Alasan Kami Menikah?

Alasan Kami Menikah?
Hiduplah Di Dalam Bayangan


__ADS_3

Tak dianya ternyata isi pesan yang ku temukan di dalam buku itu memang merujuk pada tempat ini.


DANAU HIJAU DI SEBELAH BUKIT TANJUNG.


Danau yang kami jadikan spot tempat berkemping di namakan danau hijau oleh masyarakat sekitar, dan lurus di sebelah utara berbatasan dengan gunung kecil yang di namakan bukit tanjung, terdapat bekas pemukiman penduduk yang di tinggalkan karena akses menuju tempat itu susah dan tidak di aliri listrik.


Saat kami bertiga tiba di tempat itu, hal pertama yang ku jumpai adalah tempat kumuh yang terbengkalai seperti tempat sarang setan bersemayam.


Tempat ini merupakan tempat pertemuan aliran sungai dan laut, dan merupakan alur palung dalam yang dapat di lewati oleh kapal besar. Meskipun menyeramkan, terdapat dermaga yang masih di gunakan masyarakat sekitar untuk penambatan kapal-kapal kecil, dan tak jarang di gunakan penjahat-penjahat untuk menyeludupkan barang-barang berbahaya agar lolos dari kejaran hukum.


"Lewat sini cepetan!!" Pekik Arya yang tak gentar terus berlarian menggiring kami di antara rongsokan puing-puing bangunan.


Sampailah kami di hadapan bangunan yang dindingnya terbuat dari baja bahan kontainer.


Dengan berhati-hati kami berdua mengikuti langkah Arya memasuki tempat itu dalam perasaan yang tak karuan.


Lalu saat sudah berada di dalamnya, aku melihat Ruana dengan tubuh dan bajunya seperti habis tercebur ke dalam lumpur, dan keadaannya benar-benar kacau.


Saat melihat kami bertiga. Ruana langsung berlari ke hadapanku, dan memelukku sambil terisak. Arya dan Archie saling bertatapan, sedangkan aku berusaha menahan perasaan ku sendiri, atas kejutan yang akan terjadi nanti.


"Ruana, kau baik-baik saja. Apa yang terjadi?" Tanyaku sambil memegangi kedua pipi nya.


Dia tak menjawab dan terus menangis sesenggukan, namun jelas sekali dia sedang dalam keadaan tergoncang.


"Hei tenanglah, ceritakan semuanya yang terjadi!!" Ujarku berusaha menenangkannya.


Dia berhenti menangis sesenggukan, dan memandangi Arya dan Archie dengan pandangan tertekan.


"Tenangkan dia dulu, abis itu kita cari yang lain!!" Ucap Archie menepuk punggungku dan menyuruh kami berdua untuk beristirahat.


Diam-diam Arya mundur beberapa langkah ke belakang. Dia tak sedikitpun membuat suara yang mencurigakan di punggung Archie, lalu saat kami semua lengah, dia dengan sengaja menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.

__ADS_1


Sontak kami berdua terperanjat melihat pemandangan itu. Dan tanpa di duga, Ruana yang berada di sampingku, malah tiba-tiba bergerak dengan tenaga penuh yang tak terduga di balik tubuh ringkih dan lemahnya. Dia berdiri memelintir tubuhku, mengikat ke dua tanganku dengan sabuk, dan langsung melumpuhkan ku dengan sekali serangan.


Archie kaget mendapati pertunjukan itu, namun belum sempat dia bertindak. Sebuah balok besar menghantam punggungnya, dan dengan sekali sentak. Archie jatuh terkapar tak bergerak dengan keadaan tertingkap.


"Kerja bagus Ruana!!" Ucap Arya sambil melempar balok kayu itu ke sembarang arah.


Ruana mengencangkan sabuk yang mengekang pergelangan tanganku dengan posisi membelenggu, dan berjalan menghampiri Arya.


"Jadi kau lah orangnya!!" Ucap Ruana yang sontak mengambil korek dan rokok dari dalam saku celananya, "jadi selama ini Ruana bekerja untukmu!!" Lanjutnya lalu menghisap sebat itu.


"Terimakasih udah bekerja keras." Balas Arya yang berjalan ke arah Archie lalu menggoyangkan tubuh Archie dengan kaki nya untuk memeriksa apakah Archie masih sadar. "Lu pasti capek, karena selama beberapa hari ini berada di tempat antah berantah. Tapi gua janji, ini bakalan jadi kerjaan lu yang terakhir. Abis itu lu boleh bebas mau ngelakuin apa pun, tanpa terikat dengan Sabiru!!"


