Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Escape Part 10


__ADS_3

"Archie.."


Dia tak perduli.


"A-Archie ini.."


"Bentar lagi!" Jawabnya mendekapku semangkin erat.


Entah apa yang dia pikirkan, tapi ini bukan saatnya dia bersikap seperti ini.


"I-ini udah lebih dari semenit!!" Aku kesusahan.


Dia tak mengidahkan, dekapannya terasa hangat sampai-sampai tubuhku melupakan rasa dingin dari ruangan ini. Situasi ini membuatku dejavu.


"Mmmhhmmm...mmmhhh...!!" Rintih anak-anak secara berjamaah sambil menggeliat.


Aku mengerti apa yang mereka rasakan, di bandingkan rasa terdesak akan situasi sulit ini, mereka lebih merasa jengah karena tak rela kami bermesraan.


"Bukan maen absurdnya, udah tau lagi kek gini. Lu bedua malah ga sadar tempat!!" Hujat Sayang setelah lakban itu terlepas dari mulutnya.


"Ngomongnya pelan-pelan dong, Napa ga sekalian aja sih teriak." Archie menggempleng kepala Sayang, sambil membuka ikatan talinya.


"Bagaimana caranya kakak bisa sampai ke sini." Tanya Sakurai.


"Ahh..ceritanya panjang!!" Jawabku sambil membuka ikatan Sakurai.


"Apa Nyonya ke sini dengan cara memanjat dinding!?" Tanya Hendri.


"Eeehh...itu!?"


Sontak mereka semua menatapku, dan secara serempak menunggu jawabanku.

__ADS_1


"Ini lantai tiga loh!!" Tambah Dimas.


"Jangan bilang kalau kakak memakai itu untuk berayun menuju kemari!!" Sakurai menunjuk tali perca yang masih menempel di pungggungku.


"Lu sengaja kan pake kostum aneh ini buat nakutin orang!!" Tambah Sayang.


Aku tak menjawab dan menatap Archie yang kebingungan karena hanya dia satu-satunya yang tak melihat keberadaanku yang muncul dari jendela lantai empat.


"Sumpah, gua kira tadi setan beneran!!" Tambah Sayang memegangi kepalanya sendiri.


"Setan?" Archie bertanya-tanya.


"Iya, tadi tuh Anya.."


"I-itu ga penting!!" Aku buru-buru memotong kalimat Dimas.


"Yang terpenting, aku berhasil ke sini dan ketemu dengan kalian." Ucapku sok sibuk dan buru-buru melepaskan tali yang mengekang Hendri.


"Dimana Ruana?" Tanyaku dengan nada lirih.


Mereka saling pandang satu sama lain seolah juga menanyakan hal yang sama.


"Ruana!!" Hendri menatapku. "Dari awal dia tidak pernah ada di sini!!"


DEG....


Apa yang mereka bicarakan, Bagaimana mungkin Ruana tak ada di sini. Tanganku gemetar sambil membuka tali kekangan.


"Anya, apa yang terjadi?!" Tanya Dimas.


Aku tak menjawab karena tanganku terus gemetar. Ruana, bagaimana bisa dia tak ada. Apa yang sebenarnya laki-laki itu rencanakan.

__ADS_1


"Anya!!" Aku terkesiap saat Archie mengulurkan tangannya menyentuh pundakku.


"Katakan, apa yang terjadi. Dimana yang lain!?" Tanya Sakurai pelan.


Aku menjelaskan semua yang terjadi, dan juga keberadaan yang lainnya di lantai empat. Namun di sini maupun di sana, aku tak menemukan keberadaan Ruana.


"Jadi benar dugaan saya, kalau Nyonya berayun menggunakan tali itu untuk sampai ke sini." Hendri memperjelasnya.


"Sugoi!!" Sakurai takjub dengan tatapan polos.


Tapi aku tak menanggapi perkataan mereka, sekarang yang ada di kepalaku hanyalah Ruana.


"Rencananya gagal!!" Gumamku sambil mengigit kuku jempolku sendiri.


"Rencana!?" Tanya Archie.


"Rencana apa?" Tanya Sayang.


"Akan ku katakan rencananya, tapi kita tak bisa melakukannya tanpa Ruana, kita tak bisa meninggalkannya!" Aku frustasi.


"Tenanglah kak!!" Ucap Sakurai menenangkan ku. "Tapi yang terpenting kami harus mendengar rencana nya dahulu, setelah itu mari kita sama-sama memikirkan bagaimana caranya mencari Ruana." Sakurai mendekat ke sisi ku.


Aku lalu menjelaskan rencanaku kepada mereka semua, dengan berbagai resiko dan kemungkinan yang terjadi. Di luar dugaan, karena kelompok ini terdiri dari orang-orang sinting yang tak perduli dengan nyawa mereka sendiri, mereka langsung setuju dan mengiyakan ide ku.


"Aku tak tahu ini akan berhasil apa tidak, tapi menurutku, kita harus melakukan nya apa pun resikonya." Ujarku di akhir cerita.


Braaakk...


Suara keras seperti benda yang terbanting memecah keheningan. Seisi bangunan ini tiba-tiba gempar oleh suara bising yang di akibatkan oleh benda-benda yang saling bertabrakan.


Mereka yang ada di ruangan ini langsung menatapku sembari berkonsentrasi.

__ADS_1


"Sudah di mulai!!" Ucapku memperingatkan mereka.


__ADS_2