Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Akai Ito


__ADS_3

"Hei, pakabar!" Tanyaku sambil bersimpuh di dekat makam milik Laila.


Seperti nya dia banyak mendapatkan kunjungan dari sanak saudaranya beserta orang-orang di sekitar yang menyayangi sosoknya, semua itu bisa terlihat dari bekas bunga yang masih basah di atas makam nya.


"Banyak yang ingin ku katakan padamu, tapi sepertinya kau juga sudah tahu meskipun kau tak ada di sini!" Lanjutku mengusap batu nisan miliknya dan menempatkan karangan bunga yang ku bawa di atas makamnya.


"Kemarin aku mengunjungi Arya," aku tertawa sampai tertunduk. "Kau tahu, dia benar-benar terlihat berbeda dengan rambut plontos dan baju tahanan. Kalau saja kau ada di sini mungkin kau akan meledek Arya habis-habisan!"


Kemudian aku terdiam untuk sesaat dan menatapi karangan bunga yang bersandar di dekat batu nisannya.


"Dan juga, aku ingin kau tahu satu hal!"


Aku tertunduk lesu.


"Archie, dia.." aku berhenti sejenak, "kami sudah bercerai!"


Wuuusshhh....


Angin berhembus menerpa rambutku sehingga berkibar-kibar ke arah belakang. Bau wewangian segar dari karangan bunga yang ku bawa beserta kelopak bunga melati yang masih basah di atas makamnya menyeruk memenuhi hidungku.


"Dia meninggalkanku karena ada satu hal yang tak bisa dia hindari, dan ternyata aku tak seberuntung itu sampai harus berharap Archie akan mencintaiku karena kami memang di takdirkan untuk bersama!!"


Aku meringkuk sambil mengusap ke dua mataku untuk menyamarkan tangisan.


"Aku tidak mengerti Laila, kenapa semua orang pergi dari ku begitu saja. Kenapa tak ada yang sudi berada di sisi ku!!"


Air mataku berjatuhan membasahi tanah.


"Laila. Aku benci sendiri. Aku benci dalam situasi seperti ini, aku merindukanmu. Aku ingin kau ada di sini!!"


Wuussh..


Angin kencang berhembus lagi menerpa tubuhku. Aku merasa setiap kata-kata ku di sambut oleh angin ini, seolah-olah Laila sedang mendengarkan pembicaraanku meskipun dia sedang tak ada di sini.


"Aku pergi dulu!!" Ujarku berpamitan setelah beberapa jam menumpahkan kesedihanku di tempat terakhir peristirahatannya.


"Terimakasih sudah mendengarkan curhatanku. Aku akan datang ke sini setiap kali merindukanmu!!"


Aku mengusap lagi batu nisan milik Laila, lalu beranjak pergi dari sana.


"Lama tidak berjumpa. Arel!!"


Aku terperanjat.


Seorang pria dengan tubuh kekar dan berperawakan tinggi menyabangiku di depan gerbang pemakaman.


"Paman paisee!!" Seru ku.


Dia tersenyum sumringah dan meletakkan topi lebar di dadanya.


************


"Jadi ternyata paman yang sering datang ke sini dan menaburkan bunga ke makam Laila!" Tanyaku.


Kami berbincang-bicang di salah satu tempat cafe nongkrong yang tak jauh dari tempat pemakaman.


"Aku menganggap anak itu sebagai pahlawan. Dia meninggalkan dunia ini dengan cara menyedihkan seperti itu, dan yang bisa ku lakukan hanyalah menghormati pengorbanannya!!" Jawab Paisee.


"Terimakasih, karena paman telah memperhatikan temanku!" Ujarku tersenyum.


Paisee tak membalas ku, melainkan menatap ku dengan wajah datar dan sinis.

__ADS_1


"Aku sudah mendengar semuanya!" Ucap Paisee sambil mengoyang-goyangkan gelas yang berisi es batu.


Aku menunduk.


"Kau pasti menderita!" Cetusnya membuang muka sambil menghela napas.


Aku membalasnya dengan tersenyum tipis.


"Bajing*n kecil itu. Dia benar-benar cari mati!!" Paisee menggenggam tinju.


"Pada akhirnya, aku maupun keadaan tak bisa berbuat apa-apa." Balasku.


Paisee menatapku sinis.


"Yang bisa ku lakukan hanyalah menerima. Lagi pula..." aku mengangkat kepalaku menatap paisee, "aku mendapatkan banyak aset dan saham dari keluarga Yuaga, dan itu semua sebanding dengan pengorbananku selama ini."


"Hah..!!" Paisee tiba-tiba menyela dengan tampang menyebalkan mencemohku. "Kau pikir aku tak tahu kalau kau sedang berbohong. Sebanding katamu!!"


Alis Paisee bertemu demi mengucapkan kata 'Sebanding katamu' lalu menyilangkan kaki kirinya dengan napas memburu.


"Kau itu adalah wanita paling bodoh dan naif yang pernah ku kenal selama hidupku, nak!!" Sekarang dia meruntukku.


"Apa?" Aku tercengang.


"Begini. Biar aku luruskan biar kau melihat sesuatu dengan jelas dan terang!" Ujarnya.


Paisee mencondongkan tubuhnya ke arah meja.


"Semua hal yang telah kau lakukan, pengorbananmu, penderitaanmu, kesusahanmu, jerih payah mu, keringatmu yang kau peras, darahmu yang bercucuran, sampai air mata yang telah kau tumpahkan. Semua itu tak sebanding sama sekali dengan harta yang kau terima, anak muda!" Ujar Paisee berapi-api sambil menunjuk atas meja dengan jari telunjuknya, "bahkan jika kau di hadiahi sebuah gunung sekalipun, hal itu tak akan sebanding dengan apa yang telah kau lakukan selama ini."


