
"Apa yang terjadi?!" Ucapku panik dan tergesah berlari ke arah kejadian.
Tapi tak ada yang menjelaskan, semuanya terlihat panik dan tak berdaya.
"Dia udah ga bernapas!!" Ucap Laila yang menangis di samping tubuh Ruana.
Seketika saja Sayang yang semula berada di sampingku langsung berlari dan menghampiri tubuh Ruana. Dia langsung mengecek pernapasan Ruana dengan langsung meletakkan wajahnya di dekat mulut Ruana.
Setelah dia yakin kalau yang di katakan oleh Laila benar, Sayang langsung bertindak cepat dan memberikan napas buatan. Namun hampir 2 menit berlalu Ruana masih tak sadarkan diri, lalu Sayang beralih melakukan kompresi dada secara bergantian, berharap nyawa Ruana masih bisa di selamatkan.
Semua orang terlihat gelisah dan putus asa, bahkan Tora menangis sejadinya sambil mencengkram dada Rio.
"Lu udah bunuh adek gua, kenapa lu bunuh adek gua!!" Ratap Tora yang terus menyudutkan Rio.
"Udah gua bilang, kalau gua ga tau apa-apa pas kejadian itu. Saat selangnya bocor, gua berseberangan karang ama adek lu." Rio membela diri.
"Dasar pembunuh, gua tau lu sengaja ngelakuin ini karena lu mau balas dendam!!" Cerca Tora.
"Bisa-bisa nya lu nuduh gua, mana bisa gua nyakitin Ruana!!" Rio terdesak.
"T*i lu, harusnya sejak awal gua tau. Dari dulu lu deketin Ruana karena pengen balas dendam ama gua!!" Mereka tambah tak bisa di hentikan.
"Lu tuh ngomong apa sih!? Gua ga mungkin punya tujuan kayak gitu, gua tulus sayang ama Ruana." Pekik Rio.
"Kalau sampai adek gua mati, gua ga bakalan maafin lu, gua bakalan ngelakuin hal yang sama ama lu, ampe lu juga sama menderitanya kayak adek gua. Dasar pembunuh.."
"Uuhhhhuuukkk....Hhuuaakk...!!"
Tiba-tiba sebuah keajaiban pun terjadi, ditengah-tengah konflik panjang akhirnya Ruana sadarkan diri dan langsung memuntahkan cairan bening dari mulutnya.
__ADS_1
Tora langsung berlari menghampiri Ruana dan mendekapnya dengan selimut. Dia tak henti-henti nya meratap dan berucap syukur karena adiknya selamat, tapi tak mengurangi kebenciannya pada Rio yang telah membuat adiknya seperti itu.
*************
"Kita baru dua hari di sini, tapi udah terjadi tragedi yang mengancam nyawa selama 2 kali berturut-turut!!" Ucap Rio.
Kami semua terdiam dan saling merenung, tak ada yang berani mengangkat kepala mereka karena perasaan kalut akan hal-hal berbahaya. Kejadian yang menimpa aku dan Ruana sudah cukup menjadi pukulan besar agar mereka tak sembarangan berpendapat.
Hanya Ruana dan Sayang yang masih berada di dalam kamar mereka, selebihnya berkumpul di hall room dan sama-sama bersatu dalam perasaan frustasi.
"Besok acaranya kemah di dekat bukit bersebelahan dengan hutan tempat ini, ga tau kejadian apa lagi yang akan kita semua dapatkan!!" Tambah Rio.
"Tenanglah kak jangan sembarangan menyimpulkan, lagi pula ga ada orang yang ingin berada dalam keadaan bahaya!!" Ujar Arya yang selalu punya kepala dingin.
"Hei Archie, gimana pendapat lu?" Tanya Rio melempar pertanyaan tak berdasar pada Archie.
Archie mengangkat kepalanya dan menatap Rio dengan padangan sejurus.
Archie tak mengatakan apa pun, dia hanya menatap Rio tanpa membalas.
