Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Yang Terlihat


__ADS_3

"Bisa mati aku!!" Gumamku menghentakan jidatku sendiri secara berkala di atas meja makan kantin.


Bagaimana bisa aku memikirkan kelanjutan manga hentai itu sampai-sampai salah menuliskan namaku sendiri. Agghhhh...malunya, kenapa Dafa tidak berpura-pura saja tidak tahu apa-apa.


Jdug, jdug, jdug...


Aku terus menghentakan jidatku ke meja kantin.


"Setres lu ahh!!" Ucap laila yang mulai risih dengan pemandangan ini.


"Aku tuh malu banget." Kataku sambil menempelkan wajahku sendiri di tepi meja. "Abis ini, pasti Dafa bakalan ngaggap aku mesum."


"Yang tau kan cuman Dafa doang, lagian lu bisa-bisanya kepikiran ampe ga ingat ama nama sendiri, atau jangan-jangan.."Laila mendekat di sisiku. "Lu menghayati kalau cewe yang ada di manga itu lu."


"Wwwrraaaggghhhh....!!" Aku kesurupan dan langsung meneriaki Laila karena terbayang adegan terakhir halaman ke sembilan. "Baaaakaaa...!!" Sambil menyentil kening laila.


"Duhh, gua ga nyangka lu semesum ini." Balasnya sambil mengusap jidat.


"Ngaca woi, kau bahkan punya ribuan koleksi film nganuan."


"Awowkwowokwok, iri tanda tak mampu!!" Balasnya terkekeh.


"Kayaknya aku harus bersemedi untuk waktu yang lama, agar kejadian seperti ini gak akan terulang lagi."


"Ngawur lu, mesum itu ga bakalan bisa di pisahkan dari hidup. Gimana mau berkembang biak kalau ga ng*ceng." Dia bicara seolah di sini hanya ada kami berdua.


"Pacaran sana!!" Ucapku yang lagi-lagi menyatukan kepalaku dengan meja.


"Ehh, gua ke toilet bentar!!" Tapi aku tak mendengarnya.


"Jangan cuman bayangin doang, sekali-kali simulasiin di dunia nyata." Ucapku yang bicara sendiri.


Jdug, jdug, jdug...


"Malu banget, aku ga mau ketemu Sakurai!!" Ucapku, "Aku gak mau dia menganggapku mesum." Sambil terus menghentakan jidatku ke atas meja.


Set...

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah telapak tangan menghadang kepalaku dan memisahkannya dari meja.


"Ngapain!!" Ujarnya.


Suara ini. Sontak aku mengangkat kepalaku dan menatap lekat seseorang yang duduk di sebelahku.


"Otak lu ga konslet kan gara-gara kebanyakan mikir!" Ucap Libiru dengan tatapan penuh kehangatan.


Ku putar tubuhku dan melihat ke kanan kiri secara leluasa, sejauh ini tak ada gerakan atau orang-orang mencurigakan yang akan berbuat semaunya seperti yang terjadi di apartemenku.


"Gak usah khawatir, gua udah minta izin kok ama Archie!!" Ujarnya menghentikanku yang gelisah kesana kemari. "Lagian ini kan di kampus, orangnya juga rame jadi ga bakalan ada masalah." Dia menenangkan ku.


Aku berusaha mengontrol diri dan mendengarkan perkataannya. Sembari terdiam ku tatapi dirinya yang tak berubah sedikitpun. Dari penampilannya, gaya bicaranya, beserta sifatnya masih sama seperti dulu. Kini aku benar-benar yakin kalau yang ada di hadapanku adalah Libiru yang ku kenal.


"Kenapa kau muncul tiba-tiba seperti ini?" Tanyaku bingung.


Libiru menaggapi pertanyaanku dengan tertawa geli. "Kenapa lu bilang!! Kan gua kuliah di sini anjay. Emangnya gua ga boleh gitu ada disini lantaran beberapa hari aja ga keliatan." Dia masih bicara seperti tak terjadi apa-apa dengan gaya khas ngondeknya.


"Bir..!!" Panggilku sambil memegang bahunya, "Aku serius."


"Kamu gak apa-apa kan?" Tanyaku lagi.


