Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Yuaga Sakurai


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir 1 tahun kami berdua menjalani pernikahan ini.


Sudah banyak yang terjadi di antara kami, salah satunya adalah saling percaya dengan menyerahkan diri kami masing-masing, namun tak dapat di pungkiri jika kami berdua belum terlalu terbuka, terutama mengenai kerahasiaan, terlebih Archie yang menyembunyikan keberadaan Sakurai padaku.


"Auuucchhh...!!" Pekikku yang tanpa sengaja malah menyentuh teko yang berisi air panas dengan ujung jariku. "Sial!" Runtukku sembari mengangkat telunjukku dan segera berjalan mendekat ke kulkas untuk mencari air dingin.


Kenapa aku merasa Sakurai itu aneh. Kenapa Archie juga tak mengatakan apa pun padaku tentang kedatangan adiknya. Apakah Archie sengaja menyembunyikannya atau memang belum waktunya aku tahu akan keberadaanya, atau mungkin saja Archie tak mengganggap penting hal ini. Akan tetapi, tetap saja Sakurai adalah keluarganya, keluargaku juga.


"Aaaaaghhh...!!" Pekikku yang langsung terlonjak di saat mendapati sesuatu yang lembab menyentuh tengkukku.


"Lah, kaget!!" Respon Archie dan melanjutkan menciumi tengkukku sembari melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. "Makan malam kita apaan?" Tanyanya beralih menciumi rambutku.


"Steak daging." Jawabku singkat dengan nada parau.


Berlahan Archie melepaskan pelukannya pada tubuhku dan berjalan ke meja makan tanpa berkata sepatah kata pun.


Sepanjang kesibukanku mempersiapkan makan malam. Disaat itu juga Archie mengawasi gerak gerikku tanpa berkedip, dengan bersilang kaki dan tangan menopang dagunya.


Karena sudah lama menikah dan hidup bersama, seperti kataku kami berdua sudah memahami diri kami masing-masing. Dia pun tau kalau aku sedang memikirkan sesuatu.


"Duit bulanan lu udah abis?" Tanya Archie sambil memakan makanan yang sudah ku hidangkan.


"Aku punya 15 black card yang kau berikan, jadi gak mungkin aku kekurangan uang." Jawabku mengernyitkan kening atas pertanyaannya.


"Tugas kuliah lu lagi banyak?" Tanyanya lagi.


"Gak terlalu sih!" Jawabku singkat.


"Pencernaan lu lagi gak lancar?" Tanyanya lagi mangkin menjadi.


"Hah?" Ucapku kebingungan.


"Boker lu keras ya?"


"Archie! Kita lagi makan." Pekikku yang tak mengerti jalan pikirannya yang menanyakan hal itu di saat seperti ini.

__ADS_1


"Lah abis, lu dari tadi diem mulu. Muka lu kusut kayak Hendri yang katanya susah BAB." Jawabnya membela diri.


"Yah pokoknya aku gada gangguan pencernaan!!"


"Mending minum aer putih yang banyak, makan sayuran yang kaya serat, jan setres, jan begadang. Kalau ngedan ampasnya gak mau keluar jangan di paksain tar kerannya jebol, terus sakit keluar darah, terus..."


"Archie....!!!" Teriakku memotong celotehannya. "Udah!!" Ucapku yang sudah tak tahan lagi.


Archie memandangiku yang tak mampu lagi melanjutkan makan malam ini dengan wajah menekuk memandangi siluet tubuhnya dengan perasaan kesal.


"Lu kalau ada yang pengen di omongin ke gua, ngomong aja!" Ujarnya meletakkan garpu beserta pisaunya di pinggir piring. "Gua ga bakalan peka kalau di diemin." Sambungnya sembari berjalan mendekat kearahku dan duduk di samping ku.


Aku hanya diam dan tak berani mengatakan apapun. Sembari menatapnya, rasa kecewaku terlalu dangkal sampai tak mampu menanyakannya.


"Sakurai?" Ujarnya menatapku balik. "Lu pengen gua ngomongin tentang dia kan."


Aku mengangguk pelan mengiyakan, tak ada alasan bagiku untuk merasa tertekan atas pertanyaan ini, namun tetap saja meminta Archie mengatakan sesuatu yang dia rahasiakan, membuatku merasa tak nyaman.


