Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Takdir Yang Saling Menyalahkan Part 2


__ADS_3

...Perhatian. Konten ini sensitif karena mengandung adegan kekerasan....


"Ah..membosankan!" Ujar pria itu memegangi rahang bawahnya sambil menjulurkan lidahnya yang terluka.


Aku memasang posisi waspada.


Karena lidahnya yang terluka maka nada bicaranya jadi aneh sehingga kosa kata pelafalan huruf S dan R berhamburan berantakan keluar dari mulutnya.


"Apa sekarang aku sedang di permainkan oleh anak kecil!" Ujar pria itu dengan senyum menyeringai melangkahkan kaki nya menuju ke arahku.


Aku berjalan mundur ke belakang sambil melirik lemari di belakangku dengan langkah hati-hati.


"Beraninya bocah pendek sok berani sepertimu mempermainkan ku dan membuatku berusaha sekeras ini hanya untuk mendapatkan sesuatu yang ingin ku lenyapkan!" Dia menggertakku dengan nada menggeram.


Kedua tangannya mengepal dengan kuat karena terusik melihat ke hadiranku.


Aku mengawasi langkah pria itu dengan tatapan hati-hati, takutnya dia menyadari lebih dulu keberadaan bocah laki-laki yang ku sembunyikan.


"Sekarang. Katakan, dimana kau menyembunyikan anak pembawa sial itu!?" Tanyanya dengan nada mendikte namun dengan pelafalan yang lucu.


Aku mematung di hadapan lemari, tanpa rasa takut aku menantangnya dengan tatapan kejam.


"Kenapa kau menatapku dengan padangan seperti itu. Apa kau tak mengerti apa yang sedang ku ucapkan, bukankah aku berbicara menggunakan bahasa yang mampu kau pahami!"


Aku tak menggubrisnya malah mangkin mengokohkan kedua kaki ku agar tak beranjak dari hadapannya.


Dia mengawasi pergerakanku dan dalam beberapa detik dia langsung paham kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu di belakangku.


"Apa yang ada di balik lemari itu?" Tanyanya dengan nada pelo.


Aku mangkin mengokohkan kedua kaki ku menghadapnya.


Suara napas bocah laki-laki yang ada di balik lemari terdengar tak beraturan bahkan seperti seseorang yang kekuarangan oksigen.


Sontak pria itu tersenyum menyeringai memandangiku. Lalu berjalan semangkin mendekat sampai tubuhku memepeti lemari.

__ADS_1


"Dia di sana kan. Bocah brengs*k itu!?" Tanyanya.


Ku rentangkan kedua tanganku dengan wajah kalut tertekan.


Tidak. Apapun yang terjadi, aku tak kan membiarkan orang jahat ini menyakiti nya.


"Kau ini keras kepala juga ternyata!" Ujarnya geram.


"Yamero! やめろ!" Pekik bocah yang ada di dalam lemari. *Hentikan!


Tanpa membuang waktu, pria itu langsung menjambak rambutku dan melempar tubuhku ke sembarang arah sampai kepalaku mengenai tepi kusen pintu yang tajam. Dalam sekejab kepalaku yang terkena tepian kusen langsung mengeluarkan darah segar yang merembes menyatu dengan rambutku.


Aku bisa mendengar bocah laki-laki yang ada di dalam lemari terpekur mundur bahkan dia seperti ingin melawan saat pria itu ingin membuka gagang sapu yang ku gunakan untuk menyeka pintu lemari.


Namun entah mengapa saat menyaksikan pemandangan itu, kekuatan ku tiba-tiba berlahan bangkit. Aku berdiri tanpa menghiraukan rasa pusing akibat benturan tadi dan langsung menerjang pria itu lalu mengigit dengan kuat telapak tangannya.


Seketika pria itu meraung seperti lolongan anjing yang mendapatkan serangan dari seekor kucing. Tubuhnya berputar-putar seperti gasing mengikuti irama seranganku yang semangkin kuat menggigit nya.


Namun seperti yang sudah-sudah, karena perbedaan kekuatan itu. Dengan mudah dia langsung melepaskan diri dari gigitanku dan membantingku ke lantai seperti membanting bola lempar.


Aku menggeliat kesakitan di atas lantai sambil menangis. Sedangkan pria itu menatapku dengan pandangan murka sembari mengelus telapak tangannya yang berdarah.


Tapi perkiraannya lagi-lagi salah. Aku tak akan pernah menyerah untuk sesuatu yang telah ku niatkan untuk di lindungi. Tak kan pernah.


Dengan kekuatan yang masih tersisa, ku rengkuh ke dua kakinya hingga pria itu jatuh terjerembab dengan wajahnya duluan menyentuh lantai. Dia meringis kesakitan sambil meruntukku agar berhenti melakukan tindakan sia-sia sebelum dia benar-benar marah dan membunuhku.


Tapi aku tak menghiraukannya dan semangkin mengukuhkan pelukanku pada kedua kakinya dengan erat seakan jika aku melepaskannya begitu saja, aku akan menyesal seumur hidupku karena telahbmembiarkan bocah laki-laki itu dalam bahaya.