Aku terdiam dengan wajah menekuk.


"Arel!" Panggil Paisee.


"Meskipun kau tak ingat apa-apa. Tapi aku mengenal mu lebih dari siapapun!!" Ucapnya.


Aku menatapnya dengan kening berkerut.


"Aku ingat pada hari di mana kita bertemu untuk pertama kali nya. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian itu meskipun mata ku terpejam!!" Sambungnya.


Paisee mengeluarkan sebat dari kantong bajunya dan menyalakan korek untuk membakarnya.


"Kau penasaran apa yang aku lihat?" Tanyanya.


Aku menggeleng.


"Monster. Aku melihat monster di tubuh dua anak kecil yang terdesak!!" Jawabnya sambil menghembuskan asap rokok itu dari jigongnya.


Tanpa di jelaskan pun aku tahu siapa yang sedang paisee bicarakan. Sehingga bulu kudukku langsung meremang, meskipun aku tak ingat apa yang terjadi pada saat itu.


"Tak banyak anak kecil yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk seseorang yang baru dia kenal bahkan rela menukar dirinya sendiri agar orang lain terselamatkan. Apa kau pikir prilaku seperti itu normal di lakukan oleh anak berusia 6 tahun. Ku rasa tidak, karena seumur hidup aku pun baru pertama kali menjumpai yang seperti mu!!" Jelas Paisee.


Aku mengerling menunjukan ketertarikan dari perkataannya, dan menggenggam kuat badan kursi.


"Apa kau pikir ikatan kuat di antara kalian berdua adalah persoalan remeh yang akan terselesaikan dengan cara menerima kenyataan lalu menghilang seperti deburan ombak?" Paisee menghembuskan asap rokoknya lalu tersenyum picik memandangi ekspresi ku. "Ku rasa tidak. Persoalan di antara kalian melebihi takdir yang di tetapkan oleh pengarang dalam kisah romansa terkenal romeo dan juliet!!"


"Maaf, pak!"


Tiba-tiba kami berdua di kejutkan oleh seorang pelayan yang datang menghampiri.


"Di dalam kafe tidak di perbolehkan merokok!!" Lanjutnya.

__ADS_1


"Ahh..maaf!!" Ujar Paisee segera mematikan sebatnya. "Karena sudah tua aku tak melihat peraturan yang terpampang di depan tempat ini."


Dia beralasan.


"Ahh..sialan. peraturan macam apa itu!" Paisee meruntuk saat pelayan itu pergi dari hadapannya.


"Paman!!" Panggilku.


Dia menatapku.


"Apa paman ingin mengatakan padaku kalau aku salah jika memasrahkan keadaan, dan merelakan semuanya begitu saja!?" Tanyaku.


Paisee tak menjawab dan menatapku dengan mata memicing.


"Lalu apa yang harus ku lakukan. Tidakkah paman sudah mengetahui segala yang terjadi padaku!?"


Paisee diam saja dan memandangku dengan tatapan itu.


"Archie bilang sendiri kalau hubungan kami sudah tak ada harapan. Dan lagi, aku juga tak lagi berguna karena kondisi psikologisku yang tak mampu mengingat kejadian di masa itu." Ujarku membeberkan nya kepada Paisee.


Paisee menyimak dengan khitmat.


"Lalu, dia juga akan segera menikahi wanita yang sudah di pilihkan keluarganya untuk menjadi pendamping hidupnya. Sedangkan aku.."


"Apa kau yakin dia benar-benar ingin menikahi wanita lain, dan meninggalkanmu begitu saja?" Tanya Paisee memotong perkataanku.


"Aku.."


"Kalau bocah tengik itu benar-benar ingin menikahi wanita lain. Lalu untuk apa dia membatalkan perceraian kalian dan merekayasa pernikahan palsu dan membuat wanita itu menggantikan posisimu, sehingga perkara itu membuat kalian tidak pernah bercerai!!" Potong Paisee.


"A-apa?" Aku kaget bukan kepalang mengetahui hal ini dari Paisee.


Paisee tersenyum puas melihat ekspresiku.


"Paman. Apa yang barusan anda katakan!?" Tanyaku.


Dia menghela napas dan membetulkan posisi tempat duduknya.


"Apa kau pernah mendengar istilah benang merah?" Tanyanya.


Aku menggeleng.


"Kami menyebutnya 'Akai Ito' atau 'Unmei No Akai Ito' yang artinya takdir benang merah yang ceritanya sangat terkenal di negara asal kami!" Ucap Paisee.


Aku diam dan mendengarkan.


"Kami percaya, saat manusia pertama kali di lahirkan ke dunia ini, mereka langsung di ikatkan oleh secuil benang merah di jari kelingkingnya oleh dewa, dan benang merah itu akan terhubung secara langsung dengan pasangan yang akan menjadi jodoh kita kelak." Jelas Paisee.


Aku menyimak.


"Singkatnya, jika dua orang manusia yang terhubung dengan benang merah sejak mereka di lahirkan. Mau mereka terpisah antar ruang dan waktu, jarak dan keadaan, sampai kasta dan juga tahta. Tak kan ada yang mampu memutuskan atau memisahkan ikatan di antara mereka, meskipun dewa itu sendiri!!" Lanjut Paisee.


Tiba-tiba Paisee mengambil tanganku dan menunjuk jari kelingkingku.


"Itu yang ku lihat saat pertama kali berjumpa pada kalian berdua!"


Aku terbelak.


"Aku melihat takdir benang merah di jari kelingking kalian!"


Paisee menatapku dengan penekanan.

__ADS_1


"Dan pada saat itu aku pun langsung tersadar, jika dewa sudah menetapkan kalian berdua untuk menjadi pasangan sejati!!"


__ADS_2