Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Dari Dalam


__ADS_3

"Niichan!" Aku panik dan merapatkan tubuhku di punggungnya.


Shin pasang badan dan bersiap menghadang apapun yang ada di hadapan kami.


Suara motor itu semangkin mendekat seperti kawanan lebah yang sedang marah. Tak berapa lama kemudian, dari sela gang-gang kecil muncullah segerombolan orang-orang yang tak di kenal menaiki motor modifikasi dan jelas sedang memperhatikan kami dengan tatapan haus.


"Tetaplah di dekatku!" Ucap Shin memegangi lenganku.


Mereka mengitari kami dengan gerakan melingkar sambil mengegas-ngegas motornya seperti orang gila. Mereka semua tertawa cekikikan dan sebagian dari mereka menatapku dengan tatapan menjijikan.


Selang beberapa menit kemudian, mereka berhenti dan mematikan motor mereka secara serempak dan menghampiri kami berdua.


"Tanaka Shin!" Seru seseorang yang berdiri di tengah-tengah mereka.


Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan tato sana-sini, memakai rompi kulit asli dengan gaya nyentrik sepatu boots tinggi. Tampil di hadapan kami dengan menunjukan pesonanya. Mau di lihat bagaimanapun dia merupakan pemimpin kelompok ini.


Shin tak menjawabnya melainkan bergerak mangkin merapatkan tubuhnya di hadapanku. Kini bahunya yang lebar terlihat lebih kokoh dari biasanya.


"Kau pemimpin kawasan ini kan. Ketua geng Dreid Dom!!" Ucap nya lagi.


Shin tak menggubris, terlihat jelas di wajahnya kalau dia benar-benar kesal melihat kedatangan mereka.


"Maaf karena telah datang ke tempat ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Namaku Jack, aku pemimpin geng motor Romando yang menguasai kawasan timur dari perbatasan wilayah mu." Dia menyeringai menatap Shin yang terlihat tak nyaman. "Senang berkenalan denganmu!"


"Apa yang kalian inginkan!" Potong Shin langsung dengan wajah yang benar-benar kesal, bahkan urat-urat di lengannya bertimbulan saat dia mengetatkan telapak tangannya menggenggam tinju.


"Sesuai rumor yang beredar. Ternyata memang sang ketua Droid Dom itu tak suka basi-basi!" Jack mengejek Shin.


"Apa yang sedang kalian lakukan di wilayah ku?" Tanya Shin memperjelas pertanyaan pertamanya.


Jack berjalan patah-patah melewati kawanannya seperti seorang koboi yang berjalan di antara gersangnya pasir kuning. Sesekali dia melirik anak buahnya seperti sedang mengatakan jika dia itu hebat, dan Shin bukanlah apa-apanya di bandingkan dirinya.


"Aku dengar, semalam kau babak belur habis di pukuli!" Ucap Jack di depan wajah Shin.


Shin diam saja, kini urat-urat di pelipisnya ikut bertimbulan.


"Astaga. Aku tidak tahu kalau kau selemah itu, kalau saja aku tahu, mungkin anak-anak akan bersikap lebih lunak padamu.."


"Kalian membius seseorang yang tengah lengah lalu memukuli nya seperti merundung anak ayam!" Ucap Shin langsung memotong pembicaraan Jack. "Apa kau pikir itu adalah tindakan seorang laki-laki!"


Jack berhenti tertawa dan dengan serius menatap Shin.


"Ku rasa tidak. Bahkan tindakan kalian lebih rendah di bandingkan seorang pengecut!" Sambung Shin.


Jack menatap Shin seolah ingin melahapnya bulat-bulat. Bahkan dari perbandingan tinggi dan juga ukuran tubuh mereka, Shin terlihat seperti anak SD yang sedang menantang duel anak SMA.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kau inginkan. Apa kau sangat takut menghadapi ku, sehingga tak berani melawanku dalam keadaan sadar!!" Ucap Shin dengan suara datar namun menusuk.


Sontak kata-kata Shin tersebut membuat ketua beserta rombongan itu seperti kehilangan pijakan untuk berdiri. Wajah mereka berubah pucat.


"Ku peringatkan kau!" Shin berjalan beberapa langkah ke depan sampai dia benar-benar mendekati Jack. "Apapun rencana kalian untuk mengusik kedamaian di tempat ini. Aku tak kan diam, aku tak kan segan-segan untuk menghabisi siapapun yang terlibat."


Peringatan keras itu semangkin membawa mereka di ambang kejatuhan. Apalagi saat ini, Shin sedang menunjukan wibawanya sebagai penguasa wilayah ini.


Aku memang tak pernah melihat sosok seperti ini di dalam diri Shin selain sosoknya yang bodoh, kekanak-kanakan dan ceroboh. Tapi saat melihatnya langsung bagaimana sikapnya yang tenang seperti danau di tengah badai, kini pun aku mengerti kenapa Shin sangat di segani oleh semua orang di kawasan ini.


Jack sang kapten yang sedari awal sudah menunjukan kesombongannya di hadapan Shin hanya bisa diam mematung seperti seekor anjing yang takut terkena gertak gara-gara melirik daging kepunyaan majikannya. Namun saat pandangannya beralih menatapku yang sedari tadi diam dalam ketakutan menghadapi hal mengerikan ini, sebuah ide terbesit di dalam kepalanya.


"Siapa wanita itu?" Tanya Jack tak tahu malu.


Shin terlihat goyah dan melirikku.


"Apa itu pacarmu. Adikmu, atau tetanggamu!?" Tanya Jack lagi.


Shin tak menjawab, tapi kini fokusnya terbagi karena mengawasiku.