Dia menghela napas panjang dan bersandar di sandaran kursi kantin. "Gua, ga baik-baik aja Nya!!" Dia terlihat frustasi dan menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. "Gua beneran hampir gila."


"Bir..!!" Aku memegang lagi lengannya yang kurus dan juga lemah.


"Gua udah berusaha sebisa mungkin untuk mencegah semua ini agar ga pernah terjadi, gua udah usahain segalanya yang gua bisa." Gumamnya yang semakin menjadi tanpa membuka telapak tangannya yang masih menutupi wajahnya. "Tapi gua malah bikin semuanya tambah parah." Dia terus mengoceh tentang sesuatu yang tak ku mengerti.


"Biru, tenang lah..."


"Gua beneran ga tau lagi harus berbuat apa!!" Dia terus saja mengoceh.


"Bir?" Aku terus memanggil namanya.


"Semua ini salah gua. Gua bener-benar ga tau harus ngapain!"


"Kamu ngomong apa sih, tentu saja kamu gak salah apa-apa?"

__ADS_1


"TENTU AJA INI SALAH GUA!! LU GA BAKALAN NGERTI."


Tiba-tiba Libiru meneriakiku dengan wajah marah yang meledak-ledak, seakan-akan dia sedang melepaskan bom atom yang sedang terpendam di dalam dirinya. Sontak seisi kantin yang di huni oleh banyak anak-anak yang sedang menikmati makan siang langsung melihat ke arah kami berdua dengan tatapan heran.


Libiru menyadari tindakannya dan langsung merundukan tatapannya karena telah berbuat sesuatu yang menarik perhatian. Dengan wajah merah padam dia tertunduk lesu dengan tangan mengepal sembari menggertakkan gigi-giginya.


Sebenarnya apa yang telah terjadi dengannya, kenapa dia bersikap aneh seolah-olah telah mengalami sesuatu yang tak ku pahami.


Berlahan ku ulurkan tanganku untuk menenangkannya, tapi dia terlihat mengalihkan tatapannya dan terang-terangan menghindari sentuhan tanganku.


"Maafin gua!!" Ucapnya dengan nada serak yang hampir tak terdengar. "Gua ga bermaksud kayak gitu." Dia membahas tentang tindakannya yang membentakku.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku dengan iba. "Kenapa selama ini kau terus menyembunyikan sesuatu dari ku dan juga anak-anak. Bahkan setelah kehadiran Sabiru, kau bahkan tak mengatakan apapun kepadaku saat dia berperan sebagai kau." Aku membalasnya dengan rentetan pertanyaan.


"Lu ga bakalan ngerti!!" Jawabnya, "Gua gak tau harus jelasin dari mana, tapi yang pasti," Dia diam sejenak sembari menarik napas. "Lu harus tau, kalau selama ini gua ga bener-bener pengen temenan ama lu."


Aku tercengang dengan tubuh membeku saat mendengar penuturannya. "A-apa yang kau katakan?" Tanyaku, "Apa, apa maksudmu?"


"Gua," Dia seperti tak sanggup melanjutkan perkataannya dengan ekspresi kalut. "Yah seperti yang tadi gua bilang, gua ga berniat beneran temanan ama lu. Selama ini semuanya palsu, gua sengaja deketin lu karena suatu alasan."


DEG...


"Apa yang kau katakan?" Ujarku sedikit meninggikan suaraku. "Apa maksud perkataanmu ini?"


"Anya!! Hubungan pertemanan kita ga seperti yang lu duga, dari awal gua sengaja deketin lu cuman buat manfaatin lu doang." Ucapnya dengan nada bergetar.


"Hah?" Aku tak percaya.


"Maafin gua Nya, sebenarnya gua dalang dari kejadian yang menimpa kalian tempo hari." Ucapnya. "Gua yang ngelakuin semuanya, gua yang udah ngenjebak lu."


Kepalaku serasa terpukul kayu saat mendengarkan pengakuan langsung darinya. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar bernapas pun rasanya berat.


"Kau bohongkan!!" Ujarku dengan menyedihkan. "Katakan kalau kau berbohong."


"Di gudang!!" Ucapnya tertunduk. "Lu pikir pintu gudang bisa ketutup sendiri karena angin."


Aku tercengang menatapnya. "Maksudmu, kau?"

__ADS_1


__ADS_2