
Di bawah lampu kapal yang terang benderang bagai hamparan bintang, di atas lautan yang menyerukan hembusan angin lembut menderu bagai helaian kapas, dan di kegelapan malam yang memberi warna bagi cahaya yang tak bisa menunjukan dirinya di waktu siang.
Aku bertemu dengan seseorang yang baru saja ku kenal, untuk pertama kalinya dalam hidupku, membalas tatapanku dengan wajah kaget seperti ingin menangis. Sorot matanya begitu dalam seperti mengisyaratkan kerinduan yang tak terbendung, wajahnya yang semula di hiasi dengan senyuman mengembang membalas sapaan palsu pengikutnya sekarang seolah tertelan keharuan terpaksa terhambur dari wajahnya yang lugu.
17 detik. Tak kurang tak lebih. Kami berdua bertatapan dalam durasi yang singkat namun di penuhi oleh perasaan berkecamuk yang tak mampu ku jelaskan dengan kata-kata.
Seolah-oleh perasaan asing ini benar-benar milikku, padahal sekalipun aku tak pernah memiliki perasaan seperti ini selama hidupku.
Suara riuh rendah dari orang-orang yang memperhatikan situasi ini sontak membuyarkan lamunanku. Mereka semua bergeming dalam tatapan heran sembari menerka-nerka apa yang sedang ku perbuat.
Tapi anehnya, Archie Yuaga yang ada di hadapanku mengeluarkan reaksi berbeda dari orang-orang yang ada di tempat ini. Dia membeku di tempatnya seperti sedang melihat hantu. Keringat dingin menetes dari keningnya dan bertumpu di alis. Tangannya gemetar, mulutnya megap-megap seolah ingin bicara namun tak keluar.
Suasana semangkin tak kondusif saat semangkin banyak orang yang datang melihat kemudian berkerumun di sekitarku. Pria brengs*k yang satunya lagi, memojokkan ku kepada orang-orang dengan dalih jika aku telah berbuat keterlaluan kepada teman sesama perkumpulan yang ingin mengajak berkenalan.
"Kau ada masalah apa sih, kenapa kau membanting orang sembarangan. Apa kau ini preman, kenapa kau berbuat seenaknya!" Ucap pria tadi yang memakai senjata nya untuk mempermalukan ku dengan playing victim.
Aku bingung, semua orang menyalahkan ku atas insiden ini. Apalagi pria yang ku banting sekarang tak bergerak dan tergeletak pinsan begitu saja.
Namun, di detik berikutnya. Tiba-tiba suasana langsung hening dalam sekejab saat Archie Yuaga maju beberapa langkah dan berdiri di hadapanku dengan membelakangi orang-orang yang sedang menonton ku. Punggungnya yang lebar seolah sedang melindungi sosokku agar tak menjadi bulan-bulanan massa.
"Pa-pak Yuaga!" Sapa ku kikuk sambil membungkuk.
Dia tak menjawab namun terus menatapku dengan mata melotot.
"Ma-maafkan saya. Maaf atas perbuatan saya yang telah mengacau. Saya benar-benar minta maaf!" Ucapku yang kemudian menunduk sangat rendah untuk memohon.
Tapi dia tak membalas, dan anehnya suara napasnya semangkin kasar sampai terdengar seperti seseorang yang sesak napas.
Aku mengangkat kepalaku pelan-pelan agar tak membuat kesalahan saat rasa penasaranku semangkin berkecamuk di dalam otakku.
Dan saat pandangan kami berdua beradu untuk yang kedua kalinya. Kini, aku malah melihatnya sedang menunjukan reaksi yang tak terduga. Dia menangis.
"P-pak!" Aku kaget.
Dia tak menjawab, namun tangisan nya mangkin menjadi. Sampai air matanya jatuh mengucur membasahi kedua pipi nya.
"A-apa anda baik-baik saja?" Tanyaku.
Dia tak menjawab.
"P-pak!" Aku mendekat.
Sraakkk....
Tak ada angin tak ada badai. Tiba-tiba dia menarik tubuhku dalam dekapannya, dan memelukku seakan sedang menyatukan jantung ke dalam tubuhnya.
Aku diam membeku dalam pikiran yang terus berkecamuk. Dia tak perduli dengan tatapan orang-orang yang menyaksikan nya. Tak ada yang bergerak, tak ada yang berani mengemukakan pendapat. Mereka semua diam membisu dalam keadaan bingung.