"Ahh..di lihat dari tatapanmu barusan, sepertinya wanita itu bukan wanita sembarangan. Apa dia sangat berarti bagimu!?" Tanya nya lagi.


Shin diam saja.


Sekarang Shin tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun dia kuat dan dapat melawan mereka semua seorang diri, tapi dia juga tak bisa melindungi dirinya sendiri sekaligus melindungiku di waktu yang bersamaan. Di tambah lagi kondisi nya yang saat ini sedang terluka parah, tak kan menjamin kalau dia bisa berbuat banyak.


Aku sudah tahu kalau dari awal kami berdua sedang dalam bahaya. Meskipun Shin berhasil menekan mereka dengan kata-katanya, semua itu tak menjamin kalau kami bisa selamat.


"Polisi!" Pekik Shin menatap lurus ke arah punggung Jack.


Dalam situasi genting seperti itu, Shin tiba-tiba memecah keadaan.


Sontak semua orang secara bersamaan menoleh ke belakang punggung Jack dengan memasang posisi siaga.


Namun dalam waktu singkat, dalam aba-aba Shin. Di detik itu juga dia menarik tanganku, lalu menghamburkan dua kantong sampah ke atas seperti hujan, dan menghilang di antara himpitan gang.


Ku dengar kawanan geng motor itu heboh dan meneriaki nama Shin dengan lantang. Suara-suara mesin motor yang di hidupkan secara serempak sontak membuat jantungku berpacu kencang.


"Oniichan. Kaki mu berdarah!!" Ucapku gelisah saat melihatnya yang tadi tak sengaja menabrak tumpukan seng berkarat, yang akhirnya melukai betisnya.


Dia tak menghiraukannya dan terus berlari memegang tanganku tak perduli apapun yang terjadi.


Namun entah kenapa, mungkin karena terlalu lelah atau memang karena kehabisan banyak darah. Pergerakan Shin melambat, sehingga tak terasa suara motor yang bising itu semangkin mendekat ke arah kami.


"Sada!" Tiba-tiba Shin berhenti sambil memegangi pundakku. Napasnya tersengal berat tak beraturan dengan wajah pucat."Larilah!" Ucapnya.

__ADS_1


Aku membeku. "Apa?"


"Dengar!" Ujarnya sambil menepuk kedua bahuku. "Jika saja, aku tertangkap dan di habisi oleh mereka. Anak-anak tak kan tinggal diam dan akan membalas dendam. Tapi jika kau yang tertangkap dan berada di tangan mereka, aku dan Mia yang akan gila!!"


"Niichan!" Aku tak bergerak.


"Sada!" Panggilnya lagi."Ku mohon, jangan membuatku mengulangi perkataanku lagi. Larilah. Jangan melihat ke belakang!!"


Aku masih tak beranjak di hadapannya, kaki-kaki ku terasa berat.


"SADA!" Pekik Shin.


Dengan air mata yang menggenang di pelupuk mataku. Ku kumpulkan seluruh tenaga yang masih tersisa dan berlari meninggalkan Shin yang sekarat tanpa pernah menoleh kebelakang.


Namun di ujung gang aku berhenti mendadak, dan bersimpuh di dekat tong sampah karena kesal meratapi ketidakberdayaanku sendiri. Aku menangis sejadi-jadinya sampai kedua mataku kabur dan perih.


Tidak. Ini tak akan terjadi jika aku kuat. Semua ini tak akan terjadi jika aku mampu melakukan sesuatu yang lebih. Aku kesal karena tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Shin. Aku menderita karena selama ini selalu bergantung kepada saudara-saudaraku tanpa pernah melakukan hal yang berarti.


"Andai saja. Andai aku, aku...." ku hantamkan kepalaku ke dinding. "Sialan, sial. Ahhh..sialan!!" Pekikku memukuli dinding karena merasa sudah tamat.


Lalu entah ada angin apa gerangan. Tiba-tiba aku merasakan kekuatan yang sangat besar mengalir dari dalam tubuhku seperti kena setrum. Tanpa di perintah, tubuhku sontak bergerak sendiri, dan berbalik lagi ke arah Shin yang ku tinggalkan. Yang ada di pikiranku saat ini adalah melindunginya apapun yang terjadi, aku tak kan pernah kalah.


Aku berlari sekuat tenaga, hingga berhasil kembali ke tempat terakhir Shin berada. Namun pada saat di sana, dia sudah tak ada di tempat itu. Aku mencari lagi ke sekeliling gang dan berhasil menemukannya sedang tergeletak tak berdaya di ujung gang dengan kaki pincang.


Saat aku berlari mendekat menghampirinya. Tiba-tiba saja seorang pria datang, dan langsung menghujam sebalok kayu ke atas kepala Shin.


Aku berlari menuju pria itu dengan mata terpejam, namun sesuatu yang di luar nalar yang tak bisa ku jelaskan terjadi padaku.


Buuk..


"Sa-Sada!" Panggil Shin.


Aku membuka mataku dengan berlahan dan melihat Shin dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Shin dengan wajah pucat.


Mulanya aku tak mengerti dengan apa yang sedang dia katakan, sampai aku pun menyadari jika sekarang tubuhku memasang gerakan yang tak biasa.


Aku memasang kuda-kuda bertarung, dengan pria yang terkapar menabrak tembok dengan keadaan tak sadarkan diri. Tanganku terangkat ke atas dengan satu tangan menggenggam tinju, siku-siku tegak teracung, tulang leherku mengeras menatap ke depan. Jelas sekali jika saat ini aku sedang memasang posisi menyerang.


"Niichan!" Panggilku.


"Sada.." dia berdiri dengan gemetar. "Apa yang terjadi?"


Aku menggeleng karena tak mengerti apapun.

__ADS_1


__ADS_2