
Baru berjalan selangkah saja, kepala ku langsung pusing karena mencium bau darah sebanyak ini. Melihat manusia berjumlah puluhan yang mati mengenaskan berbeda dengan melihat tikus berjumlah ratusan yang mati di bantai.
Yang tak ku sadari adalah, pergerakan Hendri dan juga Sakurai yang berada jauh dari tempat awal mereka berada, bahkan Sakurai berada di lantai dua dengan entah bagaimana caranya dia naik dengan waktu sesingkat itu.
"Kalian tidak apa-apa?" Teriak Sakurai dari lantai 2 menatap kami dengan tubuh bersimbah percikan darah.
Archie membalasnya dengan lambaian tangan mengisyaratkan kalau kami baik-baik saja.
Namun tiba-tiba, aku melihat sesuatu yang bergerak di belakang Archie. Seorang pria yang bersimbah darah berlari begitu saja menerjang dari kejauhan sambil membawa serpihan kaca di tangannya, dia berniat untuk menikam Archie dari belakang.
Aku yang panik langsung berlari ke arah Archie karena saat itu hanya aku yang melihat pria yang ada di belakang nya. Dengan sekuat tenaga ku kerahkan kekuatan ku untuk berlari dengan cepat berlomba melawan waktu untuk mendapatkan kesempatan menyelamatkan Archie duluan. Hingga waktu berpihak kepadaku dan menjadi pemenang, tanpa pikir panjang ku kerahkan keberanianku untuk memakai tubuhku sendiri untuk menyelamatkan nyawanya.
Srrraaaakkkk......
Darah mengucur deras keluar dari lengan kiriku yang robek karena tergores pecahan kaca. Aku menatap lekat kedua pupil mata pria itu yang bergetar ketakutan dengan pandangan putus asa, air mukannya sampai keluar saat menatapku yang menghentikan tindakannya tanpa di duga-duga.
Archie yang gelap mata, langsung memungut senjata yang masih berada di genggaman seorang mayat, dan langsung melepaskan tembakannya tepat di kepala pria itu hingga tewas mengenaskan di depan mataku.
**************
"Baka, baka, baka!!!" Runtuk Archie dengan mata memerah hampir menangis sambil membalut lukaku dengan potongan dari bajunya. *Transalate, baka バカ bodoh.
"Kau terharu ya, dengan pengorbananku." Ucapku yang berusaha sebaik mungkin agar tak terlihat sedang gugup setelah kejadian tadi.
"Urusai yo, baka!! うるさいよ、バカ!!" Jawabnya bergeming dengan leluconanku. *Translate, Diamlah, bodoh.
__ADS_1
"Kau tahu, tadinya kupikir aku tak akan sempat menyelamatkan mu." Ucapku yang mengusap pipinya yang memerah karena kesal. "Ga tau kenapa, tapi saat melihat orang-orang di sekitarku dalam bahaya, tubuhku sering bergerak sendiri tanpa di kontrol."
Archie memandangku lekat sambil memegangi tanganku yang sekarang di alihkan menyentuh bibirnya. Dia menciumi telapak tanganku tanpa berkata sepatah kata pun sembari terpejam.
Aahhhh..melihatnya memperlakukan ku seperti ini, sampai sekarang pun entah mengapa jantungku masih sering berdebar-debar tak karuan.
"Jangan bertindak mesum di tempat seperti ini!" Ucapku menggodanya.
"Diem lu bacod." Balasnya namun masih terus melakukan hal itu sampai mengendus aroma telapak tanganku, "lu ga tau, gimana khawatirnya gua saat ini." Ucapnya. "Gua ga tau lagi gimana gua bisa menjalani hidup kalau tiba-tiba lu kenapa-napa lebih dari ini."
"Begitu juga dengan ku." Balasku tanpa memberinya jeda untuk berbicara. "Kau pikir bagaimana perasaanku yang melihatmu dalam bahaya. Aku bahkan sempat berfikir kalau saja kau mati hari ini, mungkin aku tak kan bisa menjalani hari-hari ku dengan baik." Ujarku ngegas dengan air mata yang menggenang di pelupuk mataku. "Kau bahkan tak memikirkan bagaimana perasaanku saat orang-orang jahat itu selalu menargetkan sasaran mereka kepadamu. Aku sangat takut, jika kau meninggalkan ku."
Grreepppp....
"Maaf, maafin gua yang selalu bikin lu khawatir." Ujarnya mengusap lembut punggungku. "Gua beneran gak bisa idup tanpa lu. Gua ga bakalan maafin diri gua sendiri kalau terjadi sesuatu ama lu, gua ga tau harus berbuat apa kalau tiba-tiba lu ga ada di dunia ini." Ucapnya dengan nada suara yang lembut dan berhati-hati. "Jadi gua mohon, meskipun lu punya nyawa 9 lapis sekelas kucing persia atau kucing afganistan, gua minta tolong banget buat sayangin nyawa lu baek-baek. Gua bisa jantungan kalau lu bertindak semaunya kayak tadi." Ujarnya dengan cengeng.
"Aku akan ingat itu!!" Jawabku yang membalas dekapannya sambil mengusapkan wajahku ke dadanya.
"I love you!!" Ujarnya mencium ubun-ubunku.
"I love you too!!" Balas ku yang hampir meledak karena saking senangnya.
"Eehheeekkkkmmm..." Ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan kelakuan kami berdua.
"Ga bisa baca situasi!!"
__ADS_1
"Cari hotel aja sono!!"
"Tuan dan Nyonya harus mementingkan privasi dan perasaan orang lain jika ingin melakukan hal berbahaya seperti ini."
"Cium, cium, cium, cium!!"
"Kapan gua bisa *****-grepein anak orang!!"
Salah kami berdua yang bermesraan di situasi genting seperti ini dan berada di tengah-tengah para jomblo yang sedang sekarat.
*****************
Beberapa menit kemudian, datanglah petugas bebersih kekacauan yang bekerja khusus untuk menyelesaikan situasi di luar kendali seperti tragedi mengerikan seperti hari ini. Mereka bertugas di bawah kendali Hendri yang bekerja sama dengan lembaga sindikat khusus selain aparat pemerintah. Jadi meskipun kekacauannya terbilang di luar kendali, dan di ketahui khalayak ramai seperti kejadian di atas gedung yang telah banyak mendapatkan saksi mata. Masalah ini tak akan merebak keluar, karena mereka akan menghapus rapi apa pun data yang berhubungan dengan tragedi pada hari ini, dengan cara memutar balikan isu, dan mengalihakan media dengan berita-berita yang menarik untuk di beritakan.
2 hari kemudian.
"Kau sudah mendapatkan kabarnya?" Tanyaku penasaran setelah Archie mendapatkan panggilan telpon dari Hendri yang menyelidiki kejadian di hari itu.
Archie menampakan wajah kecut dengan tatapan mata tak fokus.
"Mereka bukan bagian dari antek-anteknya Sabiru!!" Jawab Archie dengan gelisah, "Seseorang membocorkan informasi tentang pertemuan kita di restoran milik keluarga Rio pada hari itu, dan target mereka adalah gua." Jelasnya yang menunjukan sebuah foto dirinya kepadaku yang masih ada noda bekas darah. "Hendri nemuin foto ini di salah satu mayat, mereka semua adalah pembunuh bayaran amatiran yang di sewa seseorang untuk menghabisi gua, ga jelas apa motifnya. Tapi gua malah penasaran ama satu hal." Dia terlihat kebingungan.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Salah satu dari kita semua," Dia cepat-cepat membalikan tubuhnya dan menatapku lekat. "Ada yang berhianat!!"
__ADS_1