Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Flashback (Ospek)


__ADS_3

Dua tahun yang lalu.


"Ha-halo!" Sapa ku sambil membenarkan letak topi kerucut dan papan nama yang sedang aku kenakan. "Perkenalkan. Nama saya Anya Arelista, Umur 17 tahun, Hobi menggambar, Motivasi ku masuk ke kampus ini adalah ingin membanggakan kedua orang tua!"


"Motivasi apaan itu dek?" Pekik kakak senior yang mengawasi jalannya perkenalan diri kami ini.


"Motivasi bocah itu mah, lu kan udah lewat masa nya perbocahan, coba punya motivasi lain selain ingin membanggakan kedua orang tua!" sahut senior yang lain.


"Ingin menjadi orang yang berguna!" Jawabku yang gugup di tatap oleh orang-orang seantero.


"Emang sekarang idup lu gak guna?" Tawa mereka semua yang mengejek perkenalanku yang tak tentu arah.


"ingin, ingin?"


Semua orang tak hentinya tertawa, perkenalan diri ku yang aneh merupakan ladang tawa bagi mereka yang mengaggap ku lucu. Sehingga tak ada yang terpikirkan oleh kepalaku selain kata-kata tersebut.


"Udah-udah!" Ujar kakak senior yang lain sambil merangkul ku menuju belakang tempat duduk.


"Ok, perkenalan selanjutnya!"


"Gabairi Libiru!" Gumam ku melihat nama yang tertera di almamaternya.


Sontak dia langsung melihat kearah ku dan tersenyum hangat, dengan cepat ku alihkan pandanganku melihat ke depan.


"Panggil gua libiru aja!" Ujar nya yang menarik kursi di sebelahnya dan duduk di sebelahku, kemudian menjulurkan tangannya.


"Anya Kak!" Balas ku sambil menyambut tangannya.


"Gak usah pake Kaka. Gua emang senior lu, tapi gua benci hubungan yang berbatas berdasarkan usia, panggil Libiru aja ya, gua maksa ni!" Jawabnya dengan terus menampakan senyuman hangatnya.


Aku membalas nya dengan anggukan kecil sambil melirik senyumnya yang terlihat sangat bersahabat.


Brraakk...


Tiba-tiba datanglah senior lainnya masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Senior tersebut berparas bule, dan barwajah tampan layaknya aktor film tetanic!


Seisi ruangan membeku saat dia masuk tanpa permisi dan celingak-celinguk mencari sesuatu.


Kemudian dia berdiri di tengah-tengah sambil berkaca pinggang dan menatap seluruh anak baru yang tercengang karena kehadirannya.


"Yang namanya Anya Arelista bediri?" Pekiknya dengan suara lantang.


DEG...


Kenapa dia mencari ku?


Apa aku baru saja melakukan kesalahan sehingga nama ku di sebut di tengah keramaian.


Libiru menatapku sambil menepuk punggung ku, lalu dia mengisyaratkan kepada ku untuk menjawab panggilan kakek senior berwajah bule tersebut.


"Sa-saya Kak!!" Jawabku gugup sambil mengacungkan tangan.


Kakak tersebut lalu mendekat kearah ku dengan pandangan tak menyenangkan.

__ADS_1


"Bediri lu!" Perintahnya dengan nada yang sedikit menghardik.


Aku langsung berdiri dan beranjak dari tempat ku.


Seketika suasana di aula ini benar-benar hening, mereka seperti sedang melihat tontonan menarik yang pantas untuk di abadikan di tahun ajaran baru ini.


Kakak itu menatap sekitar dan menyadari kalau semua orang sedang menunggu ku untuk di permalukan, dia menatapku dengan pandangan yang tak pernah ku lihat di mata orang lain, yaitu pandangan iba sekaligus membunuh.


"Ikut gua!"


Aku langsung mengikuti nya dari belakang dan menghindari tatapan anak-anak seangkatanku serta kakak senior yang mengikuti pergerakan kami sampai keluar dari ruangan tersebut.


Di sebuah koridor yang cukup sepi, dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku yang sedari tadi mengikutinya dari belakang.


"Kenapa Kak!" Tanyaku yang mulai risih dengan pandangan matanya yang membuat bulu kuduk ku berdiri.


"Lu ingat sesuatu gak!" Tanyanya sambil mengeluarkan rokok dan menghisapnya di hadapanku.


"Ingat!" Gumam ku bingung sambil memikirkan sesuatu yang tak bisa ku tebak dari pertanyaannya.


Dia menebarkan asap rokok memenuhi wajahnya dan terus menatapku.


"Lu kenal ama gua gak!" Tanya nya lagi sebelum aku berhasil menjawab pertanyaan pertamanya.


