Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Escape Part 9


__ADS_3

Krieeett.....


"Ada apa ribut-ribut?!" Tanya seseorang yang masuk ke dalam ruangan sambil membawa senter penerangan. Ternyata yang datang adalah anak buahnya, dia langsung kemari setelah mendengar suara keributan yang terjadi di sini.


Dia mengidar pandang dan melihat sekeliling, lalu pandangannya terhenti pada Sayang yang lakbannya telah terlepas.


"Ternyata kau yang membuat keributan?" Tanyanya sambil berjongkok di hadapan Sayang.


Sayang menatap pria itu dengan melihat situasi, dia memikirkan akibatnya jika salah bicara.


"Lepasin gua bangsat!!" Sayang dengan natural berakting seakan-akan tak terjadi apa-apa.


Dia mengangkat pandangannya ke atas dan tersenyum smirk kepada Sayang. "Kau bodoh ya. Kau pikir dengan berteriak kencang seperti itu, akan ada orang lain yang mendengarnya. Kita ini sedang berada di tengah hutan. Mimpi saja kalau ada yang mendengar teriakan kalian." Ucapnya sambil menempelkan lakban baru ke mulut Sayang.


"Padahal sudah susah-susah ku lakban, karena kalian terdengar berisik di banding anak yang di atas." Gerutunya sambil mengawasi anak-anak lainnya, dengan menyorot mereka satu persatu menggunakan senter.


Tapi fokusnya terhenti, saat menyorot tumpukan barang yang sepertinya gabah lapuk yang di selimuti oleh spanduk partai. Dia mendekat ke sana, dan diam mematung.


"Kapan benda ini ada di sini!!" Gumamnya sambil berfikir. Dia mematung di sana karena terpaku dengan gambar spanduk partai usang dengan paslon nomor urut 2. Dan memperhatikan dengan khitmat foto laki-laki yang mempunyai penampilan nyentrik agak nyeleneh, dengan ciri khas berkumis tebal,memakai baju kokoh putih, berkulit gelap, berbadan bongsor, rambut kriwil, wajah sangar, mata melotot, memegang tasbih, lalu di pinggangnya terselip golok ukiran kayu jati. Lalu di sebelahnya, yaitu wakilnya. Seorang perempuan menor dengan usia yang tak muda lagi, dengan penampilan serupa pesinden senior, lengkap dengan sanggul besar, baju kebaya merah, dan mimik muka serius namun tersenyum tipis.

__ADS_1


Dia terfokus memandangi foto laki-laki itu dengan serius seperti mengenal kawan lama yang jauh dan terkikis oleh waktu.


Kemudian dia beralih memperhatikan slogan yang tertulis di bawah laki-laki itu dengan bunyi. HIDUPLAH HANYA UNTUKKU MAKA AKU AKAN HIDUP HANYA UNTUKMU.


Terdengar klise, mungkin dulu paslon nomor urut 2 ini adalah seorang penggombal handal.


Dia beralih bergumam-gumam membacakan visi misi yang terpampang di sana.


"Menjadikan negeri ini makmur, semakmur kota prindavan." Gumamnya, jelas sekali paslon nomor urut 2 ini penggemar animasi india.


"Mensejahterakan kesehatan masyarakat dengan gemar memakan terong belanda." Gumamnya lagi, astaga. Kalau paslon nomor urut 2 ini terpilih, pasti orang yang memilihnya adalah orang-orang yang tak kalah nyentrik dari calon pemimpinnya.


"Tunggu sebentar, aku di sini." Ucapnya setengah berlali, lalu kemudian pergi dari ruangan itu.


Aku menarik napas dengan cepat, sambil memegangi dadaku sendiri. Lalu melepaskan bungkusan spanduk partai itu dari tubuhku.


"Hampir, aku ketahuan!!" Gumamku pucat.


************

__ADS_1


Ku lepaskan penutup mata yang membungkus mata Archie, bersamaan membuang kapas yang menyumbat telinganya.


Saat dia membuka mata, dan yang pertama kali di hadapannya adalah aku. Tanpa berkata-kata, air matanya menetes dengan sendirinya.


Ekspresi ketidakberdayaannya itu membuat hatiku teriris. Dia masih saja sama seperti bocah tersesat yang ku temui beberapa tahun lalu. Tak ada bedanya sama sekali meskipun waktu telah lama berlalu.


"Aku di sini!!" Bisikku, sambil melepas lakban yang membekap mulutnya.


Seketika wajah cengengnya yang luar bisa burik itu, langsung nampak di mataku. Air matanya bercucuran, kedua sudut bibirnya turun kebawah, keningnya mengkerut, dari lubang hidungnya keluar ingus. Lalu terdengar suara rintihan kecil seperti tikus terjepit dari mulutnya. dia sangat terharu ketika ku selamatkan sampai-sampai menunjukan tampang menyedihkan seperti itu, padahal selama ini Archie sangat menjaga image dan harga dirinya.


"Aku tak punya waktu untuk hal ini!!" Ucapku lalu menghapus air mata Archie dan buru-buru melepas ikatannya. "Kita tak punya banyak waktu!!" Jelasku lagi.


Saat ikatan tangan Archie terlepas sepunuhnya. Dia langsung memelukku dengan erat, sampai tubuhku benar-benar tenggelam di dadanya.


"Archie, kita harus.."


"Satu menit!!" Potongnya yang dengan kuat memeluk tubuhku.


Aku tak menolaknya karena bagaimanapun terdesaknya situasi ini, aku memang sangat membutuhkan pelukan hangat dari laki-laki ini.

__ADS_1


"Biarin gua, satu menit aja!!" Ucapnya lagi dengan terus merenggut tubuhku.


__ADS_2