
"Rencananya begini!" Ujar Jessie menggiringku ke hadapan sebuah manekin yang terlentang. "Seperti yang Madam Fleur katakan. Nanti kau akan masuk ke dalam kapal pesiar berbaur dalam lingkup kelompok kelas atas lalu menjalankan aksimu secara diam-diam!"
"Kapal pesiar!" Ucapku agak kaget.
"Pada saat perjamun pesta, dia akan berada di sana, kau bisa langsung menemukan targetnya karena dia selalu menjadi pusat perhatian dan paling banyak di rubungi orang."
Jessie berjalan ke arahku.
"Berikan obat ini pada salah satu pelayan yang telah di siapkan untuk melancarkan aksi nya." Jessie menyodorkan botol kaca kecil yang tak lebih besar dari ukuran kelingking. "Sebelum dia meminumnya, pastikan jika penampilanmu semenarik mungkin agar bisa berada di sekelilingnya dan tak membuat para penjaga mencurigai kehadirianmu, dan posisimu harus benar-benar berada di sampingnya."
Jessie berjalan lagi dan mendekati Manekin itu.
"Lalu jika dia menunjukan tanda-tanda pusing atau mabuk, kau harus bergerak cepat dan langsung membawanya ke kamar!"
"Hah!" Aku shock, karena tiba-tiba Jessie duduk di atas menekin, dimana kedua pahanya mengamit manekin itu.
"Rentangkan kaki mu seperti ini, raih dagunya. Buat jarak sedikit agar kau mendapatkan posisi yang pas saat berada di hadapannya." Ujarnya membelai lembut Manekin itu."yang harus kau lakukan adalah berbuat sesuatu yang menakjubkan agar kau terlihat benar-benar menggodanya, karena nanti di kamar yang telah di siapkan akan terpasang kamera pengawas yang akan merekam adegan kalian berdua." Jelasnya.
Aku tak mampu berkata-kata.
"Usahakan agar kau jangan terlalu gugup menghadapi nya. Kau jangan takut jika harga dirimu akan di rusak, karena yang kami butuhkan hanyalah rekaman adegan panas kalian di atas ranjang yang tertampil di kamera pengawas, selebihnya saat dia tak sadarkan diri, kau pun bisa langsung pergi dan mendapatkan bayaran atas kerja kerasmu."
Aku mengerti dan mengangguk sesekali dengan canggung.
"Nah, sampai di mana kita tadi. Jika kau sudah melakukan itu, maka kau bisa menunjukan punggungmu untuk meminta jeda. Lakukan terus sampai dia menyerah dan meminta tubuhmu!"
Aku tercengang.
"Lalu..lakukan ini, begini, begini.."
"Tu-tunggu, tunggu. Tunggu dulu!" Aku menghentikannya yang mulai menggeliat di atas manekin.
"Kenapa. Apa aku bergerak terlalu cepat!"
"Bu-bukan begitu. Maksudku, Kau langsung bergerak pada intinya. Sedangkan aku saja tak mengerti bagaimana caranya menjadi semenarik mungkin agar tak di curigai, dan berada di sekeliling orang yang menjadi pusat perhatian!"
Jessie menyeringai dan beranjak dari pangkuan manekin yang dia simulasikan sebagai orang.
"Jadi maksudmu, aku harus mulai melatihmu dari dasar?"
Aku mengangguk malu.
"Jika kau ingin berada di sekitar orang yang menjadi pusat perhatian, maka kau juga harus menjadi orang yang menarik perhatian!"
Aku mengkerutkan dahi. Tapi sebelum aku bertanya Jessie memutar tubuhnya membelakangiku.
"Lihat dan perhatikan ini. Aku akan mengajarimu bagaimana cara menarik perhatian!"
Jessie berjalan ke arah pintu dan mengenakan mantel untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.
"Anggap saja, kita sedang berada di sebuah bar. Bar tak ada bedanya dengan perkumpulan kelas atas yang mempertunjukan kelihaian mereka dalam mengolah kemampuan diri. Di dalam tempat seperti itu, biasanya aku menjalankan aksiku untuk menggoda para pria galau yang kesepian!" Ujarnya melenggok dan menunjukan satu kaki jenjangnya menghentak lantai.
