
"Kita bakal mulai proyek ini pas kita udah dapat surat izin dan akomodasi dari kampus. Karena ini acara langsung dari kampus maka selama proyeknya masih berlangsung, kita semua di ijinin buat bolos kuliah walaupun gak masuk selama satu bulan full, jadi gua harap kalian bisa gunain waktu berharga kita ini untuk bekerja sepenuh hati." Ujar Archie menyudahi pertemuan tim 13.
Dddrrtt drrrttt....
"Temuin gua di belakang gedung lantai bawah pojok kanan, gudang penyimpanan."
Isi pesan yang terlampir di HP ku, dari Archie.
"Anya, Kita duluan ya." Ujar cewek-cewek yang menghampiriku di tengah jalan, yang tergabung dari anak film dan arsitek.
"Ooh, iya. Ntar chat aja yah Kak, kalau mau karaokean bareng." Balas ku sambil melambai kan tangan pada mereka.
"Jing*n, dia ngapain ngajak ketemuan di tempat kayak gitu!" Gumam ku memandangi isi pesan nya dengan perasaan yang campur aduk.
Aku bergegas menuju belakang gedung F dan mencari gudang penyimpanan, saat aku hampir sampai di tempat tujuan terdengarlah samar-samar suara wanita yang mirip seperti suara Yoona.
"kamu, kenapa sih sayang!"
Aku langsung bersembunyi dan merapatkan tubuhku di balik dinding yang membatasi gudang penyimpanan dan koridor gedung.
Suara itu memanglah Yoona, dia sedang berbicara dengan seseorang dan situasinya terbilang sangat sengit.
"Udah gua bilang kalau semalam itu gua beneran gak bisa!" Teriak Yoona sampai terdengar memenuhi seluruh gudang penyimpanan.
"Gua gak ada urusan sama lu, lagian terserah lu mau nya gimana. Gua gak pernah ngehambat hidup lu, sekali pun lu bilang udah ngorbanin semua nya demi gua!!"
"Archie! gua udah ngasih segala nya buat lu!" Pekik Yoona.
"What, hap..." Aku langsung mendekap mulutku sendiri dan bersembunyi dengan benar di bawah kotak besar bekas barang.
"Terus gua harus ngasih semua nya juga buat lu, jangan ngimpi deh!"
"Apa hati lu udah benar-benar tertutup!!" Yoona mangkin memekik kesal.
"Yoona. Apa selama ini gua pernah gak ngasih apa pun yang lu mau, nurutin apa pun yang lu pengen, ngorbanin waktu gua buat hal-hal gak guna biar lu seneng. Apa lu udah lupa cewek gua bukan lu doang, udah gua bilang di awal-awal kalau lu nyari cowok yang serius jangan gua, karena gua gak bakalan bisa serius gimana pun cara nya!!"
"Archie, gua serius sayang banget sama lu, plis balik ke gua!!"
"Pergi!!" Ucap Archie lantang.
"apa?"
"Gua bilang pergi!"
"Archie, gua..." Yoona tak terima.
"Pergi gak.."
"Archie.."
__ADS_1
"PERGI!!" Archie kehabisan kesabaran.
Yoona keluar dari balik gudang dengan berlari.
Apa aku berdosa sudah menguping pembicaraan mereka.
Sebelum Archie tau aku berada di sini sebaiknya aku cepat-cepat pergi. Akan gawat kalau dia tahu aku menguping pembicaraan mereka berdua.
Ssreett...
"Mau kemana lu?"
Langkahku terhenti saat tangan nya menghambat ku bergerak, Archie menarik kerah bajuku dari belakang sehingga aku tersentak dan mundur berlahan.
Paak...
Tiba-tiba kaki panjangnya meng-kabedonku. Sehingga aku terpojok di muka dinding.
Dia membuang puntung rokok terakhir nya kemudian menyepong permen tangkai yang dia keluarkan dari saku celananya.
"Buru-buru banget, mau kemana?" Tanya nya sambil memutar permen tangkai di dalam mulutnya.
Dia menyingkirkan kaki panjang nya yang berada di samping ku, kemudian menundukkan wajahnya sejajar dengan wajah ku, dan bau rokok yang masih membekas di dalam nafasnya masih tercium di hidungku.
"Gua nanya, tadi lu buru-buru mau kemana?" Tanya nya lagi sambil menatap lekat kedua mataku.
Boker adalah cara jitu agar siapa pun akan melepaskan ku dengan buru-buru
dalam situasi apa pun itu, selain karena panggilan alamiah makhluk hidup yang tak terelakan, alasan boker merupakan cara ku bertahan hidup dalam mengalami situasi genting seperti ini.
"Gua temenin!" Jawab nya.
Hatiku langsung hancur berkeping-keping sekaligus terharu. Satu di antara sejuta umat manusia di dunia ini yang musnah keberadaannya dan tidak di ketahui bentuknya ialah, yang bilang akan menemani boker di saat kita takut berada di WC sendirian.