Dalam situasi canggung tersebut, tiba-tiba datang seorang laki-laki berperawakan tinggi berjas hitam dan berwajah dingin. Saat melihat keadaan ini, ekspresinya juga sama seperti Archie Yuaga saat pertama kali melihatku.
"Tu-tuan!" Sapa Laki-laki itu tergagap sambil menatap kami berdua. Dari semua orang yang hadir di tempat ini, reaksinya lah yang paling mendekati Archie Yuaga.
Archie Yuaga melepaskan dekapannya pada tubuhku. Sekali lagi dia melihatku dengan mata melotot, menggenggam erat kedua lenganku, menatap sekilas kepada laki-laki yang berada di sampingnya, lalu kemudian menyeretku bersamanya meninggalkan tempat itu di hadapan orang ramai tanpa penjelasan.
*************
Braaak...
Archie Yuaga membanting pintu kamarnya dan langsung menguncinya dari dalam. Dia berdiri lama di depan pintu dengan napas tersengal tak beraturan. Punggungnya terlihat naik turun seperti sedang berusaha menenangkan diri.
Aku terpekur mundur menjauhi tubuhnya dalam perasaan kalut. Apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah dia sudah tau rencana ini, dan aku sedang dalam bahaya.
Lalu tujuannya membawaku kemari karena ingin melakukan sesuatu yang buruk padaku, sebelum akhirnya di lemparkan ke laut lepas menjadi makanan para hiu?
__ADS_1
Bagaimana kalau dia tak berniat melepaskanku dan kemudian menjadi ku tahanannya seumur hidup. Tidakkah semua pemikiran ini tidak berlebihan mengingat apa yang akan ku lakukan padanya.
"Anya!"
Di dalam pikiran kalutku, tiba-tiba dia beranjak dari hadapan pintu, mendekat dan memanggilku dengan nama 'Anya'.
Aku mundur selangkah ke belakang seiring dengan langkah kakinya yang semangkin mendekatiku. Namun, dia langsung berhenti di tengah-tengah di saat melihat ku yang menjauhinya.
"Ini lu kan!" Sambungnya dengan menggunakan bahasa indonesia.
DEG...
Aku membeku sesaat.
"Anya. Ini beneran lu kan!" Ujarnya lagi mendekat, namun sorot matanya seperti meragukanku.
Aku diam membisu memandanginya, raut wajahnya begitu tertekan seakan telah mengalami hari-hari yang berat.
"Go-gomen!" Balasku sambil membungkuk membalasnya menggunakan bahasa jepang.
Dia membeku memandangiku.
"Saya tidak bermaksud mengganggu. Maaf atas kelakuan saya yang sudah mengacau!" Ucapku memohon belas kasihannya.
"Lu beneran ga ingat siapa gua?"
Sontak aku mengangkat kepalaku, saat dia terus membalasku menggunakan bahasa indonesia.
"Ahh..anu.."
"Lu bener-bener ga ingat siapa gua!" Potongnya lagi melotot dengan mata merah.
"A-aku!"
Belum sempat aku bereksi terhadapnya, tiba-tiba dia sudah berada tepat di hadapanku dengan raut wajah penuh tekanan.
"Ini gua Archie, ini gua!" Sambungnya sambil membelai dengan halus wajahku seperti sedang menyentuh barang rapuh.
Aku diam membisu dalam perasaan yang tak bisa ku lukiskan dengan kata-kata. Jantungku berdetak tak beraturan, napasku menderu kuat, badanku mengigil padahal tidak demam, otakku memanas, wajahku memerah.
"Akhirnya!" Ucapnya sambil memegangi wajahku dengan kedua tangannya. "Akhirnya gua nemuin lu juga!"
Kemudian tanpa di duga dia menangis sejadinya di depan wajahku, menyatukan pelipis kami sampai air matanya berjatuhan di atas tubuhku.
"Selama penantian panjang akhirnya gua nemuin lu di sini. Akhirnya gua nemuin lu, dan lu masih hidup. Lu ada di sini, di depan gua. Lu di sini sekarang!" Ratapnya dengan gemetar.
Aku tak mengerti dengan apa yang sedang dia katakan. Aku juga tak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang ku tahu, dia terlihat sangat bahagia saat bertemu denganku.
Sesaat kemudian aku berfikir mungkin dia dalam pengaruh obat dan mengalami halusinasi, sehingga menganggapku sebagai seseorang yang di kenalinya.
Dia memelukku dengan erat, menciumi keningku dengan beruntun, mencengkram dengan kuat baju ku seperti enggan membiarkanku pergi.