__ADS_1
Aku diam dan memperhatikan.
"Pertama-tama yang harus kau lakukan adalah membuat siapapun yang ada di ruangan itu memperhatikanmu. Kau bisa mencoba menunjukan pesonamu dan menjadi pusat perhatian."
Jessie berjalan berlahan dengan kaki menyilang, sorot matanya terarah padaku, tubuhnya bergoyang terayun gemulai seperti merak yang terangsang kemudian mengibas-ngibas ekor nya. Tatapannya yang mempesona dalam sekejab menyihirku dalam sekali sentak. Tak bisa di pungkiri. Pesona wanita ini tak terbantahkan, bahkan ia mampu memikatku meskipun aku juga seorang wanita.
"Point penting dalam menarik perhatian adalah, kau harus membuat seluruh mata tertuju padamu. Gunakan apa saja untuk membuat semua orang terpikat. Tunjukan kemampuan sensual mu kepada semua orang!"
Kemudian dia menoleh ke samping menyorot leher jenjang kurus pucatnya, melonggarkan mantel bulunya hingga melorot jatuh sampai lengan dan memperlihatkan tulang selangka seksinya.
Di tahap ini, aku mengakuinya sebagai seorang pro. Lihatlah ekspresi dan juga penampilannya yang mengundang hasrat kelelakian, tak ada yang mampu menghindar.
"Lalu kedua. Saat kau berhasil membuat semua orang memperhatikanmu. Maka tentukanlah targetnya. Biasanya para lelaki yang melihat wanita dengan tatapan mata menusuk terarah seperti busur panah, adalah laki-laki yang sangat menginginkan mu."
Jessie melepas mantelnya dan mendekat padaku.
"Jika kau berhasil melakukan tahapan ini. Maka yang terakhir. Berpura-puralah mengacuhkan lelaki seperti ini. Bersikaplah kalau kau tak mudah untuk di dapatkan. Saat dia menawarimu untuk pergi menemaninya ke suatu tempat, jangan lakukan dan berbaliklah agar dia mengejarmu!"
Jessie duduk di sebelahku sambil mengunyah permen karet yang masih berada di dalam mulutnya.
"Pria itu, sejatinya makhluk yang mudah terprovokasi dengan rasa penasaran. Saat dia mengira kalau kau tidak tertarik dengannya. Maka dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkanmu. Mungkin dia akan mulai memanjakanmu dengan berbagai hal seperti memberikan bunga, perhiasan, atau uang. Dia akan mulai memancingmu dengan kesenangan agar kau melihatnya sebagai pria mapan yang dapat di andalkan." Sambungnya.
Aku menyimak.
Jessie memutar tubuhnya menghadapku.
"Jika dia memberikan semua itu, terima saja, tapi jangan katakan apapun ataupun menghubunginya duluan. Buatlah dia penasaran sampai mati." Jessie tersenyum padaku. "Dan jika kau berhasil, maka dia akan terus melakukan pendekatan tanpa henti. Dan di saat itu lah kau harus melunak dan memberikannya kesempatan."
"Lalu?" Aku tak sabaran.
"Sepertinya itu.."
"Berbeda lagi jika kau bertemu dengan pria selain di bar. Maksudku, tak semua pria akan melakukan tindakan yang sama seperti yang ku katakan." Jelas Jessie sebelum aku menyimpulkan.
Aku mengangguk pelan.
"Tapi.." Jessie menengadah kelangit. " yang akan menjadi targetmu beda lagi, karena dia tak kan mudah di taklukan dengan hanya menunjukan tubuhmu, bahkan jika kau telanjang sekalipun!" Dia menghela napas.
Aku terhenyak dan menatapnya.
Jessie menatapku. "Yah, kau pikir kenapa wanita itu sampai repot-repot mencari orang lain hanya untuk menggodanya. Kalau aku saja sudah cukup." Jawabnya sebelum aku bertanya.
Aku masih belum puas mendengar jawabannya.
