
"Archie katakan kepadaku kalau kau tahu sesuatu. Kenapa aku tak ingat apapun!?" Aku mendesaknya sesampai di rumah.
"Meskipun gua bilang sekarang, lu ga bakalan percaya!!" Balasnya.
"Tapi setidaknya, kau tau alasannya kenapa kita berdua di nikahkan!" Aku diam mematung.
Archie berhenti berjalan dan menatapku.
"Aku mendengar semua tentang mu dari Hendri, dan penyakit mental yang kau derita sekarang, mengacuh ke masa lalu." Ucapku, "Dan kau bilang masa lalu yang kau dan aku hadapai adalah sesuatu yang menyakitkan, tapi kenapa hanya kau saja yang ingat sedangkan aku tidak, apa semua ini ada hubungannya dengan pernikahan ini."
Dia tak mengatakan apapun, tapi melonggarkan ikat pinggangnya dan berjalan santai ke arahku.
"Gua lelah!!" Ujarnya juga membuka kancing bajunya di hadapanku, "berenti ngomongin sesuatu yang bikin kepala gua sakit."
Aku tertegun di hadapannya, bukan karena mendengarkan dia membalas perkataanku, melainkan penampilannya yang sekarang hampir bugil di depanku.
"Lu ga tau, gimana menderitanya gua ngapus ingatan itu dari kepala gua." Ucapnya yang sudah melepas bajunya.
"Di bandingkan gua yang masih ingat dengan jelas kejadian itu, gua mending milih jadi lu yang ga ngingat apa pun di waktu itu."
Sekarang penampilannya benar-benar berantakan, bahkan sleting celananya terbuka sampai menampakkan ****** *****.
"Ka-kau, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini!?" Ucapku gugup sambil memalingkan muka.
"Apa?!" Dia tak peka, padahal sudah hampir telanjang.
"Apa yang sedang kau lakukan sampai membuka bajumu di hadapanku!!" Ujarku deg-deg an.
"Menurut lu, gua mau ngapain!?" Ucapnya seperti sedang memancing iman ku.
"Bu-bukannya, tadi kau bilang lagi pu-puasa!!" Aku gemetar membayangkan yang tidak-tidak.
"Hah!!" Archie mengheran, "lu ngomong apa sih, gua kan pengen mandi."
Gubrrraakkk...
Astaga, kenapa aku jadi sampai berfikiran yang tidak-tidak seperti ini. Memalukan, benar-benar memalukan.
"Atau jangan-jangan.." Dia mendekat ke sisi ku sambil menunjukan senyuman nakalnya, "lu mikir yang enggak-enggak.."
"Bukan!!" Teriak ku menepis tangannya dan berlari menuju kamar, dan langsung menutup pintunya dari dalam.
"Si*lan, malu banget. Aku mikir apa sih." Teriak ku berjongkok di bawah pintu sambil mengucak-ngucak rambut ku sendiri.
***********
"Morning class." Sapa pak Retno Dosen mata perkuliahan kriya, sambil membawa perut buncitnya maju duluan melewati pintu masuk.
"Morning!" Jawab anak-anak serentak.
"Jadi bapak hari ini ada pengumuman penting!!" Ujar nya berjalan kedepan agar suaranya yang kecil terdengar.
"Kampus kita setiap tahun mengadakan acara kolaborasi antar jurusan yang berpotensi untuk mempromosikan diri kalian untuk magang di tempat favorit yang kalian inginkan. Hasil kolaborasi tersebut akan di pajang di pameran kampus yang akan di adakan setiap penghujung tahun. Nah untuk tahun ini kebetulan jurusan design interior punya kesempatan bagus untuk mempromosikan diri kalian kepada tempat magang favorit, karena tahun ini jurusan Perfilman dengan arsitektur bakalan kolaborasi dengan jurusan design interior." Jelasnya.
Kemudian sontak anak-anak di kelasku heboh saat mendengat pengumuman dari pak Retno, pasalnya kolaborasi dengan jurusan perfilman adalah kesempatan paling langkah di seluruh jurusan.
"Pak, ini beneran anak perfilman mau kolab sama kita." Tanya anak-anak.
"Yah, bapak juga mula nya gak percaya. Soalnya mereka itu setiap tahun cuman kolaborasi sama anak-anak di bagian infotainment." Jawab Pak Retno.
Kelas kembali heboh dan saling mengobrol masing-masing.
