
"Apa yang ada di dalam kepalamu." Ujar ku mengikutinya dari belakang.
Dia tak menjawab dan menggiringku pergi ke ruang ganti untuk mengganti seragam.
"Archie!!" Ku hentikan tubuhnya sambil membalikannya ke hadapanku, "kau gila ya, apa kau pikir aku bisa bertahan melawan orang itu!!"
Dia tak merespon, namun membuka lemari pakaian dan memberikan ku seragam.
"Gua bakalan berenti ngendesak lu tentang kejadian di hotel waktu itu!!" Ujarnya, "asalkan lu bisa menang dan bertahan ngelawan dia, gua bakalan turutin semua yang lu mau!!" Dia memberikanku penawaran.
"Kau sungguh tidak waras." Ucapku memegangi kepalaku sendiri.
"Denger ya!!" Dia memegangi kedua bahuku. "Gua amat sangat marah ngendengar lu di rendahin ama Rio barusan, tapi gua ga bisa apa-apa karena gua adalah image tempat ini. Gua ga bisa dengan gegabah ngasih dia pelajaran atas sikapnya yang kurang ajar. Tapi lu bisa.."
Aku langsung terhenyak mendengar pernyataanya yang terakhir.
"Lu bisa ngasih dia pelajaran, karena lu itu lebih kuat di banding dia!!"
*********
"Akhirnya keluar juga, kirain bakalan ngibrit!!" Ujar laki-laki itu dengan segala kemahasombongannya.
"Ingat dengan yang tadi gua bilang!" Bisik Archie menepuk punggungku sebagai efek motivasi diri dan mendorongku masuk ke dalam arena.
Sebelum di mulai pertandingan, kami diharuskan melakukan pemanasan terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk melemaskan otot-otot yang kaku agar tak terjadi kejutan di saat mulai pertarungan.
"Kita belum kenalan kan, gua Rio teman kencan lu malam ini." Ucap nya memperkenalkan dirinya padaku.
"Aku Anya. Moga aja kamu puas dengan pelayanan kamar ku malam ini." Balas ku sambil menjabat tangannya.
Dia langsung antusias dan menatap Archie yang berdiri di luar arena.
"Woi lu denger sendiri kan, apa yang cewek lu bilang!" Teriak nya heboh sambil pamer pada Archie.
Archie hanya menatap dengan pandangan dingin dari kejauhan.
"Ok. Gua gak bakalan kasar kok sama lu. Gak mungkin juga gua tega nyakitin cewe secantik lu. Emng sinting tu anak, cewe sendiri malah di suruh duel dan jadi bahan taruhan!!"
"Aku gak keberatan kok di jadiin barang taruhan. Lagian aku emang udah lama gak banting orang." Jawabku sambil tersenyum dan mengikat kuncir rambutku kebelakang. Posisi seperti ini membuatku terlihat memperlihatkan lekuk tubuhku, sehingga Archie maupun Rio tak berhenti memandangiku.
"Sumpah, lu ini tipe gua banget." Gumam Rio sambil terus melakukan pemanasan.
5 menit kemudian.
"Silahkan kedua petarung bersiap di arena!!" Ucap pak wasit yang akan menjadi hakim di pertarungan ini.
Aku menghembuskan napas panjang, sambil mempersiapkan mentalku. Sesekali pandanganku tertuju kepada Archie yang tak pernah lepas memandangiku dari luar arena.
__ADS_1
Apapun yang akan terjadi nantinya, semuanya tergantung kepada diriku sendiri.
"Peraturannya mudah, kalau ada salah satu dari kalian yang terjatuh duluan berarti kalian di anggap sudah memenangkan satu set pertandingan. Di larang keras memukul lawan di daerah vital kalau terjadi hal demikian berarti pertandingan seluruhnya akan di menangkan oleh pihak lawan. Di larang melakukan kecurangan apa pun bentuknya, jika diketahui melakukan pelanggaran maka kemenangan seluruhnya berada di pihak lawan. Pertandingan ini terdiri dari 3 ronde, jika salah satu dari kalian sudah memenangkan ronde pertama dan kedua, makan pertandingan tidak perlu di lanjutkan dan kemenangan ada di pihak yang memenangkan ronde pertama dan kedua." Jelas pak wasit yang duluan gemetar melihat tubuh kecil dan kurusku melawan Rio yang bertubuh besar dan juga berotot.
"Mulai!!"
Rio memasang kuda-kuda yang terlihat sempurna tanpa celah di mataku, dia mengawasi pergerakan ku dengan mengikuti irama hentakan kaki yang aku perlihatkan.
Saat dia menyerangku, hal pertama yang ku sadari dari gaya bertarungnya adalah keserasian tubuhnya yang melayangkan pukulan dengan terencana, namun dia tak memusatkan pukulannya dalam satu titik. Meskipun aku tahu arah serangannya, tetap saja dia mampu membaca pergerakanku, dan dengan mudah mengecohku dengan kelenturan tubuhnya.
Dia berhasil menyasar bagian tubuhku yang sedari awal di targetkan untuk mengunci pergerakanku. Aku terjerembab dengan wajahku duluan menyentuh lantai.
Pertandingan pertama di menangkan oleh Rio dengan telak.
Semua orang yang kebetulan melihat hal itu bersorai prihatin melihat saat-saat kejatuhan diriku, mereka merasa iba padaku, pada nasib ku, pada pertaruhan konyol ini.
