Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Dalam Harapan


__ADS_3

"Nyonya, silahkan masuk!!" Hendri menggiringku masuk ke kantor polisi.


Sakurai sudah menungguku di dalam bersama ke-14 pelaku yang berusaha membakarku di dalam rumah kosong.


Saat melihat kedatanganku, mereka semua langsung menundukan tatapannya seolah sedang menyanyikan lagu mengheningkan cipta karya Truno Prawit .


Wajah mereka putih pucat seperti vampire karena melawan getir, mata mereka menghitam seperti pecandu opium karena melawan ketidakwarasan, bahkan sebagian dari mereka mungkin mengalami penurun berat badan karena tidak nafsu makan setelah mengetahui kalau aku masih hidup.


Kesialan mereka pun terus berlanjut setelah mengetahui fakta kalau aku adalah menantu dari Keluarga Yuaga. Nasib mereka Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Seperti mengusik seekor singa yang sedang lapar, mereka melakukan sesuatu yang tak seharusnya di lakukan. Mereka berbuat sesuatu yang tak seharusnya di lakukan oleh orang waras sekalipun.


"Nyonya, apa benar mereka semua adalah pelakunya?" Tanyak pak polisi.


Aku mengangguk.


Tubuh mereka bergemijik seperti terkena setrum. Pak polisi lalu mengangguk kepada rekan-rekannya dan langsung menggiring mereka ke balik jeruji.


Aku menatap mereka semua satu persatu, Dan menemukan kalau pacarnya Dimas tidak ada di antara mereka.


"Sebentar!!" Ucapku menghentikan mereka. "Dimana yang satu lagi?"


Mereka semua terdiam dan kembali menundukan kepala seolah leher nya patah, tatapan getir mereka seolah menandakan ketidakberesan dari pertanyaanku barusan.


Hendri berbisik di dekatku untuk membicarakan sesuatu yang penting. Lalu menggiringku ke ruangan lain dan mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang.


"Dia terjatuh ke sebuah jurang yang dalam saat para petugas melakukan pengejaran!!" Jelas Hendri, "dan sekarang wanita itu sedang di rawat di rumah sakit!!"


Aku membekap mulutku sendiri karena kaget.


"Kondisinya memprihatinkan Nyonya!!" Lanjut Hendri.


"Memprihatinkan?"


"Dokter bilang kakinya patah, dan terjadi dislokasi yang parah di bagian panggul hingga harus di operasi. Wajahnya rusak karena menghantam benda kerasa sampai tak bisa di kenali. Dalam kondisi memprihatinkan seperti itu, ajaibnya dia berhasil bertahan hidup dan selamat dari masa kritis. Sekarang wanita itu sedang di rawat di ruangan rawat inap dan menjadi tahanan rumah." Jelasnya.


"Sampai separah itu!!" Aku bergidik.


"Dan lagi sepertinya dia tak kan lagi bisa melihat dengan normal karena sebelah matanya telah hancur!!"

__ADS_1


"Apa?" Aku kaget.


"Dengan kondisi nya yang sekarang, Tuan setuju untuk tak memaksakannya masuk ke dalam sel tahanan sampai seluruh kondisinya terpulihkan. Bahkan Tuan lah yang membiayai seluruh pengobatan wanita itu sampai dia benar-benar dinyatakan sembuh dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya!!" Jelas Hendri lagi.


Seperti dugaanku. Archie tak kan melepaskan siapa saja yang berhubungan dengan perkara ini begitu saja, bahkan ke neraka sekalipun. Dia akan membalas perbuatan mereka sekecil apapun dengan hukuman yang adil.


Sesuai ketentuan hukum, mereka di pidana atas pelaku penganiayaan beserta pembunuhan berencana dengan hukuman maksimal 17 tahun penjara dan denda paling sedikit 12 juta. Hukuman mereka bahkan seharusnya bertambah berat karena sedang berada di dalam masa percobaan setelah melakukan aksi perundungan.


Dan tentu saja seperti yang sudah-sudah, sang provokator nya selalu saja mengalami nasib paling sial.


"Hendri. Apakah aku bisa menemuinya?" Tanyaku.


"Saya tidak menyarankan hal itu Nyonya!" Jawab Hendri, "bukannya saya tidak mau menuruti kemauan Nyonya, hanya saja hal itu bisa berdampak pada psikologis pasien. Orang yang berada dalam tindak kriminal harusnya mempunyai pikiran yang waras agar bisa di adili berdasarkan hukuman yang pantas dia dapatkan."


Dengan kata lain, Hendri ingin menyampaikan jika pelaku tindakan kriminal harus punya pikiran yang waras dan bukan dalam kondisi sakit jiwa.