Rencananya berhasil. Misi ku sukses besar, semuanya berjalan lacar sesuai dengan rencana. Archie sudah berada di dalam genggaman tanganku. Sejumlah uang yang akan ku terima sudah menari-nari di hadapan mataku.
Tapi rasanya tidak benar. Meskipun aku merasa telah berhasil memperdayanya, tapi kenapa aku merasa gelisah. Terdapat perasaan mengganjal yang tak bisa ku ungkapkan saat pertama kali melihatnya. Begitu samar sehingga rasanya sesak untuk di lanjutkan.
Sesaat kemudian perasaan tak nyaman ini terus berlanjut sampai sesuatu terjadi lagi pada diriku. Entah kenapa tubuhku lagi-lagi bereaksi sendiri dan mendorong tubuhnya dengan keras sebagai tindakan penolakan.
Lalu setelahnya kami berdua terdiam dengan saling bertatapan.
"Anya. Kenapa.."
"Maaf!" Ucapku memotong perkataannya. "Tapi, saya bukan orang yang anda maksud!"
__ADS_1
Setelah berbuat dan mengatakan hal seperti itu, aku langsung berpaling dari hadapannya dan bergegas keluar. Meskipun ini tindakan yang paling bodoh yang pernah ku lakukan sepanjang hidupku, tapi aku tak menyesal telah melakukannya.
Namun dia berhasil menyusulku dan menyergapku di depan ruangan kamarnya yang tak terdapat satupun orang di dalamnya.
"Apa lu benar-benar ga ingat siapa gua. Lu lupa siapa diri lu?" Tanyanya menahan ku.
"Maaf!" Balasku. "Tapi, saya bukanlah orang yang anda maksud."
Dia terlihat gusar dengan menghela napas berpaling ke arah lain.
"Anya, lu itu.."
"Dan lagi, sebenarnya anda sedang dalam pengaruh obat!" Ucapku memotong perkataannya.
"Apa?"
"Anda berada di dalam pengaruh obat. maka dari itu, anda mengalami halusinasi dan menganggap saya orang yang anda kenal."
Dia tak bereaksi saat ku katakan kebenarannya, melainkan mangkin menahan tubuhku agar tak keluar dari tempat ini.
"Apa lu pikir gua beneran berada di bawah pengaruh obat?" Ujarnya dengan kekehan kecil.
Aku berbalik dan menatapnya.
"Bukan gua ga tau kalau terdapat dua penumpang ilegal di dalam kapal ini. Dan bukan gua ga tau juga kalau keberadaan dua penumpang gelap ini akan mengancam keselamatan gua."
Aku menunduk diam.
"Tapi, gua biarin seperti yang sudah-sudah karena apapun yang akan mereka lakuin, semua nya bakalan sia-sia."
Dia mendekat lagi ke hadapanku, tapi untuk kali ini aku tak beranjak dari hadapannya.
"Anya. Gua tau itu lu, gua tetap tau meskipun kita terpisah selama 100 tahun sekalipun, gua masih bisa ngenalin istri gua sendiri."
DEG...
Aku terhenyak dan menatapnya.
"Istri?" Aku bingung. "Apa yang barusan anda katakan?"
Dia menatapku dalam, terbias dari tatapannya, kalau saat ini dia sama sekali tak meragukan sosokku.
"Apa pun yang terjadi ama lu. Sekarang gua sadar, kenapa upaya pencarian lu selama tiga tahun ga membuahkan hasil sama sekali."
Dia mendekat lagi sampai tubuhnya benar-benar ada di hadapanku.
"Tebakan gua benar, ternyata lu ilang ingatan!" Ucapnya dengan nada bergetar.
Aku membeku sambil tertunduk.
"Anya!" Panggilnya."Biar gua katakan sekali lagi kebenarannya!"
Dia menari dagu ku ke atas sehingga kami berdua saling bertatapan.
"Nama lu adalah Anya Arelista istri sah dari Archie Yuaga yang menghilang tiga tahun yang lalu." Ucapnya dengan nada bergetar hampir menangis.
Aku menahan napas melihat wajahnya.
"Dan satu-satunya alasan lu ada di sini, di hadapan gua saat ini adalah.."
Dia mengangkat tangannya dan beralih menyentuh ubun-ubunku.
"Karena tuhan pun mungkin sudah jenuh mendengarkan rantapan yang gua lontarkan setiap malam untuk segera mempertemukan kita kembali!"
__ADS_1
Tanpa sadar air mataku mengalir dengan sendirinya.