"Tenang anak-anak. Ini memang pertanda bagus karena karya kolaborasi kalian nantinya akan menjadi simbol kenamaan pada image kampus kita, jadi bapak harap kalian giat bekerja dan mengerahkan kemampuan kalian. Tim yang telah di setujui sudah di tempel di pengumuman kampus, setiap jurusan di dalam tim ada satu ketua yang akan mewakili kelompok jurusannya. Seusai pelajaran ini kalian lihat sendiri teman kolaborasi kalian dan mulai meeting dengan ketua tim jurusan masing-masing. Yang namanya tidak tercantum di tim manapun atau ingin mengajukan pendapat mengenai acara ini tolong hubungi bapak." Jelas Pak Retno.
Hanya ada satu yang aku khawatirkan saat mendengar pengumuman acara kolaborasi jurusan dari Pak Retno.
JREEEEEENG.......
TIM 13
FILM ARSITEKTUR DESIGN INTERIOR
Ketua TIM: Yuaga Archie
FILM
__ADS_1
Ketua kelompok : Yuaga Archie SEM VI
kelompok :
Andien Sri Pusaka SEM IV
Nurul Musthofa SEM IV
Jordy Ananda SEM VI
Anayah Yoona SEM VI
ARSITEKTUR
Ketua Kelompok : Dimas Theo SEM VI
Kelompok :
Adama Sakti SEM VI
Nara syakila putri SEM IV
Jaunirahardi SEM IV
Akila SEM IV
DESIGN INTERIOR
Ketua Kelompok : Anya Arelista SEM IV
Kelompok :
Arya Pangestu SEM IV
Digima Sachie SEM VI
Roland Prapto Sanjaya SEM VI
Dafa Dagula SEM IV
Braakk.....
"Kenapa tuh cewek!!"
"Gila kali, napa mukul-mukul tembok kayak orang kesurupan."
Komentar mbak-mbak julid yang memperhatikan ku gelud dengan dinding setelah aku melihat ada nama bule laknat di tim ku.
"****, ****, ****!!" Gumam ku sambil berjalan ke ruangan para dosen.
***********
"Ganti tim?" Ujar pak Retno.
Dia tak sempat makan siang dan menyimpan kembali kotak bekal dari istri tersayang nya, saat aku tiba-tiba masuk ke ruangan ini tanpa basa-basi.
"Alasannya kenapa?" Tanya beliau.
"Saya, ga terima pak. Pokoknya saya ingin ganti tim!!" Aku kekeh.
"Anya kan emang harus bersanding dengan orang-orang yang berkompeten kayak Archie dari jurusan perfilm-an dan Dimas dari Jurusan Arsitektur. Bapak nempatin kamu disana karena kalian berkesinambungan."
"Tapi pak, kenapa saya harus jadi ketua kelompok, terus kenapa kelompok saya pada jantan semua." Protes ku mencari alasan.
"Bapak punya alasan tersendiri untuk hal itu. Gima dan Roland senior kamu, mereka berdua sebenarnya punya potensi tapi tak bisa mengembangkan dasar ide mereka menjadi sebuah mahakarya. Anya kan udah berhasil di kontrak di sebuah proyek restoran hotel mewah, jadi harapan bapak, Anya bisa mengeluarkan potensi kedua begundul itu." Jelas Pak Retno menolak permintaanku.
"Tapi kenapa gak Arya aja pak. Dia kan berbakat lebih dari saya, bahkan dia juga sering memenangkan lomba design interior di kampus lain." Ujar ku kekeh ingin lepas dari tim 13.
"Arya juga berbakat tapi gak secekatan kamu. Keputusan bapak gak bisa di ganggu gugat, bapak harap Anya mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengarahkan kelompok dalam acara ini dengan sungguh-sungguh." Ujar nya yang tak tahan lagi menahan lapar dan mengeluarkan kotak bekal nya.
"Aghh..mampus deh!!" Keluh ku keluar dari ruangan Pak Retno sambil merengek.
Kenapa takdir berbuat sebegitu kejam padaku. Aku memang mengkhawatirkan Archie yang satu tim dengan ku, tapi aku lebih mengkhawatir hal lain.
Dimas Theo.
__ADS_1
Dia adalah cinta pertama ku semenjak SMA, kami memang tak pernah pacaran, tapi aku masih menyimpan perasaan suka padanya sampai sekarang.
Dari SMA kami memang sudah dekat, kadang kami masih sering berkomunikasi lewat chat dan sering mabar jika ada waktu senggang.
