda, dia juga tak bisa membalas perkataan orang-orang yang memberikan selamat kepadanya karena pita suara nya bermasalah sehingga tak bisa di kembalikan, rahangnya patah sehingga wajahnya yang dahulunya cantik bak boneka sekarang tak bisa di kembali seperti semula.
Namun meskipun secara fisik Ruana terlihat sangat hancur, tapi kebahagian yang tersirat dari raut wajahnya menghancurkan persepsi kalau dia sedang menderita. Ruana bagai keindahan memandangi lukisan abstrak, dia indah dengan caranya bahagia.
"Kok cuman bertiga, bos besar mana!?" Tanya Tora mencari gara-gara padaku.
Hendri langsung menyenggol bahu Tora agar menghentikan pertanyaan itu dan segera tutup mulut.
"Ahh..selamat datang pak camat, silahkan pak, ayo silahkan!!" Ucap Tora yang langsung minggat dan berpura-pura sibuk menyambut tamu undangan.
Aku diam dengan perasaan kesal, tentu saja siapapun yang melihatku pasti akan menanyakan keberadaan Archie. Apalagi sekarang semua orang sudah tau jika aku adalah istri nya dan menantu dari keluarga Yuaga.
"Kak, aku pergi sebentar!!" Ucap Sakurai yang pergi buru-buru dari hadapanku.
"Eh..kenapa?" Tanyaku.
"Ahh..Nyonya. sepertinya saya mendadak sakit perut, maaf saya ijin dulu ke toilet!!" Hendri pun juga tiba-tiba bersikap aneh dan pergi dari hadapanku.
"Hei..hei. kenapa kalian meninggalkan ku sendiri!!" Pekik ku kepada mereka berdua yang telah hilang entah kemana.
"Boleh gua duduk di sini?" Tanya seseorang di hadapanku.
"Silahkan!" Jawabku ketus.
Dia menarik kursinya dan duduk di hadapanku.
"Sendirian aja lu. Cantik-cantik kek gini ga takut di godain orang!!" Ucapnya.
Sontak aku langsung mengangkat kepalaku karena mengenal dengan jelas suara ini.
"Archie!!" Seru ku.
Dia membalas sapaanku dengan senyuman. Dan kini aku pun telah menemukan pasangan dari setelan baju kondanganku.
"Mereka terlihat bahagia bukan!"
Archie mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Rio dan Ruana yang saling merangkul dalam tawa.
"Benar!!" Ucapnya tersenyum, "mereka terlihat sangat bahagia!"
Aku melengos dan menatap ke arahnya. Terdapat senyum getir yang terpendam di balik pujiannya.
Acara tetap di lanjutkan meskipun hanya di hadiri Rio. Karena berselang beberapa jam selama resepsi, Ruana tiba-tiba merasa pusing karena kelelahan, dan itu membuatnya harus beristirahat untuk waktu yang lama karena kondisi fisiknya yang rentan.
Tapi meskipun begitu, mereka berdua tetap bahagia dan meneruskan acara ini sampai selesai.
Tak berapa lama kemudian anak-anak juga berdatangan. Seperti Dafa dan juga Sayang. Mereka berdua langsung membuat rusuh Tora.
__ADS_1
Tapi aku tak melihat kehadiran Dimas pada acara ini. Mungkinkah dia tak hadir karena masih di rumah sakit bersama Cindy atau ada halangan lainnnya. Namun apapun alasan nya dia tak datang ke acara ini, tapi semoga Dimas dalam keadaan baik-baik saja dan sehat selalu.
"Archie mana?" Tanya Sayang di sela-sela mengobrol.
"Archie!!" Aku melihat kesana kemari mencari keberadaanya karena beberapa menit yang lalu dia masih berada di dekatku.
"Tadi bukannya lagi bareng Mas Eko!!" Jawab Dafa.
"Oh ya!!" Ujarku tetap mencari keberadaan mereka di tengah keramaian.
"Itu bukan sih!!" Cetus Dafa menunjuk mereka berdua.
Benar mereka memang sedang mengobrol di sudut sepi. Namun ada yang aneh.
Entah kenapa mereka terlihat gelisah seperti sedang bertengkar, sampai-sampai wajah mereka memerah seperti menahan amarah.
"Sebentar, aku kesana dulu!" Ucapku meminta izin kepada mereka.
Aku pun berlahan mendekat untuk mencari tahu masalahnya, namun saat aku berada di sana. Mereka pun langsung bungkam.
"Kakak!!" Sapa Sakurai dengan wajah merah dan mata berkaca-kaca.
Sakurai berseling melihatku dan Archie. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak dapat ia katakan. Sampai akhirnya dia memilih pergi dan tak mengatakan apapun sampai akhir.
"Apa yang terjadi dengan Sakurai?" Tanyaku pada Archie. "Apa kalian bertengkar lagi?
Dia membuang muka ke arah lain sambil memejamkan mata. Sepertinya pembicaraan mereka terlalu sensitif untuk di beberkan, apalagi Sakurai terlihat sangat marah.
"Ikut gua!!" Ujarnya lalu menarik tanganku untuk pergi bersamanya.
*************
Dia mengajakku ke suatu tempat yang sangat sepi dari orang-orang. Tempat ini sangat indah dan menghadap langsung ke arah terbenamnya matahari.
Dia berjalan duluan di hadapanku. Dan di balik pantulan matahari yang terbenam, aku memandangi punggungnya yang turun dengan napas tak teratur seperti menahan beban berat.
"Archie. Ada apa!?" Tanyaku di belakang punggungnya.
Dia berhenti dan memalingkan tubuhnya untuk menatapku.
"Anya!!" Panggilnya lirih.
Aku mendekat dan menatapnya.
"Ada apa?" Tanyaku.
Archie diam saja seperti ingin menangis, tapi dalam sekejab dia langsung tegar dan menatapku dengan dalam.
"Anya!!" Panggilnya lagi sambil meneguk liur nya sendiri.
Aku diam saja dan menatapnya dengan heran.
Dia mengepalkan kedua tangannya dan menutup matanya rapat-rapat. Urat-urat lehernya bertimbulan di sertai tubuhnya yang bergetar. Kemudian dia menghembuskan napas tertahan, dan menatapku dengan berani.
"Anya. Ayo, kita bercerai!!" Ucapnya dengan nada bergetar.
"Hah!"
Aku membeku.
__ADS_1