Pandangan ku teralihkan pada nama yang tertulis di almamater nya, Yuaga Archie.


"Gak kak. Aku baru pertama kali ketemu bule!" Jawabku sejelas-jelas nya.


Dia menghisap rokoknya setengah tertawa mendengar perkataanku, lalu dilanjutkan dengan senyum menyeringai yang terlihat seperti rubah licik.


Dia membuang puntung rokok terakhirnya dan mendekat ke arahku, dengan sendiri nya tubuhku merespon pergerakannya, sampai akhirnya punggungku menyentuh dinding.


Paakk...


Dia mendaratkan telapak tangannya menyentuh dinding yang berada di atas kepalaku.


Tiba-tiba dia merunduk dan mensejajarkan wajahnya padaku, sehingga hembusan napas nya yang berbau asap rokok yang memuakan memenuhi penciumanku.


"Ternyata kita udah segede ini!" Gumamnya menyeringai.


"Ka-kakak ngapain se-sedekat ini!" Ujar ku dengan suara bergetar.


"Menurut lu!"


Aku tak menjawabnya, dan mengerjapkan kedua mataku seiring dengan hembusan napasnya yang membuat ku muak.


Dia berdiri tegak kembali dan menghidupkan rokok yang dia keluarkan dari balik almamater nya.


"Gua cuman mau ngingetin!" Ujar nya sambil menghembuskan asap rokoknya, dan menatap ku yang mengibas-ngibas asap yang dia keluarkan.


"Kalau gua.." Ucapnya sambil memegang tangan yang ku gunakan untuk mengibas asap rokok yang dia keluarkan.


Mata kami berdua pun saling bertautan.


"Gak bakalan segan-segan bikin

__ADS_1


hidup lu menderita!" Sambung nya dengan pupil mata yang terlihat bergetar.


Bak dua buah magnet dengan kutub kubu yang sama. Bertolak, melempem, mantul, begitulah bayangan yang ada di kepalaku saat mendengar orang ini tiba-tiba berbicara seperti itu.


"Ma-maksud nya apa Kak?"


Dia tak menjawab pertanyaanku dan semakin erat memegangi pergelangan tangan ku.


Kemudian dengan berlahan kepalanya mendekat lagi ke sisi kanan tubuhku, lalu menyusupkan bibirnya mendekat ke arah telinga ku.


"Gua benci lu!" Bisiknya.


DEG...


Tubuhku langsung membeku saat dia membisikan sesuatu dengan perkataan yang kejam.


Apa yang barusan dia katakan.


Kenapa dia mengatakan kalau dia membenciku padahal kami baru saja bertemu beberapa menit yang lalu.


Aku mendengus dengan nafas kasar saat dia mengangkat kepalanya kembali dan melepaskan tangan ku.


Matanya melirikku dengan sorot mata kedengkian, sebelum berbalik dan kemudian pergi dari hadapanku.


Tubuhku masih membeku di dinding bangunan berusaha memahami apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.


Kenapa dia berbicara seperti itu padaku?


Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tiba-tiba berucap membenciku seolah aku pernah berbuat salah!


"Anya!" Panggil seseorang yang mengeluarkan ku dari zona tebak-tebakkan.


Libiru mendekat kepadaku sambil mencari-cari sesuatu di sekeliling ku."Lu gak apa-apa kan?" Tanyanya dan terus memandangi sekitar.


"Gak apa-apa kok!" Jawabku menata kembali perasaanku yang sempat gempar seketika.


"Cowok bule tadi namanya Archie!" Ujar Libiru membahasnya padaku."Dia dari jurusan film, dan emang sifatnya terkenal gak banget!"


Aku hanya menunduk dengan diam saat Libiru menjelaskan tentang kakak yang tadi.


"Lu, gak di apa-apain sama dia kan!" Tanya Libiru.


"Enggak. Gak di apa-apain!!." Jawabku berbohong.


"Nanya apa?"


"Aku...Gak bisa ngasih tau." Jawabku terus menundukan tatapan ku.


"Ya udah, kalau nanti dia macem-macemin lu, kasih tau gua aja. Meskipun gua ini ga bisa berbuat banyak, tapi gua masih mampu kok bantuin lu kalau ada masalah!!" Ujar nya dengan nada ngondek.


Aku hanya meresponnya dengan anggukan dan tersenyum kecil!


Mendapat dukungan dari salah satu senior di kampus ini sedikit mengurangi ke khawatiran ku, meskipun hal itu tak berlangsung lama.


Karena Kakak senior yang bernama Archie tersebut terus memburu ku.

__ADS_1


Dia tak berhenti hanya sekedar menangkap ku di dalam cakarnya.Tapi juga menguliti dan mengoyakku sampai seluruh tulang dan daging ku terlepas.


__ADS_2