
Rio tak mengatakan apa pun selain berdiri dengan tubuh membeku, pikirannya sekarang berada di dunia antah berantah. Air matanya masih menyisakan kesan mengerikan terhadap tindakan Archie. Namun, walaupun dia tak mengatakannya secara langsung, ekspresi lega nya tak bisa membohongi siapa pun yang hadir di ruangan ini, dia telah menerima seberkas harapan yang tak ia sangka-sangka. Meskipun Archie menyadari hal itu, dia tetap masih meminta Rio untuk menyetujui maksudnya.
"Pikirin baik-baik," Ujar Archie yang mengamit tubuhku dalam dekapannya. "Gua tunggu keputusaan lu selama 3 hari." Ucapnya lagi sembari menepuk pundak Rio dan pergi meninggalkan tempat itu.
*****************
Sudah 2 hari berlalu semenjak kejadian itu, tak ada kemajuan beserta kabar apa pun yang menyangkut peristiwa tersebut. Bahkan sampai sekarang, keberadaan Libiru maupun Sabiru masih sangat misterius. Tak ada satu pun petunjuk yang menghubungkan keberadaan mereka. Seolah di telan bumi, mereka tak menyisakan satu pun bukti terkait.
Kecuali Rio dan Tora, mereka berdua merupakan orang yang terlibat secara langsung dengan Sabiru, namun sudah selama ini mereka masih enggan untuk menunjukan batang hidungnya.
Namun yang ku hadapi kali ini hampir sama mengerikannya dengan masalah yang lain. Dalam beberapa hari ini situasi yang ku hadapi di dalam rumah mendadak menjadi canggung.
Aku tak mengerti apa yang terjadi, namun aku benar-benar putus asa menghadapi kedua kakak beradik ini.
Entah mengapa, mereka seperti saling menghindar dan enggan untuk bertemu satu sama lain. Terutama Sakurai, dia terlihat terang-terangan mengabaikan Archie dan menjauhinya seolah telah terjadi sesuatu yang membuatnya gamang.
Seperti kisah makan siang pada hari ini, aku sengaja memasak makanan kesukaan mereka berdua yaitu okonomiyaki. Mungkin saja dengan memasak makanan kesukaan mereka, lambat laut suasana hati mereka akan damai dan memulai langkah penyelesaian masalah antara mereka berdua.
"Bagaimana rasanya?" Tanyaku kepada mereka berdua yang hati-hati mencicipi makananku.
"Enak!" Jawab Sakurai sambil mengunyah lagi makanannya, "Kakak jenius!!" Pujinya dengan senyum polos nan suci.
"Bukan enak, lagi. Ini tuh enak banget!!" Archie langsung menimpali perkataan Sakurai.
Namun setelahnya, tak ada perdebatan receh yang terjadi di antara mereka berdua, dalam sekejab semuanya kembali hening dan menikmati makanan masing-masing. Sampai akhir pun mereka berdua tetap bungkam, bahkan saking heningnya untuk pertama kalinya aku sampai merindukan suara bising mereka.
Apakah di antara mereka sudah terjadi sesuatu yang tidak ku pahami.
"Kalian bertengkar?" Tanyaku.
Archie melirikku di balik kacamatanya dan secara bersamaan membalik halaman korannya.
"Lu lagi ngomongin siapa?" Jawabnya pura-pura tak tahu.
"Sejujurnya aku gak tau harus bilang apa karena selama ini, aku hidup sendiri tanpa saudara." Ucapku, "Tapi yang jelas, kalau aku punya saudara, aku juga pengen bertengkar dengannya dan berbaikan setelahnya." Ujarku yang terang-terangan menyinggungnya.
Archie terlihat tak peduli dan terus membaca berita yang tercantum di lembaran koran harian.
"Aku juga berharap nantinya kita harus punya banyak anak, jadi anak pertama kita gak akan ngerasa kesepian." Ucapku lagi berusaha memancingnya.
Dia tetap terlihat tak peduli, namun anehnya pupil matanya terlihat melebar dan bergetar, telinganya berubah memerah semerah kepiting rebus. Lama kelamaan karena tak tahan, akhirnya dia menghalangi wajahnya sendiri dengan koran, karena saat ini ekspresi wajahnya yang berusaha dia sembunyikan dariku mustahil bisa di kendalikan.
__ADS_1
Setelah aku pura-pura pergi untuk meninggalkan rumah, saat itu juga ku lihat Archie mendatangi kamar Sakurai. Sehingga dengan cepat ku urungkan langkahku dan bersembunyi di balik gorden.
Dor door doorr....
Alih-alih mengetuk, archie malah menggedor pintu kamar Sakurai seperti ibu kost yang sedang gundah.
"Woi bangs*t, lu di dalam kan!!" Pekik Archie yang dengan tak sabar terus menggendor kamar Sakurai. "Keluar gak lu!!"
Ceklek...
Sakurai membuka pintunya dengan hati-hati, namun pintunya terbuka hanya untuk sekedar mengintip.
"Kenapa?" Tanya Sakurai. "Kakak jangan mencari ku, aku benci kau." Balasnya dengan nada marah.
"Ya udah, sono lu mati aja di dalem!!" Archie yang punya harga diri tinggi langsung menutup pintu kamar Sakurai.
Sakurai yang merasa kalau kakaknya itu bukan tipe manusia yg murah hati bisa seenaknya mendatangi orang yang tidak punya kepentingan tanpa sebab. Maka dengan cepat dia membuka lagi pintu kamarnya, "Aku ingin mengatakan sesuatu!!" Ujarnya lagi dengan wajah yang sama bagongnya dengan Archie.