"Seperti yang udah gua sebutin waktu ngenalin dia pertama kali. Yuaga Sakurai adalah anak haramnya keluarga gua. Dia adalah anak hasil perselingkuhan bokap gua bareng cewek lain. Namanya sebelum masuk ke keluarga gua adalah Suzuran Sakurai, dia adalah anak dari seorang wanita bernama Suzuran Uraka." Archie berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataanya. "Suzuran adalah orang kepercayaan keluarga Yuaga selama bertahun-tahun dan merupakan orang yang bebas keluar masuk dari kediaman keluarga gua. Dia itu guru les private gua, cuman yah gua gak nyangka aja, bokap gua yang terkenal dengan kewibawaan dan keromantisannya dalam lingkup keluarga kerajaan, malah kepinjut buat ngelakuin hal kayak gitu, yang pastinya kalau kabar ini kesebar bakalan bikin malu kerabat mommy gua seantero." Jelasnya dengan ekspresi santainya.


"Alasan kamu gak ngasih tau aku keberadaan Sakurai karena kamu takut aku bakalan nyebarin ini ke orang lain?" Tanyaku.


"Terus, apa alasannya kamu gak ngasih tau aku dari awal." Cecarku tidak sabaran.


"Itu karena...,gua gak mau kalau.."


"Ting tong, ting tong, ting tong, ting tong, ting tong!!"


Suara bel yang di pencet secara terus-terusan dengan tempo yang lumayan cepat oleh seseorang yang terlihat mengalami gangguan jiwa menghentikan pembicaraan kami berdua.


"Hhhaaagghhh...!!" Desah Archie pelan dengan ekspresi kalut sembari menekuk wajahnya. Seakan dia sudah tahu secara langsung, siapa orang yang berada di balik pintu itu.


"Tunggu sebentar!" Ujarku beranjak membukakan pintu.


"Cekleek..."

__ADS_1


Terlihatlah Hendri dan Sakurai berada di balik pintu, namun yang membuatku tak bisa berkata-kata adalah banyaknya tumpukan koper yang berjajar rapi di sekitar mereka.


"Selamat malam Nyonya, maaf mengganggu waktu istirahat anda." Ucap Hendri seperti biasa.


"Kakak ipar!!" Pekik Sakurai dan langsung menyambar kedua tanganku. "Apa kau merindukan ku?" Tanyanya dengan ekspresi yang menggemaskan dan juga mengesalkan dengan umurnya yang segitu.


"I-iya..!!" Jawabku terpaksa.


"Hontoni,本当に."Ucapnya bersemangat sembari loncat-loncat. *Translate; Beneran."Kakak ipar tenang saja, mulai sekarang aku akan tinggal disini bersama kalian berdua." Sambungnya girang.


Apa dia bilang, tinggal disini.


Maksudnya, dia akan tinggal bersama kami berdua, di rumah ini.


Jikalau di tanya siap atau tidaknya menerima kehadiran seorang adik ipar secara mendadak tinggal serumah di waktu yang bersamaan. Jawabannya pasti, aku benar-benar tidak siap untuk situasi seperti ini.


Itu karena suatu alasan, yah alasan itu adalah..


"Wait?" Ucap Sakurai sembari menatapku dan Archie dalam satu frame penglihatannya. "kalian. Hahahahaha...kalian belum tidur sekamar." Ledek Sakurai hampir terlentang saking lucunya keadaan yang menimpa kami berdua.


Sial, sudah terlambat.


Inilah alasanku tidak siap menerima Sakurai dalam wilayahku.


*************


"Hari ini, lu balik jam berapa?" Tanya Archie di dalam chat.


"Aku hari ini pulang agak malam." Balasku.


"Gak ada alesan pulang telat. Ingat, malam ini kita udah sekamar🤤" Balasnya lagi.


Aku sontak terkekeh lepas, dan melupakan diriku yang berada di kelas sedang mengikuti perkuliahan, dengan cepat aku langsung membekap mulutku sendiri dan bersembunyi di balik tubuh orang yang duduk di hadapanku.


"Aku menantikan malam ini🥰" Balasku sambil tersenyum girang.

__ADS_1


Meskipun sudah hampir satu tahun menikah, kami melupakan sesuatu yang menjadi keharusan. Yaitu tidur sekamar, dengan barang-barang Archie dan juga barangku berada dalam satu ruangan, merasakan atmosfer berbeda terbangun di pagi hari, dan juga berbagi kehangatan yang sama.


Archie dan aku sama-sama sibuk, sehingga tak terpikirkan oleh kami berdua untuk memakai kamar utama. Seolah sudah menjadi kebiasaan, kami akan saling mengunjungi kamar masing-masing jika sedang membutuhkan kehangatan.


__ADS_2