"Aku sudah mencoba nya dan langsung gagal di tahap pertama!" Ujarnya membuka lembaran bungkus permen karet, meludah dan membuangnya ke tempat sampah. "Apa kau sudah bertemu dengan orang tiongkok itu. Namanya pak Han Xi, dia adalah pesaing bisnis yang ingin berbuat apa saja untuk menjatuhkan perusahaan yang di kelola oleh keluarga Yuaga."
Jessie berdiri, meraih rokok di laci meja dan menyesapnya.
"Keluarga Yuaga itu sempurna hampir tak punya celah. Mereka semua terlihat seperti sekumpulan orang yang berasal dari dunia lain. Kaya raya, punya segalanya, bangsawan."
Aku menyimak.
__ADS_1
"Tapi ada satu kelemahan mereka yang tak banyak di sadari oleh orang-orang!"
"Apa?" Tanyaku.
"Yuaga Archie. Dia merupakan satu-satunya kelemahan keluarga itu. Kau ingin tahu kenapa?"
Aku menatapnya lekat.
"Karena dia punya banyak skandal, dan sangat di lindungi oleh keluarganya karena seorang penerus!" Ujarnya berbinar.
"Karena itu pak Han Xi menargetkannya?" Aku menarik kesimpulan.
Jessie mengangguk.
"Tapi seperti yang kau lihat, meskipun beliau melakukan apa saja untuk mengusik kelemahan keluarga itu. Hingga kini, beliau tak sedikitpun berhasil melakukannya!"
Aku merenung sejenak dan menatap Jessie setelahnya.
"Apa, dia adalah seorang g*y!" Ucapku.
Jessie menggelang sambil menurunkan kedua sudut bibirnya.
"Tidak. Dia bukan g*y, Madam Fleur sudah membuktikannya, dan aku sudah melihatnya sendiri!" Jawabnya.
"Kau melihatnya. Membuktikan, maksudnya bagaimana?" Aku tambah penasaran.
"Sudah ku katakan kan, kalau pak Han Xi akan melakukan apa saja untuk menjatuhkannya. Tapi tak ada yang berhasil satupun!" Jelasnya lagi.
Aku duduk di sampingnya dengan wajah tertunduk lesu. Jessie saja yang bahkan wanita penuh pesona tak sanggup menaklukannya, apalagi aku.
Apa aku pulang saja. Sepertinya, Madam Fleur buta, aku tak kan mungkin sanggup.
"Saat pertama kali bertemu dengannya. Ada satu hal yang langsung ku sadari saat menatap kedua matanya!" Ucap Jessie tiba-tiba sambil menghembuskan asap rokok yang memenuhi rongga dadanya.
Aku terkesiap menatapnya.
"Kalau kau bekerja untuk waktu yang lama di bidang seperti ku ini. Kau akan langsung dapat membedakan, mana lelaki tulen dan lelaki jadi-jadian dari sorot mata mereka saat memandangmu. Dan untuk Yuaga Archie, aku langsung tau kalau dia lelaki sejati yang tak kan mudah mempermainkan hati perempuan!"
"Dia itu penuh dengan skandal." Jessie melanjutkan. "Ada yang bilang, jika dia tak tertarik dengan perempuan, bahkan selama menikah dengan istrinya, barang sekalipun dia tak pernah menyentuhnya. Ada yang bilang dia seorang g*y dan sering menyembunyikan laki-laki di dalam ruangan kerjanya, lalu ada juga yang bilang dia trauma terhadap perempuan dan enggan bercinta karena kejadian masa lalu. Tapi hingga sekarang rumor itu tak pernah terbukti, dan para musuh-musuhnya yang ingin menghancurkan nama Yuaga dan perusahaannya tak pernah sekalipun menemui celah."
Jessie menatapku.
"Kau ingin tahu kenapa?" Tanyanya.
Aku membalas tatapannya.
"Karena dia adalah sosok pria misterius yang penuh karisma. Maka dari itu, orang-orang yang membencinya tak bisa menemukan kelemahannya!" Ujar Jessie.
-
-
__ADS_1
-
Slow Up ya, Author masih puyeng belom stabil betul.