"Masih mau lanjut gak nih!" Ujar Rio sambil menjulurkan tangannya. Dia terlihat sangat senang karena merasa akan mengusai pertandingan ini.
"Lanjut!" Balas ku menerima uluran tangannya.
Archie menatapku dengan tenang di pinggir arena, walaupun terlihat tenang botol air mineral yang sedang dia pegang terlihat bergoncang.
"Mulai!"
Rio kembali memasang kuda-kuda yang sama seperti sebelumnya, namun kali ini pergerakannya lebih santai dari ronde pertama, dia jadi besar kepala atas kemenangannya yang gemilang di ronde pertama, tanpa mengidahkan tehnik dasar bela diri.
Sesaat pikiran ku goyah jika membayangkan kekalahan, tapi saat aku melihat wajah Archie yang berada di luar Arena, menatap ku dengan pandangan yakin. Semangatku kembali membara.
Karena melamun dan tidak fokus, tanpa sadar Rio berhasil mendaratkan serangannya bagian bahu atasku, namun karena pergerakannya terlalu lamban dan kuda-kudanya lemah, aku langsung tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan cepat, ku susupi lengan bagian bawahnya, dan membantingnya ke lantai tanpa perlu memakai tenaga yang terlalu besar.
Arah pertandingan pun berbalik, dan hasilnya seri.
Rio terkapar di atas lantai dengan tatapan melotot tak terima, dia benar-benar murka karena mustahil bisa ku kalahkan.
"Lanjut gak nih!" Ucap ku yang membalik keadaan dan mengulurkan tangan ku sebagai simbol solidaritas.
"Tadi itu cuman kebetulan!" Jawabnya tak menerima uluran tanganku.
Archie tersenyum menatapku dari kejauhan, dan dengan terang-terangan mengacungkan dua jempolnya.
Pertandingan terakhir, dan ini adalah penentuan.
Setelah melihat Rio pentolan di sanggar ini berhasil ku kalahkan, tiba-tiba saja semua orang-orang yang berada di tempat ini berduyun-duyun berdatangan menonton, memenuhi area bertarung.
Archie terlihat tersenyum puas dan menatap wajahku dengan penuh apresiasi. Karena semua yang dia rencanakan berjalan lancar.
__ADS_1
"Mulai!" Wasit memekik memberi tanda.
Kuda-kuda Rio terlihat goyah dan penuh kebimbangan, entah apa yang membuatnya kehilangan kepercayaan diri, terlihat dari sorot matanya, dia terlihat gugup dan tak berniat bertarung sehingga seranggannya terkesan ceroboh.
***********
30 menit sebelum bertarung di arena.
"Gua kasih tau kelemahan Rio!!" Ucap Archie di balik tirai. "Dia itu gak ngerti teknik dasar bela diri, serangannya memang efektif dan kuat. Tapi tanpa tekhnik dasar, semua itu ga berguna sama sekali."
"Maksudmu dia lemah dalam bertahan meskipun serangannya kuat!" Balasku sambil melucuti seluruh pakaian ku.
"Dia ga bisa di bandingkan dengan lu yang punya tehnik dasar dan punya kuda-kuda yang kuat." Jelasnya.
"Karena itu, kau yakin aku bisa mengalahkannya!!"
Archie diam saja di balik tirai.
"Apa kau pikir itu saja sudah cukup." Ucapku lagi sambil merapikan seragam itu di tubuhku. "Dia itu laki-laki, dan juga yang nomor dua di tempat ini setelah kau. Apa kau pikir aku sehebat itu sampai bisa mengalahkannya!?"
"Semua itu, udah lebih dari cukup." Ucapnya sambil menyingkap tirai yang memisahkan kami berdua. "Karena tehnik dasar bela diri lu lebih kuat di bandingkan gua."
Kami berdua diam dan saling bertatapan.
"Tckk..apasih. Pergi, aku belum sempat beberes!!" Ucapku lalu mengusirnya dari balik tirai.
"Gua kasih tau lu kelemahan Rio lainnya. Dia itu meskipun caper tapi penyakit demam panggungnya teramat parah sampai ke ubun-ubun!!" Jelasnya.
"Demam panggung!!" Aku berhenti bercermin.
"Pastiin lu ngasih dia kemenangan sesaat untuk menaikan harga dirinya. Terus kalau dia udah ngerasa berada di atas segalanya, lu jatuhin dia."
***********
Ku gunakan kuda-kuda khusus untuk menangkis serangnya. Dengan bertumpu dengan satu kaki yang bertahan dan satu kaki ku menangkis serangannya.
Akhirnya aku langsung melumpuhkan nya dalam waktu sepersekian detik dengan menyasar bahu atas nya.
Tak dianya, dia langsung jatuh terjerembab dengan wajah duluan.
Pertarungan terakhir itu berlangsung kurang dari 70 detik, dan seluruh penonton yang menyaksikannya menahan napas setelah Rio terjerembab mencium lantai dengan waktu yang sangat singkat.
Sorak riuh yang di iringi oleh tepuk tangan mengakhiri pertandingan ini, dan membawaku menjadi pemenang yang bertahan.
Sang wasit menelan ludah beberapa kali saat aku berhasil mengalahkan rio yang berbadan besar dan merupakan pentolan di sanggar ini, dan kelakuannya lebih belagu dari Archie.
Dengan rasa bangga yang meluap-lupa Archie menyambutku di pinggir arena sambil merangkul punggungku, ku rasakan tatapan bangga dan haru nya memenuhi relung dada nya.
__ADS_1