"Aku mempertimbangkan hal itu, Hendri. tapi kedatanganku bukan untuk mencari gara-gara, aku hanya ingin memastikan kondisi nya!" Balasku.


Hendri mengangguk. "Tentu saja Nyonya. Anda bisa menemuinya setelah membereskan berkas-berkas yang harus anda selesaikan di tempat ini." Jawabnya.


"Anya!!" Seseorang berteriak dengan lantang sambil berlari.


"Kak Dimas!!" Seru ku kaget.


Dia mendekat dengan panik setengah putus asa.


"Hendri. Bisa ga gua ngomong bedua ama Anya!!" Pintanya dengan tergesah.


Hendri menatapku dahulu untuk menghormati keinginan Dimas, kemudian dengan berlahan pergi meninggalkan kami berdua.


*************


"Semua ini salah gua!!" Ucap Dimas dengan tampang gelisah. "Apa yang terjadi sama lu, itu semua murni kesalahan gua!!"


"Kak. Apa yang sedang kau bicarakan!?"


"Anya!!" Potongnya langsung. "Ini semua salah gua, apa yang terjadi sama lu tempo hari dan apa yang menimpa Cindy di rumah sakit, itu semua karena gua. Karena gua!?" Dia histeris.

__ADS_1


Aku menenangkan nya beberapa kali sampai menggiringnya ke sebuah tempat sepi untuk berbicara.


Setelah kondisi Dimas membaik, akhirnya dia pun menceritakan segalanya padaku.


"Jadi. Setelah kejadian itu kalian sempat bertengkar, hingga akhinya kalian berdua memutusukan untuk berpisah karena kakak menyuruh Cindy untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya!?" Aku mengulangi penjelasan Dimas. Cindy adalah nama wanita itu.


Dimas mengangguk.


"Tapi ternyata Cindy tak menerima keputusan itu, dan mengancam ingin membunuhku jika kakak tetap memutuskan hubungan!!"


Dimas membalasnya lagi dengan anggukan.


"Dan Cindy bahkan sempat berselfi ria di depan rumah kosong yang terbakar dan mengirimnya ke kakak kalau aku sudah lenyap!!" Aku mengatakannya dengan nada bergetar dan mulut setengah membekap.


Dimas berdiam diri sambil memejamkan kedua matanya. Dia sendiripun gemetar saat mengungkapkan hal ini padaku.


Ternyata orang pertama yang datang menyelamatkan ku tempo hari bukanlah Sakurai melainkan Dimas. Dia langsung berlari ke tempat kejadian setelah menerima foto itu dari Cindy.


Dimas memberitahukan hal ini kepada Archie dan bergabung kepada kepolisian untuk mencari keberadaan Cindy yang tak di temukan setelah di lakukan beberapa kali pencarian.


Setelah tim pencari mengkonfirmasi keberadaan Cindy yang berlindung sendirian di tengah hutan. Dimas pun bergabung untuk mencari keberadaannya. Namun saat di temukan, Cindy menolak untuk merelakan dirinya. Dia memilih untuk menerjunkan diri ke jurang, dari pada harus tertangkap jeratan hukum.


"Gua benar-benar menyesal. Gua ga tau lagi harus gimana Nya. Gua, gua ga tau harus ngapain!!" Dimas menangis sambil mengurut pelipisnya di hadapanku.


Aku menenangkannya dengan cara mengusap punggungnya.


"Apa yang harus gua lakuin. Gua harus gimana?" Dimas terus meracau.


"Kak Dimas. Sabar. Sabarlah kak!!" Aku berusaha menenangkannya meskipun aku sendiri pun butuh di tenangkan.


Dimas terus saja meracau sampai tak bisa mengusai dirinya sendiri.


Dia merasa kalau musibah yang terjadi di hadapan matanya adalah kesalahannya. Dia merasa kalau dunia ini tak adil jika menghukum orang yang tak bersalah karena kesalahannya.


Setelah terus mendengarkan ratapan dari Dimas. Ternyata selama ini, dia tak benar-benar mencintai Cindy. Seperti yang pernah di ungkapkannya saat itu. Dimas memacari pacaranya hanya ingin membuat ku cemburu. Tapi hal itu terus berlanjut sampai Dimas merasa tak harus memperdulikan hubungan itu. Dia merasa nyaman meskipun Cindy hanyalah pelampiasan.


"Gua nyesel Nya. Gua bener-bener nyesel!!" Dia meraung-raung seperti anak kecil yang kehilangan mainan.

__ADS_1


Dan karena rasa itu, perasaan itu, dan juga rasa sesal itu. Dimas merasa harus bertanggung jawab.


__ADS_2