Pria itu benar-benar marah mendapati sikap keras kepalaku. Dengan sekali sentak dia menendang tubuhku hingga terpelanting ke arah tembok. Kemudian dia berdiri dan menyeretku ke hadapan lemari itu, lalu menyiksaku dengan menendang tubuhku dan memukuliku dengan tangan kosong dengan bertubi-tubi tanpa belas kasihan.


Yang ada di pikiranku saat itu adalah, tidak apa-apa jika aku mati pada hari itu juga yang penting bocah laki-laki yang ku sembunyikan itu berhasil selamat.


Tanpa sadar dalam rasa sakit yang bertubi-tubi di layangkan oleh pria itu untuk membunuhku. Aku tersenyum sumringah karena merasa telah melakukan tindakan yang benar.


Seperti yang sering ku dengar beberapa kali dari Bapakku yang seorang penegak keadilan. Dia mempertaruhkan nyawanya menangkap para penjahat yang telah tega menyakiti orang lemah, meskipun waktu pulang ke rumah kadang Bapak luka-luka karena terperosok ke dalam jurang saat menangkap maling, atau menerima pukulan dari warga yang marah karena perseteruan dan lain sebagainya. Dan Bapak selalu mengatakan bangga jika berhasil menolong orang banyak, Bapak selalu terlihat tersenyum meskipun sakit.

__ADS_1


Aku menerima jiwa heroik itu dari Bapak. Sehingga dalam pikiran naif dan labilku saat itu, jika aku mati demi melindungi orang yang lemah, maka aku akan menjadi manusia paling keren melampaui Bapak. Dan aku meyakini itu meskipun baru beranjak 6 tahun.


Saat itu juga, aku melihat sepasang mata sedang mengawasiku di balik celah pintu lemari yang menganga. Dia menatapku dengan pandangan iba, mata memerah di sertai air mata yang mengucur deras. Dia berdecit seperti tikus karena sedang menahan suara tangis melihat penderitaanku. Tapi aku membalas sepasang mata itu dengan senyuman. Senyuman bodoh tanpa arti.


Braakkk....


Tiba-tiba pintu depan rumahku terbuka seperti di dobrak.


Sontak pria itu berhenti menyiksaku dan mulai panik dengan wajah resah.


Dia mengidar pandang ke sana kemari dan menemukan topeng ski yang tergeletak di lantai kepunyaan bapakku untuk pergi melaut dan ku gunakan untuk main penjahat-penjahatan di dalam kamar.


Dia memungut benda itu, dan memakaikanya untuk melindungi identitasnya agar tak di ketahui siapapun.


Namun di tengah kelengahan pria itu yang sedang memungut topeng ski untuk di kenakannya. Bocah laki-laki itu ternyata menemukan cara untuk keluar dari dalam lemari. Dia menggunakan hanger yang terbuat dari besi dan berhasil menyingkirkan gagang sapu itu dengan mendorongnya ke arah luar dari sela-sela pintu lemari.


Dia keluar dengan hati-hati dari dalam lemari. Seperti langkah kaki kijang, dia berjingkrak-jingkrak melewati ku dan memungut linggis yang tergeletak tak jauh dari tubuhku.


Saat pria itu berbalik dan selesai memakai topeng ski yang menutupi kepalanya. Bocah itu tiba-tiba berlari menerjang nya dengan linggis dan mengenai bahu kanannya.


Seketika situasi mendadak hening, karena ku tahu serangan bocah itu berhasil mengenai nya setelah darah segar di balik bahunya mengucur dengan deras sampai membasahi bajunya.


Pria dan bocah itu saling bertatapan dalam diam. Suara tercekat yang di keluarkan pria itu dan juga tatapan murka yang di layangkan bocah itu membuat situasi di dalam kamar ini semangkin mencekam.


Saat linggis itu terjatuh dengan sendiri nya di atas lantai sehingga menimbulkan suara nyaring yang terdengar hingga ke pelosok rumah. Tiba-tiba kami semua mendengar langkah kaki seseorang yang berlari dengan tergesah menuju kamarku.


Pria itu tersadar, jika terus berada di sini dalam keadaan terluka, bukan hanya tak bisa melawan, dia pun tak bisa berkutik karena sedang kritis.


Sambil memegangi bahunya yang terluka dengan darah mengucur deras, dia melarikan diri dengan tubuh terseok-seok mencari jalan keluar dari rumah itu.


Tapi sepertinya, bocah laki-laki itu tak kan membiarkan pria itu lolos begitu aja.


Lagi, dia memungut linggis itu, membopongnya seperti prajurit kehormatan dan mengejar pria itu dengan langkah besar-besar mengejar ketertinggalannya.


Aku memegangi tubuhku sendiri sambil menangis. Rasa sakit kepalaku akibat benturan itu terasa mangkin panas dan juga perih, di tambah sekarang aku tak bisa bergerak karena seluruh tubuhku sakit.

__ADS_1


Namun tiba-tiba di depan pintu kamarku, aku melihat lagi sesosok pria lain yang bertubuh tinggi, besar, dan tak ku kenal, sedang mamandangi ku dengan tatapan datar lalu memperhatikan keadaan rumah ini yang kacau balau akibat kejadian tadi.


Dia mendekat ke arahku. Dan saat itu juga aku langsung menangis meminta pengampunan.


__ADS_2