Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Vacation Part 21


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan hampir 7 jam lamanya, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Namun karena tempat yang sebenarnya agak tersembunyi dan tak ada akses untuk mobil masuk, maka dengan berbondong-bondong, anak-anak pun terpaksa berjalan kaki dengan memikul peralatan berkemah dan juga perbekalan.


Tempatnya berada di tengah-tengah gunung, tepatnya di apit oleh dua gunung yang menjulang, lalu banyak akar pohon besar yang melintang, lumut yang menempel di bebatuan dan juga jalanannya yang licin karena hujan. Hal tersebut agak menyusahkan kami untuk mencapai tempat tujuan karena di bebani oleh barang bawaan.


Namun 20 menit berselang, akhirnya kami sampai pada tempat tujuan yang sebenarnya.


Dan aku pun kembali terbuai oleh keindahan yang di hamparkan oleh keagungan alam.




Terbayar sudah perjalanan lama nan melelahkan kami setelah seharian terombang-ambing di atas mobil dengan jalanan yang parah karena hujan, seolah visual indah dari tempat ini mengisi rasa dahaga yang sekian mencekik.


Anak-anak spontan melepaskan barang bawaan mereka secara serampangan di mana saja. Kemudian berlarian kegirangan menuju tepian danau dengan pemandangan pegunungan yang membentang di atasnya.


"The real hiden gem!" Ucap mereka hampir berbarengan karena sama-sama berpendapat kalau tempat ini jauh lebih menakjubkan dari ekspentasi.


"Istrahat dulu!!" Pekik Sayang yang bahkan entah sejak kapan dia sudah mempersiapkan makanan dan juga bekal yang di bawa sudah tersaji di atas tikar.


Anak-anak di tepi danau saling bertatapan satu sama lain, lalu seseorang dari mereka membuat ide permainan.

__ADS_1


"Yang terakhir sampai ke tempat makanan, ga boleh makan siang!" Ujar Arya tiba-tiba.


Mereka semua spontan berhambur dan pontang-panting berlarian menuju tempat makanan, dan yang paling terakhir tentu saja para wanita seperti aku, Laila, dan juga Ruana yang ternyata juga terpancing akan permainan absurd para laki-laki.


"Anya, yang tiba paling akhir!!" Pekik Dafa seperti keranjingan melihat aku menderita karena tidak kuat berlari.


"Anya, ga boleh makan siang dong!!" Timpal yang lain ikut meledekku.


Namun tidak dengan Archie. Dia yang melihatku kalah dalam permainan, langsung bertindak selayaknya diri nya sendiri yang tak pernah mengalah untuk keadaan apa pun.


Tanpa meminta ijin, dia langsung membawa berbagai jenis makanan beserta snack, mengumpulkannya secara serta merta, lalu memberikan semuanya kepadaku.


"Apa lu?!" Ucap Archie yang menepis tatapan anak-anak yang kesal dengan kelakuannya. "Bini gua ga boleh kelaperan, awas aja kalian!!" Tambahnya menggunakan kuasa nya.


"Dasar bucin!!" Timpal mereka lagi.


"Biarin, gua ga jomblo kek lu pada!!" Balas Archie tak mau kalah.


Setelah selesai beristirahat, pukul 4 sore anak-anak mulai sibuk bergotong royong mendirikan tenda dan mencari kayu bakar untuk membuat api unggun.


Sebagian lagi sibuk mempersiapkan makan malam dan mengatur perabotan.

__ADS_1


Dan aku kebagian tugas untuk mencari ranting-ranting kecil dan daun kering untuk menyalakan api.


"Jangan jauh-jauh. Sekitaran sini aja kan banyak!!" Teriak Archie memperingatkan ku, saat dia melihatku menjauh dan masuk ke dalam hutan.


"Ga jauh kok, di dalem malah banyak yang ga basah dan masih kering!!" Jawabku juga sambil berteriak.


Aku masuk ke dalam hutan sendirian dan terus mengumpulkan ranting yang ku temui lalu memungutnya, lalu mengeluarkan plastik kresek dan mengisinya dengan dedaunan kering.


"Sip. Dah cukup!!" Ucapku senang, dan berbalik untuk kembali.


Namun anehnya, jalan yang tadi ku lewati malah terlihat berbeda dan banyak di tumbuhi pepohonan besar, aku memutuskan untuk terus melangkah dan berjalan terus ke arah barat. Tapi setelah 5 menit berjalan, sialnya aku malah tak juga sampai ke sungai dan malah bertemu dengan pohon-pohon yang semangkin besar dan menjulang tinggi ke langit, bahkan saking tingginya, mataharipun tak tembus dan tanahnya di tumbuhi oleh lumut yang subur.


Aku beristirahat menenangkan diri selama beberapa menit. Lalu setelah rasa lelahku hilang, aku pun langsung tersadar kalau sudah tersasar.


"Tenang, tenang!! Huuffftt...!!" Aku berusaha agar tak panik dan menarik napas dalam-dalam.


Namun tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang menyusul dari belakang ku.


Saat itu ku lihat Arya setengah berlari membawa tumpukan kayu bakar di tangannya dan menuju ke arahku.


"Arya!!" Ucapku yang senang melihatnya.

__ADS_1


Namun dia tak menyahut dan tatapannya pun terlihat keji. Lalu saat berada beberapa meter dariku, dia langsung melempar kayu bakarnya dan mengambil salah satunya untuk di pegang.


Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya, secara spontan dia mengangkat tinggi-tinggi kayu bakar itu dan bersiap untuk memukulku.


__ADS_2