Tapi sejak ku dengar dia sudah berpacaran dengan teman sekelas nya, kami seperti tak mengenal satu sama lain, bahkan tak saling berkomunikasi.
Ddrrttt....
Notifikasi dari sebuah grup chat. Seseorang menambahkan ku kedalam sebuah grup chat yang tak ku kenal.
TIM 13. FILM ARSITEKTUR DESIGN INTERIOR.
Ternyata seseorang mengundangku masuk kedalam grup chat kolaborasi jurusan tim 13. Dan setelah ku periksa para anggota yang bergabung ternyata semuanya sudah lengkap dan berjumlah 15 orang.
Admin grup ini dibuat oleh wanita bernama Anayah Yoona yang kutemui di kantin bersama Archie yang terlihat sangat dekat dan tertawa bahagia bersama.
Lalu sebuah chat masuk kedalam grup, yang bertuliskan kalau masing-masing ketua kelompok dari satu tim di haruskan berkumpul di gedung F barat.
Gedung F barat, merupakan gedung yang di pakai oleh anak-anak dari jurusan perfilman.
Seketika kaki ku gemetar saat membayangkan pertemuan yang akan terjadi di antara kami bertiga.
Ohh my. Nyawa ku seakan tercabut dari raga ku.
************
Gedung F Barat.
Jurusan Film dan Televisi. Video Editor, Sutradara, Fotographer, Content Creator.
Aku memang baru pertama kali pergi ke gedung F. Walaupun berada dalam satu fakultas yang sama, akan tetapi jarak antar gedung di tiap-tiap jurusan sangatlah jauh.
Ku perhatikan anak-anak yang ada di gedung ini. Ternyata mereka sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Namun bedanya saat mereka bekerja, mereka akan jauh lebih tenang dan jauh dari kata berisik.
Benda keramat yang selalu mereka pegang tak jauh-jauh dari laptop atau kamera, ciri khas mereka itu menggambarkan media elektronik adalah dunia tempat mereka hidup.
"Anya!" Sapa seseorang tiba-tiba dari arah belakang ku.
Ternyata itu Dimas. Sudah lama aku tak melihat sosok nya, ku rasa sudah lebih dari setengah tahun.
Dia memang tak setampan Archie dan tak memiliki status sosial setinggi anak-anak kaya lainnya. Tapi menurut badan lembaga yang mengurusi COTOR, Dimas layak menjadi kandidat ulung karena sifatnya yang memperlakukan setiap wanita dengan baik dan juga wajah yang mirip oppa oppa korea dari salah satu grup boyband bernama jisung.
"Ngapain ngos-ngosan kak." Tanyaku melihat sekeliling kalau-kalau ada serigala yang mengintai saat melihat kedekatan kami berdua.
"Gua manggil-manggil lu dari, tapi lu malah ga denger dan ninggalin gua di depan." Jawabnya dengan nafas tersengal kelelehan.
"Bentar aku ambilin minum dulu." Ujar ku ingin beranjak.
"Eh, gak usah. Gua bawa kok!" Ujar nya sambil menunjukan nya padaku di kantong ransel nya.
"Apa kabar?" Tanya nya basa-basi.
"Baik, kakak sendiri gimana?" Jawabku.
"Alhamdulilah baik juga. Nyokap Bokap gimana, sehat!" Tanya nya lagi.
"Alhamdullilah, mereka juga sehat-sehat aja!!"
"Lu gimana sekarang?" Tanyanya dengan nada canggung.
"Gimana apa nya kak?" Balasku ikutan canggung.
"Yah itu, udah pacaran belum!?"Tanyanya lagi dengan nada malu-malu.
"Ehee..aku.."
"Ehh, kalian udah dateng!!" Potong seorang wanita menghentikan pembicaraan kami berdua.
Ternyata itu Yoona, dia sedang bersama Archie. Dan yang membuatku tiba-tiba menjadi murka ialah dia terlihat nyaman menggandeng lengan Archie di hadapan ku.
"Baru aja nyampe kok." Jawabku merepet di sebelah Dimas.
Archie terlihat sinis menatapku, sesekali dia melototi Dimas seperti kucing liar yang melihat ikan teri kering di seng jemuran tetangga.
"Ya udah kita ngumpul disana aja." Ajak Yoona sambil menunjuk sebuah ruangan di pojok gedung.
__ADS_1
"Tadi lu pengen ngomong apa Nya." Tanya Dimas sambil mengikuti aku berjalan di belakang Yoona dan Archie.
"Gak jadi!" Jawab ku kesal karena memandangi kedua manusia di depanku.