"Udahlah, karena Archie penyelenggaranya bukan berarti dia yang harus di salahkan. Lagi pula kenapa lu langsung nanyain Archie pertanyaan kayak gitu, apa lu ngerasa kalau kejadian ini semua ulah Archie. Asal lu tau aja, Anya juga kena musibah sebelum Ruana, apa lu ga mikir gimana perasaan Archie!!" Dimas ikut bersuara.
"Lalu apa kalian ga merasa aneh, tiba-tiba dia ngajakin kita semua buat liburan bareng, padahal kita semua tau kalau bareng mereka berdua kejadian yang ga masuk akal terus aja ngikutin!!" Ujar Rio tambah menjadi.
"Hei, jangan bicara sembarangan!" Hardik Laila.
Laila, Arya, Rio, dan Dimas terus saja mengoceh dan berasumsi kalau memang ada yang aneh dengan acara liburan ini. Terkecuali Tora, Dafa, Hendri, dan Sakurai mereka merupakan orang-orang yang memang sudah tau kemana arah tujuan liburan ini, dan mereka memilih diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Lu tau kalau deket gua ama Anya kondisi nya ga pernah beres tapi kenapa lu juga pergi dan nerima undangan gua gitu aja!!" Ucap Archie yang berdiri dari duduknya dan menyerang balik Rio yang sedari tadi tak pernah diam.
__ADS_1
Seketika seisi ruangan menjadi hening, dan semua mata tertuju pada Archie.
"Seperti yang tadi lu bilang sebelumnya, gua emang punya tujuan ngumpulin kalian buat liburan bareng!"
Aku terkesiap, dan berdiri dari tempat dudukku. Apa dia akan mengatakannya langsung tujuannya membawa semua orang yang terlibat dan di curagai sebagai penghianat untuk di eksekusi. Lalu membeberkan apa yang telah ku dapatkan dari Libiru. Tidak, ini terlalu cepat. Bahkan kami belum melakukan apa-apa untuk menangkap sang penghianat.
"Tujuan gua ngumpulin kalian ke sini adalah.." Archie menatapku yang pucat dengan pandangan memicing,
Ohh tidak, dia akan mengatakannya. Benar aku harus menghentikannya.
"A-Archie..itu.."
"Sebagai peringatan hari pernikahan kami berdua." Ucapnya, sebelum aku selesai dengan pikiranku sendiri.
"He..!!" Aku linglung sendiri.
Lalu dia berjalan ke arahku dan memegang kedua tanganku di hadapan anak-anak.
Aku diam mematung, benar-benar bikin kaget. Ku pikir dia akan mengungkapkan semua yang terjadi dan menyapu bersih persepsi mencurigakan anak-anak.
"Karena gua ga pernah ngerayain pernikahan atau ngadain resepsi, ngelamar atau ngasih cincin, palagi nembak dan nyatai cinta secara langsung." Dia bersedia membuka aib nya sendiri.
"Maka dari itu, gua berinisiatif buat ngundang kalian semua buat berbagi kebahagiaan bareng kita berdua, dengan berharap kita semua bakalan jadi akrab." Lanjutnya dengan senyum menggelembung.
Suasana yang semula memanas langsung tercairkan dalam sekejab, mereka yang semula berwajah murung dan was-was sekarang berhamburan mengelilingi kami berdua dan mengucapkan beribu terimakasih dan berucap selamat. Aku sudah heboh duluan dan berfikir Archie bodoh akan mengungkapkannya sekarang. Tapi ternyata, segala tindakannya selalu di luar ekspentasi.
"Hei mau kemana?" Tanya anak-anak melihat kami berdua yang diam-diam berhambur meninggalkan mereka.
Archie memalingkan tubuhnya tapi mendekapku ke arah dalam sampai kedua tubuh kami menempel dengan intim.
__ADS_1
"Mau kemana lagi, kalau ga ngelakuin yang enggak-enggak!!" Jawabnya nyeleneh.
Aku langsung menutup wajah ku karena malu. Sedangkan anak-anak yang iseng nanya hanya bisa terima nasib dan menyesal telah bertanya.