Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Escape Part 7


__ADS_3

Mereka mengikatkan tali perca itu ke punggungku dengan ikatan yang mirip seperti bungee jumping kemudian menyekanya dengan spanduk partai agar bahuku tidak sakit saat talinya menegang. Mereka juga membuatkan ku sarung tangan yang terbuat dari baju rajut bekas, menjahitnya menggunakan jarum goni, lalu menyatukannya menjadi satu dan jadilah sarung tangan anti lecet yang dapat melindungi ku dari gesekan permukaan dinding saat sedang merayap.


Dan yang paling hebat dari ciptaan mereka adalah, topeng spidermen mainan anak-anak yang terpaksa ku kenakan agar identitasku terlindungi.


Yang benar saja, aku ini ingin pergi menyelinap atau ingin bercostplay menjadi orang aneh. Sekilas aku mirip orang-orangan sawah, tapi juga mirip spidermen yang beralih profesi menjadi pemulung.


Sialan, rasanya aku ingin menghamburkan rongsokan ini dari tubuhku, namun saat melihat ketulusan hati mereka yang memperdulikan keselamatanku, aku pun pasrah dan membiarkan mereka berbuat sesuka hati mereka.


Tapi harus ku akui, mereka berempat memang sangat kompak dan ahli dalam merakit barang yang tak berguna menjadi sebuah mahakarya.


Bahkan kalau saja tak ku cegah, mereka ingin membuatkan ku sayap dari bekas payung dan tudung saji agar suatu saat jika para anak buah itu tanpa sengaja melihatku, mereka akan berlari terbirit-birit karena mengira aku adalah jelmaan siluman penunggu tempat ini. Ku pastikan siapa pun yang melihat tampilanku bakalan lari, apalagi di bawah siraman bulan purnama. Membayangkannya saja aku tak sanggup, apalagi kalau harus memakai nya.


Sreeett....


Dengan hati-hati mereka berempat menurunkan tali perca ke bawah, dan seiring dengan uluran tangan mereka, maka tubuhku jatuh menyusuri dinding dingin nan licin itu.


Sepintas terdapat perasaan takut jikalau talinya akan terputus karena rapuh, kemudian aku terjerembab ke bawah sana dalam keadaan yang pasti mengenaskan.


Aku sedang berada di lantai 4, dengan ketinggian setiap satu lantai gedung kira-kira berjarak 5 meter dan ketinggian atap masing-masing berjarak 2 meter. Berarti dapat di pastikan, aku akan berdebam dari ketinggian 22 meter langsung menuju permukaan tanah.

__ADS_1


Berlahan tapi pasti, aku menggeser langkahku menuruni dinding terjal dan sesekali melihat sekelilingku kalau ada anak buahnya yang sedang berjaga-jaga.


Dari sini aku bisa melihat jendela yang berada di lantai 3 yang bersebelahan dengan ruangan yang ada di bawah kami, mungkinkah teman-temanku yang lain termasuk Archie ada di sana.


Namun tanpa di duga-duga sebelumnya, keluarlah seseorang dari dalam bangunan dan berjalan santai di bawahku.


Sontak aku terperinggat, dan menghentikan pergerakanku. Akan tetapi, karena anak-anak yang berada di atas tak melihat keadaan yang ada dibawah, mereka terus mengulur tali sampai pada batas yang di tentukan.


Gawat, bagaimana ini, bisa saja aku langsung ketahuan tanpa menemui Archie terlebih dahulu.


Grreaakkkk....


Anak-anak yang menyadari ada sesuatu yang tak beres, mengutus Arya untuk melihat ke luar jendela. Saat dia melihat kalau ada seorang penjaga di bawah sana, dia langsung menginstruksikan kepada anak-anak lainnya agar berhenti mengulur tali.


Aku terpuruk dalam posisi menekuk untuk mengacuhkan perhatiannya agar tak terlihat siluet manusia, harusnya tadi aku setuju saja pas anak-anak ingin memakaikan ku sayap. Dengan begitu, aku tak perlu repot-repot takut ketahuan.


Orang itu sama sekali tak menyadari kehadiranku. Dia melihat ke sana kemari tanpa mengangkat kepala nya ke atas.


Tiba-tiba dia berjalan ke arah dinding bangunan yang berada tepat di bawahku. Lalu tanpa di duga-duga, dia membuka resleting celananya dan mengeluarkan sarang **** nya.

__ADS_1


Aku spontan menutup mataku rapat-rapat. Karena jika di daerah asalku, pantangan jika melihat barang kepunyaan orang lain tanpa izin apalagi bukan muhrim, kalau melanggarnya bisa-bisa orang itu akan bernasib sial sepanjang hidupnya.


Dia mengencingi bangunan tak bersalah itu seperti tak ada tempat lain untuk kencing. Bahkan dia tak tahu kalau ada aku di atasnya.


Setelah dia selesai buang air sembarangan, dia pun langsung pergi begitu saja tanpa menyadari sesuatu.


Arya memegangi dadanya sendiri karena telah berhasil terbebas dari maut, lalu memberikan isyarat kepadaku agar terus melanjutkan misi ini sampai tubuhku sejajar dengan jendela yang ada di sana.


"Ok, aku siap!!" Gumamku sambil memberikan sinyal kepada Arya.


Lalu secara bersamaan, mereka menahan tubuhku yang berayun menyusuri dinding terjal menggunakan kuda-kuda kakiku untuk mencapai jendela yang berada sedikit jauh dari jangkauan.


Aku mencoba beberapa kali, namun selalu gagal karena kondisi tempat yang gelap di sisi kanan dan licinnya tempat pijakan. Namun setelah mencoba untuk yang ke sekian kali. Akhirnya usaha kami semua membuahkan hasil.


Aku berhasil memegangi ceruk jendela, dan tanpa ragu menggunakan kesempatan itu untuk mengangkat tubuhku sendiri masuk ke dalam ruangan.


Anak-anak di atas senang bukan main, bahkan mereka melompat kegirangan karena usaha mereka membuahkan hasil yang manis.


Dan sekarang tinggal giliran ku. Semuanya tergantung padaku.

__ADS_1


__ADS_2