Ruana menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghembuskan asap rokoknya ke atas. "Keinginan Ruana hanya satu!!" Dia menatap Arya, "Ruana cuman pengen bahagia bersama kakak!!"


Arya membalas tatapan Ruana dengan anggukan.


"Baiklah, akan kita apakan mereka berdua!!" Tanya Ruana.


"Lenyapkan!!" Ucap Arya dengan tatapan keji. "Kita lenyapkan mereka, sebelum ada yang menyadari perbuatan kita!!"


Ckiittt....


Kami semua di kejutkan oleh suara mobil yang seperti melaju dengan kecepatan tinggi menuju kemari. Kendaraan itu terdengar tak memperdulikan sisa bangunan dan puing-puing perumahan penduduk yang berserakan di sepanjang jalan.


Siapa pun itu, dia sudah gila melajukan mobil dengan kecepatan tak masuk akal di tempat seperti ini.


Sontak Ruana dan Arya panik, mereka langsung menyeret kami berdua menuju tepian dinding dengan senjata tajam yang mengacung di tenggorokan kami.


Tiba-tiba suasana langsung hening, setelah suara mobil itu menghilang. Namun 3 detik setelahnya, kami mendengar suara derap kaki yang melangkah ke rumah itu.


Braakkk....

__ADS_1


Pintu itu tiba-tiba terbuka dengan cara di dobrak paksa. Dan terlihatlah seseorang yang amat sangat ku kenal. Dia berdiri dengan napas memburu, keringat bercucuran dan muka panik.


"Anya!!" Ucapnya memandangi situasi memilukan ini.


Libiru berjalan tertatih memandangi penampakan ini. Dia benar-benar shock mendapati aku dan Archie dalam keadaan yang mengenaskan, dan sedang di todong senjata tajam.


Dia memandang murka kepada Arya dan Ruana, lalu dengan gigi menggeretak, dengan amarah yang tak dapat di tahan-tahan. Dia langsung menerjang secara membabi buta dan melemparkan kunci inggris yang berada di genggaman tangannya ke arah mereka berdua.


Arya dan Ruana menghindar secara persisten, namun ternyata Libiru bukan sedang bermain-main dengan bodohnya menerjang tanpa rencana. Dia sendiri menggunakan kunci inggris itu sebagai pengalihan. Dan dengan gerakan cepat, secepat kijang yang melompati semak setinggi dua kali tubuhnya. Libiru mendaratkan tendangannya yang langsung mengenai Arya dan mencekik Ruana dengan cengkraman tangannya.


Ruana dan Arya langsung terkapar tak berdaya mendapat serangan beruntun yang tak terelakan dari Libiru. Dan dalam waktu sesingkat itu, mereka berdua langsung tak sadarkan diri.


"Anya!!" Pekik Libiru sambil melepaskan ikatan yang membelenggu tanganku.


"Bir, kau datang!!" Ucapku yang hampir menangis.


"Iya, gua di sini. Gua datang!!" Ucapnya sambil terus berusaha melepaskan ikatan.


Setelah ikatannya terlepas, aku langsung berbalik dan memeluk erat tubuhnya. Libiru mengusap rambutku dan membenamkan wajahnya di bahuku.


Saat itu ku rasakan desiran kesedihan dan kebencian dalam satu ragaku. Tak mampu ku jelaskan tapi dadaku sesak saat bertemu dengannya.


"Tenanglah, lu aman sekarang. Semua nya udah berakhir!!" Ucapnya sambil memandangi sekitar, dan pandangannya terhenti saat melihat Archie yang tak sadarkan diri sejak dia datang ke sini.


"Libiru, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau membawa ku ke tempat ini. Apa sebenarnya tujuanmu. Lalu, Arya. Kenapa dia melakukan ini kepadaku?!" Aku meminta penjelasan dari nya.


Libiru kembali mengidar pandang, dan menatap lama Arya yang terkapar tak sadarkan diri. Sepertinya dia ingin memastikan terlebih dahulu jika Arya benar-benar dalam keadaan tak sadar.


"Gua bakal ngasih tau lu semuanya!!" Ucap Libiru memegangi ke dua lenganku.


Aku mengangguk dan menunggu apa yang ingin dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2