Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Pemburu Kijang


__ADS_3

PPpprrraaang.....


Kaca mobil yang pecah membuyarkan lamunanku yang sedang berada dalam dekapan Sakurai yang berusaha melindungiku. Saat itu di dalam mobil yang melaju sejajar dengan mobil Hendri, terdapat 4 orang pria bersenjata lengkap dengan topeng hitam penutup kepala, di susul oleh mobil belakang yang terdapat 3 orang pria yang juga mengenakan atribut yang sama.


Hendri dengan cekatan mengemudikan mobilnya dengan tenang, dalam situasi berbahaya seperti ini tak ada sedikitpun tanda-tanda kepanikan dalam dirinya, bahkan dia sempat melirik kami berdua dan memperhatikan dengan seksama keadaan kami.


Dor...dor...dorr.....


Aku menahan napas saat suara tembakan itu terdengar sangat jelas di telingaku, aku takut sekali kalau salah satu peluru itu mengenai Sakurai atau Hendri. Apa yang harus ku lakukan, apa yang harus ku perbuat di saat menyaksikan Sakurai atau Hendri tertembak di depan mataku. Ya tuhan, aku tak bisa membayangkan ini semua, ku mohon.. jangan sampai terjadi sesuatu kepada mereka berdua.


Saat salah satu peluru yang mereka lontarkan berhasil mengenai bagian dalam mobil sampai kursi kemudi Hendri sobek, Hendri meluruskan tatapan matanya kepada pria yang telah melakukan hal itu bahkan dengan berani dia mengangkat kepalanya seperti menantang senjata api yang sedang mereka tengadahkan.


sesaat ku pikir Hendri sudah gila karena berani menampakan dirinya yang tak takut tertembak, tapi kejadian berikutnya membuat ku hampir mati ketakutan.


Tiba-tiba Hendri melajukan mobilnya menjadi sangat kencang sampai aku dan Sakurai tersentak kebelakang menghadapai lonjakan kecepatannya, sehingga dengan mudah Hendri dapat mendahului mobil yang sedari tadi sejajar dengan mobilnya, dan yang membuatku kaget adalah dia melakukan itu dengan tanpa melihat ke arah depan, Hendri melaju dengan kecepatan yang setara dengan pembalap tanpa melihat. Gila.


Saat sudah berada di depan dan kedua mobil itu jauh tertinggal, tiba-tiba Hendri membanting stir mobilnya dan dengan cepat berbalik arah pada posisinya berlawanan dengan 2 mobil yang telah menyerang kami.


Hendri menatap Sakurai yang sedang memegangi tubuhku yang gemetar ketakutan, dan dalam kecepatan pergerakan dan refleknya dia mengatakan beberapa kata patah yang tak bisa ku dengar namun bisa ku mengerti.

__ADS_1


"Tuan muda.." Seru Hendri dalam suara gaduh mobilnya yang menjerit, "ME-NG-A-MU-K-LAH!!!"


Saat itu ku pikir, aku salah mengartikan di saat Hendri mengatakan hal itu, namun ketika aku melihat tatapan Sakurai yang langsung tiba-tiba Hidup seperti mata seorang pemburu kijang, barulah aku tahu kalau Yuaga Sakurai bukanlah bocah biasa.


Entah datang dari mana, tiba-tiba dia sudah mendapatkan 2 buah senjata api dengan laras besar berkekuatan jarak tembak akurat menghiasi kedua tangannya, dan tanpa aba-aba Sakurai langsung mengeluarkan setengah tubuhnya dari kaca mobil yang sudah pecah dan membidikkan senjatanya kepada kedua mobil yang sedang kami datangi.


Door...dooor...dooorr...


3 tembakan yang di layangkan Sakurai begitu saja melesat dan memecahkan kaca depan salah satu mobil, setelahnya Sakurai kembali melayangkan tembakannya dan langsung mengenai orang yang sedang mengemudikan mobil tersebut tepat di tengah-tengah pelipisnya. Dan saat itu juga, mobil itu kehilangan kendali sehingga menabrak pembatas jalan dan jatuh ke dasar jurang setinggi 200 meter.


Dooorr......


Menghadapai kejadian itu, Sakurai hanya tersenyum dengan puas, dan menodongkan senjata api di tangannya dengan bersemangat ke arah mobil tersebut, saat mobil Hendri hampir berpapasan dengan mobil itu, Sakurai dengan tenang menembakan beberapa tembakan yang langsung mengenai tangki bensin mobil tersebut, kejadian selanjutnya adalah saat kami menjauh dari mobil itu sekitar jarak 1 km, tiba-tiba saja aku mendengar suara ledakan yang amat sangat dasyat di belakang kami.


Aku yang penasaran membalikan tubuhku melihat apa yang telah terjadi, dan ternyata seluruh bagian mobil beserta isinya sudah habis terbakar.


**************


"Sudah selesai mbak." Ucap petugas kesehatan itu setelah menutup sejumlah luka lecet akibat pecahan kaca di tubuhku.

__ADS_1


"Terimakasih!!" Balasku sambil menurunkan kaki kananku yang selesai di berikan plester.


Ku tatap Hendri yang sedang berbincang-bincang dengan petugas kepolisian dan juga Sakurai yang sedang menerima perawatan luka di lengan kanannya yang cukup serius.


Apa benar kejadian barusan itu nyata! Bahkan tanganku tak henti-hentinya bergetar karena ketakutan. Namun melihat Sakurai dan Hendri yang begitu tenang membuatku tak habis pikir, apa mereka berdua sudah biasa menghadapai situasi seperti ini, terlebih Sakurai, dia lebih mengerikan dari apa yang ku duga, bisa-bisanya dia membunuh orang tanpa berkedip. Siapa dia ini sebenarnya?


10 menit setelah kejadian itu, akhirnya petugas kepolisian dan petugas medis, beserta pemadam kebakaran datang ke lokasi kejadian untuk membantu kami. Namun yang membuatku heran adalah kesaksian Hendri yang langsung mengatakan kalau insiden mengerikan ini adalah murni kecelakaan lalu lintas. Sakurai langsung memegang bahuku saat Hendri bersaksi di hadapan para polisi. Entah apa yang sedang mereka berdua lakukan, hanya saja aku yang tak tahu apa pun mengenai hal ini hanya bisa menurut dan mengikuti mereka.


Saat api telah di padamkan, tak ada satupun orang yang di perbolehkan mendekat ke lokasi kejadian, bahkan setelah itu petugas kepolisian membubarkan petugas lainnya dan bersikeras kalau kejadian ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.


Padahal hampir semua orang menyadari kalau kecelakaan ini terbilang aneh, terlebih lagi terdapat pembatas jalan yang rusak dan menandakan ada kecelakaan lainnya di tempat ini namun entah bagaimana para polisi yang bertugas malah semakin bersikeras untuk menyerahkan semua kejadian ini ke tangan mereka.


***************


"Katakanlah sesuatu?" Tanyaku mengintrogasi mereka berdua di hadapan meja makan yang sekarang hanya menyisakan piring-piring kotor.


"Nyonya apa yang akan saya jelaskan ini mungkin terlalu sensitif bagi kesehatan mental nyonya. Maka dari itu, saya akan menunggu persetujuan Tuan untuk menjelaskan hal ini secara detail." Jawab Hendri yang tak pernah menunjukan ekspresi boros saat berbicara.


BBraaaakkkk...

__ADS_1


"Memangnya aku apa sampai harus menunggu persetujuan Archie!" Ucap ku kesal sampai-sampai harus memukul meja makan.


__ADS_2