"Ahh.." Responku yang telah kalah."Gak mungkin lah kamu nungguin cewek nangkring di WC!!"
"Kalau gak gua tungguin, ntar lu malah kabur!"
Aku diam membisu sambil memikirkan cara lain agar tak terjebak bersamanya.
"Kenapa diam, katanya buru-buru!" Tanyanya yang menatap wajah gelisah ku.
"A-aku sebenarnya udah gak kepengen boker lagi." Jawab ku yang menitikan bulir-bulir keringat jagung di dahi dan hidungku.
"Itu kan cuman akal-akalan lu doang biar bisa kabur dari gua." Ujar nya mengetahui akal bulus ku yang tak ingin bertemu langsung dengannya."Ya kan lu mau kabur dari gua?"
"E-eng-enggak!" Jawabku kikuk."Aku kesini emang pengen ketemu kamu, tapi gak sengaja dengar kalian berdua lagi berantem, jadi terpaksa aku ngumpet aja disini." Ujar ku mengakui semua yang telah terjadi pada nya.
"Jadi tadi lu dengar semuanya?"
__ADS_1
"Gak semua sih." Jawab ku menatap permen gulali di dalam bibir merah koral nya.
"Gua gak suka berhubungan dengan orang yang ribet." Ujar nya sambil mengeluarkan permen gulali dari mulutnya.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu, biar gimanapun Yoona itu kan pa-pa..." Aku berusaha mengatakan pacar. "Pacar kamu!!"
Archie memalingkan wajahnya dan menatapku dengan kesal.
"Emangnya lu ga merasa bersalah ya, udah ngelakuin hal buruk ama gua, padaha lu itu.." Dia mendekat di telingaku. "Istri gua!!"
Dia pasti membahas tentang waktu itu. Waktu aku jelas-jelas menolaknya tanpa pikir panjang.
"Apa gua ini sama sekali gak menarik di mata lu sampai lu nolak gua sampai segitunya!!" Ujar nya sambil membuka setengah kancing kemeja nya.
Dan terlihatlah tulang selangka lebarnya yang akan membuat kaum hawa rela membayar mahal hanya untuk memandangi benda itu, dan aku mendapatkan nya secara gratis, tanpa embel-embel promo.
Aku terpaku memandangi keseksian personalnya, bahkan sihir semacam ini memang nyata adanya jika menyangkut ketertarikan lawan jenis.
"Apa gua ini gak pantas jadi suami lu, jadi sampai lu keberatan kalau gua apa-apain. Apa karena gua orang asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupan lu makannya lu jadi mempersulit gua buat skinship!!" Ucap nya semakin mempersempit jarak diantara kami berdua.
Aku tak menolaknya sama sekali, karena dari hari itu aku memang merindukannya.
"Apa karena lu mikir gua ini kotor dan sukanya mainin cewek, makannya lu jijik buat gua tidurin!!" Bisiknya berbicara di di dekat bibirku.
Aku tak bicara, dan menikmati tiap sensual yang dia tebarkan.
"Anya." Dia memegang tulang rahangku, "Pernah gak sih lu mikir kenapa gua segitunya pengen tidur bareng lu, sedangkan cewek gua banyak. Kenapa juga gua mesti capek-capek buat dapetin lu, meskipun gua gak kekurangan kasih sayang di luar sana. Pernah gak lu mikir kenapa gua jadi kayak gini!!"
Aku memilih bungkam seribu bahasa.
"Kalau lu ngerasa belum layak jadi istri gua, gimana kalau seandainya kita pacaran dulu!"
Aku mengernyitkan kening mendengarkan penawaran sekonyol itu.
"Jadi lu bisa ngerasain gimana rasanya, jadi pacar gua tanpa kewajiban dan hak lu sebagai istri!!" Sambungnya menjelaskan.
Aku diam sembari berpikir. Meskipun itu konyol, tapi patut di coba, dengan memiliki hubungan seperti itu, kami berdua akan merasa punya batas yang layak, dan tak harus menargetkan hak dan kewajiban pasangan menikah.
"Gimana?" Tanyanya yang menunggu jawaban dari ku.
Aku langsung mengangguk antusias di iringi tatapan setuju.
Dia juga ikut tersenyum dengan menunjukan lesung pipinya.
"Makan yuk. Laper, tapi gua yang milih tempat makan." Ucapnya sambil membetulkan letak tas ranselnya.
"Kamu bilang kan gak bakalan berlaku seenaknya, ini kamu, hummpp..." belum sempat aku melanjutkan perkataan ku, dia langsung menjejalkan permen bertangkai itu masuk ke dalam mulut ku.
"Restoran seafood paling enak untuk kencan pertama." Ujarnya sambil tertawa puas melihat wajahku yang kesal setelah di jejali permen bekas mulutnya yang terasa bau tembakau.
__ADS_1