"Ngomong aja b*go!!" Balas Archie seperti biasanya.
"Di kamarku!" Pinta Sakurai.
Karena penasaran akhirnya aku mendekat untuk menguping pembicaraan mereka dan juga mengintip pergerakan mereka dari sela pintu.
"Kenapa kakak mengabaikan ku?" Tanya Sakurai yang terlihat terzholimi.
"Hah, yang bener aja. Bukannya lu yang dulu ngehindar." Jawab Archie.
"Enggak, jelas-jelas kakak yang duluan mengabaikan ku."
"Gua gak ngelakuin apa-apa, jangan opor ekting." Dengan pengucapan seperti teks.
"Gara-gara waktu itu ya?" Ucap Sakurai tertunduk lemas dengan ekspresi bersalah. "Aku yakin, kakak mengabaikan ku karena kejadian waktu itu."
Archie diam saja dan memandangi Sakurai dengan tatapan luas nan hangat, lalu dia bersikap salah tingkah hingga berujung menggaruk kepalanya sendiri.
"Walaupun itu hanya kecelakaan, tapi aku benar-benar shock sampai tak bisa berfikir dengan tenang." Ucap Sakurai setelah lama terdiam.
Archie masih saja diam dan tak menanggapi perkataannya.
"Ta-tapi kak," Pekik Sakurai tiba-tiba. "Walau kakak ipar sampai mengajakku berbuat macam-macam seperti yang terjadi pada malam itu, aku akan tetap hanya mencintai kakak seorang!!"
__ADS_1
DUARrrr......
Bak tersambar geledek, pernyataan apa tadi yang barusan ku dengar.
"What the....hhuummgghh!!" Dengan cepat ku bekap mulutku sendiri.
Ya allah, ya robbi, ya illahi, ya koyum. Demi apa aku harus mendengarkan pembicaraan mustahil seperti ini, namun sebelum pikiran ku semangkin jauh, aku harus mendengarkan pembicaraan ini sampai selesai.
"Apa sih b*ngsat, kalau ada orang lain denger perkataan lu tanpa tau apa-apa, tar mereka ngiranya lu h*mo beg*!!" Ujar Archie.
"Tapi aku benar-benar mengatakan yang sejujurnya. Dari awal, sejak kedatangan kakak ke lapas remaja dan membawaku keluar dari segala penderitan, pada hari itu juga aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengabdikan seluruh hidupku hanya untuk kakak." Jelasnya ber api-api.
"Jijik tau. Lu beneran kayak lagi ngehomo!!" Ledek Archie yang telah mengembalikan semangat membuli Sakurai seperti sedia kala.
"Kakak juga mencintai ku kan, kakak bahkan datang dengan sendirinya ke kamarku karena merasa bersalah." Sakurai mangkin menjadi.
"K*nt*l emang lu, nyesel banget gua datang ke sini gak bawa pentungan!!" Balas Archie murka.
"Kenapa kakak tidak terus terang saja dengan ku, walaupun kata-kata kakak selalu menyakitkan, tapi kakak selalu menganggap orang yang dengan tulus menyayangi kakak apa adanya adalah orang yang paling berharga yang pantas di perjuangkan." Ujar Sakurai, "Oleh karena itu!!" Sakurai menatap Archie dengan pandangan hangat nan tegas. "Itulah alasanku mengapa, aku rela sampai mempertaruhkan nyawaku sendiri demi kakak ipar, karena aku tahu perempuan itu mencintai kakak dengan tulus lebih dari siapa pun bahkan melebihi dirinya sendiri."
DEG.....
Perasaan ini, seharusnya hanya aku yang tau perasaan seperti ini. Namun entah mengapa, perkataan anak itu benar-benar sedang membaca isi hatiku selama ini.
Archie hanya tersenyum menanggapi perkataan Sakurai, lalu duduk untuk mengistirahatkan bokongnya di ujung meja belajar.
"Dari awal, gua ga pernah nyimpan perasaan cemburu ama lu. Gua juga tau kalau malam itu hanya kecelakaan, cuman.." Archie menjeda perkataannya, "Cuman gua takut kalau bini gua malah tertarik ama laki abnormal modelan gak jelas kayak lu."
Gdubraakkk...
Entah mengapa lututku langsung lemas setelah mendengar penuturan dari Archie. Jadi selama ini, alasan dia mendiamkan Sakurai sampai membuat mereka menjadi salah paham, karena mengira suatu saat aku akan menghianatinya dan berpaling dengan Sakurai si mangaka hentai.
No, no, no, no. Di pikir 100 atau 1000 tahun pun, aku harus mengkaji ulang seleraku jika menyukai lelaki yang menyimpan hobi menggambar perempuan telanj*ng.
"Kakak tenang saja!!" Ucap Sakurai, "Kakak ipar tak kan pernah tertarik kepadaku, karena.." Dia mencodongkan tubuhnya agar bisa mendekat ke Archie. "Aku hanya mencintai kakak seorang!!"
Archie langsung bangkit dari tempatnya dan menyerang sakurai dengan pukulan ringan bertubi-tubi.
"B*ngs*t, emang dasar anak k*nt*l durhaka, sejak kapan gua melihara b*bi h*mo modelan kayak lu!!"
...Novel ini banyak mengandung slang bad word dalam mengisi karakter utama pria. jadi buat pembaca yang merasa terganggu dengan hal itu, author hanya ingin berpesan "Biasakanlah". ngeheee......
__ADS_1